Mozaik Islam

Etika Berbicara

  1. Menghindari perdebatan & saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yg benar & menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku adl penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yg menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; & (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yg meninggalkan dusta sekalipun bercanda“. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dinilai hasan oleh Al-Albani).
  2. Tenang dalam berbicara & tdk tergesa-gesa. Aisyah Radhiallaahu ‘anha. telah menuturkan: “Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan sesuatu pembicaraan, sekiranya ada orang yg menghitungnya, niscaya ia dpt menghitungnya”. (Mutta-faq’alaih).
  3. Menghindari perkataan jorok (keji). Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang mu’min itu pencela atau pengutuk atau keji pembicaraannya”. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari di dalam Al-Adab Mufrad, & dishahihkan oleh Al-Albani).
  4. Menghindari sikap memaksakan diri & banyak bicara di dalam berbicara. Di dalam hadits Jabir Radhiallaahu ‘anhu disebutkan: “Dan sesungguhnya manusia yg paling aku benci & yg paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adl orang yg byk bicara, orang yg berpura-pura fasih & orang-orang yg mutafaihiqun”. Para shahabat bertanya: Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab: “Orang-orang yg sombong”. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
  5. Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) & mengadu domba. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yg lain”.(Al-Hujurat: 12).
  6. Mendengarkan pembicaraan orang lain dgn baik & tdk memotongnya, juga tdk menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yg dibicarakannya, tdk menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.
  7. Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kpd orang lain utk berbicara.
  8. Menghindari perkataan kasar, keras & ucapan yg menyakitkan perasaan & tdk mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain & kekeliruannya, karena hal tersebut dpt mengundang kebencian, permusuhan & pertentangan.
  9. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok & memandang rendah orang yg berbicara. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Wahai orang-orang yg beriman, janganlah sesuatu kaum mengolok-olokan kaum yg lain (karena) boleh jdi mereka (yang diolok-olokan) lbh baik dari mereka (yang mengolok-olokan), & jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jdi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lbh baik dari wanita (yang mengolok-olokan). (Al-Hujurat: 11).
  10. Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Tidak ada kebaikan pd kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yg menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).
  11. hendaknya pembicaran dgn suara yg dpt didengar, tdk terlalu keras & tdk pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dpt difahami oleh semua orang & tdk dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.
  12. Jangan membicarakan sesuatu yg tidak berguna bagimu. Hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Termasuk kebaikan islamnya seseorang adl meninggalkan sesuatu yg tdk berguna”. (Hadis Riwayat: Ahmad & Ibnu Majah).
  13. Janganlah kamu membicarakan semua apa yg kamu dengar. Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu di dalam hadisnya menuturkan: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Cukuplah menjadi sesuatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yg telah ia dengar“.(Hadis Riwayat: Muslim)

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika Berpakaian dan Berhias

  1. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda kpd salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya mengenakan pakaian jelek: “Apabila Allah Tabaroka wata’ala mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas ni`mat & kemurahan-Nya itu pd dirimu. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dishahihkan oleh Al-Albani).
  2. Pakaian harus menutup aurat, yaitu longgar tdk membentuk lekuk tubuh & tebal tdk memperlihatkan apa yg ada di baliknya.
  3. Pakaian laki-laki tdk boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya. Karena hadits yg bersumber dari Ibnu Abbas Radhiallaahu ‘anhu ia menuturkan: “Rasulullah melaknat (mengutuk) kaum laki-laki yg menyerupai kaum wanita & kaum wanita yg menyerupai kaum pria.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari).
  4. Disunnatkan memakai pakaian berwarna putih, karena hadits mengatakan: “Pakailah yg berwarna putih dari pakaianmu, karena yg putih itu adl yg terbaik dari pakaian kamu…” (Hadis Riwayat: Ahmad & dinilah shahih oleh Albani).
  5. Disunnatkan menggunakan farfum bagi laki-laki & perempuan, kecuali bila keduanya dalam keadaan berihram utk haji ataupun umrah, atau jika perempuan itu sedang berihdad (berkabung) atas kematian suaminya, atau jika ia berada di sesuatu tempat yg ada laki-laki asing (bukan mahramnya), karena larangannya shahih.
  6. Haram bagi perempuan memasang tato, menipiskan bulu alis, memotong gigi supaya cantik & menyambung rambut (bersanggul). Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dalam haditsnya mengatakan: “Allah melaknat (mengutuk) wanita pemasang tato & yg minta ditatoi, wanita yg menipiskan bulu alisnya & yg meminta ditipiskan & wanita yg meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah”. Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan: “Allah melaknat wanita yg menyambung rambutnya”. (Muttafaq’alaih).
  7. Tasyabbuh atau penyerupaan itu bisa dalam bentuk pakaian ataupun lainnya.
  8. Pakaian tdk merupakan pakaian show (untuk ketenaran), karena Rasulullah Radhiallaahu ‘anhu telah bersabda: “Barang siapa yg mengenakan pakaian ketenaran di dunia niscaya Allah akan mengenakan padanya pakaian kehinaan di hari Kiamat.” ( Hadis Riwayat: Ahmad, & dinilai hasan oleh Al-Albani).
  9. Pakaian tdk boleh ada gambar makhluk yg bernyawa atau gambar salib, karena hadits yg bersumber dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha menyatakan bahwasanya beliau berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tdk pernah membiarkan pakaian yg ada gambar salibnya melainkan Nabi menghapusnya”. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Ahmad).
  10. Laki-laki tdk boleh memakai emas & kain sutera kecuali dalam keadaan terpaksa. Karena hadits yg bersumber dari Ali Radhiallaahu ‘anhu mengatakan: “Sesungguhnya Nabi Allah Subhaanahu wa Ta’ala pernah membawa kain sutera di tangan kanannya & emas di tangan kirinya, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya 2 jenis benda ini haram bagi kaum lelaki dari umatku”. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dinilai shahih oleh Al-Albani).
  11. Pakaian laki-laki tdk boleh panjang melebihi kedua mata kaki. Karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Apa yg berada di bawah kedua mata kaki dari kain itu di dalam neraka” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari). -penting- <tilmidzi>
  12. Adapun perempuan, maka seharusnya pakaiannya menutup seluruh badannya, termasuk kedua kakinya. Adalah haram hukumnya orang yg menyeret (meng- gusur) pakaiannya karena sombong & bangga diri. Sebab ada hadits yg menyatakan: “Allah tdk akan memperhatikan di hari Kiamat kelak kpd orang yg menyeret kainnya karena sombong”. (Muttafaq’alaih).
  13. Disunnatkan mendahulukan bagian yg kanan di dalam berpakaian atau lainnya. Aisyah Radhiallaahu ‘anha di dalam haditsnya berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam suka bertayammun (memulai dgn yg kanan) di dalam segala perihalnya, ketika memakai sandal, menyisir rambut & bersuci’. (Muttafaq’-alaih).
  14. Disunnatkan kpd orang yg mengenakan pakaian baru membaca: “Segala puji bagi Allah yg telah menutupi aku dgn pakaian ini & mengaruniakannya kepada-ku tanpa daya & kekuatan dariku”. (Hadis Riwayat: Abu Daud & dinilai hasan oleh Al-Albani).

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika Minta Izin

  1. Hendaknya orang yg akan meminta izin memilih waktu yg tepat utk minta izin.
  2. Hendaknya orang yg akan minta izin mengetuk pintu rumah orang yg akan dikunjunginya secara pelan. Anas Radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya ia telah berkata: Sesungguhnya pintu-pintu kediaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam diketuk (oleh para tamunya) dgn ujung kuku“. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad & dishahihkan oleh Al-Albani).
  3. Hendaknya orang yg mengetuk pintu tdk menghadap ke pintu yg diketuk, tetapi sebaiknya menolehkan pandangannya ke kanan atau ke kiri agar pandangan tdk terjatuh kpd sesuatu di dalam rumah tersebut yg dimana penghuni rumah tdk ingin ada orang lain yg melihatnya. Karena minta izin itu sebenarnya dianjurkan utk menjaga pandangan.
  4. Sebelum minta izin hendaknya memberi salam terlebih dahulu. Rib`iy berkata: Telah bercerita kpd saya seorang lelaki dari Bani `Amir, bahwasanya ia pernah minta izin kpd Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di saat beliau ada di sesuatu rumah. Orang itu berkata: Bolehkah saya masuk? Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata kpd pembantunya: “Jumpailah orang itu & ajari dia cara minta izin, & katakan kepadanya: Ucapkan Assalamu `alaikum, bolehkah saya masuk?“. (Hadis Riwayat: Ahmad & Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Albani).
  5. Minta izin itu sampai 3 kali, jika sesudah 3 kali tdk ada jawaban maka hendaknya pulang. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu minta izin sudah 3 kali, lalu tdk diberi izin, maka hendaklah ia pulang”. (Muttafaq’alaih).
  6. Apabila orang yg minta izin itu ditanya tentang namanya, maka hendaklah ia menyebutkan nama & panggilannya, & jangan mengatakan: “Saya”. Jabir Radhiallaahu ‘anhu menuturkan: “Aku pernah datang kpd Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam utk menanyakan hutang yg ada pd ayah saya. Maka aku ketuk pintu (rumah Nabi). Lalu Nabi berkata: “Siapa itu?”. Maka aku jawab: Saya. Maka Nabi berkata: “Saya! Saya!” dgn nada tdk suka.” (Muttafaq’alaih).
  7. Hendaknya peminta izin pulang apabila permintaan izinnya ditolak, karena Allah telah berfirman yg artinya: “Dan jika dikatakan kpd kamu “pulang”, maka pulanglah kamu, karena yg demikian itu lbh suci bagi kamu“. (An-Nur: 28).
  8. Hendaknya peminta izin tdk memasuki rumah apabila tdk ada orangnya, karena hal tersebut merupakan perbuatan melampaui hak orang lain.

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Adab (Etika) Memberi Salam

  1. Dianjurkan mengucapkan salam 3 kali jika khalayak byk jumlahnya. Di dalam hadits Anas disebutkan bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia mengucapkan sesuatu kalimat, ia mengulanginya 3 kali. Dan apabila ia datang kpd sesuatu kaum, ia memberi salam kpd mereka 3 kali” (Hadis Riwayat: Al- Bukhari).
  2. Makruh memberi salam dgn ucapan: “Alaikumus salam” karena di dalam hadits Jabir Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya ia menuturkan: Aku pernah menjumpai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka aku berkata: “Alaikas salam ya Rasulallah”. Nabi menjawab: “Jangan kamu mengatakan: Alaikas salam”. Di dalam riwayat Abu Daud disebutkan: “karena sesungguhnya ucapan “alaikas salam” itu adl salam utk orang-orang yg telah mati”. (Hadis Riwayat: Abu Daud & At-Turmudzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
  3. Termasuk sunnah adl orang mengendarai kendaraan memberikan salam kpd orang yg berjalan kaki, & orang yg berjalan kaki memberi salam kpd orang yg duduk, orang yg sedikit kpd yg byk, & orang yg lbh muda kpd yg lbh tua. Demikianlah disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah yg muttafaq’alaih.
  4. Disunnatkan keras ketika memberi salam & demikian pula menjawabnya, kecuali jika di sekitarnya ada orang-orang yg sedang tidur. Di dalam hadits Miqdad bin Al-Aswad disebutkan di antaranya: “dan kami pun memerah susu (binatang ternak) hingga setiap orang dpt bagian minum dari kami, & kami sediakan bagian utk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam Miqdad berkata: Maka Nabi pun datang di malam hari & memberikan salam yg tdk membangunkan orang yg sedang tidur, namun dpt didengar oleh orang yg bangun”.(Hadis Riwayat: Muslim).
  5. Disunatkan memberikan salam di waktu masuk ke sesuatu majlis & ketika akan meninggalkannya. Karena hadits menyebutkan: “Apabila salah seorang kamu sampai di sesuatu majlis hendaklah memberikan salam. Dan apabila hendak keluar, hendaklah memberikan salam, & tidaklah yg pertama lbh berhak daripada yg kedua. (Hadis Riwayat: Abu Daud & disahihkan oleh Al-Albani).
  6. Disunnatkan memberi salam di saat masuk ke sesuatu rumah sekalipun rumah itu kosong, karena Allah telah berfirman yg artinya: “Dan apabila kamu akan masuk ke sesuatu rumah, maka ucapkanlah salam atas diri kalian” (An-Nur: 61)
  7. Dan karena ucapan Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma: “Apabila seseorang akan masuk ke sesuatu rumah yg tdk berpenghuni, maka hendaklah ia mengucapkan: Assalamu `alaina wa `ala `ibadillahis shalihin” (Hadis Riwayat: Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, & disahihkan oleh Al-Albani).
  8. Dimakruhkan memberi salam kpd orang yg sedang di WC (buang hajat), karena hadits Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhuma yg menyebutkan “Bahwasanya ada seseorang yg lewat sedangkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang buang air kecil, & orang itu memberi salam. Maka Nabi tdk menjawabnya”. (Hadis Riwayat: Muslim)
  9. Disunnatkan memberi salam kpd anak-anak, karena hadits yg bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan: Bahwasanya ketika ia lewat di sekitar anak-anak ia memberi salam, & ia mengatakan: “Demikianlah yg dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. (Muttafaq’alaih).
  10. Tidak memulai memberikan salam kpd Ahlu Kitab, sebab Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Janganlah kalian terlebih dahulu memberi salam kpd orang-orang Yahudi & Nasrani…..” (Hadis Riwayat: Muslim). Dan apabila mereka yg memberi salam maka kita jawab dgn mengucapkan “wa `alaikum” saja, karena sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila Ahlu Kitab memberi salam kpd kamu, maka jawablah: wa `alaikum”.(Muttafaq’alaih).
  11. Disunnatkan memberi salam kpd orang yg kamu kenal ataupun yg tdk kamu kenal. Di dalam hadits Abdullah bin Umar Radhiallaahu ‘anhu disebutkan bahwasanya ada seseorang yg bertanya kpd Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Islam yg manakah yg paling baik? Jawab Nabi: Engkau memberikan makanan & memberi salam kpd orang yg telah kamu kenal & yg belum kamu kenal”. (Muttafaq’alaih).
  12. Disunnatkan menjawab salam orang yg menyampaikan salam lewat orang lain & kpd yg dititipinya. Pada sesuatu ketika seorang lelaki datang kpd Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untukmu. Maka Nabi menjawab: “`alaika wa`ala abikas salam”
  13. Dilarang memberi salam dgn isyarat kecuali ada uzur, seperti karena sedang shalat atau bisu atau karena orang yg akan diberi salam itu jauh jaraknya. Di dalam hadits Jabir bin Abdillah Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian memberi salam seperti orang-orang Yahudi & Nasrani, karena sesungguhnya pemberian salam mereka memakai isyarat dgn tangan”. (Hadis Riwayat: Al-Baihaqi & dinilai hasan oleh Al-Albani).
  14. Disunnatkan kpd seseorang berjabat tangan dgn saudaranya. Hadits Rasulullah mengatakan: “Tiada 2 orang muslim yg saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah” (Hadis Riwayat: Abu Daud & dishahihkan oleh Al-Albani).
  15. Dianjurkan tdk menarik (melepas) tangan kita terlebih dahulu di saat berjabat tangan sebelum orang yg dijabat tangani itu melepasnya. Hadits yg bersumber dari Anas Radhiallaahu ‘anhu menyebutkan: “Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila ia diterima oleh seseorang lalu berjabat tangan, maka Nabi tdk melepas tangannya sebelum orang itu yg melepasnya….” (Hadis Riwayat: At- Tirmidzi & dishahihkan oleh Al-Albani).
  16. Haram hukumnya membungkukkan tubuh atau sujud ketika memberi penghormatan, karena hadits yg bersumber dari Anas menyebutkan: Ada seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah, kalau salah seorang di antara kami berjumpa dgn temannya, apakah ia harus membungkukkan tubuhnya kepadanya? Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak”. Orang itu bertanya: Apakah ia merangkul & menciumnya? Jawab nabi: Tidak. Orang itu bertanya: Apakah ia berjabat tangan dengannya? Jawab Nabi: Ya, jika ia mau. (Hadis Riwayat: At-Turmudzi & dinilai shahih oleh Al-Albani).
  17. Haram berjabat tangan dgn wanita yg bukan mahram. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika akan dijabat tangani oleh kaum wanita di saat baiat, beliau bersabda: “Sesung-guhnya aku tdk berjabat tangan dgn kaum wanita”. (Hadis Riwayat: Turmudzi & Nasai, & dishahihkan oleh Albani).

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Etika di Jalan

  1. Memelihara pandangan mata, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Katakanlah kpd orang laki- laki beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, & memelihara kemaluannya; yg demikian itu adl lbh suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui apa yg mereka perbuat. Dan katakanlah kpd wanita yg beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, & memelihara kemaluannya….” (An-Nur: 30-31).
  2. Berjalan dgn sikap wajar & tawadlu, tdk berlagak sombong di saat berjalan atau mengangkat kepala karena sombong atau mengalihkan wajah dari orang lain karena takabbur. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yg artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) & janganlah kamu berjalan di muka bumi dgn angkuh. Sesungguhnya Allah tdk menyukai orang-orang yg sombong lagi membanggakan diri“. (Luqman: 18)
  3. Menjawab salam orang yg dikenal ataupun yg tdk dikenal. Ini hukumnya wajib, karena Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Ada 5 perkara wajib bagi seorang muslim terhadap saudaranya- diantaranya: menjawab salam”. (Muttafaq alaih).
  4. Beramar ma`ruf & nahi munkar. Ini juga wajib dilakukan oleh setiap muslim, masing-masing sesuai kemampuannya.
  5. Menunjukkan orang yg tersesat (salah jalan), memberikan bantuan kpd orang yg membutuhkan & menegur orang yg berbuat keliru serta membela orang yg teraniaya. Di dalam hadits disebutkan: “Setiap persendian manusia mempunyai kewajiban sedekah…dan disebutkan diantaranya: berbuat adil di antara manusia adl sedekah, menolong & membawanya di atas kendaraannya adl sedekah atau mengangkatkan barang-barangnya ke atas kendaraannya adl sedekah & menunjukkan jalan adl sedekah….” (Muttafaq alaih).
  6. Perempuan hendaknya berjalan di pinggir jalan. Pada sesuatu ketika Nabi pernah melihat campur baurnya laki-laki dgn wanita di jalanan, maka ia bersabda kpd wanita: “Meminggirlah kalian, kalain tdk layak memenuhi jalan, hendaklah kalian menelusuri pinggir jalan. (Hadis Riwayat: Abu Daud, & dinilai shahih oleh Al-Albani).
  7. Tidak ngebut bila mengendarai mobil khususnya di jalan-jalan yg ramai dgn pejalan kaki, melapangkan jalan utk orang lain & memberikan kesempatan kpd orang lain utk lewat. Semua itu tergolong di dalam tolong- menolong di dalam kebajikan.
  8. Tidak mengganggu, yaitu tdk membuang kotoran, sisa makanan di jalan-jalan manusia, & tdk buang air besar atau kecil di situ atau di tempat yg dijadikan tempat mereka bernaung.
  9. Menyingkirkan gangguan dari jalan. Ini merupakan sedekah yg karenanya seseorang bisa masuk surga. Dari Abu Hurairah Radhiallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika ada seseorang sedang berjalan di sesuatu jalan, ia menemukan dahan berduri di jalan tersebut, lalu orang itu menyingkirkannya. Maka Allah bersyukur kepadanya & mengampuni dosanya…” Di dalam sesuatu riwayat disebutkan: maka Allah memasukkannya ke surga”. (Muttafaq’alaih).

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Hukum Memelihara Ikan Hias dalam Aquarium

Tanya
Apakah diperbolehkan menangkap burung serta memasukkannya ke dalam sangkar, kemudian disimpan di dalam rumah sbg hiasan seperti burung kakatua & jenis burung lainnya, atau burung bulbul utk mendengarkan kicauannya, atau memelihara ikan dalam aquarium?

Jawab
Hal tersebut tdk berdosa, jika anda tdk berbuat zhalim, & hendaklah anda memperlakukannya dgn baik dalam hal memberi makanan & minumannya.

Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam pernah bersabda,

“Seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing hingga mati, kemudian ia

dimasukan ke dalam neraka karena ia telah mengurungnya tanpa memberi makan dan

minum & iapun tdk melepasnya sehingga kucing itu dpt mencari makanan

berupa serangga tanah” (Hadis Riwayat: Bukhari no. 3482 & Muslim no. 2242)

Baik binatang peliharaan tersebut berupa burung kakatua, burung dara, ayam atau binatang peliharaan lainnya dgn syarat harus diperlakukan dgn baik & tdk menzhaliminya, baik binatang peliharaan itu dipelihara di dalam kolam, sangkar atau aquarium seperti ikan misalnya. Sesungguhnya Allah Maha Pelindung lagi Maha Penolong.

Syaikh Ibn Baz, Fatawa Islamiyah, 4/448-44

Etika Tidur dan Bangun

  1. Berintrospeksi diri (muhasabah) sesaat sebelum tidur. Sangat dianjurkan sekali bagi setiap muslim bermuhasabah (berintrospeksi diri) sesaat sebelum tidur, mengevaluasi segala perbuatan yg telah ia lakukan di siang hari. Lalu jika ia dapatkan perbuatannya baik maka hendaknya memuji kpd Allah Subhanahu wata’ala & jika sebaliknya maka hendaknya segera memohon ampunan-Nya, kembali & bertobat kepada-Nya.
  2. Tidur dini, berdasarkan hadits yg bersumber dari `Aisyah Radhiallahu’anha “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tidur pd awal malam & bangun pd pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat”.(Muttafaq `alaih)
  3. Disunnatkan berwudhu’ sebelum tidur, & berbaring miring sebelah kanan. Al- Bara’ bin `Azib Radhiallahu’anhu menuturkan: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apabila kamu akan tidur, maka berwudlu’lah sebagaimana wudlu’ utk shalat, kemudian berbaringlah dgn miring ke sebelah kanan…” Dan tdk mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.
  4. Disunnatkan pula mengibaskan sperei 3 kali sebelum berbaring, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang dari kamu akan tidur pd tempat tidurnya, maka hendaklah mengirapkan kainnya pd tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tdk tahu apa yg ada di atasnya…” Di dalam satu riwayat dikatakan: “tiga kali”. (Muttafaq `alaih).
  5. Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar Radhiallahu’anhu menuturkan:”Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam membangunkanku dgn kakinya sambil bersabda:”Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adl cara berbaringnya penghuni neraka”. (H.R. Ibnu Majah & dinilai shahih oleh Al-Albani).
  6. Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yg bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda: “Barangsiapa yg tidur malam di atas atap rumah yg tdk ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya”. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, & dinilai shahih oleh Al-Albani).
  7. Menutup pintu, jendela & memadamkan api & lampu sebelum tidur. Dari Jabir ra diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana & tutuplah makanan & minuman“. (Muttafaq’alaih).
  8. Membaca ayat Kursi, 2 ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah, Surah Al-Ikhlas & Al-Mu`awwidzatain (Al-Falaq & An-Nas), karena byk hadits-hadits shahih yg menganjurkan hal tersebut.
  9. Membaca do`a-do`a & dzikir yg keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, seperti: Allaahumma qinii yauma tab’atsu ‘ibaadaka. “Ya Allah, peliharalah aku dari adzab-Mu pd hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu”. Dibaca 3 kali.(Hadis Riwayat: Abu Dawud & di hasankan oleh Al Albani)
  10. Dan membaca: Bismika Allahumma Amuutu Wa ahya. “Dengan menyebut nama- Mu ya Allah, aku mati & aku hidup.” (Hadis Riwayat: Al Bukhari)
  11. Apabila di saat tidur merasa kaget atau gelisah atau merasa ketakutan, maka disunnatkan (dianjurkan) berdo`a dgn do`a berikut ini: “A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min ghadhabihi Wa syarri ‘ibaadihi, wa min hamazaatisy syayaathiini wa an yahdhuruuna.” Artinya, “Aku berlindung dgn Kalimatullah yg sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dari gangguan syetan & kehadiran mereka kepadaku”. (Hadis Riwayat: Abu Dawud & dihasankan oleh Al Albani)
  12. Hendaknya apabila bangun tidur membaca: “Alhamdu Lillahilladzii Ahyaanaa ba’da maa Amaatanaa wa ilaihinnusyuur” Artinya, “Segala puji bagi Allah yg telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, & kepada-Nya lah kami dikembalikan.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari)

Div. Ilmiyah Dar Al Wathan, Terjemah: Tim Dar Al Wathan

Hukum Memakan Bawang Putih, Bawang Merah atau Kurrats Sebelum ke Masjid

Pertanyaan

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Telah diriwayatkan dalam hadits shahih, larangan terhadap orang yg makan bawang merah, bawang putih, atau kuras (bawang daun) lalu pergi ke masjid. Apakah dpt ditambahkan pd hal-hal tersebut sesuatu yg mempunyai bau busuk & haram seperti rokok? Dan apakah hal itu berarti bahwa orang yg telah makan hal-hal tersebut diberi kelonggaran utk meninggalkan shalat berjama’ah sehingga ia tdk berdosa bila meninggalkannya?

Jawaban

Telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

“Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka janganlah ia mendekati masjid kami & hendaklah ia shalat di rumahnya” [Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 855, Muslim, kitab Al-Masajid 73, 564]

Dan telah diriwayatkan pula dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda.

“Sesungguhnya para malaikat itu juga terganggu dgn apa-apa yg mengganggu manusia” [Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 854, Muslim, kitab Al-Masajid 564]

Semua yg beraroma busuk, hukumnya sama dgn hukum bawang putih & bawang merah, seperti mengisap rokok, juga orang yg ketiaknya bau atau lainnya, yg mengganggu orang lain yg di dekatnya, maka ia dimakruhkan utk shalat berjama’ah, sampai ia mengggunakan sesuatu yg dpt menghilangkan bau tersebut.

Yang wajib baginya ialah melakukan hal itu (meghilangkan baunya) semaksimal mungkin, agar ia dpt melakukan shalat berjama’ah sesuai yg diwajibkan oleh Allah.

Adapun merokok, maka hal itu haram secara mutlak, wajib utk ditinggalkan setai saat, karena bisa membahayakan terhadap agama, badan & harta. Semoga Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin & memberi petunjuk kpd mereka utk kebaikan. [Fatawa MuhimmahTataallaqu Bish Shalah, hal. 61-62]

Pertanyaan

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya: Dalam sebuah hadits dsiebutkan, bahwa Rasulullah Shallallahu wa sallam bersabda: Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka janganlah ia mendekati masjid kami & hendaklah ia shalat di rumahnya, karena sesungguhnya para malaikat itu juga terganggu dgn apa-apa yg mengganggu manusia” [Al-Bukhari, kitab Adzan 854, Muslim, kitab Al-Masajid 564]

Apakah ini berarti bahwa orang yg memakan barang-barang tersebut tdk boleh shalat di masjid hingga berlalu waktu makanannya, atau berarti memakan barang-barang tersebut tdk diperbolehkan bagi orang yg berkewajiban melaksanakan shalat secara berjama’ah?

Jawaban

Hadits ini & hadits-hadits lainnya yg semakna menunjukkan makruh seorang muslim mengikuti shalat berjama’ah selama masih ada bau barang-barang tersebut, karena akan mengganggu orang yg di dekatnya, baik itu karena memakan kuras (bawang daun), bawang merah atau bawang putih atau barang lainnya yg menyebabkan bau tdk sedap, seperti mengisap rokok, sampai baunya hilang. Perlu diketahui, bahwa rokok itu, selain baunya yg busuk, hukumnya juga haram, karena bahayanya byk & keburukannya sudah jelas. Ini termasuk dalam cakupan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yg baik & mengharamkan bagi mereka segala yg buruk” [Al-A’raf: 157]

Dan firman-Nya.

“Mereka menanyakan kepadamu, “Apakah yg dihalalkan bagi mereka”. Katakanlah bagimu yg baik-baik” [Al-Ma’idah: 4]

Sebagaimana diketahui, bahwa rokok termasuk hal-hal yg tdk baik, dgn begitu rokok termasuk yg diharamkan terhadap umat ini. Adapun batasan 3 hari, saya tdk tahu adanya dalil tentang ini.

Dan hanya Allah-lah yg berkuasa memberi petunjuk. [Kitab Ad-Da’wah, hal.81-82]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjmah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

Makna Global Hadits

Yang dituntut dari seorang yg melaksanakan shalat agar menggunakan sebaik-baik wewangian & aroma, apalagi bila ingin melaksanakan shalat di masjid-masjid Jami’.

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan siapa saja yg memakan bawang merah atau bawang putih agar menjauhi masjid-masjid kaum Muslimin & melakukan shalat di rumahnya saja hingga bau yg tdk sedap, yg membuat para jema’ah shalat & malaikat itu terganggu hilang.

Tatkala dihadirkan kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam panci berisi sayur-sayuran & biji-bijian hijau lalu beliau mendapati baunya yg tdk sedap, maka beliau memerintahkan agar didekatkan kpd para shahabat yg hadir di sisinya, tatkala orang yg hadir di situ melihat ketidaksukaan beliau, ia mengira hal itu diharamkan lantas ragu utk memakannya. Lantas beliau memberitahukan kepadanya bahwa makanan itu tidaklah diharamkan & ketidaksukaannya bukan berarti karena ia haram dimakan.

Lalu beliau memerintahkannya agar memakannya & memberitahukan kepadanya bahwa yg mencegahnya memakannya hanyalah karena beliau sedang mengadakan kontak dgn Rabbnya & bermunajat dimana tdk seorang pun yg dpt sampai kpd tingkatan itu. Karenanya, wajib bagi beliau utk berada dalam kondisi yg paling baik di kala melakukan ibadah & pendekatan kpd Rabb SWT.

Hukum-Hukum Hadits

Kedua hadits di atas mengandung hukum-hukum sbg berikut:

  1. Larangan mendatangi masjid-masjid bagi siapa saja yg memakan bawang putih, bawang merah atau Kurrats.
  2. Dapat digolongkan pula kpd benda-benda tersebut, tembakau yg digunakan oleh para perokok. Siapa saja yg memiliki kebiasaan merokok, maka hendaknya tdk menghisapnya ketika pergi ke masjid. Hendaknya ia membersihkan gigi & mulutnya sehingga baunya hilang atau dpt meminimalisir baunya.
  3. Dimakruhkan memakan benda-benda tersebut bagi siapa saja yg ingin menghadiri shalat di masjid agar tdk kehilangan kesempatan melakukan shalat berjema’ah di masjid alias selama ia memakannya tersebut bukan dimaksudkan sbg rekayasa agar kehadirannya di masjid menjadi gugur dgn dalih hal itu diharamkan.
  4. Hikmah dilarangnya mendatangi masjid-masjid adl agar malaikat & juga para jema’ah shalat yg lain tdk terganggu.
  5. Larangan mengganggu orang lain dgn segala jenis sarananya. Di dalam hadits di atas, terdapat sarana yg telah dinyatakan berdasarkan nash, maka menggolongkan yg lain kepadanya adl benar & sesuai dgn qiyas.
  6. Pelarangan memakan bawang putih & semisalnya bukan karena keharamannya. Hal ini berdasarkan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg memerintahkan agar memakannya. Jadi, berpantangnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakannya tdk menunjukkan kpd pengharaman.

Faedah

Alasan sebagian ulama membolehkan memakan benda-benda tersebut adl karena shalat berjema’ah hukumnya adl fardhu kifayah.

Sisi pendalilannya, bahwa andaikata shalat berjama’ah itu fardhu ‘ain tentulah wajib menjauhkan benda-benda tersebut dari menghadiri shalat berjema’ah di masjid-masjid.

Sebenarnya, pendalilan mereka tersebut tdk tepat sebab melakukan hal-hal yg dibolehkan yg berimplikasi pd gugurnya sesuatu kewajiban tdk jdi masalah selama tdk dijadikan ‘trik’ utk menggugurkan kewajiban tersebut. Contohnya, perjalanan yg dibolehkan pd bulan Ramadhan di mana boleh berbuka (tidak berpuasa) di siang hari bulan Ramadhan itu & ini tdk jdi masalah asalkan seseorang tdk menjadikan bepergiannya tersebut sbg sarana agar dpt berbuka (tidak berpuasa).

Taysir al-‘Allam Syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Bassam, Jld.I, hal.261-263..alsofwah.or.id

Tafsir Surat Al Falaq

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata’ala, shalawat & salam semoga tetap tercurahkan kpd baginda Rasulullah salallahu’alaihi wa salam, & aku bersaksi bahwa tiada tuhan yg berhak disembah dgn sebenarnya selain Allah yg Maha Esa & tiada sekutu bagi -Nya & aku bersaksi bahwa Muhammad adl hamba & utusan -Nya.. Amma Ba’du:

Di antara surat Al-Qur’an yg sering terdengar pd telinga kita & butuh utk direnungi & dipikirkan adl surat Al-Falaq:

قال تعالى: قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ. وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ 

Katakanlah: “Aku berlindung kpd Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, & dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, & dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yg menghembus pd buhul-buhul, & dari kejahatan orang yg dengki apabila ia dengki“. (Al Qur’an Surat: Al-Falaq: 1-5)

Diriwyatkan oleh Al-Bukhari & Muslim di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu anha bahwa sesungguhnya apabila Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam terkena sesuatu penyakit maka beliau membaca Al-Mu’awwidzat utk dirinya, lalu meniup padanya. Dan pd saat beliau sakit keras maka akulah yg membacakan Mu’awwidzat lalu mengusapaknnya pd tangannya guna mengharap keberkahannya”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu anha bahwa apabila Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam hendak berbaring pd ranjangnya pd setiap malamnya maka beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya & membaca:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ & قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ & قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Lalu beliau mengusap dengannya bagian tubuh yg mampu diusapnya dimulai dari bagian kepala & wajah, lalu bagian terdepan dari badan, hal itu beliau lakukan selama 3 kali”.

Diriwyatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Uqbah bin Amir berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidakkah engkau mengetahui beberapa ayat yg diturunkan kepadaku pd malam hari yg tdk ada ayat yg diturunkan sepertinya?.

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ & قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ3

Artinya: aku kembali, berlindung & berpegang kpd Tuhan yg menguasai waktu subuh, & maknanya bisa mencakupi yg lbh luas dari makna waktu subuh. Sebab kata “الْفَلَقِ” bermakna segala sesuatu yg dibelah oleh Allah baik waktu pagi dgn menyinsingkannya atau membelah butiran & biji-bijian dgn menumbuhkannya, sebgaiamana firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

قال تعالى:  إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى 

Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan & biji

buah-buahan. (Al Qur’an Surat: Al-An’am: 95)

قال تعالى: فَالِقُ الإِصْبَاحِ 

“Dia menyingsingkan pagi”. Al Qur’an Surat: Al-An’am: 96.

قال تعالى:  مِن شَرِّ مَا خَلَق َ

Artinya dari kejahatan semua makhluk bahkan kejahatan diri, sebab hawa nafsu memerintahkan kpd yg buruk. Dan disebutkan di dalam sebuah hadits: Dan kami berlindung kpd Allah dari kejahatan jiwa kami. Dan kalimat “dari kejahatan makhluk -Nya”, mencakup kejahatan syetan, manusia & jin serta bintang-binatang & lain-lain.

قال تعالى:  وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ 

“Al-Gasiq” makananya adl malam, dikatakan pula makananya adl bulan, & yg benar adl makananya secara umum yg mencakup apa yg telah disebutkan di atas. Adapun kata tersebut dimkanai dgn kata malam, didasarkan pd firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

قال تعالى:  أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ 

Dirikanlah salat dari sesudah mata hari tergelincir sampai gelap malam. (Al Qur’an Surat: Al-Isro’: 78)

Dan pd waktu malam byk hewan & bintang buas yg keluar, oleh karena itulah dianjurkan berlindung dari kejahatan yg terjadi pd waktu malam. Adapun memaknai kata “Al-Gasiq” dgn kata bulan, didasarkan pd hadits riwayat Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Aisyah bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melihat kearah bulan & bersabda: Berlindunglah kpd Allah dari kejahatan bulan ini, sebab inilah yg sebut dgn gasiq. Sebab kekuasaannya terjadi pd waktu malam. Dan apabila malam telah masuk maka hari menjadi gelap gulita. Dan begitu juga dgn bulan saat memncarkan cahayanya maka terjadi saat kegelapan tiba & hal itu tdk akan terjadi kecuali pd waktu malam.

قال تعالى:  وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ 

Karena itulah adl para tukang sihir yg mengikat tali & yg lainnya. Mereka meniup pd buhul-buhul tersebut sambil membaca jampi-jampi yg menyebut nama-nama syetan pd setiap buhul, kemudian kembali meniupnya lalu mengikatnya lalu kembali meniup mantra padanya, & dgn jiwanya yg busuk tersebut berniat utk menyihir seseorang sehingga berdampak negative bagi orang yg terkena sihir. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyebutkan dgn lafaz “Al-Naffatsat” bentuk jamak utk wanita tdk menggunakan bentuk jamak laki-laki yaitu kata Al-Naffatsin sebab biasanya yg byk menggunakan sihir jenis ini adl para wanita, oleh karena itulah Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman:  النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . Karena bisa juga berarti jiwa-jiwa yg menghembus, & penafsiran dgn makna ini mencakup pria & wanita. Diriwyatkan oleh Al-Bukhari & Muslim di dalam kitab shahihnya dari Aisyah radhiallahu anha berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah disihir oleh seorang Yahudi dari Bani Zuraiq bernama Lubaib bin Al-A’sham. Aisyah berkata bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merasa berbuat sesuatu padahal beliau tdk melakukannya, sehingga pd sesuatu saat beliau berdo’a & terus berdo’a beliau bersabda: Wahai Aisyah apakah engkau mengetahui bahwa Allah telah memberikan jawaban terhadap perkara yg aku minta jawabannya?. Aku telah didatangi oleh 2 orang lelaki salah seorang dari mereka duduk di sisi sisi kepalaku & yg lain di sisi kakiku. Lelaki yg berada di sisi kepalaku berkata kpd lelaki yg berada di sisi kakiku atau lelaki yg berada di sisi kakiku berkata kpd lelaki yg berada di sisi kepalaku: Penyakit apa yg dirasakan oleh lelaki ini?. Lelaki yg lain menjawab: Dia sedang terkena sihir. Jawabnya. Lelaki itu bertnya kembali: Siapakah yg menyihirnya?. Yang lain menjawab: Lubaid bin Al-A’sham. Lelaki itu kembali bertanya: Pada apakah dia terkena sihir? Iya dgn menggunakan sebuah sisir & rambut. Dan dia berkata: & menggunakan kuncup bunga kurma jantan. Dia bertanya kembali: Di manakah dia?. Lelaki yg lain berkata: “Pada sumur Arwan”. Aisyah berkata: Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama para shahabat beliau kemudian bersabda: Wahai, demi Allah airnya seakan air dari campuran pacar (warna merah), & kurma yg tumbuh padanya seakan kepala syetan”. Aku berkata: Wahai Rasulullah apakah engkau tdk membakarnya?. Beliau bersabda: Tidak, sebab Allah telah menyembuhkan diriku & aku benci mengungkit keburukan di tengah masayarakat. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan utk mengambil sihir tersebut lalu ditimbunnya”.4

Firman Allah Subahanahu Wa Ta’ala:

 وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ 

Al-Hasid (orang yg dengki) adl orang yg tdk suka nikmat Allah berada pd orang lain, engkau akan mendapatkan orang yg terjangkiti penyakit ini, dgn tanda-tanda dia akan merasa tdk senang jika dia melihat nikmat Allah Subahanahu Wa Ta’ala berada pd seseorang baik berupa harta, jabatan, ilmu & yg lainnya & dgn hal itu dia akan menjadi orang yg dengki. Hasad ada 2 macam: Jenis hasad di mana seseorang benci melihat nikmat Allah Subahanahu Wa Ta’ala berada pd seseorang namun dia tdk bertindak yg membahayakan orang yg didengkinya.

edengkiannya menjadikannya bimbang & bingung karena nikmat yg diberikan oleh Allah Subahanahu Wa Ta’ala kpd orang lain.Dan bencana yg paling besar adl dampak negatif orang yg dengki pd saat dia dengki. Oleh karena Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman: حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ.

Di antara dampak negatif orang yg dengki saat dia dengki adl penyakit ain yg bisa mengenai orang yg ia iri padanya. Sebab hal itu biasanya tdk muncul kecuali dari orang yg memiliki tabiat yg buruk & berjiwa busuk. Dan penyakit ain ini, seperti yg disebutkan di dalam hadits yg shahih di dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Ain itu benar adanya, seandainya ada sesuatu yg mendahului qodar maka sungguh penyakit ainlah yg pasti mendahuluinya”.

Diriwyatkan oleh Ibnu Adi di dalam kitab Al-Kamil dari Jabir bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya penyakit ain ini sungguh menjadi penyebab seseorang masuk ke dalam kubur & menyebabkan onta di masak pd panci”.

Al-Manawi berkata: maksudnya adl bisa menyebabkan dirinya terbunuh sehingga menjadikan dirinya masuk ke dalam kubur & menyebabkan onta dimasukkan ke dalam panci, maksudnya adl jika onta tersebut terkena oleh penyakit ain, atau dgn sebab penyakit ain tersebut onta itu hampir mati yg akhirnya mendorong pemiliknya utk menyembelihnya & memasaknya pd panci. Hal ini berarti ain adl penyakit yg menyebabkan kematian. Maka seharusnya bagi orang yg menjadi sumber penyakit ain utk segera menanggulangi ain tersebut dgn mengucapkan kata-kata yg menjunjung kemahatinggian Allah & kata-kata ini menjadi ruqyah bagi penyakit ain tersebut”.

Diriwyatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Abi Sa”id Al-Khudri bahwa Jibril mendatangi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam & berkata: Wahai Muhammad sepertinya engkau merasakan sesuatu penyakit?. Maka beliau bersabda: Benar maka Jibril meruqyah beliau dgn membaca:

(( بسم الله أرقيك من كل شيئ يؤذيك ومن شر كل نفس أو عين حاسد الله يشفيك، بسم الله أرقيك ))

Dengan Nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yg menyakitimu & dari keburukan setiap jiwa & ain yg dengki. Allah yg memberikan kesembuhan bagimu dgn nama Allah aku meruqyahmu”.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman malam apabila telah gelap gulita, wanita-wanita yg menghembus pd buhul-buhuld & orang yg dengki apabila dia dengki, sebab bencana yg ditimbulkan oleh 3 hal ini bersifat samar. Maka hendaklah bagi orang yg beriman utk menggantungkan hatinya hanya kpd Allah subhanahu wata’alla, menyerahkan segala urusannya kpd Allah subhanahu wata’alla & bertawakkal kpd -Nya, serta mempergunakan wirid-wirid yg syar’I utk menjaga dirinya dari kejahatan para tukang sihir, orang-orang yg dengki & selain mereka.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat & salam tetap tercurahkan kpd Nabi kita Muhammad & kpd keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Terjemah: Muzaffar Sahidu

Haji Mabrur

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala yg telah menunjukkan jalan yg lurus kpd hamba-hamba-Nya, shalawat & salam semoga selalu tercurah kpd Nabi , pemilik telaga & kedudukan yg agung, demikian pula keluarga, sahabat, & orang-orang yg mengikuti mereka kpd jalan yg lurus, wa ba’du:

Wahai saudaraku yg telah melaksanakan haji:

Apabila para jama’ah haji telah berniat utk pulang kembali menuju tanah airnya, mereka akan teringat bapak, ibu, istri, anak, & saudara, sehingga ia membawakan hadiah utk mereka. Barang siapa yg memiliki harta berlimpah, ia akan membawa berbagai macam barang utk diperdagangkan, orang yg berhaji diperbolehkan utk melakukan hal tersebut berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

” لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ “

“Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berzikirlah kpd Allah di Masy’aril haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yg ditunjukkan-Nya kepadamu; & sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang -orang yg sesat” (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 198)

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata: [Ayat ini merupakan dalil bolehnya melakukan bisnis bagi orang yg melaksanakan ibadah haji saat berhaji sambil melakukan ibadah, & sesungguhnya hal itu bukan merupakan perbuatan syirik & tdk pula keluar dari tuntutan keikhlasan yg dibebankan kepadanya, Ad-Daraquthni rahimahullah meriwayatkan dalam sunannya dari Abu Umamah at-Taimi rahimahullah: aku berkata kpd Ibnu Umar : (Sesungguhnya aku seorang laki-laki yg bekerja di jalur ini (berbisnis), & orang-orang berkata: Sesungguhnya tdk ada haji untukmu. maka Ibnu Umar  berkata: Seorang laki-laki datang kpd Rasulullah  kemudian bertanya kpd beliau seperti apa yg engkau tanyakan, lalu Rasulullah  terdiam sampai diturunkannya ayat:

 لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلاً مِّن رَّبِّكُمْ

“Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu”

Kemudian Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya ada pahala haji untukmu”

Saudaraku yg menunaikan haji: sesungguhnya mengambil dari dunia sekadar batas kebutuhan tdk akan mempengaruhi keikhlasan, akan tetapi bagaimana perasaanmu saat meninggalkan tempat-tempat suci tersebut? Apakah engkau mengetahui wahai saudaraku, bahwasanya Rasulullah  memerintahkan kpd semua orang agar tdk meninggalkan kota Makkah sebelum melaksanakan thawaf wada’ (thawaf perpisahan)? Dari Abdullah bin Abbas , ia berkata: [Orang-orang berpaling (meninggalkan kota Makkah) dari segenap penjuru], maka Rasulullah  bersabda:

” لاَيَنْفِرَنَّ أَحَدٌ حَتَّى يَكُوْنَ آخِرَ عَهْدِهِ بِاْلبَيْتِ “

“Janganlah seseorang pergi (meninggalkan Makkah) sehingga mengakhiri ibadahnya di Baitullah (thawaf wada’)” Hadis Riwayat: Muslim

Saudaraku yg menunaikan haji: seperti inilah Rasulullah  memerintah para sahabatnya saat akan meninggalkan Baitullah yg mulia, yaitu agar mereka melakukan thawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Makkah, saat itu hati & pandangan mata mereka telah dipenuhi keagungan Baitullah tersebut-semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menambah kemuliaannya-.

Dan anda wahai saudaraku: apakah yg anda rasakan saat bersiap-siap utk meninggalkan tempat yg suci tersebut?

Saudaraku: tdk diragukan lagi bahwa meninggalkan tempat yg suci tersebut terasa sangat berat di hati, terutama jiwa yg ikhlas karena Allah Subhanahu wa ta’ala saat menunaikan ibadah haji.

Kemudian wahai saudaraku yg menunaikan haji: ingatlah, pd saat anda meninggalkan Baitullah yg agung, sesungguhnya anda tadinya berada dalam hari-hari beribadah kpd Allah Subhanahu wa ta’ala & musim-musim pendekatan diri kepada-Nya, & betapa membahagiakannya saat-saat tersebut, akan tetapi wahai saudaraku: apakah keta’atan akan menjadi terhenti saat anda pulang menuju tanah airmu? Dan anda teringat akan dirimu pd saat sedang berada dihadapan Allah Subhanahu wa ta’ala, disisi rumah-Nya yg agung, juga hari Arafah & kehebatannya, serta hari-hari Mina & keagungannya.

Saudaraku: bagaimana mungkin anda dpt menggantikan kondisimu dgn yg lain? Oleh karena itu konsistenlah dalam keta’atan, bukalah lembaran baru dalam kehidupanmu, agar bisa mendapatkan ciri-ciri haji yg mabrur. Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: [Haji mabrur adalah: orang yg melaksanakan ibadah haji pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia & senang terhadap akhirat].

Sebagian ulama berkata: Di antara tanda haji mabrur adl bahwa hal itu nampak diakhirnya, jika ia pulang menjadi lbh baik dari sebelumnya, diketahuilah bahwa ia mendapatkan haji mabrur.

Kemudian ada hal lain wahai saudaraku yg telah berhaji: pd saat anda meninggalkan Baitullah, memohonlah kpd Allah agar ini tdk menjadi saat yg terakhir bagimu di Baitullah, karena sesungguhnya menyambung keta’atan termasuk dari sebab-sebab ketetapan (iman & ibadah), sebagaimana juga bahwa menyambung kemaksiatan termasuk dari sebab-sebab kesesatan & penyimpangan.

Saudaraku: istiqamah anda dalam keta’atan merupakan kunci keberuntungan utk hari persidangan besar, inilah Nabi kita Muhammad  pernah ditanya: [Amal apakah yg paling dicintai oleh Allah?] Beliau menjawab: “Yang terus menerus, sekalipun hanya sedikit” Hadis Riwayat: Muslim

Saudaraku yg telah menunaikan haji: sesungguhnya diantara tanda keshalihan adl terus menerus (istiqamah) diatas keta’atan, sekalipun hanya sedikit. Saudaraku, inilah permata tdk ternilai yg aku persembahkan, yaitu: hendaklah anda memperbanyak amal shaleh, beriltizam & menekuninya, janganlah menganggap remeh hal tersebut, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menetapkan husnul khatimah untukmu, & memelihara keberkahan hajimu.

Saudaraku: janganlah anda menjadi seperti orang-orang yg tdk pernah mengingat keta’atan kecuali hanya pd musim-musim tertentu, & apabila musim itu telah berlalu, mereka kembali kpd kondisi sebelumnya. ‘Alqamah  bertanya kpd ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: [Wahai Ummul Mukminin, bagaimana amalan Rasulullah , apakah beliau  menentukan hari tertentu (untuk beribadah)?] Ia menjawab: Tidak, ibadahnya terus menerus, siapakah diantaramu yg mampu seperti Rasulullah ? Hadis Riwayat: al-Bukhari

Muhammad bin al-Qasim meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: bahwasanya apabila dia (Aisyah) mengamalkan sesuatu, ia menekuninya.

Saudaraku yg telah melaksanakan haji: anda harus sabar dalam keta’atan ketika meneruskan perjalanan hidupmu yg baru, & bersabarlah pula dalam meninggalkan maksiat, karena sesungguhnya bersabar dalam melaksanakan ibadah & meninggalkan maksiat merupakan tingkatan sabar yg tertinggi, Maimun bin Mihran rahimahullah berkata: [Sabar terbagi dua: sabar atas musibah merupakan sesuatu kebaikan, & yg lbh utama dari hal itu adl sabar dalam meninggalkan maksiat].

Dan janganlah anda wahai saudaraku yg melaksanakan haji, termasuk dari orang-orang yg dikatakan oleh Ibnu al-Qayyim rahimahullah: [Orang-orang yg tercela adl mereka yg paling sabar dalam menuruti keinginan hawa nafsu & syahwat mereka, & paling tdk sabar dalam ibadah kpd Rabb mereka, ia memiliki kesabaran yg luar biasa dalam menuruti keinginan syetan, & tdk sabar utk berkorban dalam beribadah kpd Allah Subhanahu wa ta’ala dalam perkara yg paling ringan, ia sangat sabar dalam memikul beban yg berat utk mengikuti hawa nafsunya agar mendapatkan ridha musuhnya & ia tdk sanggup menahan sabar utk mendapatkan ridha Rabb-nya].

Ia adl orang yg paling sabar utk berkorban dalam menuruti kemauan syetan & hawa nafsunya, & paling tdk sabar dalam hal itu kpd Allah Subhanahu wa ta’ala, ini adl celaan yg paling besar, ia tdk akan mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala & tdk berdiri bersama orang-orang mulia saat dipanggil di hari kiamat, yg disaksikan seluruh umat manusia, agar semua yg berkumpul mengetahui, siapakah yg paling mulia pd hari ini & dimana orang-orang yg bertaqwa.

Saudaraku yg telah melaksanakan haji: sesungguhnya kesudahan bagi orang-orang yg bersabar adl surga:

” وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ {22} جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ {23} سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ “

“Dan orang-orang yg sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat, & menafkahkan sebagian rejeki yg Kami berikan kpd mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dgn kebaikan; orang-orang itulah yg mendapat tempat kesudahan (yang baik), (22) (yaitu) surga ‘Adn yg mereka masuk kedalamnya bersama-sama dgn orang-orang yg saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya & anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (23) (sambil mengucapkan):”Salamun ‘alaikum bima shabartum”.Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Al Qur’an Surat: Ar-Ra’ad:22-24)

Firman-Nya (Salamun ‘alaikum bima shabartum), Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: [Mereka bersabar terhadap apa-apa yg diperintahkan kpd mereka & bersabar utk meninggalkan segala yg mereka dilarang atasnya].

Saudaraku: secara tabi’at jiwa ini menyukai sifat malas & senang istirahat, maka janganlah anda menuruti keinginannya, supaya syetan tdk mendapatkan jalan kepadamu. Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: [Apabila syetan memperhatikanmu, lalu ia melihatmu tekun dalam keta’atan kpd Allah Subhanahu wa ta’ala, maka ia menghendaki & menginginkanmu, tatkala ia melihatmu tekun dalam ibadah, maka ia jemu & menolakmu, sedangkan jika anda terkadang seperti ini & terkadang seperti itu, niscaya ia sangat berharap padamu].

Saudaraku yg menunaikan haji: ketika datang dari hajimu, maka sesungguhnya masih dekat masamu dgn ibadah kpd Allah swt, sehingga apabila anda menyambung perbuatan tersebut maka akan diharapkan adanya kebaikan padamu, oleh karena itu bersegeralah dgn semangatmu tersebut sebelum datangnya rasa malas & jemu, & apabila anda cenderung kpd rasa malas, niscaya nafsu ammarah (yang selalu menyuruh berbuat jahat) akan menguasaimu utk berbuat keburukan & anda langsung dikuasai syetan, sehingga sirnalah hajimu bersama tiupan angin, dari Huraisy bin Qais rahimahullah, ia berkata: [Apabila engkau ingin melakukan sesuatu kebaikan, maka janganlah menundanya sampai besok hari, apabila engkau mengerjakan urusan dunia, maka perlahanlah, & apabila engkau melaksanakan shalat, lalu syetan berkata kepadamu: (sesungguhnya engkau berbuat karena riya), maka panjangkanlah shalatmu tersebut].

Saudaraku yg telah berhaji: bersegeralah, bersegeralah, janganlah anda berkata: Akan saya lakukan, akan saya kerjakan, inilah Tsumamah bin Bajad as-Salami rahimahullah berpesan kpd kaumnya: [Wahai kaumku, aku memperingatkan kalian (dari ucapan) saya akan mengerjakan, saya akan shalat, saya akan berpuasa].

Saudaraku yg telah berhaji: berjuanglah terhadap dirimu, & janganlah anda menjadi lemah, sebagaimana ketika berjuang pd hari-hari anda berada di tempat yg suci tersebut.

” وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “

“Dan orang-orang yg berjihad utk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kpd mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yg berbuat baik” (Al Qur’an Surat: Al-Ankabuut: 69)

” فَأَمَّا مَن طَغَى {37} وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {38} فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى {39} وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى {40} فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى “

“Adapun orang yg melampaui batas, (37) & lbh mengutamakan kehidupan dunia (38) maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (39) Dan adapun orang-orang yg takut kpd kebesaran Rabbnya & menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (40) maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)” (Al Qur’an Surat: An-Nazi’aat: 37-41)

Saudaraku yg telah berhaji: hendaklah utk tdk meninggalkan memperbanyak berdo’a kpd Allah swt, agar Dia selalu menetapkan anda dalam keta’atan, perbanyaklah utk memelas & menghadap Allah, agar Dia meluruskan langkahmu & anda senantiasa menjalani jalur agama-Nya yg benar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak do’a kpd Allah Subhanahu wa ta’ala agar menetapkannya di atas agama-Nya, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang do’a terbanyak yg dilakukan oleh Nabi saw, ia menjawab: [Kebanyakan doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Wahai Dzat Yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku berada diatas agama-Mu” tatkala ditanya tentang hal itu? Beliau menjawab:

” إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌ إِلاًّ قَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمنِ, فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ “

“Sesungguhnya tdk ada manusia kecuali hatinya berada di antara 2 jari di antara jemari ar-Rahman, barangsiapa yg Dia kehendaki maka Dia akan menetapkannya (diatas kebenaran), & barangsiapa yg dikehendaki-Nya, maka Dia akan menyesatkannya (dari jalan kebenaran)” (Hadis Riwayat: At-Tirmidzi, Ahmad & Ibnu Abi Syaibah, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. 2091)

Dan dalam satu riwayat: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” يَا مُثَبِّتَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ “

“Wahai yg menetapkan semua hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu” (Hadis Riwayat: Ibnu Majah: Shahih Sunan Ibnu Majah, karya al-Albani: 166).

Wahai saudaraku yg telah berhaji: apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu meminta kpd Rabb-nya agar menetapkannya di atas agama-Nya, & beliau telah melihat dari tanda-tanda Rabb sesuatu yg cukup utk menetapkan hatinya di dalam agama Allah swt, maka bagaimanakah dgn kita?!! Inilah anda wahai saudaraku, berada pd zaman yg byk sekali fitnah & sebab-sebab penyimpangan, pd era yg mungkin saja tdk dpt menemukan para penolong di atas kebenaran, bahkan apabila mereka melihat anda beristiqamah diatas jalur agama, mereka akan memperolok & memperdengarkan kepadamu segala yg buruk, akan tetapi orang beriman merasa yakin kalau ia berada dalam janji Rabb-nya sehingga tdk menoleh kepadanya. Oleh karena itu anda wahai saudaraku harus memperbanyak do’a kpd Allah Subhanahu wa ta’ala agar menetapkan dirimu berada diatas agama-Nya, jadikanlah do’amu dgn hati yg ikhlas, kenalilah kenikmatan keta’atan & berbahagialah dgn kedekatan kepada-Nya, janganlah anda berdo’a seperti do’anya orang yg lalai, yg tdk memahami apa yg dia ucapkan, karena sesungguhnya anda wahai saudaraku yg melaksanakan haji, membutuhkan ketetapan diatas keta’atan kpd Allah swt, sehingga anda dpt memetik buah hajimu & merasakan keberkahannya.

Wahai saudaraku yg melaksanakan haji: ada persoalan penting yg ingin saya sebutkan bersamaan dgn kepulangan anda menuju tanah airmu, yaitu: janganlah anda memandang terhadap diri sendiri seperti pandangan orang-orang yg tertipu, yaitu orang-orang yg apabila mengerjakan sedikit saja keta’atan, mereka akan menganggap diri mereka seolah-olah manusia paling mulia dimuka bumi, akan tetapi: lihatlah kpd dirimu dgn pandangan kekurangan, karena sesungguhnya sebanyak apapun amal shalih yg anda kerjakan, maka ia tdk bisa digunakan utk mensyukuri kenikmatan terkecil yg Allah anugerahkan terhadap anda. Apabila anda ingin mengetahui tentang keadaan orang-orang shaleh setelah mereka melaksanakan ibadah, maka renungkanlah bersama saya tentang cerita-cerita mereka, agar anda dpt mengetahui bahwa hamba-hamba Allah Subhanahu wa ta’ala yg ikhlas selalu mengakui kekurangan. Inilah Abu Bakar ra setelah memangku jabatan khalifah, ia menyampaikan pidatonya yg terkenal setelah pelantikan dirinya: [Wahai manusia, aku telah diangkat sbg pemimpin kalian, sedangkan aku bukanlah yg terbaik diantara kalian…”

Al-Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: [Bahkan, demi Allah, dia (Abu Bakar ra) adl yg terbaik diantara mereka, akan tetapi orang beriman selalu mengakui kekurangan atas dirinya sendiri].

Muhammad bin ‘Atha menceritakan kpd kita: [Aku sedang duduk bersama Abu Bakar ra, lalu ia melihat seekor burung, kemudian berkata: [Alangkah beruntungnya engkau wahai burung, engkau makan dari pohon ini, kemudian engkau mengeluarkannya (buang air), kemudian engkau tdk menjadi sesuatu, tdk ada hisab atasmu, aku ingin menjadi sepertimu]. Aku berkata kepadanya: [Apakah anda mengatakan hal seperti ini, sedangkan anda adl orang terdekat dgn Rasulullah saw?!!].

Inilah al-Faruq Umar bin Khaththab ra berkata: [Jikalau penyeru berseru dihari kiamat: (Wahai sekalian manusia, masuklah ke dalam surga kecuali satu orang), niscaya aku menduga bahwa satu orang itu adl aku].

Wahai saudaraku yg melaksanakan haji: inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kpd kita bagaimana cara utk beribadah kpd Allah swt, Beliau beribadah di malam hari hingga bengkak kedua kakinya, apabila mereka bertanya akan hal tersebut, beliau akan menjawab:

” أَفَلَا أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا “

“Apakah aku tdk boleh utk menjadi hamba yg sangat bersyukur?” Hadis Riwayat: Al-Bukhari

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

” وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِيْنَ مَرَّةً “

“Demi Allah, sesungguhnya aku meminta ampun & bertaubat kpd Allah Subhanahu wa ta’ala dalam sehari lbh dari tujuh puluh kali” Hadis Riwayat: al-Bukhari

Bagaimana pendapatmu wahai saudaraku, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg padahal Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengampuni dosanya yg terdahulu & yg akan datang, sedangkan beliau beribadah kpd Rabb-nya dgn cara seperti ini, pantaskah bagi seseorang setelahnya utk mengatakan: Aku telah beribadah kpd Allah Subhanahu wa ta’ala dgn sebenarnya?!!

Wahai saudaraku: tekanlah nafsumu dgn sebenarnya niscaya ia menjadi lurus untukmu, & apabila anda memandang kepadanya dgn pandangan sempurna, niscaya ia akan menjadikanmu lalai sehingga kekurangan dalam menunaikan kewajiban akan memasukimu.

Kemudian wahai saudaraku yg telah berhaji: aku akan menunjukkan kepadamu obat mujarab utk mengobati penyakit malas dalam melaksanakan rutinitas keta’atan, apabila anda mengambilnya niscaya ia akan memberikan pengaruh yg mengagumkan. Tahukah anda obat apakah itu? Sesungguhnya ia adl kematian, ingatlah wahai saudaraku, sesungguhnya anda akan berangkat meninggalkan dunia ini menuju sesuatu negeri yg akan dibalas padanya orang-orang yg berbuat baik & yg berbuat jahat, apabila anda menginginkan utk terus merasakan berkah hajimu, maka ingatkanlah dirimu dgn kematian, karena sesungguhnya ia pd saat itu akan segera utk melaksanakan amal shalih & giat dalam beribadah kpd Allah swt, inilah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kpd Abdullah bin Umar ra tentang obat yg mengagumkan ini, beliau memegang bahunya & bersabda kepadanya:

” كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَاِبرُ سَبِيْلٍ “

“Jadikanlah dirimu di dunia ini bagaikan orang asing atau yg sedang menyebrang jalan”

lalu Ibnu Umar ra berkata: [Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi, & apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah engkau menunggu hingga sore, ambilah kesempatan sehatmu utk saat sakitmu, & ambilah kesempatan hidupmu utk saat matimu]. Hadis Riwayat: al-Bukhari.

Div. Ilmiyah Dar Al Qasim, Terjemah: Muh. Lutfi Firdaus

Iman an-Nawawi rahimahullah berkata: [Pengertian hadits tersebut adalah: janganlah engkau cenderung kpd dunia, & janganlah engkau jadikan dunia sbg tanah airmu, janganlah engkau berbicara kpd dirimu utk dpt hidup kekal padanya, & janganlah engkau bergantung darinya dgn apa-apa yg tdk dilakukan oleh orang asing (pengelana) yg tdk bergantung kpd selain tanah airnya].

Saudaraku: Hasan al-Bashari rahimahullah berkata: [Bersegerah, bersegeralah, sesungguhnya itulah napasmu, jika telah dihisab niscaya ia akan terputus darimu amal ibadahmu yg dengannya kamu mendekatkan diri kpd Allah swt, semoga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan rahmat-Nya kpd seseorang yg merenungkan dirinya & menangisi dosanya, kemudian ia membaca firman Allah swt:

إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا “”

“karena sesungguhnya Kami hanya menghitung datangnya (hari siksaan) utk mereka dgn perhitungan yg teliti” (Al Qur’an Surat: Maryam: 84), Kemudian ia menangis & berkata: [Saudaraku, hitungan: keluarnya ruhmu, hitungan terakhir: engkau berpisah dgn keluargamu, hitungan terakhir: masuknya engkau ke dalam kuburmu].

Saudaraku yg telah melaksanakan haji: Inilah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata: [Kematian ini menahan penduduk dunia dari kenikmatan dunia & perhiasaannya yg mereka nikmati, sehingga tatkala mereka dalam keadaan seperti itu kematian datang menjemputnya, maka celaka & merugilah orang yg tdk takut mati & tdk mengingatnya di saat senang sehingga dpt memberikan kebaikan yg akan didapatinya setelah ia meninggalkan dunia & para penghuninya]. Kemudian ia (Umar bin Abdul Aziz) dikalahkan oleh tangisnya & berdiri.

Saudara-saudaraku, sampai kapankah anda akan menunda amal, merasa tamak dalam mencapai angan-angan, tertipu oleh kesempatan serta melupakan serangan kematian? Ketahuilah bahwa apa saja yg anda lahirkan adl utk tanah, apapun yg anda bangun adl utk kehancuran, apa saja yg anda kumpulkan adl utk kesirnaan, & apapun yg anda perbuatan akan tetap tersimpan dalam kitab catatan amal hingga hari penghitungan.

Saudaraku yg telah melaksanakan haji: aku telah memaparkan kepadamu apa yg tersimpan dalam sanubariku, & aku telah memberikan kepadamu hadiah yg berharga ini, maka renungkanlah ia, kemudian aku memohon kpd Allah Subhanahu wa ta’ala agar menetapkan aku & juga anda diatas agama-Nya yg benar, serta memberikan kepadaku & juga anda kebahagiaan di dunia & akhirat.