Mozaik Islam

Puasa Jumat Dalam Puasa Dawud

Assalamu’alaikum wr wb

Ustadz yth

Saya saat ini menjalankan puasa sunnah dawud. Lantas bagaimana kalau pas hari Jumatnya? Sedangkan katanya puasa hari jumat makruh hukumnya?

Untuk shalat tahajud itu kalau rakaatnya dua-dua, kalau utk sebelas rakaat apa shalat 2 rakaat kali 5 kmd satu rakaat utk witir Ustadz. makhlum Ustadz saya masih dangkal sekali ilmu Islamnya. Jzk atas jwbnya

Wassalamu’alaikum wr wb

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya para ulama tdk mengatakan bahwa pengkhususan puasa sunnah di hari Jumat sbg puasa yg haram. Para ulama lbh tepatnya mengatakan makruh, bukan haram.

Yang dimakruhkan dalam puasa di hari Jumat adl pengkhususan hari itu utk puasa sunnah. Dan itupun bila tanpa dibarengi atau diiringi dgn rangkaian puasa lainnya.

Tapi kalau ada barengannya, misalnya hari Kamis atau hari Sabtu, juga dilakukan puasa sunnah, maka tdk dikatakan bahwa hari Jumat itu ‘sendirian’. Karena ada barengannya.

Dan menurut hemat kami, ketika seseorang menjalani puasa sunnah sebagaimana puasa Nabi Daud ‘alaihissalam, maka ketika puasa itu jatuh di hari Jumat, juga tdk bisa dikatakan puasa sunnah di hari Jumat sendirian.

Dan demikian juga ketika seseorang bernadzar utk puasa satu hari keesokan harinya apabila pd hari itu mendapatkan apa yg dicita-citakan. Misalnya seseorang bernadzar begini, “Kalau sesuatu hari saya diterima jdi pegawai, maka keesokan harinya saya akan puasa sunnah satu hari.”

Kalau kebetulan pengumuman kelulusannya di hari Kamis, mau tdk mau keesokan harinya harus puasa sehari, meski pun jatuhnya hari Jumat.

Kok boleh?

Boleh, karena niatnya bukan semata-mata mau mengkhususkan hari jumat utk puasa sunnah. Sebenarnya larangan atau kemakruhan puasa khusus pd hari Jumat adl bila seseorang secara sengaja berniat utk mengkhususkan hari Jumat sbg hari puasa sunnah.

Dalil atas makruh atau haramnya puasa khusus di hari Jumat adl sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

Janganlah kalian khususkan hari Jum’at dgn berpuasa, & tidaklah pula malamnya utk ditegakkan (shalat)”. (HR Muslim, Kitabus Shiam Bab Makruhnya Puasa Khusus di Hari Jum’at 1144).

Kalau kita baca fatwa Syeikh Al-‘Utsaimin, di antara hikmah kenapa ada larangan pengkhususan hari Jum’at utk berpuasa, ada beberapa hal:

Pertama, hari Jum’at merupakan salah satu hari raya dari 3 hari raya yg disyari’atkan. Dan sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam Islam terdapat 3 hari raya: Hari raya Idul Fitri setelah Ramadhan, Hari Raya Idul Adhha, & hari raya mingguan yaitu hari Jum’at.

Kedua: Selain itu hari Jum’at adl hari dimana sudah sepantasnya bagi seorang laki-laki mengedepankan shalat Jum’at pd hari itu, menyibukkan diri dgn doa, & berdzikir karena hari Jum’at ini serupa dgn hari Arafah yg tdk disyaratkan bagi jama’ah haji utk berpuasa pd hari Arafah itu. Hal ini karena dia sibuk dgn doa & dzikir.

Shalat Malam Dua Rakaat Dua Rakaat

Yang paling afdhal dalam melaksanakan shalat malam, berapapun jumlah rakaatnya, hendaknya dilakukan dgn 2 rakaat lalu salam. Kemudian mulai lagi shalat yg baru, tentu dgn 2 rakaat & salam.

Begitulah seterusnya sampai berapa pun jumlah bilangan rakaatnya. Terakhir baru ditutup dgn shalat witir, baik satu rakaat atau pun 3 rakat menurut sebagian ulama.

Hal itu berdasarkan hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg menjawab pertanyaan seseorang yg bertanya tentang tata cara shalat malam.

Dari Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu, “Seorang lelaki bertanya kpd Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang salat malam. Beliau menjawab, “Salat malam itu 2 rakaat 2 rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu salat Subuh, maka hendaklah ia salat witir satu rakaat utk mengganjilkan salat sebelumnya. (HR Muslim)

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Etika Berkomunikasi Via Telepon

  1. Ceklah dgn baik nomor telepon yg akan anda hubungi sebelum anda menelpon agar anda tdk mengganggu orang yg sedang tidur atau mengganggu orang yg sedang sakit atau merisaukan orang lain.
  2. Pilihlah waktu yg tepat utk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan & keperluan, & mereka juga mempunyai waktu tidur & istirahat, waktu makan & bekerja.
  3. Tidak merekam pembicaraan lawan bicara kecuali seizin darinya, apapun bentuk pembicaraannya. Karena hal tersebut merupakan tindakan pengkhianatan & mengungkap rahasia orang lain, & inilah tipu muslihat. Dan apabila rekaman itu kamu sebarluaskan maka itu berarti lbh fatal lagi & merupakan penodaan terhadap amanah. Dan termasuk di dalam hal ini juga adl merekam pembicaraan orang lain & apa yg terjadi di antara mereka. Maka, ini haram hukumnya, tdk boleh dikerjakan!
  4. Tidak menggunakan telepon utk keperluan yg negatif, karena telepon pd hakikatnya adl nikmat dari Allah yg Dia berikan kpd kita utk kita gunakan demi memenuhi keperluan kita. Maka tdk selayaknya jika kita menjadikannya sbg bencana, menggunakannya utk mencari-cari kejelekan & kesalahan orang lain & mencemari kehormatan mereka, & menyeret kaum wanita ke jurang kenistaan. Ini haram hukumnya, & pelakunya layak dihukum.
  5. Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yg sedang dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dgn orang lain.
  6. hendaknya wanita tdk memperindah suara di saat ber-bicara (via telpon) & tdk berbicara melantur dgn laki-laki. Allah berfirman yg artinya:”Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yg ada penyakit dalam hatinya, & ucapkanlah perkataan yg baik“. (Al-Ahzab: 32).
  7. Maka hendaknya wanita berhati-hati, jangan berbicara diluar kebiasaan & tdk melantur berbicara dgn lawan jenisnya via telepon, apa lagi memperpanjang pembicaraan, memperindah suara, memperlembut & lain sebagainya.
  8. Hendaknya penelpon memulai pembicaraannya dgn ucapan Assalamu`alaikum, karena dia adl orang yg datang, maka dari itu ia harus memulai pembicaraannya dgn salam & juga menutupnya dgn salam.
  9. Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemilik-nya, & itupun bila terpaksa.

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika Menjenguk Orang Sakit

Untuk orang yg berkunjung (menjenguk)

  1. Hendaknya tidak lama di dalam berkunjung, & mencari waktu yg tepat utk berkunjung, & hendaknya tdk menyusahkan si sakit, bahkan berupaya utk menghibur & membahagiakannya.
  2. Hendaknya mendekat kpd si sakit & menanyakan keadaan & penyakit yg dirasakannya, seperti mengatakan: “Bagaimana kamu rasakan keadaanmu?”. Sebagai-mana pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.
  3. Mendo`akan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah, selamat & disehatkan. Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu telah meriwayat-kan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila beliau menjenguk orang sakit, ia mengucapkan: “Tidak apa-apa. Sehat (bersih) insya Allah”. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari). Dan berdo`a 3 kali sebagai-mana dilakukan oleh Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam.
  4. Mengusap si sakit dgn tangan kanannya, & berdo`a: “Hilangkanlah kesengsaraan (penyakitnya) wahai Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yg tdk meninggalkan penyakit“. (Muttafaq’alaih).
  5. Mengingatkan si sakit utk bersabar atas taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala & jangan mengatakan “tidak akan cepat sembuh”, & hendaknya tdk mengharapkan kematiannya sekalipun penyakitnya sudah kronis.
  6. Hendaknya mentalkinkan kalimat Syahadat bila ajalnya akan tiba, memejamkan kedua matanya & mendo`akan-nya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Talkinlah orang yg akan meninggal di antara kamu “La ilaha illallah“. (Hadis Riwayat: Muslim).

