Mozaik Islam

Islam di Taiwan

Di Tiongkok ada sekitar 20 juta orang beragama Islam. Sebagian di antara mereka kemudian berhijrah ke Taiwan pd abad ke-17 saat orang Muslim yg tinggal di provinsi Fujian yg berada di pesisir selatan Tiongkok bergabung dgn pasukan Koxinga (Cheng Cheng-Kung) menyerbu Taiwan utk mengusir pasukan Belanda yg menduduki pulau itu. Usai perang, sebagian pasukan Koxinga yg beragama Islam itu ada yg memilih menetap di Taiwan. Keturunan mereka kemudian menikah & berasimilasi dgn masyarakat setempat. Sebagian mereka ada yg tetap menjadi Muslim, sedangkan sebagian lain berpindah agama.

Islam di Taiwan termasuk agama yg relatif kecil meski dianut oleh cukup byk orang. Masuknya Islam ke Taiwan (waktu itu masih bernama Pulau Formosa) tdk lepas dari sejarah masuknya Islam ke negeri Tiongkok. Islam masuk ke Tiongkok melalui kawasan barat negeri itu, bersamaan dgn kedatangan pedagang Muslim pd abad ketujuh Masehi yg kemudian menikahi perempuan setempat. Perkawinan mereka menghasilkan kelompok etnis baru di Tiongkok yg bernama etnis Hui. Itu sebabnya mula-mula masyarakat Tiongkok biasa menyebut agama Islam dgn sebutan (Huì Jiào)yang berarti “agama Hui”. Tapi belakangan masyarakat lbh terbiasa dgn sebutan (Yīsīlán Jiào) atau “agama Islam”.

Menurut Profesor Lien Ya Tang dalam bukunya yg berjudul History of Taiwan (1918), meskipun mereka beragama Islam, orang Muslim yg menetap di pulau Formosa itu tdk aktif menyebarkan agamanya. Mereka juga tdk membangun masjid di pulau tersebut.

Gelombang kedua kedatangan orang Muslim ke Taiwan berlangsung selama perang sipil Tiongkok pd abad ke-20. Pada saat itu sekitar 20.000 tentara Muslim beserta keluarganya yg pro partai nasionalis Kuomintang pimpinan Chiang Kai Shek ikut hijrah ke Taiwan pd tahun 1949, karena tdk sudi berada di Tiongkok daratan yg dikuasai Partai Komunis Tiongkok. Kebanyakan mereka adl tentara & pegawai negeri yg berasal dari provinsi Tiongkok bagian selatan & barat yg byk dihuni orang Islam, seperti Yunnan, Xinjiang, Ningxia, & Gansu.

Selama tahun 1950-an kontak antara etnis Hui (masyarakat Muslim) & etnis Han sangat terbatas karena perbedaan adat istiadat di antara mereka. Kebanyakan masyarakat Muslim lbh mengandalkan hubungan antar mereka sendiri melalui pertemuan komunitas mereka di sebuah rumah di Jalan Lishui (麗水街) di Taipei. Namun ketika tahun 1960-an kaum Muslimin melihat kenyataan bahwa kembali ke Tiongkok daratan tdk lbh baik, kontak dgn etnis Han jdi lbh sering. Meski begitu interaksi & saling bantu dgn sesama umat Islam tetap terus dijaga.

Pada tahun 1980-an ribuan umat Islam dari Myanmar & Thailand bermigrasi ke Taiwan utk mencari kehidupan yg lbh baik. Mereka adl keturunan tentara pro nasionalis yg melarikan diri dari provinsi Yunnan ketika kelompok komunis berhasil menguasai Tiongkok daratan.

Saat ini ada sekitar 53.000 orang Taiwan yg beragama Islam serta lbh dari 80.000 orang Muslim Indonesia yg menjadi pekerja (TKI) di Taiwan. Sehingga saat ini (tahun 2007) ada sekitar 140.000 umat Islam di Taiwan.

from wikipedia.com

Islam di Filipina

Islam merupakan agama tertua monoteisme tercatat di Filipina. Islam mencapai Filipina antara 14 & abad ke-12 dgn kedatangan pedagang Muslim dari Teluk Parsi & Pantai Malabar di India Selatan, & pengikut mereka dari beberapa kesultanan kerajaan dalam Kepulauan Melayu. Menurut Pew Research Center, bancian Filipina 2000 mendapati bahawa 5.1% dari penduduk negara itu adl Muslim.

