Mozaik Islam

Bermaafan Sebelum Puasa Ramadhan, Apakah Ada Dalilnya?

Assalamu ‘alaikum wr wb,

Apakah bermaaf-maafan sebelum memasuki bulan Ramadhan sejalan dgn hadis Rasulullah SAW? Bila ya, bisa Ustadz tolong jelaskan dgn hadisnya.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sepanjang apa yg kami ketahui, sampai saat ini -wallahu a’lam- kami masih belum menemukan nash hadits yg menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan atau mencontohkan kita utk saling bermaafan, khususnya pd saat menjelang masuknya bulan Ramadhan.

Entahlah barangkali ada Ustadz atau ulama hadits yg menemukan dalilnya. Tentu kalau ada & shahih serta eksplisit redaksinya, kita pun perlu utk melakukannya. Adapun bermaaf-maafan secara umum, tdk terkait dgn masuknya bulan Ramadhan, sudah tdk perlu dipermasalahkan lagi.

Begitu byk dalil utk meminta maaf & memberi maaf. Salah satunya adl firman Allah Subhanahu wa ta’ala berikut ini:

فَاعْفُواْ وَاصْفَحُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maka ma’afkanlah & biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 109)

Demikian juga di dalam ayat lain disebutkan bahwa memaafkan orang lain adl sifat orang bertaqwa. Sementara tujuan kita berpuasa adl juga agar kita menjadi orang yg bertaqwa.

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan bersegeralah kamu kpd ampunan dari Tuhanmu & kpd surga yg luasnya seluas langit & bumi yg disediakan utk orang-orang yg bertakwa, yaitu orang-orang yg menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, & orang-orang yg menahan amarahnya & mema’afkan orang. Allah menyukai orang-orang yg berbuat kebajikan.(Al Qur’an Surat: Ali Imran: 132-133)

Di dalam ayat lain, disebutkan bahwa memaafkan kesalahan orang lain itu mendekatkan kita kpd sifat taqwa. Dan taqwa adl tujuan dari kita berpuasa.

وَأَن تَعْفُواْ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Dan memberi maaf itu lbh dekat kpd takwa. (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 237)

Memaafkan kesalahan orang lain adl sebuah ibadah yg mulia. Dan sbg muslim, Allah Subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan kita utk memberi maaf kpd orang lain. Sehingga hukum memberi maaf itu adl fardhu ‘ain, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala berikut ini:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلينَ

Jadilah engkau pema’af & suruhlah orang mengerjakan yg ma’ruf, serta berpalinglah dari pd orang-orang yg bodoh.(Al Qur’an Surat: Al-A’raf: 199)

Selain itu, memaafkan kesalahan orang lain yg telah berbuat salah itu akan diganjar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dgn ampunan atas dosa-dosa kita kpd Allah.

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ألاَ تُحِبُّونَ أنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ

Dan hendaklah mereka mema’afkan & berlapang dada. Apakah kamu tdk ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adl Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al Qur’an Surat: An-Nuur: 22)
Meskipun seorang yg dizhalimi dibenarkan utk membalas, namun memaafkan jauh lbh baik, dimana Allah akan memberi ganjaran & pahala tersendiri.

وَجَزَاء سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan sesuatu kejahatan adl kejahatan yg serupa, maka barang siapa mema’afkan & berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tdk menyukai orang-orang yg zalim.(Al Qur’an Surat: Asy-Syura: 40)

Momentum utk Saling Memaafkan

Secara umum saling bermaafan itu dilakukan kapan saja, tdk harus menunggu momentum Ramadhan atau ‘Idul Fithr. Karena memang tdk ada hadits atau atsar yg menunjukkan ke arah sana.
Namun kalau kita mau telusuri lbh jauh, mengapa sampai muncul trend demikian, salah satu analisanya adl bahwa bulan Ramadhan itu adl bulan pencucian dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu.

عن أَبي هُرَيرَة أنَّ رسول الله  قَالَ: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيماناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – متفقٌ عَلَيْهِ

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yg menegakkan Ramadhan dgn iman & ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yg telah lalu. (HR Bukhari & Muslim)

Kalau Allah Subhanahu wa ta’ala sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kpd sesama manusia. Sebab dosa yg bersifat langsung kpd Allah Subhanahu wa ta’ala pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dgn dosa kpd sesama manusia?

Jangankan orang yg menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yg mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kpd orang lain, tetap belum bisa masuk surga.

Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kpd Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kpd sesama manusia, agar bisa lbh lengkap. Demikian latar belakangnya.

Maka meski tdk ada dalil khusus yg menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan saling bermaafan menjelang Ramadhan, tetapi tdk ada salahnya bila setiap orang melakukannya. Memang seharusnya bukan hanya pd momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf itu dilakukan kapan saja & kpd siapa saja.

Idealnya yg dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan, seperti hutang-hutang & lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kpd sesama manusia.
Beramaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tdk perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid’ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tdk ada dalil yg bersifat eksplisit.

Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dgn beragam bid’ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, ceramah dzhuhur, ceramah menjelang berbuka puasa, bahkan kepanitiaan i’tikaf Ramadhan, pesantren kilat Ramadhan, undangan berbuka puasa bersama, semuanya pun tdk ada dalilnya yg bersifat eksplisit?

Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yg melakukan kegiatan itu sbg ahli bid’ah & calon penghuni neraka? Kenapa jdi mudah sekali membuat vonis masuk neraka?

Apakah semua kegiatan itu dianggap sbg sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tdk sesuai dgn apa terjadi di masa nabi?

Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yg esensial, & mana yg merupakan kegiatan yg bersifat teknis non-formal. Semua yg disebutkan di atas itu hanya semata kegiatan utk memanfaatkan momentum Ramadhan agar lbh berarti. Sama sekali tdk ada kaitannya dgn niat utk merusak & menambahi masalah agama.

Namun kita tetap menghormati kecenderungan saudara-saudara kita yg gigih mempertahankan umat dari ancaman & bahaya bid’ah. Insya Allah niat mereka baik & luhur.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Doa Niat Puasa Ramadhan

Disunnahkan membaca do’a yg ma’tsur dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka puasa.
Do’a orang yg puasa & berbuka termasuk doa yg tdk tertolak.

لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةٌ لاَ تُرَدُّ

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bagi orang yg berpuasa ketika sedang berbuka ada doa yg tdk akan ditolak.. (HR Tirmidzy)

Teks doa yg diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain:

اللَّهُمَّ إِنيِّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَبِكَ آمَنْتُ

“Ya Allah, kpd Engkaulah aku berpuasa & dgn rizki dari-Mu aku berbuka”. [Didasarkan pd riwayat Abu Daud & Al-Baihaqy]

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ َوثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ الله تعالى

“Telah hilang haus & telah basah tenggorakan & telah pasti balasan Insya Allah.” [Lafaz doa ini didasarkan atas hadits Abu Daud 2358 & An-Nasa`i 3329 serta Al-Hakim: 1/422)].

Niat Mandi Sunat Awal Ramadhan

نَوَيْتُ الغُسْلَ لِدُخُوْلِ رَمَضَانَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

“saya berniat mandi sunat bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala

Doa Menjumpai Malam Pertama Bulan Ramadhan

رَبِّى وَرَبَّكَ اللهُ هِلاَلُ خَيْرَ وَرُشْدٍِ اَللَّهُمَّ اَهْلِهُ عَلَيْنَا بِالسَّلاَمَةِ وَالاِسْلاَمِ وَالاَمْنِ وَالاِيْمَانِ

“Tuhanku & Tuhanmu adl Allah, ia adl bulan sabit kebajikan & petunjuk. Ya Allah terbitkanlah ia atas kami dgn kesejahteraan, Islam, aman & iman”.

Niat Puasa Ramadhan

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍّ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

“Aku niat berpuasa esok hari utk menunaikan kewajiban bulan ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala

Do’a Berbuka Puasa

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ ءَامَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“ya Allah karena engkau saya berpuasa & kpd engkau aku beriman & atas rezeki yg engkau beriman saya berbuka, dgn rahmat-Mu wahai Dzat yg Maha Pengasih dari semua yg pengasih”

Syarat, Ketentuan dan Hikmah Zakat fitrah

  1. Zakat fitrah merupakan zakat badan & jiwa yg diwajibkan disebabkan fitr (kesucian) setelah berpuasa Ramadhan.
  2. Diwajibkan kpd setiap muslim atas dirinya & siapa saja yg menjadi tanggung jawabnya.
  3. Tempat pengeluaran zakat adl negeri yg engkau tinggal di dalamnya ketika mengeluarkannya.
  4. Tidak boleh mengeluarkan nilai dari zakat karena itu menyelisihi sunnah, kecuali jika tdk mendapatkan makanan atau orang yg mau menerimanya, ketika itu boleh baginya mengeluarkan nilai sho’ setiap orang.
  5. Kadarnya satu sho’ dari makanan pokok negerinya, jika memiliki kelebihan pd hari ‘Id & malamnya utk diri & keluarganya.
  6. Kadar sho’ nabawi adl 4 mud, sedangkan mud adl kadar 2 tangan orang pertengahan. Setara kurang lbh 2kg-3 kg.
  7. Jika tdk mendapatkan sisa selain satu sho’ hendaknya tetap dikeluarkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “Maka bertakwalah kamu kpd Allah menurut kesanggupanmu.” (QS.at-Taghabun:16)
  8. Barang yg paling utama adl yg paling bermanfaat bagi kaum fakir.
  9. Istihbab (disukai) mengeluarkan zakat bagi bayi di kandungan, tetapi tdk diwajibkan.
  10. Zakat fitrah dikeluarkan sebelum shalat ‘Id & boleh dikeluarkan sehari atau 2 hari sebelumnya. Tidak boleh mengakhirkan mengeluarkannya setelah shalat ‘Id tanpa uzur syar’i.
  11. Zakat fitrah wajib setelah tenggelamnya matahari malam ‘Idul Fitri. Siapa yg masuk Islam, menikahi wanita atau mendapatkan kelahiran bayi setelah matahari tenggelam tdk wajib dikeluarkan zakatnya. Tetapi jika hal itu terjadi sebelum matahari tenggelam, wajib mengeluarkan zakatnya.
  12. Boleh beberapa orang membayar zakat kpd satu orang atau satu orang memberi beberapa orang.
  13. Penyalurannya seperti penyaluran zakat, diutamakan kpd fakir miskin & orang yg berhutang.
  14. Zakat fitrah wajib sudah sampai kpd yg berhak atau wakilnya pd waktunya.
  15. Hikmah Zakat fitrah adl ia sbg penyuci orang yg berpusa dari laghwu (kesia-siaan), rafast (kemaksiatan), sbg memberi makan orang miskin & mencukupkan mereka dari meminta-minta pd hari ‘Id (raya). Juga sbg ungkapan syukur kpd Allah atas taufik-Nya sehingga dpt menyempurnakan puasa.

Oleh: Abdullah Ibn Jarullah al-Jarullah

Puasa-Puasa yang dilarang

  1. Puasa pd hari tasyrik, yaitu 11,12 & 13 Zulhijah bagi yg tdk berhaji Tamatu‘ atau Qiran jika tdk memiliki hewan sembelihan.
  2. Mengkhususkan berpuasa hari Jumat.
  3. Puasa sunnahnya seorang istri tanpa seizin suaminya.
  4. Puasa pd hari yg meragukan, yaitu hari ke 30 dari bulan Syaban.
  5. Puasa pd 2 hari raya, Idul fitri & Idul Adha.

Oleh: Abdullah Ibn Jarullah al-Jarullah

Puasa-Puasa Sunah (Mustahab)

  1. Puasa 9 hari pertama bulan Zulhijah, lbh ditekankan adl hari ke 9 yaitu hari Arafah bagi yg tdk berhaji.
  2. Puasa bulan Muharam, lbh ditekankan pd hari ke 9 & ke 10.
  3. Puasa enam hari bulan Syawal setelah puasa Ramadhan menggenapkan pahala puasa setahun.
  4. Puasa hari Senin & Kamis.
  5. Puasa 3 hari pd setiap bulan. Dicatat pahalanya seperti puasa sebulan penuh, yg lbh utama pd tanggal 13,14 & 15.

Oleh: Abdullah Ibn Jarullah al-Jarullah

Tidur Sepanjang Siang Ramadhan, Apakah Puasanya Sah?

Apa nasihat bagi sebagian orang yg tidur sepanjang siang Ramadhan, sebagian mereka shalat berjamaah & sebagian lagi tidak. Apakah puasa mereka sah?

Jawaban

Puasanya sah & telah melepaskannya dari kewajiban, akan tetapi sangat kurang (pahalanya) & menyelisihi maksud pensyariatan puasa. Karena Allah -subhanahu wata’âla- berfirman:

“Hai orang-orang yg beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 183)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ في أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Siapa yg tdk meninggalkan perkataan zur (keji) & perbuatannya serta kebodohan, Allah tdk butuh pd makan & minum yg ditinggalkannya.”

Amat dimaklumi bahwa meninggalkan shalat & meremehkannya bukanlah bentuk takwa -azzawajala-, tdk pula termasuk meninggalkan perbuatan zur (keji). Hal itu menyelisihi maksud Allah & rasul-Nya dalam pewajiban puasa. Yang mengherankan, mereka ini tidur sepanjang hari & bergadang sepanjang malam. Boleh jdi bergadang dalam kesia-siaan yg tdk bermanfaat atau dalam perkara haram yg menimbulkan dosa.

Nasihat saya kpd mereka & yg semisalnya agar bertakwa kpd Allah -azzawajalla- & meminta tolong kpd Allah agar membantunya menunaikan puasa dalam bentuk yg diridai Allah. Agar menyibukkan hari-harinya dgn zikir, membaca al-Quran, shalat, berbuat baik kpd manusia serta perkara lain yg dituntut oleh syariat Islam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl orang yg paling baik. Dan yg terbaik adl ketika bertemu dgn malaikat Jibril & mengajarkannya al-Quran. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- lbh baik dalam berbuat kebaikan dari angin yg berhembus.

Oleh: Muhammad Ibn Saleh al-Utsaimin

Apakah Anak Yang Berumur Kurang Dari 15 Tahun Diperintahkan Untuk Berpuasa Seperti Diperintahkan Shalat?

Apakah anak yg berumur kurang dari 15 tahun diperintahkan utk berpuasa sebagaimana diperintahkan shalat.

Jawaban

Ya, anak kecil yg belum balig diperintahkan utk berpuasa jika mampu, sebagaimana dahulu sahabat Nabi -radiallahu’anhum- memerintahkannya kpd anak-anak kecil mereka.

Para ulama telah menyebutkan di dalam nas bahwa waliyyul amr (wali anak) hendaknya memerintahkan anak-anak kecilnya utk berpuasa dgn tujuan melatih & membiasakan mereka mempraktekkan ajaran Islam dalam diri mereka hingga menjadi kebanggaan bagi mereka. Tetapi jika hal itu memberatkan atau membahayakan, mereka tdk harus melakukannya.

Saya ingatkan di sini, bahwa sebagian orang tua yg melarang anak-anak mereka berpuasa sebenarnya telah menyelisihi apa yg dilakukan oleh para sahabat Nabi -radiallahu’anhum-, meskipun dgn dalih kasihan. Hakikat menyayangi anak justru dgn memerintahkan mereka mengerjakan syariat Islam, melatih & membiasakannya. Tentunya hal ini tdk diragukan merupakan pendidikan yg baik & pengasuhan yg sempurna.

Telah valid dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ الرَجُلَ رَاع فِي أَهْلِ بَيْتِهِ وَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Sesungguhnya seorang lelaki itu adl ro’i (pemimpin) bagi keluarganya & akan ditanya akan orang-orang yg dipimpinnya.”

Yang semestinya bagi waliyyul amr yg telah Allah beri tanggung jawab keluarga & anak-anak utk takut kpd Allah, dgn memerintahkan mereka apa-apa yg telah Allah perintahkan dari syariat Islam.

Oleh: Muhammad Ibn Saleh al-Utsaimin

MUI (Majelis Ulama Indonesia)

MUI atau Majelis Ulama Indonesia adl Lembaga Swadaya Masyarakat yg mewadahi ulama, zu’ama, & cendikiawan Islam di Indonesia utk membimbing, membina & mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia. Majelis Ulama Indonesia berdiri pd tanggal, 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dgn tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, Indonesia.

Sejarah MUI

MUI berdiri sbg hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan & zu’ama yg datang dari berbagai penjuru tanah air, antara lain meliputi 2 puluh enam orang ulama yg mewakili 26 Provinsi di Indonesia pd masa itu, 10 orang ulama yg merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI & Al Ittihadiyyah, 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut & POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yg merupakan tokoh perorangan. Dari musyawarah tersebut, dihasilkan adl sebuah kesepakatan utk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. zuama & cendekiawan muslim, yg tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yg ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yg kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I.

Momentum berdirinya MUI bertepatan ketika bangsa Indonesia tengah berada pd fase kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka, di mana energi bangsa telah byk terserap dalam perjuangan politik kelompok & kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat.

Selama 2 puluh 5 tahun, Majelis Ulama Indonesia sbg wadah musyawarah para ulama, zu’ama & cendekiawan muslim berusaha untuk:

  1. Menjadi penghubung antara ulama & umaro (pemerintah) & penterjemah timbal balik antara umat & pemerintah guna mensukseskan pembangunan nasional;
  2. Meningkatkan hubungan serta kerjasama antar organisasi, lembaga Islam & cendekiawan muslimin dalam memberikan bimbingan & tuntunan kpd masyarakat khususnya umat Islam dgn mengadakan konsultasi & informasi secara timbal balik;
  3. Memberikan bimbingan & tuntunan kpd umat Islam Indonesia dalam mewujudkan kehidupan beragama & bermasyarakat yg diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala;
  4. Memberikan nasihat & fatwa mengenai masalah keagamaan & kemasyarakatan kpd Pemerintah & masyarakat, meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya ukhwah Islamiyah & kerukunan antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan & kesatuan bangsa serta.

Peran MUI

Dalam khittah pengabdian Majelis Ulama Indonesia telah dirumuskan 5 fungsi & peran utama MUI yaitu:

  1. Sebagai pembimbing & pelayan umat (Ri’ayat wa khadim al ummah)
  2. Sebagai gerakan Islah wa al Tajdid
  3. Sebagai penegak amar ma’ruf nahi munkar
  4. Sebagai pewaris tugas-tugas para Nabi (Warasatul Anbiya)
  5. Sebagai pemberi fatwa (mufti)

Daftar Ketua MUI

Sampai saat ini Majelis Ulama Indonesia mengalami beberapa kali kongres atau musyawarah nasional, & mengalami beberapa kali pergantian Ketua Umum, yaitu:

1 Prof. Dr. Hamka (1977 1981)

2 KH. Syukri Ghozali (1981 1983)

3 KH. Hasan Basri (1983 1990)

4 Prof. KH. Ali Yafie (1990 2000)

5 KH. M. Sahal Mahfudz (2000 sekarang)

Hubungan dgn pihak eksternal

Sebagai organisasi yg dilahirkan oleh para ulama, zuama & cendekiawan muslim serta tumbuh berkembang di kalangan umat Islam, Majelis Ulama Indonesia adl gerakan masyarakat. Dalam hal ini, Majelis Ulama Indonesia tdk berbeda dgn organisasi-organisasi kemasyarakatan lain di kalangan umat Islam, yg memiliki keberadaan otonom & menjunjung tinggi semangat kemandirian. Semangat ini ditampilkan dalam kemandirian kpd pihak-pihak lain di luar dirinya dalam mengeluarkan pandangan, pikiran, sikap & mengambil keputusan atas nama organisasi.

Dalam kaitan dgn organisasi-organisasi kemasyarakatan di kalangan umat Islam, Majelis Ulama Indonesia tdk bermaksud & tdk dimaksudkan utk menjadi organisasi supra-struktur yg membawahi organisasi-organisasi kemasyarakatan tersebut, & apalagi memposisikan dirinya sbg wadah tunggal yg mewakili kemajemukan & keragaman umat Islam. Majelis Ulama Indonesia, sesuai niat kelahirannya, adl wadah silaturrahmi ulama, zuama & cendekiawan Muslim dari berbagai kelompok di kalangan umat Islam.

Kemandirian Majelis Ulama Indonesia tdk berarti menghalanginya utk menjalin hubungan & kerjasama dgn pihak-pihak lain baik dari dalam negeri maupun luar negeri, selama dijalankan atas dasar saling menghargai posisi masing-masing serta tdk menyimpang dari visi, misi & fungsi Majelis Ulama Indonesia. Hubungan & kerjasama itu menunjukkan kesadaran Majelis Ulama Indonesia bahwa organisasi ini hidup dalam tatanan kehidupan bangsa yg sangat beragam, & menjadi bagian utuh dari tatanan tersebut yg harus hidup berdampingan & bekerjasama antarkomponen bangsa utk kebaikan & kemajuan bangsa. Sikap Majelis Ulama Indonesia ini menjadi salah satu ikhtiar mewujudkan Islam sbg rahmatan lil alamin.

Keutamaan Menunggu Orang yang Susah Membayar Hutang

Orang yg berhutang terbagi menjadi 4 keadaan:

  1. Ia tdk mempunyai apapun secara mutlak. Maka terhadap orang yg seperti ini, (orang yg menghutangi) wajib menundanya & meninggalkan penagihan kepadanya.
  2. Bahwa hartanya lbh byk dari hartanya. Maka orang yg seperti ini, (orang yg menghutangi) boleh menagih hutangnya & dilazimkan dgn pengadilan.
  3. Bahwa hartanya sejumlah hutangnya, maka dituntut membayar hutangnya.
  4. Bahwa hartanya lbh sedikit dari hutangnya, maka ini adl orang yg bangkrut yg ditahan atasnya dgn tuntutan orang-orang yg memberi pinjaman atau sebagian mereka, & dibagi hartanya di antara orang-orang yg memberikan pinjaman menurut ukurannya.

Wajib kpd orang yg meminjam uang agar berniat membayarnya, & jika tdk (berniat membayarnya) niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala memusnahkan hartanya, sebagaimana sabda Nabi SAW:

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيْدُ أَدَائَهَا أَدَّى اللهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيْدُ اِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ الله.

“Barang siapa yg mengambil harta manusia (berhutang, meminjam), ia ingin membayarnya niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala menunaikan darinya, & barang siapa yg mengambil karena ingin membinasakannya (menghabiskannya) niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala memusnahkannya.” (Hadis Riwayat: al-Bukhari).

Keutamaan menunggu orang yg susah & memaafkannya

Menunggu orang yg susah (tidak mampu membayar hutang) termasuk akhlak yg mulia, yg lbh utama darinya adl memaafkannya.

  1. Firman Allah SWT:وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ {280}

    “Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lbh baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 280).

  2. Dari Abu al-Yasr r.a, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ فِى ظِلِّهِ

    “Barang siapa yg menunggu/menunda orang yg susah atau memaafkannya, niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala menaunginya di bawah naungan-Nya.” Hadis Riwayat: Muslim

Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri

赌博

真主说:{信道的人们啊!饮酒、赌博、拜像、求签,只是一种秽行,只是恶魔的行为,故当远离,以便你们成功}。(筵席 章第90节)。

蒙昧时代的人们都致力于赌博。最显著的就是他们都参与让一只骆驼相当于十个人共享,然后用卜卦用的神签来打赌,它就是抽签的一种,然后七个人按习惯就拿走了他们自己知晓的,指定各异的份额。而剩余的三人丝毫未取。
在我们这个时代,赌博有很多种:
–众所周知的抽奖彩票,它有很多形式,最简单的一种是用钱买个号码,再进行抽奖。第一个获胜者得取奖品,第二个亦是同样还有许多不同的奖品。这都是被禁止的,即使他们自称有福利也罢。
–购买不知内情的货物,或在买货物时得到一个号码,进行抽奖,限定获奖者。
–我们这个时代赌博的另一种形式就是商业性的担保契约,人寿保险,外出旅行保险,商品保险,火灾保险,还有普通的担保及其它不同形式的保险。甚至部分歌手都去对他们的声音进行投保。
这一切具有赌博形式的都算赌博。在我们这个时代,有一些特定的赌场,里面有著名的一些犯这种大罪的绿色赌台。有些足球比赛和类似的都是赌博的一种。部分消遣场所和娱乐中心都是含有赌博性质的娱乐活动。
至于比赛或竞赛(搏斗),可分三种:
1-有宗教意义的,这种无论有奖励或无奖励都是许可的,如:骆驼比赛,骑马比赛,射击。参加教法知识的比赛,如:背诵《古兰经》等。
2-对自身许可的,如:足球赛,不触犯禁律(如:丢弃拜功,揭露羞体)的一些竞赛,这些无奖励的竞赛是允许的。
3-对自身禁止的,或能导致违犯禁律的,如:一些堕落的比赛:以美貌的特性去比赛(如模特儿、选美),或含有击脸部的拳击比赛,或斗羊和斗鸡等都是被禁止的。