Untuk orang yg sakit

  1. Hendaknya segera bertobat & bersungguh-sungguh beramal shalih.
  2. Berbaik sangka kpd Allah, & selalu mengingat bahwa ia sesungguhnya adl makhluk yg lemah di antara makhluk Allah lainnya, & bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk membutuhkan utk menyiksanya & tdk mem-butuhkan ketaatannya
  3. Berserah diri & tawakkal kpd Allah Subhanahu wa Ta’ala & berkeyakinan bahwa kesembuhan itu dari Allah, dgn tdk melupakan usaha- usaha syar`i utk kesembuhan-nya, seperti berobat dari penyakitnya.
  4. Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhaliman-kezhaliman yg dilakukan olehnya, & segera mem-bayar/menunaikan hak-hak & kewajiban kpd pemi-liknya, & menyampaikan amanat kpd yg berhak menerimanya.
  5. Memperbanyak zikir kpd Allah, membaca Al-Qur’an & beristighfar (minta ampun).
  6. Mengharap pahala dari Allah dari musibah (penyakit) yg dideritanya, karena dgn demikian ia pasti diberi pahala. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apa saja yg menimpa seorang mu’min baik berupa kesedihan, kesusahan, keletihan & penyakit, hingga duri yg menusuknya, melainkan Allah meninggikan karenanya satu derajat baginya & mengampuni kesalahannya karenanya“. (Muttafaq’alaih).

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika Makan dan Minum

  1. Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan menyungkur. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Aku tdk makan sedangkan aku menyandar”. (Hadis Riwayat: al-Bukhari). Dan di dalam haditsnya, Ibnu Umar Radhiallaahu anhu menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melarang 2 tempat makan, yaitu duduk di meja tempat minum khamar & makan sambil menyungkur”. (Hadis Riwayat: Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).
  2. Tidak makan & minum dgn menggunakan bejana terbuat dari emas & perak. Di dalam hadits Hudzaifah dinyatakan di antaranya bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “… & janganlah kamu minum dgn menggunakan bejana terbuat dari emas & perak, & jangan pula kamu makan dgn piring yg terbuat darinya, karena keduanya utk mereka (orang kafir) di dunia & utk kita di akhirat kelak”. (Muttafaq’alaih).
  3. Hendaknya memulai makanan & minuman dgn membaca Bismillah & diakhiri dgn Alhamdulillah. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang diantara kamu makan, hendaklah menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala & jika lupa menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala pd awalnya maka hendaknya mengatakan: Bismillahi awwalihi wa akhirihi”. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dishahihkan oleh Al-Albani). Adapun meng-akhirinya dgn Hamdalah, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah sangat meridhai seorang hamba yg apabila telah makan sesuatu makanan ia memuji-Nya & apabila minum minuman ia pun memuji-Nya”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  4. Tidak berlebih-lebihan di dalam makan & minum. Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada tempat yg yg lbh buruk yg dipenuhi oleh seseorang daripada perutnya, cukuplah bagi seseorang beberapa suap saja utk menegakkan tulang punggungnya; jikapun terpaksa, maka sepertiga utk makanannya, sepertiga utk minu-mannya & sepertiga lagi utk bernafas”. (Hadis Riwayat: Ahmad & dishahihkan oleh Al-Albani).
  5. Hendaknya pemilik makanan (tuan rumah) tdk melihat ke muka orang-orang yg sedang makan, namun seharusnya ia menundukkan pandangan matanya, karena hal tersebut dpt menyakiti perasaan mereka & membuat mereka menjadi malu.
  6. Hendaknya kamu tdk memulai makan atau minum sedangkan di dalam majlis ada orang yg lbh berhak memulai, baik kerena ia lbh tua atau mempunyai kedudukan, karena hal tersebut bertentangan dgn etika.
  7. Jangan sekali-kali kamu melakukan perbuatan yg orang lain bisa merasa jijik, seperti mengirapkan tangan di bejana, atau kamu mendekatkan kepalamu kpd tempat makanan di saat makan, atau berbicara dgn nada-nada yg mengandung makna kotor & menjijik-kan.
  8. Jangan minum langsung dari bibir bejana, berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, “Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum dari bibir bejana wadah air.” (Hadis Riwayat: Al Bukhari)
  9. Disunnatkan minum sambil duduk, kecuali jika udzur, karena di dalam hadits Anas disebutkan “Bahwa sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  10. Hendaknya makan dgn tangan kanan & dimulai dari yg ada di depanmu. Rasulllah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda Kepada Umar bin Salamah: “Wahai anak, sebutlah nama Allah & makanlah dgn tangan kananmu & makanlah apa yg di depanmu. (Muttafaq’alaih).
  11. Berupaya utk mencari makanan yg halal. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Wahai orang-orang yg beriman, makanlah di antara rizki yg baik-baik yg Kami berikan kepadamu”. (Al-Baqarah: 172). Yang baik disini artinya adl yg halal.
  12. Hendaklah makan & minum yg kamu lakukan diniatkan agar bisa dpt beribadah kpd Allah, agar kamu mendapat pahala dari makan & minummu itu.
  13. Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kamu kotor, & begitu juga setelah makan utk menghilangkan bekas makanan yg ada di tanganmu.
  14. Hendaklah kamu puas & rela dgn makanan & minuman yg ada, & jangan sekali-kali mencelanya. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menuturkan: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam sama sekali tdk pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan & jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).
  15. Disunnatkan makan dgn 3 jari & menjilati jari-jari itu sesudahnya. Diriwayatkan dari Ka`ab bin Malik dari ayahnya, ia menuturkan: “Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam makan dgn 3 jari & ia menjilatinya sebelum mengelapnya”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  16. Disunnatkan mengambil makanan yg terjatuh & membuang bagian yg kotor darinya lalu memakannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila suapan makan seorang kamu jatuh hendaklah ia mengambilnya & membuang bagian yg kotor, lalu makanlah ia & jangan membiarkannya utk syetan”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  17. Tidak meniup makan yg masih panas atau bernafas di saat minum. Hadits Ibnu Abbas menuturkan “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang bernafas pd bejana minuman atau meniupnya”. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi & dishahihkan oleh Al-Albani).

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika Berdoa

  1. Menghindari do`a buruk terhadap diri sendiri, anak & harta. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan sekali-kali kamu mendo`akan buruk terhadap diri kamu & juga terhadap anak-anak kamu & pula terhadap harta kamu, karena khawatir do`a kamu bertepatan dgn waktu dimana Allah mengabulkan do`amu”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  2. Merendahkan suara di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kamu, karena sesungguhnya kamu tdk berdo`a kpd yg tuli & tdk pula ghaib, sesungguhnya kamu berdo`a (memohon) kpd Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat & Dia selalu menyertai kamu”. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari).
  3. Berkonsentrasi di saat berdo`a. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Berdo`alah kamu kpd Allah sedangkan kamu dalam keadaan yakin dikabulkan, & ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tdk mengabulkan do`a dari hati yg lalai”. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi & dihasankan oleh Al-Albani).
  4. Benar-benar (meminta sangat) di dalam berdo`a & berbulat tekad di dalam memohon. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu berdo`a kpd Allah, maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdo`a, & jangan ada seorang kamu yg mengatakan:Jika Engkau menghendaki, maka berilah aku”, karena sesungguhnya Allah itu tdk ada yg dpt memaksanya”. Dan di dalam satu riwayat disebutkan: “Akan tetapi hendaknya ia bersungguh- sungguh dalam memohon & membesarkan harapan, karena sesungguhnya Allah tdk merasa berat karena sesuatu yg Dia berikan”. (Muttafaq’alaih).
  5. Tidak memaksa bersajak di dalam berdo`a. Ibnu Abbas pernah berkata kpd `Ikrimah: “Lihatlah sajak dari do`amu, lalu hindarilah ia, karena sesungguhnya aku memperhatikan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam & para shahabatnya tdk melakukan hal tersebut”.(Hadis Riwayat: Al-Bukhari)
  6. Terlebih dahulu sebelum berdo`a hendaknya memuji kpd Allah kemudian bershalawat kpd Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam pernah mendengar seorang lelaki sedang berdo`a di dalam shalatnya, namun ia tdk memuji kpd Allah & tdk bershalawat kpd Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Kamu telah tergesa-gesa wahai orang yg sedang shalat. Apabila anda selesai shalat, lalu kamu duduk, maka memujilah kpd Allah dgn pujian yg layak bagi-Nya, & bershalawatlah kepadaku, kemudian berdo`alah”. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi, & dishahihkan oleh Al-Albani).
  7. Mengakui dosa-dosa, mengakui kekurangan (keteledoran diri) & merendahkan diri, khusyu’, penuh harapan & rasa takut kpd Allah di saat anda berdo`a. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Sesungguhnya mereka adl orang-orang yg selalu bersegera di dalam (mengerjakan) perbuatan- perbuatan yg baik & mereka berdo`a kpd Kami dgn harap & cemas. Dan mereka adl orang-orang yg khusyu` kpd Kami”. (Al- Anbiya’: 90).
  8. Berwudhu’ sebelum berdo`a, menghadap Kiblat & mengangkat kedua tangan di saat berdo`a. Di dalam hadits Abu Musa Al-Asy`ari Radhiallaahu anhu disebutkan bahwa setelah Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam selesai melakukan perang Hunain:” Beliau minta air lalu berwudhu, kemudian mengangkat kedua tangannya; & aku melihat putih kulit ketiak beliau“. (Muttafaq’alaih).

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika Membaca Al-Qur’an

  1. Hendaknya tdk menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman yg artinya: “Tidak akan menyentuhnya kecuali orang-orang yg disucikan”. (Al-Waqi`ah: 79).
  2. Boleh bagi wanita haid & nifas membaca al-Qur’an dgn tdk menyentuh mushafnya menurut salah satu pendapat ulama yg lbh kuat, karena tdk ada hadits shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam yg melarang hal tersebut.
  3. Disunnatkan menyaringkan bacaan Al-Qur’an selagi tdk ada unsur yg negatif, seperti riya atau yg serupa dengannya, atau dpt mengganggu orang yg sedang shalat, atau orang lain yg juga membaca Al-Qur’an.
  4. Termasuk sunnah adl berhenti membaca bila sudah ngantuk, karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “?pabila salah seorang kamu bangun di malam hari, lalu lisannya merasa sulit utk membaca Al-Qur’an hingga tdk menyadari apa yg ia baca, maka hendaknya ia berbaring (tidur)”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  5. Sebaiknya orang yg membaca Al-Qur’an dalam keadaan sudah berwudhu, suci pakaiannya, badannya & tempatnya serta telah bergosok gigi.
  6. Hendaknya memilih tempat yg tenang & waktunya pun pas, karena hal tersebut lbh dpt konsentrasi & jiwa lbh tenang.
  7. Hendaknya memulai tilawah dgn ta`awwudz, kemu-dian basmalah pd setiap awal surah selain selain surah At-Taubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Apabila kamu akan mem-baca al-Qur’an, maka memohon perlindungan-lah kamu kpd Allah dari godaan syetan yg terkutuk”. (An-Nahl: 98).
  8. Hendaknya selalu memperhatikan hukum-hukum tajwid & membunyikan huruf sesuai dgn makhrajnya serta membacanya dgn tartil (perlahan-lahan). Allah berfirman yg Subhanahu wa Ta’ala artinya: “Dan Bacalah Al-Qur’an itu dgn perlahan-lahan”. (Al-Muzzammil: 4).
  9. Disunnatkan memanjangkan bacaan & memperindah suara di saat membacanya. Anas bin Malik Radhiallaahu anhu pernah ditanya: Bagaimana bacaan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam (terhadap Al-Qur’an? Anas menjawab: “Bacaannya panjang (mad), kemudian Nabi membaca “Bismillahirrahmanirrahim” sambil memanjangkan Bismillahi, & memanjangkan bacaan ar-rahmani & memanjangkan bacaan ar-rahim”. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari). Dan Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam juga bersabda: “Hiasilah suara kalian dgn Al-Qur’an”. (Hadis Riwayat: Abu Daud, & dishahih-kan oleh Al-Albani).
  10. Hendaknya membaca sambil merenungkan & menghayati makna yg terkandung pd ayat-ayat yg dibaca, berinteraksi dengannya, sambil memohon surga kpd Allah bila terbaca ayat-ayat surga, & berlindung kpd Allah dari neraka bila terbaca ayat-ayat neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Ini adl sebuah kitab yg Kami turunkan kepadamu penuh dgn berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya & supaya mendapat pelajaran orang-orang yg mempunyai fikiran.” (Shad: 29). Dan di dalam hadits Hudzaifah ia menuturkan: “……Apabila Nabi terbaca ayat yg mengandung makna bertasbih (kepada Allah) beliau bertasbih, & apabila terbaca ayat yg mengandung do`a, maka beliau berdo`a, & apabila terbaca ayat yg bermakna meminta perlindungan (kepada Allah) beliau memohon perlindungan”. (Hadis Riwayat: Muslim). Allah berfirman yg artinya:
  11. Hendaknya mendengarkan bacaan Al-Qur’an dgn baik & diam, tdk berbicara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Dan apabila Al- Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, & perhatikanlah dgn tenang agar kamu men-dapat rahmat”. (Al-A`raf: 204).
  12. Hendaklah selalu menjaga al-Qur’an & tekun membacanya & mempelajarinya (bertadarus) hingga tdk lupa. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Peliharalah Al-Qur’an baik-baik, karena demi Tuhan yg diriku berada di tangan-Nya, ia benar-benar lbh liar (mudah lepas) dari pd unta yg terikat di tali kendalinya“. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari).

