Mozaik Islam

Umrah di Bulan Ramadhan

Umrah di bulan Ramadhan memiliki pahala yg amat besar, bahkan sama dgn pahala haji. Dalam Shahih nya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Umrah di bulan Ramadhan menyamai haji, atau beliau bersabda, haji bersamaku. “

Tetapi wajib diketahui, meskipun umrah di bulan Ramadhan berpahala menyamai haji, tetapi ia tdk bisa menggugurkan kewajiban haji bagi orang yg wajib melakukannya.

Demikian pula halnya shalat di Masjidil Haram Makkah & di Masjid Nabawi Madinah pahalanya dilipatgandakan, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih: “Shalat di masjidku ini lbh baik dari seribu (kali) shalat di masjid-masjid lain, kecuali Masjidil Haram. “

Dalam viwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya ia lbh utama. ” (HR, Al- Bukhari, Muslim & lainnya)

Lailatul Qadar

Allah Ta ‘ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) saat Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul qadar itu lbh baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat & malaikat Jibril dgn izin Tuhannya utk mengatur segala uuusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. “(Al-Qadr: 1-5),

Allah memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pd malam Lailatul Qadar, yaitu malam yg penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pd sesuatu malam yg diberkahi.“(Ad-Dukhaan: 3)

Dan malam itu berada di bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah Ta ‘ala:

“Bulan Ramadhan, bulan yg di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. “(Al-Baqarah: 185).

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Allah menurunkan Al-Qur’anul Karim keseluruhannya secara sekaligus dari Lauh Mahfudh ke Baitul’Izzah (langit pertama) pd malam Lailatul Qadar. Kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kpd Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sesuai dgn konteks berbagai peristiwa selama 23 tahun.“

Malam itu dinamakan Lailatul Qadar karena keagungan nilainya & keutamaannya di sisi Allah Ta ‘ala. Juga, karena pd saat itu ditentukan ajal, rizki, & lainnya selama satu tahun, sebagaimana firman Allah: “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yg penuh hikmah. ” (Ad-Dukhaan: 4).

Kemudian, Allah berfirman mengagungkan kedudukan Lailatul Qadar yg Dia khususkan utk menurunkan Al-Qur’anul Karim:

“Dan tahukah kama apakah Lailatul Qadar itu?” ( Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 4/429.)

Selanjutnya Allah menjelaskan nilai keutamaan Lailatul Qadar dgn firman-Nya:

“Lailatul Qadar itu lbh baik dari pd seribu bulan. “

Maksudnya, beribadah di malam itu dgn ketaatan, shalat, membaca, dzikir & do’a sama dgn beribadah selama seribu bulan, pd bulan-bulan yg di dalamnya tdk ada Lailatul Qadar.

Dan seribu bulan sama dgn 83 tahun 4 bulan.

Lalu Allah memberitahukan keutamaannya yg lain, juga berkahnya yg melimpah dgn byk nya malaikat yg turun di malam itu, termasuk Jibril ‘alaihis salam. Mereka turun dgn membawa semua perkara, kebaikan maupun keburukan yg merupakan ketentuan & takdir Allah. Mereka turun dgn perintah dari Allah. Selanjutnya, Allah menambahkan keutamaan malam tersebut dgn firman-Nya:

“Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” (Al-Qadar: 5)

Maksudnya, malam itu adl malam keselamatan & kebaikan seluruhnya, tdk sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril- mengucapkan salam kpd orang-orang beriman.

Dalam hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda:

“Barangsiapa melakukan shalat malam pd saat Lailatul Qadar karena iman & mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yg telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih)

Tentang waktunya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar pd (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari, Muslim & lainnya).

Yang dimaksud dgn malam-malam ganjil yaitu malam 2 puluh satu, 2 puluh tiga, 2 puluh lima, 2 puluh tujuh, & malam 2 puluh sembilan.

Adapun qiyamul lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dgn tahajud, shalat, membaca Al-Qur’anul Karim, dzikir, do’a, istighfar & taubat kpd Allah Ta ‘ala.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, aku bertanya:

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui lailatul Qadar, apa yg harus aku ucapkan di dalamnya?” Beliau menjawab, katakanlah:”Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai Pengampunan maka ampunilah aku. ” (Hadis Riwayat: At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih).

Pelajaran dari surat Al-Qadr

  1. Keutamaan Al-Qur’anul Karim serta ketinggian nilainya, & bahwa ia diturunkan pd saat Lailatul Qadar.
  2. Keutamaan & keagungan Lailatul Qadar, & bahwa ia menyamai seribu bulan yg tdk ada Lailatul Qadar di dalamnya.
  3. Anjuran utk mengisi kesempatan-kesempatan baik seperti malam yg mulia ini dgn berbagai amal shalih.Jika Anda telah mengetahui keutamaan-keutamaan malam yg agung ini, & ia terbatas pd sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan maka seyogyanya Anda bersemangat & bersungguh-sungguh pd setiap malam dari malam-malam tersebut, dgn shalat, dzikir, do’a, taubat & istighfar.

Mudah-mudahan dgn demikian kita mendapatkan Lailatul Qadar, sehingga kita berbahagia dgn kebahagiaan yg kekal yg tiada penderitaan lagi setelahnya Di malam-malam tersebut, hendaknya kita berdo’a dgn do’a-do’a bagi kebaikan dunia-akhirat, di antaranya:

  1. Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yg merupakan penjaga urusanku, & perbaikilah untukku duniaku yg di dalamnya adl kehidupanku, & perbaikilah untukku akhiratku yg kepadanya aku kembali, & jadikanlah kehidupan (ini) menambah untukku dalam setiap kebaikan, & kematian menghentikanku dari setiap kejahatan. Ya Allah bebaskanlah aku dari (siksa) api Neraka, & lapangkanlah untukku ritki yg halal, & palingkanlah daripadaku kefasikan jin & manusia, wahai Dzat Yang Hidup & terus menerus mengurus (makhluk-Nya)”
  2. “Wahai Tuhan kami, berikanlah kpd kami kebaikan di dunia & kebaikan di akhirat & jagalah kami dari siksa Neraka. Wahai Dzat Yang Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya), wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan & Kemulyaan. “
  3. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon hal-hal yg menyebabkan (turunnya) rahmat-Mu, ketetapan ampunan-Mu, keteguhan dalam kebenaran & mendapatkan segala kebaiikan, selamat dari segala dosa, kemenangan dgn (mendapat) Surga serta selamat dari Neraka. Wahai Dzat Yang Maha Hidup & terus menerus mengurusi makhluk-Nya, Wahai Dzat yg memiliki Keagungan & Kemuliaan. “
  4. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu pintu-pintu kebajikan, kesudahan (hidup) dengannya serta segala yg menghimpunnya, secara lahir-batin, di awal maupun di akhirnya, secara terang- terangan maupun rahasia. YaAllah, kasihilah keterasinganku di dunia & kasihilah kengerianku di dalam kubur serta kasihilah berdiriku di hadapanmu kelak di akhirat. Wahai Dzat Yang Mahahidup, yg memiliki Keagungan & Kemuliaan. “
  5. “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, ‘afaaf (pemeliharaan dari segala yg tdk baik) serta kecukupan. “
  6. “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, mencintai pengampunan maka ampunilah aku. “
  7. “Ya Allah, aku mengharap rahmat-Mu maka janganlah Engkau pikulkan (bebanku) kpd diriku sendiri meski hanya sekejap mata, & perbaikilah keadaanku seluruhnya, tdk ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. “
  8. “Ya Allah, jadikanlah kebaikan sbg akhir dari semua urusan kami, & selamatkanlah kami dari kehinaan dunia & siksa akhirat. “
  9. “Ya Tuhan kami, terimalah (permohonan) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Hidup, yg memiliki keagungan & kemuliaan. “

“Semoga shalawat & salam dilimpahkan kpd Nabi Muhammad, segenap keluarga & para sahabatnya. “

Taubat dan Istighfar

  1. Ayat-ayat tentang taubat Allah Ta’ala berfirman:”Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yg melampaul batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kama berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (Az-Zumar: 53),”Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan & menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kpd Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “(An-Nisa’: 110).

    “Dan Dia-lah yg menerima taubat dari hamba-hamba-Nya & memaafkan kesalahan-kesalahan & mengetahui apa yg kamu kerjakan. “(AsySyuura: 25).

    “Orang-orang yg mengevjakan kejahatan kemudian bertaubat sesudah itu & beriman, sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yg disertai dgn iman itu adl Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “(Al-A’raaf: 153),

    “Dan bertaubatlah Kamu sekalian kpd Allah, wahai orang-orang yg beriman supaya kamu beruntung. “(An- Nuur: 31).

    “Maka mengapa mereka tdk bertaubat kpd Al-lah & memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (A1-Maa’idah: 74).

    “Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya & menerima zakat, & bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?” (At- Taubah: 104).

    “Hai orang-orang yg beriman, bertaubatlah kalian kpd Allah dgn taubat yg semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu & memasukkan kama ke dalam Surga yg mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahriim: 8).

    “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yg bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap dijalan yg benar.” (Thaaha: 82).

    ‘Dan (juga) orang-orang yg apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka & siapa lagi yg dpt mengampuni dosa selain daripada Allah?

    Dan mereka tdk meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu Balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka & Surga yg mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, & itulah sebaik-baik pahala orang-orangyang beramal. “(Ali Imraan: 135-136).

    Firman Allah Ta ‘ala:’Mereka ingatAllah, maksudnya mereka ingat keagungan Allah, ingat akan perintah & larangan-Nya, janji & ancaman-Nya, pahala & siksa-Nya sehingga mereka segera memohon ampun kpd Allah & mereka mengetahui bahwasanya tdk ada yg dpt mengampuni dosa-dosa selain daripada Allah.

    Dan firman Allah Ta’ala:”Dan mereka tdk meneruskan perbuatan keji itu.” Yakni mereka tdk tetap melakukannya padahal mereka mengetahui hal itu dilarang & bahwa ampunan Allah bagi orang yg bertaubat daripadanya.

    Dalam hadits disebutkan:

    “Tidaklah (dianggap) melanjutkan (peubuatan keji) orang yg memohon ampun, meskipun dalam sehari ia ulangi sebanyak 70 kali. ” (Hadis Riwayat: Abu Ya’la Al-Maushuli, Abu Daud, At-Tirmidzi & Al-Bazzaar dalam Musnadnya, Ibnu Katsiir mengatakan, ia hadits hasan; TafsiY Ibnu Katsir, 1/408).

  2. Hadits-hadits tentang taubat

    1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kpd Allah & memohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku beutaubat dalam sehari sebanyak 100 kali ” (Hadis Riwayat: Muslim).Demikianlah keadaan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya, baik yg lain maupun yg akan datang. Tetapi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam adl hamba yg pandai bersyukur, pendidik yg bijaksana, pengasih & penyayang. Semoga shalawat & salam yg sempurna dilimpahkan Allah kpd beliau.
    2. Abu Musa radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:”Sesungguhnya Allah membentangkan Tangan-Nya pd malam hari agar beutaubat orang yg berbuat jahat di siang hari & Dia membentangkan Tangan-Nya pd siang hari agar bertaubat orang yg berbuat jahat di malam hari, sehingga matahari terbit dari Barat (Kiamat). “(Hadis Riwayat: Muslim)
    3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalkam bersabda:”Barangssapa bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, niscaya Allah menerima taubatnya. ” (Hadis Riwayat: Muslim)Sebab jika matahari telah terbit dari Barat maka,pintu taubat serta merta ditutup.

      Demikian pula tdk ada gunanya taubat seseorang ketika dia hendak meninggal dunia. Allah berfirman:

      “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yg mengeriakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajar kpd seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.’ (An- Nisaa’: 18)

    4. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (nyawanya) belum sampai di kerongkongan. ” (HR· At-Tirmidzi, & ia menghasan-kannya).Karena itu setiap muslim wajib bertaubat kpd Allah dari segala dosa & maksiat di setiap waktu & kesempatan sebelum ajal mendadak menjemputnya sehingga ia tdk lagi memiliki kesempatan, lalu baru menyesal, meratapi atas kelengahannya. Dan sungguh, tdk seorang pun meninggal kecuali ia menyesal. Jika dia orang baik, maka ia menyesal mengapa dia tdk memperbanyak kebaikannya, & jika ia orang jahat maka ia menyesal mengapa ia tdk bertaubat, memohon ampun & kembali kpd Allah.
    5. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan utk setiap kesedihannya kelapangan & utk setiap kesempitannya jalan keluar, & akan diberi-Nya rezki dari arah yg tiada disangka-sangka. ” (Hadis Riwayat: Abu Daud) (Lihat kitab Lathaa’iful Ma’arif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 172-178 )Imam Al-Auza’i ditanya: “Bagaimana cara beristighfar? Beliau menjawab: “Hendaknya mengatakan: “Astaghfirullah, astaghfirullah. ” Artinya, aku memohon ampunan kpd Allah.
    6. Anas radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman:”Allah Ta’ala berfirman:”Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memohon & mengharap kepadaku, niscaya Aku ampuni dosa-dosamu yg lalu & Aku tdk peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian engkau memohon ampun kepadaku, niscaya Aku mengampunimu & Aku tdk peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dgn dosa-dosa sepenuh bumi & kamu menemuiKu dalam keadaan tdk menyekutukanku dgn sesuatu pun, niscaya Aku datangkan untukmu ampunan sepenuh bumi (pula). ” (Hadis Riwayat: At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan),

Dalam hadits di atas disebutkan 3 sebab mendapatkan ampunan dalam bertaubat:

    1. Berdo’a dgn penuh harap.
    2. Beristighfar, yaitumemohon ampu”an kepadaAllah.
    3. Merealisasikan tauhid, & memurnikannya dari berbagai bentuk syirik, bid’ah & kemaksiatan. Hadits di atas juga menunjukkan luasnya rahmat Allah, ampunan, kebaikan dan anugerah-Nya yg byk.

Syarat-Syarat Taubat

Taubat dari segala dosa hukumnya adl wajib. Jika maksiat itu terjadi antara hamba dgn Allah, tdk berkaitan dgn hak manusia maka ada 3 syarat taubat:

  1. Hendaknya ia meninggalkan maksiat tersebut.
  2. Menyesali perbuatannya.
  3. Berniat teguh utk tdk mengulangi perbuatan tersebut selama-lamanya.

Apabila salah satu syarat ini tdk terpenuhi, maka taubatnya tdk sah.

Adapun jika maksiat itu berkaitan dgn hak manusia maka taubat itu diterima dgn 4 syarat. Yakni ketiga syarat di muka, & yg keempat hendaknya ia menyelesaikan hak yg bersangkutan.

Jika berupa harta atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya.

Jika berupa had (hukuman) atas tuduhan atau sejenisnya maka hendaknya had itu ditunaikan atau ia meminta maaf darinya.

Jika berupa ghibah (menggunjing) maka ia harus memohon maaf.

Ia wajib meminta ampun kpd Allah dari segala dosa. Jika ia bertaubat dari sebagian dosa, maka taubat itu diterima di sisi Allah, & dosa-dosanya yg lain masih tetap ada. Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah & Ijma’ yg menunjukkan wajibnya melakukan taubat. Dalil-dalil yg dimaksud telah kita uraikan di muka. Allah menyeru kita utk bertaubat & ber-istighfar, Ia menjanjikan utk mengampuni & menerima taubat kita, merahmati kita manakala kita bertaubat kepada-Nya serta mengampuni dosa-dosa kita, & sungguh Allah tdk mengingkari janji-Nya.

Ya Allah, terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Semoga shalawat & salam senantiasa dilimpahkan kpd Nabi Muhammad, keluarga & para sahabatnya. Amin.

Zakat Fitrah

Diantara dalil yg menganjurkan utk menunaikan zakat fitrah adl:

  1. Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya beruntunglah orang yg membersihkan diri (dengan beriman), & dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat” (Al-A’la: 14-15)
  2. Hadits shahih yg diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah bagi orang merdeka & hamba sahaya, laki-laki & perempuan, anak-anak & orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar (zakat fituah tersebut) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat ‘Id (hari Raya) ” (Muttafaq ‘Alaih)

Setiap muslim wajib membayar zakat fitrah utk dirinya & orang yg dalam tanggungannya sebanyak satu sha’ (+- 3 kg) dari bahan makanan yg berlaku umum di daerahnya. Zakat tersebut wajib baginya jika masih memiliki sisa makanan utk diri & keluarganya selama sehari semalam.

Zakat tersebut lbh diutamakan dari sesuatu yg lbh bermanfaat bagi fakir miskin.

Adapun waktu pengeluarannya yg paling utama adl sebelum shalat ‘Id, boleh juga sehari atau 2 lari sebelumnya, & tdk boleh mengakhirkan mengeluaran zakat fitrah setelah hari Raya.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fihrah sbg penyuci orang yg berpuasa dari kesia-siaan & ucapan kotor, & sbg pemberian makan kpd fakir miskin.

“Barangsiapa yg mengeluarkannya sebelum shalat ‘Id, maka zakatnya diterima, & barang siapa yg membayarkannya setelah shalat ‘Id maka ia adl sedekah biasa. “(Hadis Riwayat: Abu Daud & Ibnu Majah)

(Dan diriwayatkan pula Al Hakim, beliau berkata: shahih menurut kriteria Imam Al-Bukhari.)

Zakat fitrah tdk boleh diganti dgn nilai nominalnya(*),(*)”’ Berdasarkan hadits Abu Said Al Khudhri yg menyatakan bahwa zakat fithrah adl dari limajenis makanan pokok (Muttafaq ‘Alaih). Dan inilah pendapat jumhur ulama. Selanjutnya sebagian ulama menyatakan bahwa yg dimaksud adl makanan pokok masing-masing negeri. Pendapat yg melarang mengeluarkan zakat fithrah dgn uang ini dikuatkan bahwa pd zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga terdapat nilai tukar (uang), & seandainya dibolehkan tentu beliau memerintahkan mengeluarkan zakat dgn nilai makanan tersebut, tetapi beliau tdk melakukannya. Adapun yg membolehkan zakat fithrah dgn nilai tukar adl Madzhab Hanafi.

Karena hal itu tdk sesuai dgn ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan diperbolehkan bagi jamaah (sekelompok manusia) membeyikan jatah seseorang, demikian pula seseorang boleh memberikan jatah orang byk.

Zakat fitrah tdk boleh diberikan kecuali hanya kpd fakir miskin atau wakilnya. Zakat ini wajib dibayarkan ketika terbenamnya matahari pd malam ‘Id. Barangsiapa meninggal atau mendapat kesulitan (tidak memiliki sisa makanan bagi diri & keluarganya, pen.) sebelum terbenamnya matahari, maka dia tdk wajib membayar zakat fitrah. Tetapi jika ia mengalaminya seusai terbenam matahari, maka ia wajib membayarkannya (sebab ia belum terlepas dari tanggungan membayar fitrah).

Hikmah Zakat Fitrah

Di antara hikmah disyari’atkannya zakat fitrah adl:

  1. Zakat fitrah merupakan zakat diri, di mana Allah memberikan umur panjang baginya sehingga ia bertahan dgn nikmat-l\lya.
  2. Zakat fitrah juga merupakan bentuk pertolongan kpd umat Islam, baik kaya maupun miskin sehingga mereka dpt berkonsentrasi penuh utk beribadah kpd Allah Ta’ala & bersukacita dgn segala anugerah nikmat-Nya.
  3. Hikmahnya yg paling agung adl tanda syukur orang yg berpuasa kpd Allah atas nikmat ibadah puasa. (Lihat Al Irsyaad Ila Ma’rifatil Ahkaam, oleh Syaikh Abd. Rahman bin Nashir As Sa’di, hlm. 37. )
  4. Di antara hikmahnya adl sebagaimana yg terkandung dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas, yaitu puasa merupakan pembersih bagi yg melakukannya dari kesia-siaan & perkataan buruk, demikian pula sbg salah satu sarana pemberian makan kpd fakir miskin.

Ya Allah terimalah shalat, kami, zakat & puasa kami serta segala bentuk ibadah kami sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Shalawat & salam semoga dilimpahkan selalu kpd Nabi Muhammad, segenap keluarga & sahabatnya. Amin.

Hari Raya

Hari raya adl saat berbahagia & bersuka cita. Kebahagiaan & kegembiraan kaum mukminin di dunia adl karena Tuhannya, yaitu apabila mereka berhasil menyempurnakan ibadahnya & memperoleh pahala amalnya dgn kepercayaan terhadap janji-Nya kpd mereka utk mendapatkan anugerah & ampunan-Nya.

Allah Ta ‘ala berfirman:

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah & rahmat-Nya, hendaklah dgn itu mereka bergembira.

Karunia Allah & rahmat-Nya itu adl lbh baik dari apa yg mereka kumpulkan. ” (Yunus: 58).

Sebagian orang bijak berujar: “Tiada seorang pun yg bergembira dgn selain Allah kecuali karena kelalaiannya terhadap Allah, sebab orang yg lalai selalu bergembira dgn permainan & hawa nafsunya, sedangkan orang yg berakal merasa Senang dgn Tuhannya.“

Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, kaum Anshar memiliki 2 hari istimewa, mereka bermain-main di dalamnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Allah telah memberi ganti bagi kalian 2 hari yg jauh lbh baik, (yaitu) ‘Idul fitri & ‘Idul Adha (Hadis Riwayat: Abu Daud & An-Nasa’i dgn sanad hasan).

Hadits ini menunjukkan bahwa menampakka rasa suka cita di hari Raya adl sunnah da disyari’atkan. Maka diperkenankan memperluas hari Raya tersebut secara menyeluruh kpd segenap kerabat dgn berbagai hal yg tdk diharamkan yg bisa mendatangkan kesegaran badan & melegakan jiwa, tetapi tdk menjadikannya lupa utk ta’at kpd Allah.

Adapun yg dilakukan kebanyakan orang di saat hari Raya dgn berduyun-duyun pergi memenuhi berbagai tempat hiburan & permainan adl tdk dibenarkan, karena hal itu tdk sesuai dgn yg disyari’atkan bagi mereka seperti melakukan dzikir kpd Allah. Hari Raya tdk identik dgn hiburan, permainan & penghambur-hamburan (harta), tetapi hari Raya adl utk berdzikir kpd Allah & bersungguh-sungguh dalam beribadah. Makanya Allah gantikan bagi umat ini 2 buah hari Raya yg sarat dgn hiburan & permainan dgn 2 buah Hari Raya yg penuh dzikir, syukur & ampunan.

Di dunia ini kaum mukminin mempunyai 3 hari Raya: hari Raya yg selalu datang setiap minggu & 2 hari Raya yg masing-masing datang sekali dalam setiap tahun.

Adapun hari Raya yg selalu datang tiap minggu adl hari Jum’at, ia merupakan hari Raya mingguan, terselenggara sbg pelengkap (penyempurna) bagi shalat wajib 5 kali yg merupakan rukun utama agama islam setelah 2 kalimat syahadat.

Sedangkan 2 hari Raya yg tdk berulang dalam waktu setahun kecuali sekali adalah:

  1. ‘Idul Fitri setelah puasa Ramadhan, hari raya ini terselenggara sbg pelengkap puasa Ramadhan yg merupakan rukun & asas Islam keempat. Apabila kaum muslimin merampungkan puasa wajibnya, maka mereka berhak mendapatkan ampunan dari Allah & terbebas dari api Neraka, sebab puasa Ramadhan mendatangkan ampunan atas dosa yg lain & pd akhirnya terbebas dari Neraka.Sebagian manusia dibebaskan dari Neraka padahal dgn berbagai dosanya ia semestinya masuk Neraka, maka Allah mensyari’atkan bagi mereka hari Raya setelah menyempurnakan puasanya, utk bersyukur kpd Allah, berdzikir & bertakbir atas petunjuk & syari’at-Nya berupa shalat & sedekah pd hari Raya tersebut.

    Hari Raya ini merupakan hari pembagian hadiah, orang-orang yg berpuasa diberi ganjaran puasanya, & setelah hari Raya tersebut mereka mendapatkan ampunan.

  2. ‘Idul Adha (Hari Raya Kurban), ia lbh agung & utama daripada ‘Idul Fitri. Hari Raya ini terselenggara sbg penyempurna ibadah haji yg merupakan rukun Islam kelima, bila kaum muslimin merampungkan ibadah hajinya, niscaya diampuni dosanya.Inilah macam-macam hari Raya kaum muslimin di dunia, semuanya dilaksanakan saat rampungnya ketakwaan kpd Yang Maha Menguasai & Yang Maha Pemberi, di saat mereka berhasil memperoleh apa yg dijanjikan-Nya berupa ganjaran & pahala. (Lihat Lathaa’iful Ma’arif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 255-258)

Petunjuk Nabi Tentang Hari Raya

Pada saat hari Raya ‘Idul Fitri, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenakan pakaian terbaiknya & makan kurma -dengan bilangan ganjil tiga, 5 atau tujuh- sebelum pergi melaksanakan shalat ‘Id. Tetapi pd ‘Idul Adha beliau tdk makan terlebih dahulu sampai beliau pulang, setelah itu baru memakan sebagian daging binatang sembelihannya.

Beliau mengakhirkan shalat ‘Idul Fitri agar kaum muslimin memiliki kesempatan utk membagikan zakat fitrahnya, & mempercepat pelaksanaan shalat ‘Idul Adha supaya kaum muslimin bisa segera menyembelih binatang kurbannya.

Mengenai hal tersebut, Allah Ta ‘ala berfirman:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu & berkorbanlah ” (Al Kautsar: 2).

Ibnu Umar sungguh dalam mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tdk keluar utk shalat ‘Id kecuali setelah terbit matahari, & dari rumah sampai ke tempat shalat beliau senantiasa bertakbir.

Nabi shallallahu blaihi wasallam melaksanakan shalat’ Id terlebihdahulu baru berkhutbah, & beliau shalat duaraka’at· Pada rakaat pertama beliau bertakbir 7 kali berturut-turut dgn Takbiratul Ihram, & berhenti sebentar di antara tiap takbir. Beliau tdk mengajarkan dzikir tertentu yg dibaca saat itu. Hanya saja ada riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Dia membaca hamdalah & memuji Allah Ta ‘ala serta membaca shalawat.

Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar mengangkat kedua tangannya pd setiap bertakbir.

Sedangkan Nabi shallallah u ‘alaihi wasallam setelah bertakbir membaca surat Al-Fatihah & “Qaf” pd raka’at pertama serta surat “Al-Qamar” di raka’at kedua.

Kadang-kadang beliau membaca surat “Al-A’la” pd raka’at pertama & “Al-Ghasyiyah” pd raka’at kedua. Kemudian beliau bertakbir lalu ruku’ dilanjutkan takbir 5 kali pd raka’at kedua lain membaca Al-Fatihah & surat. Setelah selesai beliau menghadap ke arah jamaah, sedang mereka tetap duduk di shaf masing-masing, lalu beliau menyampaikan khutbah yg berisi wejangan, anjuran & larangan.

Beliau selalu melalui jalan yg berbeda ketika yg terkenal sangat bersungguh-mengikuti sunnah Nabi shallallahu berangkat & pulang (dari shalat) ‘Id.’ Beliau selalu mandi sebelum shalat ‘Id.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memulai setiap khutbahnya dengan hamdalah, & bersabda:

“Setiap perkara yg tdk dimulai dgn hamdalah, maka ia terputus (dari berkah). ” (Hadis Riwayat: Ahmad & lainnya).

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunaikan shalat ‘Id 2 raka’at tanpa disertai shalat yg lain baik sebelumnya ataupun sesudahnya. ” (Hadis Riwayat: Al Bukhari & Muslim & yg lain).

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat ‘Id itu hanya 2 raka’at, demikian pula mengisyaratkan tdk disyari’atkan shalat sunnah yg lain, baik sebelum atau sesudahnya. Allah Mahatahu segala sesuatu, shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kpd Nabi Muhammad, seluruh anggota keluarga & segenap sahabatnya.

Keutamaan Puasa 6 Hari di Bulan Syawal

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dgn (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun. (Hadis Riwayat: Muslim).

Imam Ahmad & An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda:

“Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dgn (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dgn (puasa) 2 bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka.)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadham lantas disambung dgn enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. ” (Hadis Riwayat: Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: “Salah satu sanad yg befiau miliki adl shahih.”)

Pahala puasa Ramadhan yg dilanjutkan dgn puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (tebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki byk manfaat, di antaranya:

  1. Puasa enam hari di buian Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap & penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
  2. Puasa Syawal & Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sbg penyempurna dari kekurangan, karena pd hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dgn perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yg datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yg dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan & ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yg menutupi & menyempurnakannya.
  3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala’amal kebaikan adl kebaikan yg ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dgn kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama.Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dgn yg buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yg pertama.
  4. Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dpt mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yg berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pd hari Raya’ldul Fitri yg merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tdk ada nikmat yg lbh agung dari pengampunan dosa-dosa.Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan & ampunan yg telah dianugerahkan kepadanya adl dgn berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dgn perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yg membalas kenikmatan dgn kekufuran. Apabila ia berniat pd saat melakukan puasa utk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tdk akan terkabul, ia bagaikan orang yg membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman:

    “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yg menguraikan benangnya yg sudah dipintal dgn kuat menjadi cerai berai kembali “(An-Nahl: 92)

  5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adl amal-amal yang dikerjakan seorang hamba utk mendekatkan diri kpd Tuhannya pd bulan Ramadhan tdk terputus dgn berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.Orang yg setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yg cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yg baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tdk sedikit manusia yg berbahagia dgn berlalunya Ramadhan sebab mereka merasa berat, jenuh & lama berpuasa Ramadhan.

    Barangsiapa merasa demikian maka sulit baginya utk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yg bersegera kembali melaksanakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tdk merasa bosam & berat apalagi benci.

    Seorang Ulama salaf ditanya tentang kaum yg bersungguh-sungguh dalam ibadahnya pd bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tdk bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar:

    “Seburuk-buruk kaum adl yg tdk mengenal Allah secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adl yg beribadah dgn sungguh-sunggguh di sepanjang tahun.”

    Oleh karena itu sebaiknya orang yg memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dgn enam hari puasa Syawal, dgn demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan & mengikutinya dgn enam hari di bulan Syawal.

    Ketahuilah, amal perbuatan seorang mukmin itu tdk ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta’ala berfirman:

    “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yg diyakini (ajal) ” (Al-Hijr: 99)

    Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat & puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba utk mendekatkan diri kpd Allah Ta’ala pd bulan Ramadhan adl disyari’atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya; ia sbg pelengkap dari kekurangan yg terdapat pd fardhu, merupakan salah satu faktor yg mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kpd hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sbg sebab dihapusnya dosa & dilipatgandakannya pahala kebaikan & ditinggikannya kedudukan.

    Hanya kpd Allah tempat memohon pertolongan, shalawat & salam semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga & sahabatnya.

Website “Yayasan Al-Sofwa”

Jl. Raya Lenteng Agung Barat, No.35 Jagakarsa, Jakarta – Selatan (12610)

Telpon: (021)-788363-27, Fax:(021)-788363-26

www.alsofwah.or.id; E-mail: info@alsofwah.or.id

Hal Yang Makruh Dalam Sholat

  1. Memejamkan 2 mata
  2. Menoleh tanpa keperluan
  3. Meletakkan lengan dilantai ketika sujud
  4. Banyak melakukan gerakan yg sia-sia, misal: main-main dgn jam (melihat jam, mengakurkan jam, memperbaiki tali jam, membersihkan jam dll), mempermainkan baju, atau lainya