Pada tahun 1380 Karim ul ‘Makhdum yg pertama mubaligh Islam Arab mencapai Kepulauan Sulu & Jolo di Filipina & mendirikan Islam di negara ini. Pada 1390 di Putera Minangkabau Raja Baguinda & para pengikutnya mengajarkan Islam di pulau-pulau. The Sheik Karimal Makdum Masjid adl masjid pertama kali didirikan di Filipina pd Simunul di Mindanao pd abad ke 14. Perkampungan seterusnya oleh mubaligh Arab bepergian ke Malaysia & Indonesia membantu menguatkan Islam di Filipina & penyelesaian masing-masing diperintah oleh seorang Datu, Raja & Sultan. Wilayah-wilayah Islam didirikan di Filipina termasuk Kesultanan Maguindanao, Kesultanan Sulu & bahagian lain dari Filipina Selatan.

Moro (serupa dgn ‘Moor’) adl sebutan warisan dari Sepanyol, utk Filipina Muslim & kumpulan-kumpulan suku. Orang Moros berusaha utk mendirikan sebuah wilayah Islam di wilayah Mindanao & Visayas. Istilah Bangsamoro kombinasi dari Bahasa Melayu Kuno – Bahasa Sepanyol kata Moro diwarisi dari al-Andalus di Sepanyol. Sebuah jumlah yg signifikan pemberontakan Moro terjadi selama Perang Filipina-Amerika tahun 1899. Persengketan & pemberontakan terus berlangsung di Filipina mulai dari zaman pra-kolonial & kanan sampai sekarang.

Islam telah melihat pertumbuhan yg signifikan di Filipina sejak akhir Perang Dunia II. Komuniti-komuniti Filipina Muslim telah membina masjid baru & sekolah-sekolah agama di abad ke-21, & ziarah haji meningkat.

Daerah Autonomi di Mindanao Muslim (ARMM) adl wilayah dari Filipina yg terdiri dari seluruh propinsi majoriti Muslim Filipina, iaitu: Basilan (kecuali Isabela City), Lanao del Sur, Maguindanao, Sulu & Tawi-Tawi, & Bandar Islam Marawi. Ini adl satu-satunya daerah yg memiliki kerajaan sendiri. Ibu negeri daerah di Cotabato City, meskipun hal ini bandar berada di luar bidang kuasanya.

from wikipedia.com

Islam di Jepang

Hubungan Islam dgn Jepang ini masih terbilang belia jika dibandingkan hubungan agama ini dgn negara-negara yg lain di seluruh dunia. Tidak terdapat sebuah hitungan yg nyata tentang hubungan-hubungan antara agama Islam dgn Jepang atau cerita sejarah tentang Islam di Jepang melalui penyebaran agama, kecuali beberapa hubungan tersembunyi antara penduduk-penduduk Jepang dgn orang-orang Muslim dari negara lain sebelum tahun 1868. Islam di Jepang biasanya dianut oleh orang Turki, Arab, Melayu, & Indonesia yg pendidikan/bekerja di Jepang (bahasa Jepang: isuramukyou).

Agama Islam diketahui utk pertama kali oleh penduduk Jepang pd tahun 1877 sbg sebagian pemikiran agama barat & pd sekitar tahun itu, kehidupan Nabi Muhammad diterjemahkan dalam Bahasa Jepang. Ini membantu agama Islam menempatkan diri dalam pemikiran intelek orang Jepang, tapi hanya sbg satu pengetahuan & pemikiran.

Dua orang Jepun Muslim pertama yg diketahui ialah Mitsutaro Takaoka yg memeluk Islam pd tahun 1909 & mengambil nama Omar Yamaoka setelah menunaikan haji di Mekah, serta Bumpachiro Ariga yg pd masa yg lbh kurang sama telah pergi ke India utk berdagang & kemudian memeluk Islam di bawah pengaruh orang-orang Muslim di sana serta mengambil nama Ahmad Ariga. Bagaimanapun, kajian-kajian ini telah membuktikan bahwa seorang Jepang yg dikenali sbg Torajiro Yamada mungkin merupakan orang Jepang Muslim yg pertama ketika ia melawat negara Turki disebabkan turut berduka cita dgn korban tewas dalam kecelakaan maut Ertugrul. Beliau mengambil nama Abdul Khalil & mungkin pergi ke Mekah utk naik haji.

Lagi satu hubungan yg penting dibuat pd tahun 1890 ketika Turki Usmaniyah mengirim utusan yg menumpang sebuah kapal yg dinamakan “Ertugrul” ke Jepang utk tujuan menjalin hubungan diplomatik antara kedua negara serta utk saling memperkenalkan orang Muslim & orang Jepang. Kapal itu yg membawa 609 orang penumpang dalam pelayaran pulang ke negara mereka tenggelam dgn 540 penumpang tewas.

Bagaimana pun, kehidupan komunitas Muslim yg benar tdk bermula sehingga beratus-ratus pelarian Muslim Turki, Uzbekistan, Tajikistan, Kirghizstan, Kazakhstan & Tatar Turki yg lain dari Asia Tengah & Rusia, pengaruh Revolusi Bolshevik semasa Perang Dunia I. Orang-orang Muslim ini yg diberikan perlindungan di Jepang menetap di beberapa pelabuhan utama di sekitar Jepang & mendirikan komunitas-komunitas Islam. Segelintir orang Jepang memeluk Islam melalui hubungan mereka dgn orang-orang Muslim ini.

Dengan pembentukan komunitas-komunitas Muslim ini, beberapa buah masjid telah didirikan. Masjid yg paling penting di antaranya ialah Masjid Kobe yg didirikan pd tahun 1935, & Masjid Tokyo yg didirikan pd tahun 1938. Bagaimanapun, orang Jepang Muslim tdk mengambil bagian dalam pengelolaan masjid-masjid ini & tdk terdapat orang Jepang yg menjadi imam, dgn pengecualian Syaikh Ibrahim Sawada, imam pd Ahlulbayt Islamic Centre di Tokyo.

Saat Perang Dunia II, satu “Ledakan Islam” telah dimulai oleh kelompok tentara di Jepang melalui pendirian pusat-pusat penyelidikan utk mengkaji Islam & Dunia Muslim. Telah dikatakan bahwa pd waktu itu, melebihi 100 buah buku & jurnal mengenai Islam telah diterbitkan di Jepang. Bagaimanapun, Pusat-pusat penyelidikan ini sama sekali tdk diketuai atau diurus oleh orang-orang Muslim & tujuannya bukan utk penyebaran Islam. Tujuan yg sebenarnya adl utk menambah wawasan tentara dgn pengetahuan yg diperlukan mengenai Islam & orang Muslim karena terdapat komunitas-komunitas Muslim yg besar di kawasan-kawasan yg diduduki oleh angkatan tentara Jepang di negara RRC & negara-negaraAsia Tenggara. Oleh itu, dgn berakhirnya perang pd tahun 1945, pusat-pusat penyelidikan ini menghilang sama sekali.

Ada lagi satu “Ledakan Islam”, kali ini selepas krisis minyak 1973. Media massa Jepang telah memberi penerbitan yg besar tentang Dunia Muslim, & khususnya kpd Dunia Arab, selepas menyadari kepentingan negara-negara ini terhadap ekonomi Jepang. Dengan penerbitan ini, byk orang Jepang yg tdk mempunyai secuil pengetahuan tentang Islam mempunyai peluang utk melihat rukun Islam ke-5, Haji di Mekah serta utk mendengar panggilan Azan (panggilan Islam utk salat) & pembacaan Al-Quran. Selain daripada byk orang Jepang yg memeluk Islam secara terang-terangan ketika itu, terdapat juga byk upacara Islamisasi ramai-ramai yg terdiri daripada berpuluh-puluh ribu orang. Bagaimanapun, selepas krisis minyak selesai, kebanyakan pemeluk Islam meninggalkan agama itu.

Orang-orang Turki merupakan komunitas Muslim yg terbesar di Jepang sehingga akhir-akhir ini. Pilot-pilot Jepang yg pergi ke negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia sbg tentara semasa Perang Dunia II diajarkan/diajak mengungkapkan “La ilaha illa Allah” ketika pesawat-pesawat mereka ditembak jatuh di kawasan-kawasan ini supaya mereka tdk dibunuh. Sebuah pesawat Jepang telah dikatakan ditembak jatuh & pilotnya diamankan oleh penduduk setempat. Apabila pilot itu mengucap kata-kata “ajaib” itu, ia terasa terharu ketika penduduk-penduduk itu berubah sikap terhadapnya, & memperlakukannya dgn baik.

Serangan Jepang terhadap China & negara-negara Asia Tenggara semasa Perang Dunia II menghasilkan hubungan-hubungan antara orang-orang Jepang dgn orang-orang Muslim. Mereka yg memeluk agama Islam melalui hubungan-hubungan itu kemudian mengasaskan Persatuan Jepang Muslim di bawah pimpinan Allahyarham Sadiq Imaizumi pd tahun 1953. Persatuan tersebut ialah organisasi Jepang Muslim yg pertama.

Ketua kedua persatuan ini ialah Allahyarham Umar Mita. Mita merupakan orang Islam yg tipikal bagi generasi tuanya yg mempelajari Islam di wilayah-wilayah yg diduduki oleh Kekaisaran Jepang. Melalui hubungan-hubungannya dgn orang-orang Cina Muslim, beliau memeluk Islam di Beijing. Saat Mita kembali ke Jepang selepas perang, beliau menunaikan haji, & merupakan orang Jepang pertama sesudah peperangan utk berbuat demikian. Mita juga membuat terjemah Al-Quran bahasa Jepang utk pertama kali. Oleh itu, hanya selepas Perang Dunia II baru terdapat sebuah komunitas di Jepang.

Tidak terdapat sensus yg bisa dilihat tentang bilangan orang Jepang Muslim di Jepang. Sebagian orang menyatakan bahwa bilangannya hanya dalam beberapa ratus. Ketika ditanya, Abu Bakr Morimoto manjawab, “Berbicara jujur, hanya seribu. Dalam pengertiannya yg paling umum, jika kita memasukkan mereka yg memeluk Islam tetapi tdk mengamalkan agama ini, umpamanya hanya utk perkawinan, bilangannya mungkin dalam beberapa ribu.”.

Tetapi terdapat juga kelemahan dari segi orang-orang Islam Jepang sendiri juga. Terdapat perbedaan orientasi antara generasi yg tua dgn generasi yg baru. Bagi generasi yg tua, Islam disamakan dgn orang Islam Malaysia, Indonesia, China, & sebagainya. Tetapi bagi generasi baru, negara-negara Asia Tenggara tdk begitu menarik hati disebabkan orientasi barat mereka & oleh itu, mereka lbh dipengaruhi oleh Islam di negara-negara Arab.

Ketika melawat negara-negara Muslim, kata-kata bahwa orang-orang Muslim Jepang adl kumpulan agama minoritas sering menimbulkan masalah daripada para hadirin, “Berapakah jumlah orang Muslim di Jepang?” Jawaban ketika ini: “Satu daripada seratus ribu.”

Statistik menunjukkan bahwa di sekitar 80% daripada jumlah penduduk Jepang adl penganut Buddha atau Shinto, sedangkan hanya 0,095% atau hanya berjumlah 121.062 orang. Bilangan pendakwah yg berpotensi dalam komunitas Muslim di Jepang adl amat kecil, & terdiri daripada para pelajar & berbagai jenis pekerjaan yg bertumpu di kota besar seperti Hiroshima, Kyoto, Nagoya, Osaka & Tokyo.

Terdapat keperluan yg lanjut utk orang-orang Muslim bertahan daripada tekanan-tekanan & godaan-godaan gaya hidup modern yg lbh gairah. Orang-orang Muslim juga menghadapi kesusahan terhadap komunikasi, perumahan, pendidikan anak, makanan halal, serta kesusasteraan Islam, & semua ini menghalang kegiatan-kegiatan dakwah di Jepang.

Tanggapan salah terhadap ajaran Islam yg diperkenalkan oleh media-media barat perlu dibetulkan dgn cara yg lbh cekap & yg mengambil kira ciri penting masyarakat Jepang sbg salah satu negara yg paling tdk buta huruf di dunia. Bagaimanapun, disebabkan persebaran orang Muslim yg amat sedikit, terjemah Alquran dalam bahasa Jepang juga tdk mudah didapati. Hampir tdk adanya kesusasteraan Islam di dalam toko-toko buku atau perpustakaan-perpustakaan umum, kecuali beberapa esai & buku dalam bahasa Inggris yg dijual pd harga yg agak mahal.

Oleh itu, tidaklah mengejutkan utk mendapati bahwa pengetahuan orang Jepang yg biasa tentang agama Islam hanya dihadapkan kpd beberapa istilah yg berkaitan dgn poligami, Sunni & Syiah, Ramadhan, Haji, Nabi Muhammad & Allah. Dengan kesan-kesan yg semakin terang tentang kesadaran kewajiban komunitas-komunitas Islam serta penilaian yg rasional, Umat Muslim telah menunjukkan tanggungan yg lbh kuat terhadap pelaksanaan kegiatan-kegiatan dakwah dgn cara yg lbh teratur.

from wikipedia.com

出卖货物时,隐藏货物的缺陷

穆圣(愿主福安之)经过一个粮食摊位时,他把手插进粮食里,拿出来指头全湿了,然后穆圣(愿主福安之)说:”摊主啊!这是怎么回事呢?摊主说;真主的使者呀!雨淋湿了。穆圣说:你为什么不放在上面,让人们都看见呢?谁欺骗他人,谁就不是我的教民”。

当今时代,好多不害怕真主的商贩,都企图用欺骗的手段来掩护货物的缺陷,要么放在货箱底层,要么使用化学物品等来显出它的外观,或者首先消除机器的异常声音,如果买主把货物带回去的话,不要多长时间就出现了问题。有些人涂改货物的有效期,或不让买主见货物,或查看,或试验货物。大多数卖汽车和其它工具的人不说明它的毛病,这一切都是非法的。先知(愿主福安之)说:”穆斯林皆兄弟,不允许穆斯林向他的穆斯林兄弟出卖有毛病的东西,除非他说明情况”67。部分人认为,如果在拍卖时,他对买主说了”我卖这一堆铁给你了”(比如说),那末,他就不负责了。

这就是被剥了吉祥的交易。正如穆圣(愿主福安之)说的:”双方没离开之际,双方的交易是有选择权的,如果他俩都有诚意,并说明了详情的话,他两个的交易是有吉祥的,如果他两个都撒谎、隐藏毛病的话,他两个的交易的吉祥都被抹去”。

吃利息

真主在《古兰经》中允许跟放高利贷的人作战。真主说:{信道的人们啊!如果你们真是信士,那末,你们当敬畏真主,当放弃余欠的利息。如果你们不遵从,那末,你们当知道真主和使者将对你们宣战}。(黄牛 21章第278、279节)。这足够于说明,在真主看来,这确是一种罪恶。

研究社会和国际形势的人会发现,与高利贷有来往的人遗留下的毁灭性的事故,如:破产、滞销、无能还账、经济瘫痪、失业率上升、大部分公司和企业倒闭,让每日制劳动的结果和辛苦劳动的汗水钱流进偿还永无止尽的放高利贷者的利息的账户中,造成社会上的阶级分化,把大量的钱财集中在少数人手中。但愿这就是真主以此来警告一切跟高利贷来往之人的战争的形式。

凡是参与高利贷者,无论是中介人,还是助理皆遭到穆圣(愿主福安之)的诅咒。扎比尔(愿主喜悦之)传述说:真主的使者诅咒 “放高利贷者,委托人,书写人和双方见证人”。他说:”他们都是一样的”62。所以,不允许参与书写、登记、修正、收、放、寄存和保管利息等方面的工作,总之,禁止以任何方式去参与利息和助长它。

先知(愿主福安之)渴望阐明这个重大罪恶之丑陋。由阿布杜拉.本.麦斯欧德(愿主喜悦之)直接传述的圣训说:”利息有七十三道类门;最简单的一道类门就像一个人娶了自己的母亲一样严重”63。利息最能增张的是对穆斯林的名节的损害,由阿布杜拉·本·罕佐莱(愿主喜悦之)直接传述的圣训说:”明知故犯地侵吞一文钱的利息的人,比他行奸三十六次还严重”64。禁止利息是一概而论的,它没有针对富人和穷人之分,正如部分人认为的那样。而是涉及到所有情况和每个人,多少富翁,多少大商人因它而破产了,实事可以证明,它起码也抹去了钱财上的吉祥,即使钱财再多也罢。穆圣(愿主福安之)说:”利息,尽管再多,最终它会变成少的”65。同样,不论它的利率高低、多少,皆是非法的。吃利息的人,将在复生日从坟墓中复活起来,正如中了魔一样跌跌撞撞的。

尽管这种罪恶丑陋,真主还是告诉要从中忏悔,并阐明了它的方式。真主对侵吞利息的人说:{如果你们悔罪,那末,你们得收回你们的资本,你们不致亏枉别人,你们也不致受亏枉}。(黄牛 章第279节)。这就是公平。

作为一个信士,应该避开这种大罪,应该感到它的丑恶。甚至那些被迫、害怕丢失、或害怕被偷而把钱存入有利息的银行里的人,也应该感到他们像吃自死物的人一样,或更为严重。要向真主忏悔,并尽力去找个代替(即没有利息的银行等等)的存款地方。不允许他们向银行索取利息,如果利息算入他们的账户里的话,他们以把它用于任何福利方面来彻底的摆脱它,而不是施舍(索得各)。因为真主是清洁的,他只接受清洁的事物。不允许他们以任何方式去获利,不许将它用于吃、喝、穿和住宿,也不许为妻室,或孩子,或父母亲作为义务性的开支它,不许用它交纳天课和税务,也不许因为虐待而用它来保卫自身。他只为害怕真主的惩罚而摆脱它。

奸淫

保护人类的名誉和血缘关系,是伊斯兰教的目的之一,所以,它禁止奸淫。真主说:{你们不要接近私通,因为私通确是下流的事,这行径真恶劣!}。(夜行 章第32节)。而且还以命令戴面纱,降低视线,禁止男女幽会等等来阻止所有通向奸淫的媒介和途径。

已婚的通奸者将受到最丑恶、更严厉的惩罚,即:乱石击毙,让他尝一下奸淫的后果,让他身体的每个部位都受到疼痛,正如他所听到的禁律。未婚的通奸者将要鞭打数次,教法制度里提到打一百鞭,同时还要让他遭到羞辱,众信士都见证对他的惩治,让他远离自己的家乡来作为凌辱,即将他流放到远离犯罪之地整整一年。

奸夫、淫妇死后的惩罚是在熔炉里,它入口窄狭底部宽大。它的下面被点着火,他们在里面都是赤身裸体的,当火被点着时,他们大声喊叫着几乎要出来,当火被熄灭时,他们又掉进去了,他们就这样翻来覆去的,直至复生日成立。

年龄大而继续奸淫的人,他的情况更加丑恶。艾布胡莱里直接(麦热富尔)传述说:”三种人,真主在复生日不与他们说话,不清洁他们,也不观看他们。他们将受到疼痛的刑罚,他们就是:淫荡的年迈者,撒谎的国王和自大的穷人”39。恶劣的收获中有不义的聘礼,说的是嫖娼钱。卖淫的女人,当天上的门,在午夜被打开时,她的祈祷不被应答。一般的需求和贫穷都绝不是教法允许的借口,因为,这是违犯了真主的法度。古人曰:”良家妇女,饿死也不以哺乳挣钱糊口。”那末,卖淫又会怎样呢?!

当今时代,所有丑事之门都被打开。恶魔及其同党以他们的计谋来让作恶之路容易。于是,一切违抗真主者和为非作歹者仿效他们,所以,女性炫耀美色、揭掉面纱遍及世界各个角落。不降低视线而看非法的事非常普遍,男女混杂,下流的杂志和丑恶的影片畅销人间。人们都旅游去一些恶事多端的国家,道德败坏的商场比比皆是,不讲信誉之事屡见不鲜,私生子和杀害婴儿(人工流产等等)的现象逐步上升。
真主啊!我们向你祈求你的慈恩、仁慈、遮盖和保护,你以此来保护我们免遭丑事之害。并祈求你洁净我们的心灵,看守我们的羞体,求你在我们与非法事物之间造一个屏障或隔离物。

跟拜者在拜功中故意抢先领拜师(伊玛目)

人类的禀性就是急躁。真主说:{人是急躁的}。(夜行 章第11节)。穆圣(愿主福安之)说:”从容是来自于真主,急躁是来自恶魔”。 在集体礼拜中可以看到,有很多人左顾右盼,而且在鞠躬或叩头时抢先领拜师,还有,普遍在念一些大赞词时抢先,甚至于在出拜”色兰”时抢先。大多数人并不重视这种行为,但穆圣对此确已严厉的警告过:”抢先于领拜师抬头的人,难道不害怕真主让他的头变成驴子头吗?!”。

如果要求一个礼拜者,要”稳定和庄重”的话,那末,在礼拜中更不用说了(应该毕恭毕敬的,稳定庄重的礼拜)。有些礼拜者,不在乎抢先和退后领拜师。应该知道,教法学家(愿主慈悯之)就有关这种情况提出了一个好的规章:当领拜师一念完大赞词,跟拜者就要开始抬手,即:领拜师念完安拉呼艾可白尔的”尔”时,跟拜者要开始抬手,不能提前,也不能退后。这样的话,事情就有了头绪。圣门弟子们(愿主喜悦他们)十分渴望跟随穆圣(愿主福安之)。他们中有个人,名叫白拉吴.阿兹布(愿主喜悦之)说:”他们曾经在穆圣(愿主福安之)后面礼拜,当穆圣鞠躬抬起头时,我没有看见任何人在穆圣之前往下弯腰,直至穆圣(愿主福安之)把自己的额头放在地上,然后他后面的人才叩下头去” 。

当穆圣(愿主福安之)念了大赞词,他的动作有点缓慢时,他就提醒大家说:”人们啊!我的身子有点胖,在鞠躬和叩头时,你们不要抢先我”。伊玛目领拜,他应该在念大赞词时,遵照圣行。艾布胡莱里(愿主喜悦之)传述的圣训说:”真主的使者(愿主福安之)如果站起来礼拜的话,在站端时念大赞词,然后鞠躬时念大赞词、叩头时念大赞词,在抬起头时念大赞词、叩头时念大赞词,然后再抬起头时念大赞词,他在拜功中都这样做,直至礼完拜,在两拜的中坐后站起来时也念大赞词。如果领拜师的大赞词与其动作相吻合,跟拜的人也渴望遵守上述方式的话,集体拜的情况就好多了。

How Can We Repent from Shirk?

Will Allah forgive us for shirk? Can we repent from shirk? How do we repent. Is there any special prayers we must offer (any duas)?.

Praise be to Allah.

Shirk is the greatest of sins, because Allah has told us that He will not forgive the one who does not repent to Him from it, but in the case of lesser sins the matter is subject to His will: if He wills, He will forgive the one who meets Him with that sin unrepented for, and if He wills, He will punish him. This means that we should fear shirk greatly, as it is so serious before Allah.

Fath al-Majeed, p. 58.

Hence we must repent from all kinds of shirk, whether it is major shirk or minor shirk. If a person repents sincerely then Allah will accept his repentance and forgive him his sins.

After mentioning shirk in the verse in which He says (interpretation of the meaning):

“And those who invoke not any other ilaah (god) along with Allah”

[al-Furqaan 25:68]

and stating that its people will abide forever in Hell, Allah says (interpretation of the meaning):

“Except those who repent and believe (in Islamic Monotheism), and do righteous deeds; for those, Allah will change their sins into good deeds, and Allah is Oft‑Forgiving, Most Merciful“

[al-Furqaan 25:68-70]

Repentance from shirk means giving it up and submitting to Allah alone, regretting one’s neglect of Allah’s rights and resolving never to go back to it. Allah says (interpretation of the meaning):

“Say to those who have disbelieved, if they cease (from disbelief), their past will be forgiven”

[al-Anfaal 8:38]

“If they cease” means, give up their kufr, by submitting to Allah alone with no partner or associate. Tafseer al-Sa’di.

The Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) said: “Islam destroys that which came before it” – i.e., of sins. Narrated by Muslim 121.

The Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) said that the gate of repentance remains open so long at the death rattle has not reached a person’s throat. He (peace and blessings of Allah be upon him) said: “Allah will accept His slave’s repentance so long as the death rattle has not yet reached his throat.” (Narrated by al-Tirmidhi, 3537; see also Sahih al-Jaami’, 1425.

Whoever commits major shirk that puts a person beyond the pale of Islam must repent sincerely from that, put his actions straight and correct his intention. It is also prescribed for him to do ghusl after repenting, because the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) commanded Qays ibn ‘Aasim to do that when he became Muslim. (Narrated by Ahmad, Abu Dawood, al-Tirmidhi and al-Nasaa’i; classed as saheeh by Ibn al-Sakan.

Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah, 5/317

With regard to minor shirk, the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) warned us against it, fearing that his ummah might fall into it. He (peace and blessings of Allah be upon him) said: “The thing I fear most for you is minor shirk.” (Narrated by Ahmad, 23119. al-Albaani said in al-Silsilah al-Saheehah (951): its isnaad is jayyid).

And he said: “Shirk among you is more subtle than the sound of the footsteps of an ant on a rock. Shall I not tell you of something which, if you do it, it will take that away from you, both minor and major forms of it. Say: Allaahumma inni a’oodhu bika an ushrika bika wa ana a’lam wastaghfiruka 5 laa a’lam (O Allah, I seek refuge with You from associating anything with You knowingly, and I seek Your forgiveness for that of which I am unaware).“

Sahih al-Jaami’, 2876.

By: Muhammed Salih Al-Munajjid

Comparing the Haram to the Halal to justify the Haram is Disallowed

No Muslim is allowed to render permissible what Allah has rendered `Haram, by comparing the disallowed matter to another matter that Allah has allowed. Indeed, whoever does this will have committed a major sin and will be saying about Allah what he has no knowledge of. Also, such a person will have opened a door of Fitnah (mischief) and sinning for the people.

The scholars who use Qiyas state that Qiyas is only allowed [and pertains to] when a minor aspect of the religion does not have a definite ruling in the Quran or Sunnah. In this case, the scholars apply a general ruling [through Ijtihad] that includes the matter under discussion and derives a ruling for it, whereas before, it did not have a specific ruling.

Allah disallowed mankind to say about Him what they have no knowledge of, and made this act bigger than Shirk (ascribing partners to Allah) itself. He also stated that Satan calls upon his followers and commands them to go on this deviant path, just as he calls them into sin and immoral acts.

Allah said,

 قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ 

what translated means, {Say (O Muhammad): “(But) the things that my Lord has indeed forbidden are AlFawa`hish (great sins, unlawful sexual behavior, etc.) whether committed openly or secretly, sins (of all kinds), unrighteous oppression, joining partners (in worship) with Allah for which He has given no authority, and saying things about Allah of which you have no knowledge“}[7:33], and [2:168-169],

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُواتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌ مُبِينٌ  إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ 

{O mankind! Eat of that which is lawful and good on the earth, and follow not the footsteps of Shaitan (Satan). Verily, he is to you an open enemy. [Shaitan (Satan)] commands you only what is evil and Fa`hsha (sinful), and that you should say against Allah what you know not.}

We ask Allah to improve the general situation of Muslims and to bestow on them the Fiqh (knowledge and understanding) in the religion. We also ask Allah to guide Muslim scholars to call the people to Allah and to explain Allah’s Commandments to them, while warning them against defying His Law. We ask Allah to save Muslims from the evil of their own selves and the evil of those who call to all types of misguidance. We ask Allah to guide Ibrahim back to the True Path, so that he publicly repent, from what he has written, may that Allah forgive him.

Allah said,

 وَتُوبُوا إِلَى اللهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 

{And all of you beg Allah to forgive you all, O believers, that you may be successful} [24:31],

 إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاَّعِنُونَ  إِلاَّ الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ 

and, {Verily, those who conceal the clear proofs, evidences and the guidance, which We have sent down, after We have made it clear for the people in the Book, they are the ones cursed by Allah and cursed by the cursers. Except those who repent and do righteous deeds, and openly declare (the truth which they concealed). These, I will accept their repentance. And I am the One Who accepts repentance, the Most Merciful}[2:159-160].

There is no doubt that Ibrahim’s article needs a more detailed rebuttal, but I hope that what I have stated in this rebuttal is clear enough for those who seek the truth. Allah is sought for every type of help, and He is Sufficient for us as a Helper. May Allah bestow His prayer and peace on Muhammad, our Prophet, and on his family, companions and those who followed them with excellence, until the Day of Judgment.

By: Shaikh: Abdul ‘Aziz ibn Abdullah ibn Baz

Muslim Economy Needs to Implement Allah’s Law to Survive and Flourish

Providing for people’s needs, helping them acquire their benefit and ensuring meaningful cooperation between them will only be achieved through abiding by Islamic Law. It requires truthfulness and Amanah (honesty) and prohibits lying, deceit and all the types of dealings that Allah does not permit.

Allah said,

 وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى الإِثْــمِ وَالْعُدْوَانِ 

what translated means, {Help you one another in AlBirr and AtTaqwa (virtue, righteousness and piety); but do not help one another in sin and transgression}[5:2],

 إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ 

and, {Verily! Allah commands that you should render back the trusts to those to whom they are due; and that when you judge between men, you judge with justice}[4:58],

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ 

and, {O you who believe! Betray not Allah and His Messenger, nor betray knowingly your Amanat (things entrusted to you, and all the duties which Allah has ordained for you)}[8:27].

Also, Allah said,

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلاَ يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلاَ يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا 

what translated means, {O you who believe! When you contract a debt for a fixed period, write it down. Let a scribe write it down in justice between you. Let not the scribe refuse to write as Allah has taught him, so let him write. Let him (the debtor) who incurs the liability dictate, and he must fear Allah, his Lord, and diminish not anything of what he owes}[2:282], and, [33:70-71]

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ 

{O you who believe! Keep your duty to Allâh and fear Him, and speak (always) the truth. He will direct you to do righteous good deeds and will forgive you your sins. And whosoever obeys Allâh and His Messenger (Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ), he has indeed achieved a great achievement1}[33:71-72].

Further, the Messenger of Allah salla allahu `alaihi wa-sallam said,

“الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا”.

“The seller and the buyer have the right to keep or return goods as long as they have not parted or until they part; if both parties spoke the truth and duly described the defects and qualities (of the goods), then they would be blessed in their transaction; if they told lies or hid something, then the blessings of their transaction would be lost”[Al-Bukhari and Muslim].

Also Muslim and Ahmad narrated that Abu Sa`eed al-Khudri radhiya allahu `anhu said that the Prophet salla allahu `alaihi wa-sallam said,

“الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ مِثْلاً بِمِثْلٍ يَدًا بِيَدٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَقَدْ أَرْبَى الآخِذُ وَالْمُعْطِي فِيهِ سَوَاءٌ”.

“Gold for gold, silver for silver, wheat grain for wheat grain, barley for barley, dates for dates, salt for salt: equal in amount and from hand to hand (meaning the payment is not delayed). Those who give more or ask for more, then both who take the increase and those who give it are the same, and both will have committed Riba.” Also, Jabir [ibn `Abdullah al-Ansari, radhiya allahu `anhu] said, “The Messenger of Allah salla allahu `alaihi wa-sallam cursed those who take Riba and those who give it, write it and witness it, then said that, ‘They all are the same!'”[Muslim].

In addition, `Umar ibn Al-Khattab narrated that the Messenger of Allah, peace be upon him, said,

“الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ”.

“The bartering of gold for gold entails Riba, except if it is from hand to hand and equal in amount; wheat grain for wheat grain entails Riba, except if it is from hand to hand and equal in amount; dates for dates entails Riba, except if it is from hand to hand and equal in amount; and barley for barley entails Riba, except if it is from hand to hand and equal in amount”[Al-Bukhari and Muslim]. He salla allahu `alaihi wa-sallam also said,

“مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا”.

“Those who cheat us are not some of us”[Muslim, without a chain of narration, Ahmad, ibn Majah and ad-Darimi. The correct words for this Hadith are, “Those who cheat are not some of us”]. Also, the Prophet salla allahu `alaihi wa-sallam said,

“أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ”.

“Should I inform you about the greatest of the great sins?” They said, “Yes, O Allah’s Apostle!” He said,

“الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ”.

“To join others in worship with Allah and to be undutiful to one’s parents.” The Prophet, peace be upon him, then sat up after he had been reclining (on a pillow) and said,

“أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ”.

“And I warn you against giving a false statement or a false testimony“[Al-Bukhari and Muslim]. There are many other Hadiths on this topic.

By: Shaikh: Abdul ‘Aziz ibn Abdullah ibn Baz