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika di Masjid

  1. Berdo`a disaat masuk & keluar masjid. Disunatkan bagi orang yg masuk masjid mendahulukan kaki kanan, kemudian bershalawat kpd Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam lalu mengucapkan: “(Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)”
  2. Dan bila keluar mendahulukan kaki kiri, lalu bershalawat kpd Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam kemudian membaca do`a: “(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon bagian dari karunia-Mu)”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  3. Disunnatkan melakukan shalat sunnah tahiyatul masjid bila telah masuk masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu masuk masjid hendaklah shalat 2 raka`at sebelum duduk”. (Muttafaq alaih).
  4. Dilarang berjual-beli & mengumumkan barang hilang di dalam masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu melihat orang yg menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka doakanlah “Semoga Allah tdk memberi keuntungan bagimu”. Dan apabila kamu melihat orang yg mengumumkan barang hilang, maka do`akanlah “Semoga Allah tdk mengembalikan barangmu yg hilang”. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi & dishahihkan oleh Al-Albani).
  5. Dilarang masuk ke masjid bagi orang makan bawang putih, bawang merah atau orang yg badannya berbau tdk sedap. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yg memakan bawang putih, bawang merah atau bawang daun, maka jangan sekali-kali mendekat ke masjid kami ini, karena malaikat merasa terganggu dari apa yg dengan-nya manusia terganggu”. (Hadis Riwayat: Muslim). Dan termasuk juga rokok & bau lain yg tdk sedap yg keluar dari badan atau pakaian.
  6. Dilarang keluar dari masjid sesudah adzan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila tukang adzan telah adzan, maka jangan ada seorangpun yg keluar sebelum shalat”. (Hadis Riwayat: Al-Baihaqi & dishahihkan oleh Al-Albani).
  7. Tidak lewat di depan orang yg sedang shalat, & disunnatkan bagi orang yg sholat menaroh batas di depannya. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau sekiranya orang yg lewat di depan orang yg sedang sholat itu mengetahui dosa perbuatannya, niscaya ia berdiri dari jarak 4 puluh itu lbh baik baginya daripada lewat di depannya”. (Muttafaq alaih).
  8. Tidak menjadikan masjid sbg jalan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah kamu menjadikan masjid sbg jalan, kecuali (sebagai tempat) utk berzikir & shalat“. (Hadis Riwayat: Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh Al- Albani).
  9. Tidak menyaringkan suara di dalam masjid & tdk mengganggu orang-orang yg sedang shalat. Termasuk perbuatan mengganggu orang shalat adl membiarkan Handphone anda dalam keadaan aktif di saat shalat.
  10. Hendaknya wanita tdk memakai farfum atau berhias bila akan pergi ke masjid. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu (kaum wanita) ingin shalat di masjid, maka janganlah menyentuh farfum”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  11. Orang yg junub, wanita haid atau nifas tdk boleh masuk masjid. Allah berfirman: “(Dan jangan pula menghampiri masjid), sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. (an-Nisa: 43). & dari `Aisyah Radhiallaahu anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda kepadanya: “Ambilkan buat saya kain alas dari masjid”. Aisyah menjawab: Sesungguhnya aku haid? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya haidmu bukan di tanganmu”. (Hadis Riwayat: Muslim).
  12. Berdo`a di saat pergi ke masjid. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu beliau menyebutkan: Adalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam apabila ia keluar (rumah) pergi shalat (di masjid) berdo`a: “Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, & cahaya pd lisanku, & jadikanlah cahaya pd pendengaranku & cahaya pd penglihatanku, & jadikanlah cahaya dari belakangku, & cahaya dari depanku, & jadikanlah cahaya dari atasku & cahaya dari bawahku. Ya Allah, anugerahilah aku cahaya”. (Muttafaq’alaih).
  13. Berjalan menuju masjid utk shalat dgn tenang & khidmat. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Apabila shalat telah diiqamatkan, maka janganlah kamu datang menujunya dgn berlari, tetapi datanglah kepadanya dgn berjalan & memperhatikan ketenangan. Maka apa (bagian shalat) yg kamu dapati ikutilah & yg tertinggal sempurnakanlah. (Muttafaq’alaih).

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika dalam Bergaul

  1. Hormati perasaan orang lain, tdk mencoba menghina atau menilai mereka cacat.
  2. Jaga & perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter & akhlaq mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yg sepantasnya.
  3. Berbaik sangkalah kpd orang lain & jangan memata-matai mereka.
  4. Memaafkan kekeliruan mereka & jangan mencari-cari kesalahan-kesalahannya, & tahanlah rasa benci terhadap mereka.
  5. Dengarkanlah pembicaraan mereka & hindarilah perdebatan & bantah- membantah dgn mereka.
  6. Mendudukkan orang lain pd kedudukannya & masing-masing dari mereka diberi hak & dihargai.
  7. Perhatikanlah mereka, kenalilah keadaan & kondisi mereka, & tanyakanlah keadaan mereka.
  8. Bersikap tawadhu’lah kpd orang lain & jangan merasa lbh tinggi atau takabbur & bersikap angkuh terhadap mereka.
  9. Bermuka manis & senyumlah bila anda bertemu orang lain.
  10. Berbicaralah kpd mereka sesuai dgn kemampuan akal mereka.

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika Bercanda

  1. Hendaknya percandaan itu adl benar tdk mengandung dusta. Dan hendaknya pecanda tdk mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya orang lain tertawa. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah bagi orang yg berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang byk jdi tertawa. Celakalah baginya & celakalah“. (Hadis Riwayat: Ahmad & dinilai hasan oleh Al-Albani).
  2. Hendaknya percandaan tdk mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah seorang di antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; & jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya“. (Hadis Riwayat: Ahmad & Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani).
  3. Hendaknya percandaan tdk mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam. Karena Allah telah berfirman tentang orang- orang yg memperolok-olokan shahabat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yg ahli baca al-Qur`an yg artimya: “Dan jika kamu tanyakan kpd mereka (tentang apa yg mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: “Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau & bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dgn Allah, ayat-ayat-Nya & Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman”. (At-Taubah: 65-66).
  4. Bercanda tdk boleh dilakukan terhadap orang yg lbh tua darimu, atau terhadap orang yg tdk bisa bercanda atau tdk dpt menerimanya, atau terhadap perempuan yg bukan mahrammu.
  5. Hendaknya anda tdk memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu, & jatuhlah wibawamu & akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain.

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika Berbeda Pendapat

  1. Sebisa mungkin berusaha utk tdk memperuncing perselisihan, yaitu dgn cara menafsirkan
  2. Berusaha sebisa mungkin utk tdk mudah menyalahkan orang lain, kecuali sesudah penelitian yg dalam & difikirkan secara matang.
  3. Berlapang dada di dalam menerima kritikan yg ditujukan kpd anda atau catatan-catatang yg dialamatkan kpd anda.
  4. Sedapat mungkin menghindari permasalahan-permasalahan khilafiyah & fitnah.
  5. Berpegang teguh dgn etika berdialog & menghindari perdebatan, bantah-membantah & kasar menghadapi lawan.
  6. Ikhlas & mencari yg haq serta melepaskan diri dari nafsu di saat berbeda pendapat. Juga menghindari sikap show (ingin tampil) & membela diri & nafsu.
  7. Mengembalikan perkara yg diperselisihkan kpd Kitab Al-Qur’an & Sunnah. Karena Allah Subhaanahu wa Ta’ala telah berfirman yg artinya: “Dan jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kpd Allah (Kitab) & Rasul”. (An-Nisa: 59).
  8. Berbaik sangka kpd orang yg berbeda pendapat denganmu & tdk menuduh buruk niatnya, mencela & menganggapnya cacat.

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan