Mozaik Islam

Imsak

Assalammu’alaikum,

Tahun ini saya puasa di Amerika utk pertama kalinya. Saya agak bingung karena setelah meminta jadwal puasa di Masjid, tdk ada jadwal Imsak.

Ketika saya tanya utk jadwal Imsak, staff yg ada di Masjid malah nanya balik ke saya utk apa jadwal Imsak. Saya lalu menjelaskan supaya ada jarak antara berhenti sahur & Shubuh.

Tapi terus, saya malah diberitahu kalau hanya utk jarak antara berhenti sahur & shubuh, tdk perlu jadwal Imsak, tapi bisa juga dikira-dikira 10 menit sebelum Shubuh. Logis sih, tapi terus kenapa selama ini ada jadwal Imsak di Indonesia? Apa jadwal Imsak itu sangat penting?

Wassalammu’alaikum

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Istilah ‘imsak’ yg sangat populer di negeri kita sebenarnya merupakan istilah yg agak salah kaprah. Sebab makna imsak adl puasa, bukan ‘bersiap-siap utk puasa 10 menit lagi’.

Bersiap-siap utk berpuasa itu tdk penting-penting amat, setidaknya buat sebagian orang. Dan penting utk diketahui bahwa waktu ‘imsak’ bukan tanda masuknya waktu mulai utk puasa. Seandainya bila sedang makan sahur lalu tiba-tiba masuk waktu shalat shubuh, tinggal dimuntahkan saja.

Justru hal ini yg perlu diluruskan, bahwa saat dimulai puasa itu bukan sejak masuknya waktu ‘imsak’, melainkan sejak masuknya waktu shubuh. Ini penting agar jangan sampai nanti ada orang yg salah dalam memahami. Dan merupakan tugas kita utk menjelaskan hal-hal kecil ini kpd masyarakat.

Kalau anda bertanya kenapa ada jadwal imsak di Indonesia, ini memang pertanyaan menarik. Indonesia punya karakter unik yg terkadang tdk dimiliki oleh negara dimana Islam itu berasal. Salah satunya imsak ini.

Bahkan sampai ada istilah jadwal imsakiyah. Padahal maksudnya adl jadwal waktu-waktu shalat. Karena kebetulan dicantumkan juga waktu ‘imsak’ yg kira-kira 10 menit sebelum shubuh itu, akhirnya namanya jdi seperti itu.

Padahal waktu 10 menit itu pun juga hanya kira-kira, sbg terjemahan bebas dari kata sejenak. Memang asyik kalau ditelusuri, kenapa 10 menit, kenapa tdk 5 menit atau 15 menit? Pasti tdk ada yg bisa menjawab.Dan itu khas Indonesia yg tdk dimiliki oleh bangsa lain. Mudah menjiplak sesuatu yg dia sendiri tdk pernah tahu asal muasalnya. Pokoknya itu yg masyhur di masyarakat, itu pula yg kemudian dijalankan. Urusan dasar pensyariatan & asal usulnya, urusan belakang.

Halal bi Halal Salah satu istilah yg ‘super aneh’ di telinga dunia Islam tapi sangat akrab di telinga kita adl istilah halal bi halal. Semua orang arab yg datang ke Indonesia pasti dahinya berkerut sepuluh lipatan kalau mendengar istilah ini.

Istilah itu tdk pernah tercantum kamus arab mana pun yg pernah ditulis di muka bumi ini.

Entah siapa yg pertama kali memperkenalkan istilah ini. Tapi tdk ada satu pun hadits atau bahkan kitab yg menjelaskan hal ini. Ini khas Indonesia, sangat Indonesia sekali…

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Cara Niat Puasa Ramadhan

ssalamualaikum wr. wb.

Pak Ustadz, langsung saja, saya mau tanya bagaimana cara berniat puasa yg benar? Apakah harus kita lafazkan atau dgn kita sengaja berpuasa secara otomatis kita telah berniat utk puasa? Saya pernah dengar niat itu artinya sengaja jdi kalau kita sengaja melakukan puasa berarti sudah berniat tanpa harus dilafazkan. Mohon dijelaskan.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Niat adl syarat sah semua ibadah. Tanpa niat maka semua jenis ibadah tdk sah dilakukan.

Misalnya seorang yg melakukan puasa di bulan Ramadhan, tapi dia tdk meniatkannya sejak malam (tabyiitunniyah), maka dia tetap haram makan & minum di siang hari, namun puasanya tdk sah. Di hari lain, dia wajib mengganti puasanya yg tdk dilandasi niat sebelumnya.

Namun niat melakukan ibadah berbeda dgn melafadzkan niat. Lafadz seperti nawaitu shauma ghadin… bukanlah niat itu sendiri, melainkan hanya merupakan lafadz dari niat. Niat itu sendiri adanya di dalam hati.

Ketika seseorang berpuasa & menyengaja di dalam hatinya bahwa dirinya akan melakukan puasa, itu namanya niat. Sebaliknya, seorang yg melafazkan lafadz niat, belum tentu di dalam hatinya berniat melakukan puasa.

Misalnya, seorang guru TK sedangkan mengajarkan lafadz itu di depan murid-muridnya, meski dia mengulang-ulang lafadz itu belasan kali, tetapi kita tdk mengatakan bahwa ibu guru TK itu sedang berniat utk puasa esok harinya. Dia hanya melafadzkannya kalimat itu saja, tanpa meniatkannya di dalam hati.

Demikian juga seorang dubber (pengisi suara) yg sedang rekaman. Meski dia merekam suara yg melafazkan niat puasa, belum tentu di dalam hatinya dia berniat utk puasa esok harinya.

Sebaliknya, seseorang mungkin saja berniat utk puasa esok harinya, meski lidahnya tdk melafadzkan apapun. Sebab tempat niat itu memang bukan di lidah, melainkan apa yg terbersit di hati.
Sebagian ulama yg terlalu berhati-hati dgn masalah niat ini, sehingga saking tingginya kehati-hatian yg dilakukanya, sampai-sampai mereka menganjurkan utk melafadzkan saja niat itu dgn lisan. Mungkin maksudnya, bisa lbh pasti & lbh mantap, paling tdk bisa menjamin bahwa dirinya sudah berniat. Meski mereka tdk mewajibkannya, namun mereka menganjurkannya.

Sebagian kalangan lainnya mengatakan bahwa melafadzkan niat itu tdk menjadi kewajiban, syarat atau apapun. Bahkan kalau sampai ke tingkat keyakinan bahwa melafazkan niat itu sesuatu keharusan, sudah termasuk mengada-adakan perkara baru di dalam agama, padahal tdk diperintahkan & tdk juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Tentu saja masalah ini sangat panjang diperdebatkan oleh para ulama, mulai dari yg menganjurkan sampai kpd yg membid’ahkannya. Semua tentu berangkat dari ingin mencapai kesempurnaan dalam beribadah kpd Allah SWT. Bahwa di tengah jalan mereka berbeda pandangan, hal itu sangat wajar & manusia, bahkan sejarah khilaf fiqih sudah dimulai sejak nabi masih hidup. Tidak ada yg perlu dikhawatirkan, selama kita tetap saling santun kpd sesama.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Bukankah Makan Sahur Sudah Berarti Niat Puasa?

Assalamu’alaikum wr. Wb

Ketika seseorang bangun dimalam hari utk makan sahur, bukankah dalam hatinya secara nyata dia berniat utk melaksanakan puasa di esok harinya?

Adanya perbedaan penafsiran di antara muslim bahwa niat harus diucapkan & muslim yg lain berpendapat bahwa niat itu dari dalam hati kita masing-masing & tdk perlu diucapkan.

Wassalamu’alaikum wr. Wb

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya secara syarat, ketika seseorang bangun utk makan sahur, pastilah di dalam hatinya sudah terbersit niat puasa. Jadi anda sudah benar. Coba saja tanyakan kpd mereka yg sedang makan sahur, mau apa kok bangun & makan di pagi buta begini?

Pasti jawabannya seragam, “Kan kita mau puasa besok.”

Tuh kan, jawabannya jelas, mereka mau puasa. Dan itu saja sebenarnya sudah cukup utk menegaskan bahwa di dalam hati mereka sudah ada niat utk puasa.

Bahkan sebenarnya, jangankan bangun sahur, sekedar terbersit di dalam hati utk berpuasa, sebenarnya sudah merupakan niat. Karena sebagaimana perkataan semua ulama bahwa niat itu memang adanya di dalam hati, bukan di lisan.

Dan tdk ada satu pun ulama baik dari kalangan mazhab Asy-Syafi’i maupun dari mazhab manapun yg mengatalakan bahwa niat itu di lidah. Semua ulama dari ujung barat Maroko sampai ujung timur Maraoke, sepakat bulat-bulat bahwa niat itu bukan di lidah tetapi di dalam hati.
Lalu bagaimana dgn lafadz niat puasa yg sangat terkenal itu? Apakah wajib dilafadzkan? Apakah puasa kita sah bila kita tdk melafadzkan niat?

Lafadz niat yg sering kita dengar atau byk dibaca di masjid-masjid terutama selesai shalat tarawih sebenarnya bukan syarat sah puasa. Lafadz itu sendiri pun tdk ada dasarnya dari Rasululllah SAW. Kita tdk pernah menemukan ada hadits yg menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melafadzkan niat puasa di malam hari selesai shalat tarawih.

Jangankan melafadzkan niat, shalat tarawih pun tdk pernah beliau lakukan seumur hidupnya, kecuali hanya 2 kali saja.

Maka puasa kita sah selama kita sudah berniat sejak malamnya sebelum masuknya waktu shubuh, meski tanpa melafadzkan niat itu di lidah kita.

Lalu sekarang pertanyaan di balik, apakah melafadzkan niat itu lantas menjadi bid’ah, haram & mendatangkan dosa?

Di sini para ulama berbeda pendapat seperti biasanya. Sebagian dari mereka yg sangat sensitif & hati-hati dgn urusan perbid’ahan, umumnya memang langsung to the point mengatakan bahwa melafadzkan niat itu hukumnya bid’ah, haram & berdosa.
Alasannya, karena tdk ada ajarannya dari Rasulullah SAW. Padahal urusan puasa itu merupakan ibadah mahdhah, sehingga haram hukumnya bila ditambah-tambahi sendiri sesuai selera.

Atas fatwa yg seperti ini, ada yg kurang sabar kemudian memvonis bahwa praktek melafadzkan niat yg dilakukan oleh sebagian masyarakat di masjid-masijd itu haram & berdosa. Bahkan sebagian dari mereka mengharamkan hadir di masjid itu lantaran menganggap masjid itu masjid ahlul bid’ah.

Mau dibilang apa lagi, memang begitu tipologi sebagian umat kita. Mudah sekali menjatuhkan vonis kpd sesuatu yg dirasa sbg sesuatu yg tdk sesuai dgn kemauannya.

Lalu apa hujjah dari mereka yg tetap melafadzkan niat puasa? Adakah dasar argumentasi yg bisa diterima secara syar’i sehingga membebaskan mereka dari tuduhan sbg ahli bid’ah tadi?

Jawabnya ada tentu saja. Logikanya, kalau pun melafadzkan niat itu memang mutlak kebid’ahannya, pasti tdk ada lagi orang yg mau melakukannya. Sebagaimana tdk ada orang yg mau shalat shubuh 8 rakaat, karena memang tdk ada ajarannya.

Bagi kalangan ini, melafadzkan niat puasa itu meski tdk ada hadits yg menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya, berguna besar utk menguatkan niat. Rupanya di masa lalu, ada orang yg hatinya mudah was-was, selalu ragu & kurang percaya diri.

Di dalam hatinya selalu ada gejolak, apakah saya sudah siap melakukan ibadhah ini atau belum ya? Nah, kpd kalangan yg seperti ini, muncullah fatwa utk melafadzkan niat. Dengan dilafadzkan, maka rasa was-was di dalam hati akan sirna berganti dgn keyakinan.

Kira-kira mirip dgn orang yg sedang jatuh cinta kpd seorang yg sudah lama diincar, tetapi ada rasa ragu, takut, malu, was-was utk menyatakan rasa cinta itu dalam bentuk kata-kata. Maka sejuta perasaan ragu tdk karuan itu akan pecah begitu dinyatakan rasa cinta itu dgn kata-kata.

Maka menurut ulama yg mendukung pelafadzan niat, kalau ragu-ragu, ucapkan saja niat itu. biar plong & selesai masalahnya.

Sekarang mari kita lihat apa yg dikatakan para ulama salaf tentang melafadzkan niat, sesuai literatur ilmu syariah yg kita miliki:

  1. Mazhab Al-HanafiyahKita mulai dari mazhab Abu Hanifah. Para ulama di kalangan mazhab ini terpecah pendapatnya ketika menghukumi pelafalan niat. Sebagian dari mereka mengatakan hukumnya bid’ah, namun sebagian lain mengatakan hukumnya jaiz atau boleh. Tidak merupakan bid’ah yg merusak shalat.

    Bahkan sebagian dari mereka itu menyunnahkan pelafadzan niat terutama bagi mereka yg di dalam hatinya ada was-was. Dengan melafadzkan niat, maka was-was itu akan hilang. Sehingga pelafadzan niat itu justru membantu menguatkan niat.

  2. Mazhab Al-MalikiyahMazhab ini menyatakan bawa melafadzkan niat menyalahi yg utama, kecuali bagi mereka yg was-was. Maka melafadzkan niat bagi mereka yg was-was justru hukumnya mandub (semacam sunnah) agar rasa was-was itu menjadi hilang.
  3. Mazhab As-Syafi’iUmumnya para ulama di dalam mazhab ini menyunnahkan kita utk melafadzkan niat. Setidaknya mengatakan tdk mengapa bila kita melafadzkannya. Lantaran hal itu membantu hati.

    Namun mereka pun sepakat bahwa melafazkan niat itu bukan niat itu sendiri. Jadi seandainya seseorang beribadah tanpa melafadzkan niat, maka ibadahnya tetap sah & diterima Allah Subhanahu wa ta’ala secara hukum.

    Niat utk bertaharah, wudhu’ mandi, shalat, puasa & lainnya sama sekali tdk membutuhkan pelafazhan niat. Itu merupakan kesepakatan para imam mazhab. Karena tempat niat itu hati, bukan lisan.

Seandainya seseorang melafazkan sesuatu lafadz niat yg ternyata berbeda dgn apa yg terbersit di dalam hati, maka yg berlaku sah adl yg ada di dalam hati, bukan yg diucapkan di lisan. Tidak ada seorang ulama pun yg mengingkari hal ini.

Namun memang ada sebagian ulama dari kalangan mazhab As-syafi’i di masa-masa berikutnya yg berijtihad utk melafadzkan niat. Namun sepertinya mereka agak rancu dalam memahami nash dari Imam mereka, Asy-Syafi’i.

Pendapat Imam Ibnu Taimiyah

Imam Ibnu Taimiyah kemudian mengatakan bahwa urusan melafadzkan niat itu para ulama terpecah dua. Menurut sebagain ulama dari mazhab Imam Abu Hanifah, mazhab Al-Imam ASy-Syafi’i & Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa melafadzkan niat itu hukumnya mustahab (lebih disukai), lantaran menguatkan niat di dalam hati.

Sementara sebagian lainnya dari ulama kalangan mazhab Imam Malik & Imam Ahmad bin Hanbal & yg lainnya mengatakan bahwa melafazhkan niat itu tdk mustahab, bahkan hukumnya bid’ah. Lantaran tdk ada contoh dari nabi Muhammad SAW, para shahabat & tabi’in.

Kerancuan Sebagian Ulama Asy-Syafi’i?

Ibnu Al-Qayyim mengatakan bahwa sebagian ulama mutaakhkhirin dari kalangan mazhab Asy-Syafi’i telah rancu dalam memahami nash dari imam mereka sendiri tentang melafadzkan niat.

Di dalam nash, As-Syafi’i memang menyebutkan bahwa seseorang tdk sah memulai shalat kecuali dgn zikir. Itulah nash dari Al-Imam As-Syafi’i yg asli.

Namun nash ini dipahami menjadi tdk sah shalat itu kecuali dgn melafadzkan niat. Mereka memahami bahwa zikir yg dimaksud oleh Al-Imam As-Syafi’i adl lafazh ushalli. Padahal menurut Ibnul Qayyim, yg dimaksud dgn dzikir oleh Asy-Syafi’i adl takbiratul ihram, bukan melafadzkan niat.

Dalam hal ini kelihatan bahwa Ibnu Qayyim membela & tdk menyalahkan Al-Imam ASy-Syafi’i, namun beranggapan bahwa para ulama mutaakhkhirin dari kalangan mazhab ini yg salah dalam memahami nash dari imam mereka.

Kesimpulan

Masalah melafazkan niat adl masalah khilafiyah di kalangan ulama. Sebagian membid’ahkannya, sebagian membolehkannya, sebagian lain bahkan menganggapnya mustahab, terutama bagi yg merasa was-was. Bahkan para ulama dalam satu mazhab pun punya pendapat yg berbeda-beda dalam masalah ini.

Maka sikap saling menyalahkan, apalagi sampai harus bermusuhan dgn sesama muslim utk urusan seperti ini justru merupakan sikap yg kurang dewasa. Kita sebaiknya tdk terjebak kpd permusuhan, apalagi sampai saling mengejek, saling melecehkan atau saling memboikot saudara kita sendiri.

Serahkan urusan ini kpd ulama yg ahli di bidangnya. Kalau ternyata mereka pun berbeda pendapat, memang demikian itulah keterbatasan kita. Sebagai muqallid (orang yg bertaqlid) kpd para ulama, maka kita tetap harus bersikap santun, hormat, & menghargai berbagai perbedaan pendapat di kalangan mereka.

Toh nanti di alam kubur, kita tdk akan pernah ditanyai urusan seperti ini, bukan?
Dan yg pasti, tdk ada satu pun ulama yg sampai mewajibkannya, apalagi sampai mengatakan puasa itu tdk sah kalau tdk melafadzkan niat. Tidak ada seorang pun yg mengatakan itu.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Niat Puasa Dobel Bolehkah?

Pada tiap bulan kita disunnahkan utk melakukan puasa sunnah 3 hari pd tengah bulan. Suatu waktu, kebetulan waktu puasa itu jatuh pd hari senin atau kamis.

Yang saya mau tanyakan bisakah ketika kita melakukan puasa sunah itu kita niatkan dobel: ya puasa bulan.Ya puasa senin-kamis Atau jika jatuh pd bulan ramadan, puasa kita ini diniatkan ya puasa romadon sekaligus puasa senin-kamis.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Puasa dgn niat ganda, ada yg boleh hukumnya & ada yg tdk boleh.

Termasuk yg tdk boleh adl puasa yg diniatkan utk beberapa puasa yg hukumnya wajib. Misalnya, seseorang berpuasa satu hari dgn niat utk membayar qadha’ puasa Ramadhan 30 hari. Jelas cara niat seperti ini tdk bisa dibenarkan. Karena puasa satu hari hanyalah utk membayar puasa satu yg ditinggalkan.

Demikian juga ketika seseorang bernadzar utk puasa 1 minggu, lalu ketika keinginannya terkabul, dia hanya puasa 1 hari saja namun niatnya utk puasa 7 hari. Cara seperti ini juga cara akal-akalan yg tdk dibenarkan syariah.

Yang bisa dibenarkan adl melakukan puasa wajib yg dijatuhkan harinya di hari-hari yg utama utk berpuasa, misalnya dijatuhkan pd hari Senin atau hari Kamis.

Kedua hari itu adl hari yg punya keutamaan tersendiri utk berpuasa, kalau ada puasa wajib, maka kita puasa wajib, sedangkan bila tdk ada kewajiban, maka kita puasa sunnah. Yang penting, kita bisa memafaatkan hari Senin atau Kamis utk berpuasa, baik statusnya wajib atau sunnah.

Mengapa hari Senin & Kamis punya keutamaan utk kita berpuasa di dalamnya?

Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memang menyebutkan keutamaan puasa pd hari itu & beliau juga menyebutkan sebab musababnya, yaitu karena hari kelahiran beliau atau karena Senin & Kamis adl hari pelaporan amal-amal umat manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “Itu hari kelahiranku & diturunkan wahyu.” (HR Muslim & Ahmad).

“Sesungguhnya amal manusia itu diperlihatkan (dilaporkan) setiap hari Senin & Kamis. Lalu Allah mengampuni setiap muslim atau setiap mukimin, kecuali mutajahirin. Beliau berkata, “Akhir dari keduanya.” (HR Ahmad dgn sanad shahih).

Maka boleh hukumnya berpuasa wajib, misalnya puasa qadha’ atau nadzar, yg kita jatuhkan di hari Senin atau Kamis, karena di kedua hari itu ada keutamaan tersendiri yg berbeda nilainya kalau kita puasa wajib di hari lain.
Dan boleh pula kita berpuasa sunnah yg kita jatuhkan di hari Senin atau hari Kamis. Misalnya puasa 6 hari bulan Syawwal yg hukumnya sunnah, akan menjadi lbh utama kalau dijatuhkan pd hari Senin atau hari Kamis.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Apakah Niat Puasa Ramadhan Harus Setiap Malam?

Assalamu ‘aikum wr. wb.

Apakah niat puasa harus dilakukan setiap malam? Atau bisa dilakukan di awal Ramadhan saja? Adakah pendapat yg berbeda dalam masalah ini?

Wassalam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Niat puasa harus dilakukan pd malam hari sebelum masuk waktu shubuh. Istilah yg sering digunakan adl tabyitunniyah, atau memabitkan niat. Maksudnya, di malam hari seseorang sudah harus berniat bahwa besoknya dirinya akan melaksanakan puasa.

Namun yg perlu diketahui, ketentuan tabyitunniyyah ini hanya berlaku pd puasa wajib saja, seperti puasa Ramadhan, puasa nadzar, puasa qadha’ & puasa kaffarah saja. Sedangkan puasa-puasa sunnah, seperti puasa Senin & Kamis, puasa ayyamul biiydh, puasa 6 hari bulan Syawwal & seterusnya, tdk membutuhkan tabyitunniyah. Sehingga asalkan seseorang belum sempat makan & minum sejak pagi, lalu tiba-tiba terbetik keinginnan utk berpuasa, dia bisa langsung berpuasa.

Tinggal masalahnya, apakah niat puasa di bulan Ramadhan itu harus dilakukan tiap malam, ataukah bisa dilakukan hanya di malam pertama Ramadhan saja. Untuk menjawab masalah ini, rupanya para ulama berbeda pendapat.

  1. Jumhur Ulama: Harus Setiap Malam Menurut jumhur ulama, niat itu harus dilakukan pd setiap malam yg besoknya kita akan berpuasa secara satu per satu. Tidak bisa digabungkan utk satu bulan.

    Logikanya, karena masing-masing hari itu adl ibadah yg terpisah-pisah & tdk satu paket yg menyatu. Buktinya, seseorang bisa berniat utk puasa di sesuatu hari & bisa berniat tdk puasa di hari lainnya.

    Oleh karena itu, jumhur ulama mensyaratkan harus ada niat meski tdk perlu dilafazkan pd setiap malam hari bulan ramadhan. Tanpa niat tiap malam, maka puasa menjadi tdk sah utk dilakukan, lantaran seseorang tdk berniat puasa.

  2. Al-Malikiyah: Boleh Niat Untuk Satu Bulan Sedangkan kalangan fuqaha dari Al-Malikiyah mengatakan bahwa tdk ada dalil nash yg mewajibkan utk tiap malam melakukan niat yg terpisah.

    Bahkan bila mengacu kpd ayat Al-Quran Al-Kariem, jelas sekali perintah utk berniat puasa satu bulan secara langsung & tdk diniatkan secara hari per hari.

    Ayat yg dimaksud oleh Al-Malikiyah adalah:

    Siapa yg menyaksikan bulan (Ramadhan) itu hendaklah dia berpuasa…(Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 185)

    Menurut mereka, ayat Al-Quran Al-Kariem sendiri menyebutkan bahwa hendaklah ketika seorang mendapatkan bulan itu, dia berpuasa. Dan bulan adl ism utk sebuah rentang waktu. Sehingga berpuasa sejak hari awal hingga hari terakhir dalam bulan itu merupakan sebuah paket ibadah yg menyatu, tdk terpisah-pisah.

    Dalam hal ini mereka membandingkannya dgn ibadah haji yg membutuhkan masa pengerjaan yg berhari-hari. Dalam haji tdk perlu setiap hari melakukan niat haji. Cukup di awalnya saja, seseorang berniat utk haji, meski pelaksanaannya bisa memakan waktu seminggu.
    Demikian perbedaan pendapat di antara para ulama. Maka buat kita, rasanya tdk ada salahnya bila kita melakukan ikhtiyat (kehati-hatian), dgn cara kita berniat di awal Ramadhan utk berpuasa sebulan, sebagaimana pendapat para ulama mazhab Malikiyah.

Namun jangan lupa setiap malam utk berniat lagi, demi memenuhi ijtihad jumhur ulama. Kalau seandainya terlupa, setidaknya sudah berniat di awal Ramadhan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Puasa Sunnah Menjelang Ramadhan

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz, bolehkah puasa sebelum masuk waktu Ramadhan, misalnya 1 atau 2 minggu sebelumnya? Saya pernah mendengar ada yg mengatakan tdk boleh dgn alasan memperpanjang puasa Ramadhan. Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Benar sekali adanya larangan utk sengaja berpuasa sunnah bila kita memasuki atau menjelang setengah bulan masuknya Ramadhan. Yaitu berpuasa mulai tanggal 16 Sya’ban hingga akhir bulan Sya’ban. Meski pun masalah ini juga bukan merupakan pendapat jumhur ulama.

Yang berpedapat demikian adl sebagian ulama Asy-Syafi’iyah & sebagian dari ulama dari kalangan Al-Hanabilah.Dalilnya adl hadits berikut ini:

عَنْ أَبيِ هُرَيْرَةَ  عَنِ النَّبِيِّ  قَالَ: إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا حَتىَّ رَمَضَان ” صححه الترمذي و غيره

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Apabila bulan Sya’ban sudah setengahnya, maka janganlah berpuasa hingga Ramadhan.” (HR Tirmizy).

Imam At-Tirmizy menshahihkan hadits ini, demikian juga dgn At-Tahawi, Al-Hakim, IBnu Hibban & Ibnu Abdil Barr.

لاَ صَوْمَ بَعْدَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَان حَتَّى رَمَضَان

Tidak boleh berpuasa setelah nisfu Sya’ban hingga Ramadhan. (HR At-Tahawi)

Sedangkan ulama lainnya tdk sampai mengharamkan, hanya memakruhkan saja. Bahkan ada juga yg sama sekali tdk menyinggungnya sbg sesuatu yg harus dihindari. Mereka berpendapat bahwa hadits Abu Hurairah adl hadits mungkar. Yang mengatakan demikian adl Imam Ahmad, Abu Zar’ah Ar-Razi, Al-Atsram & Ar-Rahman bin Al-Mahdi

Selain itu mereka mengatakan justru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam byk sekali melakukan puasa di bulan Sya’ban, bahkan beliau menyambungkannya dgn puasa bulan Ramadhan.

كَانَ أَحَبُّ الشُّهُورِ إِلىَ رَسُولِ اللّهِ  أَنْ يَصُومَهُ شَعْبَان بَلْ كَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَان

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Bulan yg paling disukai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk berpuasa adl bulan sya’ban. Bahkan beliau menyambungnya dgn puasa Ramadhan.”

عَنْ عَائِشَةَ  قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللّهِ  أَكْثَرَ صِيَاماً مِنْهُ فيِ شَعْبَان

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tdk pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lbh berpuasa dari pd di bulan Sya’ban.”

Dengan demikian, kedudukan larangan berpuasa sunnah setelah setengah bulan Sya’ban adl khilaf di kalangan ulama. Sebagian menyatakan adanya larangan tersebut, sebagian lagi tdk mengakuinya.

Namun yg disepakati oleh semua ulama adl puasa qadha’ (pengganti) puasa Ramadhan. Hukumnya wajib dilakukan bila memang hanya tersisa hari-hari itu saja. Sebab ada alasan yg sangat kuat bagi mereka yg belum menunaikan kewiban membayar puasa ramadhan tahun lalu utk membayarkannya sekarang, meski bulan ramadhan tinggal 2 minggu lagi.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Syaithan Dibelenggu pada Bulan Ramadhan, Apa Maksudnya?

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apakah malam Lailatur Qadar itu sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan Atau sepanjang malam bulan Ramadhan? Apakah maknanya bahwa Syetan pd bulan Ramadhan diikat atau dibelenggu?
Apa maknanya secara haqiqi atau kias? Memang secara otomatis orang yg berpuasa lbh cenderung utk tdk melakukan perbuatan yg berdosa karena merasa terikat dgn keadaan mereka yg sedang berpuasa?
Walaupun tdk dipungkiri tetap ada yg melakukannya, walhasil yg tanpa disadari fasilitas-fasilitas syetan utk menggoda manusia yg berpuasa itu menjadi berkurang.
Maaf kalau pendapat saya ini salah. Apa sebenarnya maknanya, Pak Ustadz? Terima kasih sebelumnya atas jawabannya, Pak Ustadz. Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu alaikum wr. wb.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hadis-hadis yg menyatakan bahwa syetan-syetan akan dibelenggu pd bulan Ramadhan adl hadis shahih yg diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis, antara lain: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Ibnu Huzaimah & lain-lain.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan & pintu-pitu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu.” (HR Bukhari No. 1898 & Muslim 1079)

Sedangkan mengenai maknanya, ada beberapa penjelasan dari para ulama mengenai maksud dari perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya syetan-syetan “dibelenggu” pd bulan suci Ramadhan:

  1. Tidak Bisa Leluasa Mengganggu Satu pendapat menyebutkan bahwa yg dimaksud dgn terbelenggunya syetan adl bahwa syetan tdk bisa leluasa utk mengganggu & mencelakakan manusia tdk seperti biasanya.

    Mengapa?

    Karena di bulan Ramadha umumnya orang-orang sibuk dgn shaum, membaca Al-Qur’an & berdzikir. Dan kegiatan mereka ini membuat syetan menjadi terbelenggu utk leluasa menggoda & mencelakakan manusia. Ruang gerak mereka menjadi lbh terbatas, dibandingkan dgn hari-hari di luar bulan Ramadhan.

  2. Hanya Syetan yg MembangkangSedangkan pendapat lain lagi mengatakan bahwa yg dibelenggu bukan semua syetan, melainkan hanya sebagiannya saja. Mereka adl syetan-syetan yg membangkang, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yg diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah & Al-Hakim.

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dibelenggu. Yaitu syetan-syetan yg membangkang.”

  3. Ketidakmampuan Syetan Menggoda Yang dimaksud dgn “dibelenggu” merupakan sesuatu ungkapan akan ketidak-mampuan syetan utk menggoda & menyesatkan manusia.

    Jika ada pertanyaan, mengapa masih byk terjadi kemaksiatan pd bulan Ramadhan? Bukankan syetan-syetan yg biasa menggoda manusia telah dibelenggu? Berdasarkan pengertian di atas, para ulama menjawab pertanyaan tersebut dgn 4 jawaban:

    Dibelenggunya syetan hanya berlaku bagi mereka yg melakukan ibadah shaum dgn penuh keikhlasan.

    Yang dibelenggu hanya sebagian syetan saja, yaitu syetan yg membangkang sebagaimana dijelaskan di atas.

    Yang dimaksud adl berkurangnya tindak kejahatan atau perilaku maksiat. Dan hal tersebut dpt kita rasakan meskipun masih terjadi tindak kejahatan atau kemaksiatan tapi biasanya tdk sebanyak di bulan-bulan lainnya.

    Tidak mesti dgn dibelenggunya syetan maka kemaksiatan akan hilang atau terhenti, karena masih ada sebab-sebab lainnya selain syetan. Bisa jdi kemaksiatan tersebut timbul karena sifat jelek manusianya, adat istiadat yg rusak, lingkungan masyarakat yg sudah bobrok, serta kemaksiatan tersebut bisa juga disebabkan oleh syetan-syetan dari golongan manusia.

  4. Terhalangi dari Mencuri Dengar Berita dari LangitSedangkan pendapat lainnya lagi seperti apa yg dikatakan oleh Al-Hulaimi, dimana beliauberpendapat bahwa yg dimaksud dgn syetan-syetan disini adl syetan-syetan yg suka mencuri berita dari langit.
    Malam bulan Ramadhan adl malam turunnya Al-Quran, mereka pun terhalangi utk melakukan dgn adanya “belenggu” tersebut. Maka akan menambah penjagaan (sehingga syetan-syetan tersebut tdk mampu melakukannya lagi).

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Allahumma Laka Shumtu, Bukan Hadits Shahih?

Assalamu’alaikum wr. wb.

Setahu saya doa berbuka yg diawali dgn allahumma lakasumtu… dst tdk shahih tapi saya melihat masih byk yg menggunakan doa itu bahkan ustadz yg saya percaya pun menggunakan doa itu. Bagaimana ustadz?

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabrakatuh,

Lafadz doa buka puasa yg memang sangat populer itu bila kita teliti secara riwayat, memang byk yg mengatakan kelemahannya. Bunyinya adalah:

اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت

Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa & atas rezeki dari-Mu aku berbuka

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Thabarani & Ad-Daaruquthuny dgn sanad yg lemah, bahkan satu dgn lainnya tdk bisa saling menguatkan, bahkan lafadznya pun berbeda-beda.

Menurut versi riwayat Abu Daud & lainnya seperti Ibnul Mubarak dalam Al-Zuhd, atau seperti Al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah lewat jalur Mu’az bin Zahrah adalah:

Apabila nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucakan:

اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت

Allahumma laka shumtu, wa ‘ala rizkika afthartu.”

Dalam hadits ini ada ‘illat, yaitu ketidak-jelasan identitas Muaz. Ibnu Hajar mengatakan hadits ini maqbul bila ada ikutannya, bila tdk maka hadits ini lemah sanadnya & mursal. Hadits mursal menurut pendapat yg rajih dari mazhab As-Syafi’i & Ahmad tdk bisa dijadikan hujjah. Ini berbeda dgn metodologi Imam Malik yg sebaliknya dalam masalah hadits mursal.

Hadits ini juga tdk punya shawahid yg mengangkatnya mencapai derajat hasan.

Imam At-Thabarani meriwayatkannya di dalam kitab Ash-Shaghir & Awsath, lewat jalur Daud bin Az-Zabarqan dgn lafadz:

Apabila nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa, beliau mengucakan:

بسم الله اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت

Bismillahi allahumma laka shumtu, wa ‘ala rizkika afthartu.”

Imam Al-Hafidz mengomentari Daud sbg orang yg matruk (riwayatnya ditinggalkan). Abu Daud juga memvonisnya sbg matruk.

Ad-Daruquthuny, Ibnussunni & At-Tahabari meriyawatkan juga lewat jalur Abdul Malik bin Harun. Namun Az-Zahab mengomentari Abdul Malik sbg orang yg ditinggalkan riwayatnya. Lafadznya:

اللهم لك صمنا وعلى رزقك أفطرنا اللهم تقبل منا إنك أنت السميع العليم

Allahumma laka shumna, wa ‘ala rizkika aftharna, Allahumma taqabbal minna innaka antas samiul-alim.

Syeikh ‘allamah Al-Albani di dalam Al-Irwa’ jilid 4 halaman 36 telah menetapkan kedhaifannya

Berdoa dgn Hadits yg Tidak Shahih Meski kita bisa menerima bahwa secara jalur sanad bahwa lafadz hadits doa ini lemah, namun yg jdi pertanyaan adalah:

Apakah tiap berdoa diharuskan hanya dgn menggunakan lafaz dari nash quran & hadits saja? Nyatanya, para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdoa dgn menggunakan lafadz hadits yg derajat keshahihannya masih menjadi perdebatan.

Sebagian mengatakan tdk boleh berdoa kecuali hanya dgn lafadz doa dari hadits yg sudah dipastikan keshahihannya. Namun sebagian yg lain mengatakan tdk mengapa bila berdoa dgn lafadz dari riwayat yg kurang dari shahih.

Bahkan dalam lafadz doa secara umum, pd dasarnya malah dibolehkan berdoa dgn lafadz yg digubah sendiri. Apalagi ada zhan bahwa lafadz itu diucapkan oleh Rasulullah SAW.

Namun memang demikian adanya, di mana saja kapan saja, para ulama sangat mungkin terjebak dgn perbedaan sudut pandang.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Mengapa Penetapan 1 Syawal Berbeda?

Assalamu alaikum wr. wb,

Pak Ustadz, saya sbg orang awam binggung karena di sekitar tempat tinggal saya mayoritas orang Muhammadiyah. Otomatis lebaran tahun ini beda lagi, kita masih puasa tetangga sebelah sudah berlebaran. Bagaimana menurut pak Ustadz?

Kalau bisa tahu, tahun kemarin pak Ustadz ikut yg mana? Terimah kasih atas jawabanya mohon maaf jika ada kata yg tdk memuaskan.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabrakatuh

Perbedaan dalam menetapkan hari jatuhnya lebaran memang sudah bisa diprediksi. Kejadian itu sudah berlangsung sejak lama & akan selalu terus berulang setiap tahun.

Penyebab Perbedaan jatuhnya Hari Raya .
Penyebab perbedaan penetapan karena ada beberapa dalil yg berbeda, atau satu dalil namun ditafsirkan secara berbeda. Sehingga umat mengenal setidaknya 2 sistem, yaitu rukyatul-hilal & hisab.

Kedua metode ini seringkali melahirkan hasil yg berbeda dalam penetapan tanggal. Tapi yg lbh menarik, bahkan meski sama-sama menggunakan rukyatul-hilal, hasilnya belum tentu sama. Demikian juga, meski sama-sama pakai hisab, hasil seringkali juga berbeda.

Perbedaan Antar Negara.
Sudah sering terjadi bahwa umat Islam yg hidup di bawah berbagai macam pemerintahan, seringkali berbeda dalam penetapan awal Ramadhan & Syawwal.
Kewajaran itu lantaran masing-masing pemerintahan punya hak utk menetapkannya, karena mereka memang berdiri sendiri & tdk saling terikat. Sehingga amat wajar independensi otoritas penetapan jadwal puasa pun dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing pemerintahan.

Maka wajar bila Mesir & Saudi Arabia saling berbeda dalam menetapkan jadwal puasa & lebaran.
Tetapi di dalam negeri masing-masing, umat Islam umumnya kompak. Sesama rakyat Mesir tdk pernah terjadi perbedaan. Demikian juga, sesama rakyat Saudi tdk pernah terjadi perbedaan.

Khusus Cuma di Indonesia.
Tetapi khusus utk rakyat Indonesia, rupanya masing-masing elemen umat teramat kreatif. Cerita orang lebaran berbeda-beda tanggalnya memang hanya terjadi di dalam masyarakat kita saja. Entah apa sebabnya, mungkin karena kebanyakan jumlah rakyatnya, atau kebanyakan ormasnya, atau mungkin juga kelebihan pe-de nya.

Yang jelas, kita selalu menyaksikan masing-masing ormas seolah merasa punya hak otoritas menetapkan tanggal 1 Ramadhan & tanggal 1 Syawal. Setidaknya utk konstituen mereka sendiri. Sesuatu yg tdk pernah terjadi di berbagai negeri Islam lainnya. Di sana, urusan penetapan seperti itu 100% diserahkan pemerintah. Masing-masing ormas tdk pernah merasa berhak utk menetapkan sendiri.

Jadi cerita seperti ini memang lbh khas Indonesia.
Dan lbh lucu lagi, bukan hanya ormas yg sering tdk kompak dgn pemerintah, tetapi di dalam satu ormas pun terkadang sering terjadi tdk kompak juga. Misalnya, ketika DPP ormas tertentu mengatakan A, belum tentu DPW atau DPD & DPC-nya bilang A. Masing-masing sturktur ke bawah kadang-kadang masih merasa lbh pintar utk menetapkan sendiri jadwal puasa.

Selain itu, juga ada ormas yg selalu menginduk ke jadwal puasa di Saudi Arabia. Mau lebaran hari apa pun, pokoknya ikut Saudi.

Bahkan mungkin karena saking semangat utk ijtihad, ada ormas yg sampai menasehati pemerintah utk tdk usah mencampuri masalah ini.

Semua pemandangan ini hanya terjadi di Indonesia, ya, sangat khas Indonesia. Dan ceritanya dari zaman nenek moyang sampai abad internet sekarang ini masih yg itu-itu juga. Pokoknya, Indonesia banget deh.

Jadi Kita Ikut Siapa?

Sebenarnya apa pun yg dikatakan baik oleh NU, Muhammadiyah, Persis & lainnya, semua tdk lepas dari ijtihad. Karena tdk ada nash baik Quran maupun hadits yg menyebutkan bahwa lebaran tahun 1428 hijriyah jatuh tanggal sekian.

Sebagai muslim, kita wajib menghormati berbagai ijtihad yg dilakukan oleh para ahlinya. Lepas dari apakah kita setuju dgn hasil ijtihad itu atau tidak.

Dan karena kita bukan ahli ru’yat, juga bukan ahli hisab, kita juga tdk punya ilmu apa-apa tentang masalah seperti itu, maka yg bisa kita lakukan adl bertaqlid atau setidaknya ber-ittiba’ kpd ahlinya.

Kalau para ahlinya berbeda pendapat, 100% kita punya hak utk memilih. Tidak ada satu pun ulama yg berhak utk memaksakan kehendaknya, apalagi menyalahkan pendapat yg tdk sesuai dgn hasil ijtihadnya. Toh kalau ijtihad itu benar, ulama itu akan dpt pahala. Sebaliknya kalau salah, beliau tdk berdosa, bahkan tetap dpt satu pahala.

Berpuasa Bersama Umat Islam

Salah satu hadits menyebutkan sbg berikut:

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَاْلأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ

Waktu shaum itu di hari kalian (umat Islam) bershaum, (waktu) berbuka adl pd saat kalian berbuka, & (waktu) berkurban/Iedul Adha di hari kalian berkurban.

Hadits ini rasanya agak cocok buat keadaan kita yg bukan ulama, bukan ahli ru’yat & juga bukan ahli hisab. Kita adl para muqaalid & muttabi’. Maka jadwal puasa kita mengikuti umat Islam umumnya di sesuatu negeri.

Kalau di Indonesia umumnya atau mayoritasnya lebaran hari Sabtu, ya kita tdk salah kalau ikut lebaran hari Sabtu, meski tetap menghormati mereka yg lebaran hari Jumat. Sebab lebaran di hari dimana umumnya umat Islam lebaran adl hal paling mudah & juga ada dalilnya serta tdk membebani.

Tapi kalau ternyata 50% ulama mengatakan lebaran jatuh hari Jumat & 50% lagi mengatakan hari Sabtu, lalu mana yg kita pilih?

Jawabnya bahwa dalam hal ini syariah Islam memberikan kewenangan & hak utk menengahi perbedaan pendapat di kalangan umat. Sebagaimana pemerintah berhak utk menjadi wali atas wanita yg tdk punya wali utk menikah.

Mulai Berpuasa Bersama Pemerintah

Jadi pemerintah resmi yg berkuasa diberikan wewenang & otoritas utk menetapkan jatuhnya puasa & lebaran, di tengah perbedaan pendapat dari para ahli ilmu, ahli hisab & ahli falak.

Kewenangan seperti ini bukan tanpa dalil, justru kita menemukan begitu byk dalil yg menegaskan hal itu. Bahkan para ulama sejak dulu telah menyatakan bahwa urusan seperti ini serahkan saja kpd pemerintah yg sah. Kalau pun pemerintah itu salah secara sengaja & berbohong misalnya, maka dosanya kan mereka yg tanggung.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Seseorang (hendaknya) berpuasa bersama penguasa & jamaah (mayoritas) umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.”

Apa yg dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal kemudian diamini oleh para ulama hingga sekarang ini. Salah satunya adl arahan & petunjuk dari Al-‘Allamah Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.
Beliau berkata, “Setiap muslim hendaknya bershaum & berbuka bersama (pemerintah) negerinya masing-masing.”

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Ziarah Kubur Sebelum Puasa Ramadhan, Apakah Ada Hadist yang Mendukungnya?

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, diantara kebiasaan kita menjelang bulan Ramadhan adl berziarah kubur, sehingga beberapa pekuburan umum di Jakarta ini cenderung ramai & jalannya macet.

Pertanyaan saya adl ada hadits-hadits pendukung tentang hal ini, juga pendapat masing-masing Imam Mazhab.

Billahi sabililhaq

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sayang sekali ternyata kami tdk menemukan dalil yg menganjurkan waktu yg paling baik utk berziarah kubur. Apalagi jika dikaitkan dgn kedatangan bulan Ramadhan. Yang ada hanyalah anjuran utk berziarah kubur, karena mengingatkan kita kpd kematian. Tapi waktunya tdk pernah ditentukan. Jadi boleh kapan saja, tdk harus menjelang masuknya bulan Ramadhan.

Adapun kebiasaan yg sering kita saksikan di tengah masyarakat utk berziarah kubur menjelang datangnya Ramadhan, kami yakin bahwa mereka melakukannya tanpa punya dalil yg eksplisit dari nabi SAW.
Dalil yg mereka gunakan hanyalah dalil umum tentang anjuran berziarah kubur. Sedangkan dalil yg mengkhususkan ziarah kubur menjelang Ramadhan, paling tinggi hanya sekedar ijtihad. Itu pun masih sangat mungkin disanggah.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk pernah menganjurkan secara tegas bahwa bila Ramadhan menjelang, silahkan kalian berziarah ke kuburan-kuburan. Atau kalau ke kuburan jangan lupa pakai pakaian hitam-hitam, & juga jangan lupa bawa kembang buat ditaburkan. Sama sekali tdk ada nash-nya, baik di Al-Quran maupun di sunnah nabi-Nya.

Dan memang semua fenomena itu terjadi begitu saja, tanpa ada ulama yg memberian arahan & penjelasan. Padahal masyarakat kita ini terkenal sangat agamis & punya semangat besar utk menjalankan agama. Sayangnya, mereka tdk punya akses utk bertanya kpd para ulama syariah yg ahli di bidangnya.Yang tersedia hanya para penceramah, da’i, atau ahli pidato yg digelembungkan namanya lewat media massa & menjadi sangat tenar bahkan masuk ke wilayah selebriti, tetapi sayangnya mereka kurang punya perhatian dalam masalah hukum Islam, apalagi sampai kpd kritik sanad hadits-hadits nabawi.

Ini perlu dipikirkan agar jangan sampai kejahilan di tengah umat ini terus-menerus terjadi, bahkan menjadi tradisi. Sudah waktunya bila umat ini punya akses kuat kpd para ulama ahli syariat, utk meluruskan kembali kehidupan mereka sesuai dgn syariat Islam yg lurus. Jauh dari pola ikut-ikutan tanpa manhaj yg benar.

Namun sekedar mencaci & mengumpat atau menuduh bahwa mereka itu ahli bid’ah, jahiliyah, atau tdk sejalan dgn manhaj ahli sunnah, tentu tdk akan menyelesaikan masalah. Bahkan dalam byk kasus, malah akan menimbulkan masalah.

Kita berharap proses pencerahan umat utk mengenal syariah ini tdk terkotori dgn adab yg buruk, atau dgn sikap arogan, yg hanya akan membuat objek dakwah kita semakin menjauh. Yang dibutuhkan adl pemberian pemahaman secara simpatik, cerdas, & tetap menghargai serta tdk mempermalukan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc