Mozaik Islam

Bagaimana Sholat Tarawih Sesuai Sunnah Rasulullah

  1. Pensyari’atannya
    Shalat tarawih disyari’atkan secara berjama’ah berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pd sesuatu malam keluar & shalat di masjid, orang-orang pun ikut shalat bersamanya, & mereka memperbincangkan shalat tersebut, hingga berkumpullah byk orang, ketika beliau shalat, mereka-pun ikut shalat bersamanya, mereka meperbincangkan lagi, hingga bertambah byk lah penghuni masjid pd malam ketiga, Rasulullah Shallalalhu ‘alaihi wa sallam keluar & shalat, ketika malam keempat masjid tdk mampu menampung jama’ah, hingga beliau hanya keluar utk melakukan shalat Shubuh. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia & bersyahadat kemudian bersabda (yang artinya): ” Amma ba’du. Sesungguhnya aku mengetahui perbuatan kalian semalam, namun aku khawatir diwajibkan atas kalian, sehingga kalian tdk mampu mengamalkannya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan tdk pernah lagi melakukan shalat tarawih secara berjama’ah” [Hadits Riwayat Bukhari 3/220 & Muslim 761] Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Rabbnya (dalam keadaan seperti keterangan hadits diatas) maka berarti syari’at ini telah tetap, maka shalat tarawih berjama’ah disyari’atkan karena kekhawatiran tersebut sudah hilang & ‘illat telah hilang (juga). Sesungguhnya ‘illat itu berputar bersama ma’lulnya, adanya atau tdk adanya.Dan yg menghidupkan kembali sunnah ini adl Khulafa’ur Rasyidin Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu sebagaimana dikabarkan yg demikian oleh Abdurrahman bin Abdin Al-Qoriy[1] beliau berkata: “Aku keluar bersama Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu sesuatu malam di bulan Ramadhan ke masjid, ketika itu manusia berkelompok-kelompok[2] Ada yg shalat sendirian & ada yg berjama’ah, maka Umar berkata: “Aku berpendapat kalau mereka dikumpulkan dalam satu imam, niscaya akan lbh baik”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah dgn imam Ubay bin Ka’ab, setelah itu aku keluar bersamanya pd satu malam, manusia tengah shalat bersama imam mereka, Umar-pun berkata, “Sebaik-baik bid’ah adl ini, orang yg tidur lbh baik dari yg bangun, ketika itu manusia shalat di awal malam”.[Dikeluarkan Bukhari 4/218 & tambahannya dalam riwayat Malik 1/114, Abdurrazaq 7733]
  2. Jumlah raka’atnya
    Manusia berbeda pendapat tentang batasan raka’atnya, pendapat yg mencocoki petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl delapan raka’at tanpa witir berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha (yang artinya): ” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk pernah shalat malam di bulan Ramadhan atau selainnya lbh dari sebelas raka’at” [Dikeluarkan oleh Bukhari 3/16 & Muslim 736 Al-Hafidz berkata (Fath 4/54)]Yang telah mencocoki Aisyah adl Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau menyebutkan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghidupkan malam Ramadhan bersama manusia delapan raka’at kemudian witir [Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya 920, Thabrani dalam As-Shagir halaman 108 & Ibnu Nasr (Qiyamul Lail) halaman 90, sanadnya hasan sebagaimana syahidnya.]Ketika Umar bin Al-Khaththab menghidupkan sunnah ini beliau mengumpulkan manusia dgn sebelas raka’at sesuai dgn sunnah shahihah, sebagaimana yg diriwayatkan ole Malik 1/115 dgn sanad yg shahih dari jalan Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, ia berkata: “Umar bin Al-Khaththab menyuruh Ubay bin Ka’ab & Tamim Ad-Daari utk mengimami manusia dgn sebelas raka’at”. Ia berkata: “Ketika itu imam membaca 2 ratus ayat hingga kami bersandar/bertelekan pd tongkat karena lamanya berdiri, kami tdk pulang kecuali ketika furu’ fajar” [Furu’ fajar: awalnya, permulaan]. Riwayat beliau ini diselisihi oleh Yazid bin Khashifah, beliau berkata: “Dua puluh raka’at”.

    Riwayat Yazid ini syadz (ganjil/menyelisihi yg lbh shahih), karena Muhammad bin Yusuf lbh tsiqah dari Yazid bin Khashifah. Riwayat Yazid tdk bisa dikatakan ziyadah tsiqah kalau kasusnya seperti ini, karena ziyadah tsiqah itu tdk ada perselisihan, tapi hanya sekedar tambahan ilmu saja dari riwayat tsiqah yg pertama sebagaimana (yang disebutkan) dalam Fathul Mughits (1/199), Muhashinul Istilah hal. 185, Al-Kifayah hal 424-425. Kalaulah seandainya riwayat Yazid tersebut shahih, itu adl perbuatan, sedangkan riwayat Muhammad bin Yusuf adl perkataan, & perkataan lbh diutamakan dari perbuatan sebagaiman telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqh.

    Abdur Razaq meriwayatkan dalam Al-Mushannaf 7730 dari Daud bin Qais & lainnya dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid: “Bahwa Umar mengumpulkan manusia di bulan Ramadhan, dgn 2 puluh satu raka’at, membaca 2 ratus ayat, selesai ketika awal fajar”

    Riwayat ini menyelisihi yg diriwayatkan oleh Malik dari Muhamad bin Yusuf dari Saib bin Yazid, dhahir sanad Abdur Razaq shahih seluruh rawinya tsiqah.

    Sebagian orang-orang yg berhujjah dgn riwayat ini, mereka menyangka riwayat Muhammad bin Yusuf mudhtharib, hingga selamatlah pendapat mereka 2 puluh raka’at yg terdapat dalam hadits Yazid bin Khashifah.

    Sangkaan mereka ini tertolak, karena hadits mudhtarib adl hadits yg diriwayatkan dari seorang rawi satu kali atau lebih, atau diriwayatkan oleh 2 orang atau lbh dgn lafadz yg berbeda-beda, mirip & sama, tapi tdk ada yg bisa menguatkan (mana yg lbh kuat). [Tadribur Rawi 1/262]

    Namun syarat seperti ini tdk terdapat dalam hadits Muhammad bin Yusuf karena riwayat Malik lbh kuat dari riwayat Abdur Razaq dari segi hafalan. Kami ketengahkan hal ini kalau kita anggap sanad Abdur Razaq selamat dari illat (cacat), akan tetapi kenyataannya tdk demikian (karena hadits tersebut mempunyai cacat, pent) kita jelaskan sbg berikut:

    • Yang meriwayatkan Mushannaf dari Abdur Razaq lbh dari seorang, diantaranya adl Ishaq bin Ibrahim bin Ubbad Ad-Dabari.
    • Hadits ini dari riwayat Ad-Dabari dari Abdur Razaq, dia pula yg meriwayatkan Kitabus Shaum [Al-Mushannaf 4/153]
    • Ad-Dabari mendengar dari Abdur Razaq karangan-karangannya ketika berumur tujuh tahun [Mizanul I’tidal 1/181]
    • Ad-Dabari bukan perawi hadits yg dianggap shahih haditsnya, juga bukan seorang yg membidangi ilmu ini [Mizanul I’tidal 1/181]
    • Oleh karena itu dia byk keliru dalam meriwayatkan dari Abdur Razaq, dia byk meriwayatkan dari Abdur Razaq hadits-hadits yg mungkar, sebagian ahlul ilmi telah mengumpulkan kesalahan-kesalahan Ad-Dabari & tashif-tashifnya dalam Mushannaf Abdur Razaq, dalam Mushannaf [Mizanul I’tidal 1/181]

    Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa riwayat ini mungkar, Ad-Dabari dalam meriwayatkan hadits diselisihi oleh orang yg lbh tsiqah darinya, yg menentramkan hadits ini kalau kita nyatakan kalau hadits inipun termasuk tashifnya Ad-Dabari, dia mentashifkan dari sebelas raka’at (menggantinya menjadi 2 puluh satu rakaat), & engkau telah mengetahui bahwa dia byk berbuat tashif [Lihat Tahdzibut Tahdzib 6310 & Mizanul I’tidal 1/181]

    Oleh karena itu riwayat ini mungkar & mushahaf (hasil tashif), sehingga tdk bisa dijadikan hujjah, & menjadi tetaplah sunnah yg shahih yg diriwayatkan di dalam Al-Muwatha’ 1/115 dgn sanad Shahih dari Muhammad bin Yusuf dari Saib bin Yazid. Perhatikanlah.

    [Dan tambahan terperinci mengenai bantahan dari Syubhat ini, maka lihatlah:

    • Al-Kasyfus Sharih ‘an Aghlathis Shabuni fii Shalatit Tarawih oleh Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
    • Al-Mashabih fii Shalatit Tarawih oleh Imam Suyuthi, dgn ta’liq Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, cetakan Dar ‘Ammar]

Judul Asli: Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H

Tata Cara Shalat Tarawih dan Witir

Syaikh Nashiruddin Al-Albani telah menjelaskan perincian tentang tata cara shalat tarawih dalam kitab “Shalat Tarawih” (hal.101-105), kemudian disini diringkasnya utk mempermudah pembaca & sbg peringatan.

Cara Pertama

Shalat 13 rakaat yg dibuka dgn 2 rakaat yg ringan atau yg pendek, 2 rakaat itu menurut pendapat yg kuat adl shalat sunnah ba’diyah Isya’. Atau 2 rakaat yg dikhususkan utk membuka shalat malam, kemudian 2 rakaat panjang sekali, kemudian 2 rakaat kurang dari itu, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian 2 rakaat kurang dari sebelumnya, kemudian witir 1 kali.

Cara Kedua

Shalat 13 rakaat diaantaranya 8 rakaat salam pd setiap 2 rakaat kemudian melakukan witir 5 rakaat tdk duduk & salam kecuali pd rakaat kelima.

Cara Ketiga

Shalat 11 rakaat, salam pd setiap 2 rakaat & witir 1 rakaat.

Cara Keempat

Shalat 11 rakaat, shalat 4 rakaat dgn 1 salam, kemudian 4 rakaat lagi seperti itu kemudian 3 rakaat. Lalu apakah duduk (tasyahud -pent) pd setiap 2 rakaat pd yg 4 & 3 rakaat? Kami belum mendapatkan jawaban yg memuaskan dalam masalah ini. Tapi dudukpada rakaat kedua dari yg 3 rakaat tdk disyariatkan!.

Cara Kelima

Shalat 11 rakaat diantaranya 8 rakaat, tdk duduk kecuali pd yg kedelapan, (pada yg ke-8 ini -pent) bertsyahud & bershalawat kpd Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam, kemudian berdiri lagi & tdk salam, kemudian witir 1 rakaat, lalu salam, ini berjumlah 9 rakaat, kemudian shalat 2 rakaat lagi sambil duduk.
Cara Keenam

Shalat 9 rakaat, 6 rakaat pertama tdk diselingi duduk (tasyahud -pent) kecuali pd rakaat keenam & bershalawat kpd Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam & seterusnya sebagaimana tersebut dalam cara yg telah lau.

Inilah tata cara yg terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam secara jelas, & dimungkinkan ditambah cara-cara yg lain yaitu dgn dikurangi pd setaip cara berapa rakaat yg dikehendaki walaupun tinggal 1 rakaat dalam rangka mengamalkan hadist Rasulullah Shallaalhu ‘alaihi wa sallam yg telah lalu (“…Barangsiapa yg ingin, witirlah dgn 5 rakaat, barangsiapa yg ingin, witirlah dgn 3 rakaat, barang siapa yg ingin,witirlah dgn 1 rakaat) [Faedah penting: Berkata Ibnu Khuzaimah dalam “Shahih Ibni Khuzaimah” 2/194, setelah menyebutkan hadist Aisyah & yg lainnya pd sebagian cara-cara tersebut, maka dibolehkan shalat dgn jumlah yg ana dari yg diasukai dari yg telah diriwayatkan daari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya tida larangan bagi siapapun padanya, Saya katakan: Ini difahami sangat sesuai dgn apa yg kita pilih yg konsisten dgn jumlah yg shahih. Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam & tdk menambahinya. Segala puji bagi Allah atas taufiq-Nya & aku meminta Nya utk menambahi keutamaan-Nya.] [1].

Shalat 5 & 3 rakaat ini, jika seseorang menghendaki utk melakukannya dgn 1 kali duduk (tasyahud -pent) & satu kali salam sebagaimana pd cara kedua, boleh. Dan jika ingin, bisa dgn salam pd setiap 2 rakaat seperti pd cara ketiga & yg lain & itu lbh baik[2]. Adapun shalat yg 5 & 3 rakaat denagn duduk (tasyahud -pent) pd setiap 2 rakaat tanpa salam, kita tdk mendapatinya terdapat dari Nabi Shallaalhu ‘alaihi wasallam, pd asalnya boleh, akan tetapi nabi Shallaalhu ‘alaihi wa sallam ketika melarang utk 3 rakaat & memberikan alasannya dgn sabda beliau “Jangan serupakan dgn shalat mahgrib…” (diriwayatkan At-Thahawi & Daruquthni & selain keduanya lihat “Shalatut Tarawih” hal 99-110).

Maka bagi yg ingin shalat witir 3 rakaat hendaknya keluar dari cara penyerupaan terhadap mahgrib & itu dgn 2 cara:

  • Salam antara rakaat genap & ganjil itu lbh utama.
  • Tidak duduk (tasyahud -pent) antara genap & ganjil, (yakni pd rakaat kedua -pent).

(Dinukil dari terjemahan kitab “Qiyamu Ramadhan”, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “, Penerjemah: Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Tata Cara Shalat Tarawih”

Hal: 60 – 71, Penerbit “Cahaya Tauhid Press)

Bacaan pd witir yg Tiga rakaat

Diantara sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ialah membaca pd rakaat pertamanya surat Al-A’la & kedua membaca surat Al Kafirun & pd rakaat ketiga membaca surat Al-Ikhlas & terkadang menambahkan dgn surat Al-Alaq & An-Naas. Telah terdapat pula dalam riwayat yg shahih bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pd satu rakaat witir dgn 100 ayat dari surat An-Nisa’. (Riwayat An-Nasai & Ahmad dgn sanad yg shahih).

Doa Qunut witir & tempatnya

Sesudah membaca bacaan (surat -pent) sebelum ruku’ terkadang beliau melakukan qunut & berdoa dgn doa yg Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kpd cucunya Hasan bin Ali, yaitu:

اَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، [وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ[، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْت.

“Ya Allah! Berilah aku petunjuk sebagaimana orang yg telah Engkau beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit & apa yg tdk disukai) sebagaimana orang yg telah Engkau lindungi, sayangilah aku sebagaimana orang yg telah Engkau sayangi. Berilah berkah apa yg Engkau berikan kepadaku, jauhkan aku dari kejelekan apa yg Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkau yg menjatuhkan qadha, & tdk ada orang yg memberikan hukuman kepadaMu. Sesungguhnya orang yg Engkau bela tdk akan terhina, & orang yg Engkau musuhi tdk akan mulia. Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami & Maha Tinggi Engkau.” [Hadis Riwayat: Empat penyusun kitab Sunan, Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim & Al- Baihaqi. Sedang doa yg ada di antara 2 kurung, menurut riwayat Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Tirmidzi 1/144, Shahih Ibnu Majah 1/194 & Irwa’ul Ghalil, oleh Al- Albani 2/172.]

Kemudian terkadang bersholawat kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan tdk mengapa melakukan qunut setelah ruku’, juga menambah melaknati orang-orang kafir, & bersholawat kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mendoakan kaum muslimin pd pertengahan kedua dari bulan ramadhan, karena telah ada yg demikian ini dimasa Umar radhiyallahu ‘anhu, yg telah tersebut pd hadist Abdurrahman bin Abdul Qari’: Dan mereka melaknati orang-orang kafir pd pertengahan (ramadhan -pent)”:

“اللهم قا تل الكفرة الذين يصدون عن سبيلك ويكذبون رسلك, ولا يؤمنون بوعدك, وخالف بين كلمتهم, وألق في قلوبهم الرعب, وألق عليهم رجزك وعذا بك, يا اله الحق”

“Ya Allah! Perangilah orang-orang kafir yg menghalangi dari jalan-Mu & mendustakan para Rasul-Mu & tdk beriman dgn janji-Mu. Cerai beraikan persatuan mereka, lemparkan rasa takut pd hati mereka, & lemparkan adzab-Mu atas mereka wahai Illah yg haq.”

Kemudia bersholawat kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam & berdoa utk kaum muslimin semampunya dari kebaikan, lalu mintakan ampun utk mereka. Dia berkata juga “Setelah selesai melaknati orang-orang kafir & bersholawat kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka diteruskan dgn membaca:

اَللَّهُمَّ إيـَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ، وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكَافِرِيْنَ مُلْحَقٌ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ وَنَسْتَغْفِرُكَ، وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ، وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ، وَنَخْضَعُ لَكَ، وَنَخْلَعُ مَنْ يَكْفُرُكَ.

“Ya Allah! KepadaMu kami menyembah. UntukMu kami melakukan shalat & sujud. KepadaMu kami berusaha & melayani. Kami mengharapkan rahmatMu, kami takut pd siksaanMu. Sesungguhnya siksaanMu akan menimpa pd orang- orang kafir. Ya, Allah! Kami minta pertolongan & minta ampun kepadaMu, kami memuji kebaikanMu, kami tdk ingkar kepada-Mu, kami beriman kepadaMu, kami tunduk padaMu & berpisah pd orang yg kufur kepadaMu.” [Hadis Riwayat: Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra, sanadnya menurut pendapat Al- Baihaqi adl shahih 2/211. Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 2/170 berkata: Sanadnya shahih & mauquf pd Umar]

Kemudian bertakbir & menuju sujud. (Riwayat Ibnu Khuzaimah dalam kitab “Shahihnya” (2/155-156/1100)).

Yang diucapkan di akhir witir

Termasuk dari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl mengucapkan pd akhir shalat witir sebelum atau sesudah salam:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.

“Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung dgn kerelaanMu dari kemarahanMu, & dgn keselamatanMu dari siksaMu. Aku berlindung kepadaMu dari ancamanMu. Aku tdk mampu menghitung pujian & sanjungan kepadaMu, Engkau adl sebagaimana yg Engkau sanjungkan kpd diriMu sendiri.” [Hadis Riwayat: Empat peenyusun kitab Sunan & Imam Ahmad. Lihat Shahih At-Tirmidzi 3/180 & Shahih Ibnu Majah 1/194 serta kitab Irwa’ul Ghalil 2/175. [Hadis Riwayat: Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra, sanadnya menurut pendapat Al- Baihaqi adl shahih 2/211. Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 2/170 berkata: Sanadnya shahih & mauquf pd Umar]

Kemudian jika telah salam dari shalat witir mengucapkan:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ[رَبِّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ] (يجهر بها ويمد بها صوته يقول 3 مرات)

Subhaanal malikil qudduusi (rabbul malaaikati warruh) 3 kali, sedang yg ketiga, beliau membacanya dgn suara keras & panjang. [Hadis Riwayat: An-Nasai 3/244, Ad-Daruquthni & beberapa imam hadis yg lain. Sedang kalimat antara 2 tanda kurung adl tambahan menurut riwayatnya 2/31. Sanadnya shahih, lihat Zadul Ma’ad yg ditahqiq oleh Syu’aib Al-Arnauth & Abdul Qadir Al-Arnauth 1/337.

Dua rakaat setelah witir

Dibolehkan shalat 2 rakaat, karena telah terdapat dalil dari perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (riwayat Muslim & lain lihat “Shalat Tarwih”hala:108-109), bahkan beliau memerintahkan umatnya dgn sabdanya:

“Sungguh safar ini payah & berat, maka jika salah seorang dari kalian telah melakukan witir, hendaknya rukuk (shalat) 2 rakaat, jika bangun, jika tdk keduanya telah memilikinya.” (Riwayat Ibnu Khuzaimah dalam “Shahih”nya & darinya juga yg lainnya. Telah ditahkrij dalam “Silsilah Shahihah”. Dulu aku Tawaquf (tidak bisa memutuskan pd masalah itu) dalam waktu yg cukup lama, maka tatkala saya dapatkan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg mulia ini cepat-cepat saya mengambilnya & saat itu saya tahu bahwa sabdanya: ” اجعلوا اخر صلا تكم با ليل وترا “Jadikanlah witir akhir shalat kalian dimalam hari” adl kewajiban pilihan saja bukan merupakan kewajiban & itu adl pendapat Ibnu Nashr hal:130 )

Dan disunnahkan utk membaca pd kedua rakaatnya surat Al Zilzalah & surat Al Kafiruun. (Riwayat Ibnu Khuzaimah (1104,11050 dari hadist Aisyah & Anas radhiyallahu ‘anhum dgn 2 sanad yg saling menguatkan)

(Dinukil dari terjemahan kitab “Qiyamu Ramadhan”, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, edisi Indonesia “Shalat Tarawih Bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “, Penerjemah: Al-Ustadz Qomar Su’aidi, Bab “Tata Cara Shalat Tarawih” Hal: 60 – 71, Penerbit “Cahaya Tauhid Press)

Langkah-langkah Menyambut Bulan Ramadhan

  1. Pelajarilah hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadan. Wajib bagi setiap mukmin beribadah dgn dilandasi ilmu. Kita wajib mengetahui ilmu & hukum berpuasa sebelum Ramadan datang agar puasa kita benar & diterima oleh Allah. “Tanyakanlah kpd orang-orang yg berilmu, jika kamu tiada mengetahui,” begitu kata Allah di Al-Qur’an surah Al-Anbiyaa’ ayat 7.
  2. Sambut Ramadan dgn tekad meninggalkan dosa & kebiasaan buruk. Bertaubatlah secara benar dari segala dosa & kesalahan. Ramadan adl bulan taubat. “Dan bertaubatlah kamu sekalian kpd Allah, hai orang-orang yg beriman, supaya kamu beruntung.” [Q.S. An-Nur (24): 31]
  3. Bersyukurlah & puji Allah atas karunia Ramadan yg kembali diberikan kpd kita. Al-Imam Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata, “Dianjurkan bagi setiap orang yg mendapatkan kebaikan & diangkat dari dirinya keburukan utk bersujud kpd Allah sbg tanda syukur; & memuji Allah dgn pujian yg sesuai dgn keagungannya.” Dan di antara nikmat terbesar yg diberikan Allah kpd seorang hamba adl ketika dia diberikan kemampuan utk melakukan ibadah & ketaatan. Maka, ketika Ramadan telah tiba & kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita harus bersyukur dgn memuji Allah sbg bentuk syukur.
  4. Bergembiralah dgn kedatangan bulan Ramadan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memberikan kabar gembira kpd para shahabat setiap kali datang bulan Ramadan, “Telah datang kpd kalian bulan Ramadan, bulan yg penuh berkah. Allah telah mewajibkan kpd kalian utk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga & menutup pintu-pintu neraka.” (Hadis Riwayat: Ahmad).

    Salafush-shalih sangat memperhatikan bulan Ramadan. Mereka sangat gembira dgn kedatangannya. Tidak ada kegembiraan yg paling besar selain kedatangan bulan Ramadan karena bulan itu bulan penuh kebaikan & turunnya rahmat.

  5. Rancanglah agenda kegiatan utk mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari bulan Ramadan. Ramadhan sangat singkat. Karena itu, isi setiap detiknya dgn amalan yg berharga, yg bisa membersihkan diri, & mendekatkan diri kpd Allah.
  6. Bertekadlah mengisi waktu-waktu Ramadan dgn ketaatan. Barangsiapa jujur kpd Allah, maka Allah akan membantunya dalam melaksanakan agenda-agendanya & memudahnya melaksanakan aktifitas-aktifitas kebaikan. “Tetapi jikalau mereka benar terhadap Allah, niscaya yg demikian itu lbh baik bagi mereka.” [Q.S. Muhamad (47): 21]
  7. Siapkan jiwa & ruhiyah kita dgn bacaan yg mendukung proses tadzkiyatun-nafs. Hadiri majelis ilmu yg membahas tentang keutamaan, hukum, & hikmah puasa. Sehingga secara mental kita siap utk melaksanakan ketaatan pd bulan Ramadan.
  8. Siapkan diri utk berdakwah di bulan Ramadhan dengan:buat catatan kecil utk kultum tarawih serta ba’da sholat subuh & zhuhur.membagikan buku saku atau selebaran yg berisi nasihat & keutamaan puasa.
  9. Sambutlah Ramadan dgn membuka lembaran baru yg bersih. Kepada Allah, dgn taubatan nashuha. Kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dgn melanjutkan risalah dakwahnya & menjalankan sunnah-sunnahnya. Kepada orang tua, istri-anak, & karib kerabat, dgn mempererat hubungan silaturrahmi. Kepada masyarakat, dgn menjadi orang yg paling bermanfaat bagi mereka. Sebab, manusia yg paling baik adl yg paling bermanfaat bagi orang lain.
  10. Berdoalah agar Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan kesempatan kpd kita utk bertemu dgn bulan Ramadan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal di bulan itu, baik puasa, shalat, tilawah, & dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, “Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.” Artinya, ya Allah, berkahilah kami pd bulan Rajab & Sya’ban; & sampaikan kami ke bulan Ramadan. (Hadis Riwayat: Ahmad & Tabrani)

    Para salafush-shalih selalu memohon kpd Allah agar diberikan karunia bulan Ramadan; & berdoa agar Allah menerima amal mereka. Bila telah masuk awal Ramadhan, mereka berdoa kpd Allah, “Allahu akbar, allahuma ahillahu alaina bil amni wal iman was salamah wal islam wat taufik 5 tuhibbuhu wa tardha.” Artinya, ya Allah, karuniakan kpd kami pd bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, & keislaman; & berikan kpd kami taufik agar mampu melakukan amalan yg engkau cintai & ridhai.

Oleh: Mochamad Bugi. (Disadur dari artikel kiriman seorang sahabat)

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat & pesan-pesan. Inilah ‘azimat‘ Nabi tatkala memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pd kalian bulan Allah dgn membawa berkah rahmat & maghfirah. Bulan yg paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adl hari-hari yg paling utama. Malam-malamnya adl malam-malam yg paling utama. Jam demi jamnya adl jam-jam yg paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah & dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima & doa-doamu diijabah. Bermohonlah kpd Allah Rabbmu dgn niat yg tulus & hati yg suci agar Allah membimbingmu utk melakukan shiyam & membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yg tdk mendapat ampunan Allah di bulan yg agung ini. Kenanglah dgn rasa lapar & hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kpd kaum fuqara & masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yg muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yg tdk halal kamu memandangnya & pendengaranmu dari apa yg tdk halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kpd Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu utk berdoa pd waktu shalatmu karena itulah saat-saat yg paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dgn penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya & mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dgn istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dgn memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dgn segala kebesaran-Nya bahwa Dia tdk akan mengazab orang-orang yg shalat & sujud, & tdk akan mengancam mereka dgn neraka pd hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kpd orang-orang mukmin yg berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dgn membebaskan seorang budak & dia diberi ampunan atas dosa-dosa yg lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dgn sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dgn seteguk air.“

Wahai manusia! Siapa yg membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pd hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yg meringankan pekerjaan orang-orang yg dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pd hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pd hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dgn rahmat-Nya pd hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pd hari ia berjumpa dengan-Nya.

arangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pd hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pd bulan-bulan yg lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kpd Tuhanmu agar tdk pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kpd Rabbmu utk tdk akan pernah dibukakan bagimu. Setan-syetan terbelenggu, maka mintalah agar ia tdk lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri & berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yg paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yg paling utama di bulan ini adl menjaga diri dari apa yg diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yg senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yg di dalamnya ada sesuatu malam yg lbh baik dari seribu bulan; bulan yg Allah telah menjadikan puasanya sesuatu fardhu, & qiyam di malam harinya sesuatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kpd Allah dgn sesuatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dgn orang yg menunaikan sesuatu fardhu di dalam bulan yg lain.”

“Ramadhan itu adl bulan sabar, sedangkan sabar itu adl pahalanya surga. Ramadhan itu adl bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) & bulan Allah memberikan rizqi kpd mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yg berpuasa, adl yg demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya & kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yg memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yg berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa utk orang lain yg berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kpd orang yg memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yg permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan & akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya & memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu byk kanlah yg 4 perkara di bulan Ramadhan; 2 perkara utk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, & 2 perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yg pertama ialah mengakui dgn sesungguhnya bahwa tdk ada Tuhan selain Allah & mohon ampun kepada-Nya. Dua perkara yg kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga & perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kpd orang yg berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dgn sesuatu minuman yg dia tdk merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (Hadis Riwayat: Ibnu Huzaimah).

Apakah Niat Puasa Sebulan Penuh Ramadhan Cukup Untuk Mewakili Niat Memuasai Setiap Harinya?

Apakah niat puasa sebulan penuh Ramadhan cukup utk mewakili niat memuasai setiap harinya?

Jawaban

Amat dimaklumi bila seseorang bangun pd akhir malam & bersahur, tdk diragukan dia akan berpuasa. Karena setiap orang yg berakal melakukan sesuatu dgn pilihannya, tdk mungkin melakukannya tanpa keinginan. Keinginan itulah niat. Seseorang tidaklah makan pd akhir malam kecuali utk berpuasa. Jika maksudnya hanya sekedar makan, bukanlah kebiasaannya makan pd waktu seperti itu. Demikian itulah niat.

Pertanyaan seperti ini diperlukan jika seseorang ditakdirkan tidur sebelum matahari tenggelam & tdk terbangun hingga terbit fajar pd hari berikutnya, dalam kondisi ini dia belum berniat pd malam hari utk hari berikutnya. Apakah kita katakan: “Puasanya pd hari berikutnya sah karena didasarkan pd niat sebelumnya” atau kita katakan: “Puasanya tdk sah karena belum berniat pd malam harinya.”?

Kita katakan: puasanya sah. Pendapat yg kuat bahwa niat puasa Ramadhan pd awal kali sudah cukup, tdk perlu diperbaharui setiap hari, kecuali terdapat sebab yg membolehkannya berbuka di tengah Ramadhan, dalam kondisi ini perlu memperbarui niat utk menyambung puasanya yg terputus karena telah pernah tdk berpuasa.

Oleh: Muhammad Ibn Saleh al-Utsaimin

Tata Cara Shalat Dalam Pesawat

Pertanyaan 1:

Apabila tiba waktu shalat, sedangkan saya berada di pesawat, bagaimanakah caranya saya shalat? Perlu diketahui bahwa masa perjalanan lbh dari tujuh jam. Bisa jdi saya bertemu lbh dari satu shalat. Berilah pengarahan kpd saya, semoga Allah Shubhanhu wa ta’alla memberi berkah kepadamu.

Jawaban 1:

Apabila shalat tersebut termasuk yg bisa digabung dgn yg sesudahnya, maka shalat yg pertama ditunda sehingga digabung bersama shalat sesudahnya saat pesawat sudah turun. Sebagaimana jika pesawat take of pd waktu dhuha & lending (turun) sebelum tenggelam matahari, atau take off sebelum Maghrib & lending sebelum Subuh. Maka setelah turun dilakukan 2 shalat secara jama’ ta’khir. Adapun bila masuk waktu Zhuhur sebelum take off & diketahui bahwa penerbangan selama sepuluh jam, maka shalat Ashar didahulukan bersama Zhuhur secara jama’ taqdim. Seperti ini pula Maghrib dijama’ bersama shalat Isya`, apabila masuk waktu yg pertama sebelum take off. Jika dikhawatirkan tenggelam matahari sebelum dilakukan shalat Zhuhur & Ashar, atau terbir fajar sebelum shalat Maghrib & Isya`, atau terbit matahari sebelum shalat Subuh: Jika di dalam pesawat ada tempat yg cukup utk shalat berdiri, shalat harus dilaksanakan dgn cara berdiri, ruku’ & sujud secara sempurna serta berwudhu secara sempurna, di mana ada tempat utk menunaikan hajat & berwudhu. Jika tdk ada tempat yg cukup utk berdiri & bisa ditunaikan shalat di jalan yg ada di sela-sela kursi dgn berdiri, duduk, ruku’ & sujud, ia harus melakukan hal itu.

Jika tdk bisa & penumpang sangat byk & sangat berdesakan, mereka harus shalat sambil duduk di kursi mereka. Memberi isyarat dgn ruku’ & sujud, & mereka menjadikan sujud lbh rendah dari pd ruku’, berdasarkan firman Allah Shubhanhu wa ta’alla:

قال الله تعالى: ﴿فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ﴾ [التغابن: 16 ]

Maka bertaqwalah kamu kpd Allah menurut kesanggupanmu (Al Qur’an Surat: at-Taghabun:16)

Dan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam:

قال رسول الله Shallallahu ‘alaihi wa sallam: (إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan apabila aku menyuruh kamu dgn satu perintah maka lakukankah sebatas kemampuanmu.” [Hadis Riwayat: Muslim 1337]

Dan karena takut keluarnya waktu yg telah ditentukan utk shalat. Wallahu A’lam.

Pertanyaan 2:

Apabila saya melakukan perjalanan di dalam pesawat terbang & tiba waktu shalat, bolehkah kami shalat di pesawat atau tidak?

Jawaban 2:

Segala puji bagi Allah: Apabila tiba waktu shalat & pesawat terus menerus dalam penerbangannya & dikhawatirkan keluarnya waktu shalat sebelum lendingnya di salah satu bandara: para ulama sepakat bahwa wajib menunaikannya sebatas kemampuan pd waktu ruku’, sujud, menghadap kiblat, berdasarkan firman -Nya:

قال الله تعالى: ﴿فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ﴾ [التغابن: 16 ]

Maka bertaqwalah kamu kpd Allah menurut kesanggupanmu (Al Qur’an Surat: at-Taghabun:16)

Dan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam:

قال رسول الله Shallallahu ‘alaihi wa sallam: (إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan apabila aku menyuruh kamu dgn satu perintah maka lakukankah sebatas kemampuanmu.” [Hadis Riwayat: Muslim 1337]

Adapun bila sudah diketahui bahwa ia akan lending sebelum keluar waktu shalat sekadar waktu yg cukup utk menunaikannya, atau shalat itu termasuk yg bisa digabung bersama yg lainnya seperti Zhuhur & Ashar, Maghrib & Isya`. Atau diketahui bahwa ia akan lending sebelum keluar waktu yg kedua sekadar yg cukup utk menunaikannya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa boleh menunaikannya di pesawat karena perintah wajib menunaikannya yg sudah masuk waktunya.

Sebagian ulama Mazhab Maliki yg mutaakhir berpendapat tdk sah shalat di pesawat, karena di antara syarat sahnya adl bahwa shalat itu di atas bumi, atau yg bersentuhan langsung dengannya, seperti kenderaan atau kapal umpamanya, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam:

قال رسول الله Shallallahu ‘alaihi wa sallam:(جُعِلَتْ لِيَ اْلأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا)

“Bumi dijadikan untukku sbg masjid & alat bersuci.” [Hadis Riwayat: Al-Bukhari 335 & Muslim 521]

Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu Dan Fatwa – Fatawa Islamiyah (1/227). Terjemah: Muhammad Iqbal A. Gazali

Sunnah-sunnah Shalat

Shalat mempunyai beberapa sunnah yg dianjurkan utk kita kerjakan sehingga menambah pahala kita menjadi byk. Di antaranya:

  1. Mengangkat kedua tangan sejajar dgn bahu atau sejajar dgn kuping pd keadaan sbg berikut:

    1. Ketika ber-takbiratul ihram.
    2. Ketika ruku’.
    3. Ketika bangkit dari ruku’.
    4. Ketika berdiri setelah rakaat kedua ke rakaat ketiga. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu: “Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam apabila beliau melaksanakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sampai sejajar dgn kedua bahu beliau, kemudian membaca takbir. Apabila beliau ingin ruku’ beliau pun mengangkat kedua tangannya seperti itu, & begitu pula kalau beliau bangkit dari ruku’.” (Muttafaq ‘alaih)

      Adapun ketika berdiri utk rakaat ketiga, hal ini ber-dasarkan apa yg dilakukan Ibnu Umar, dimana beliau apabila berdiri dari rakaat kedua beliau mengangkat kedua tangannya. (Hadis Riwayat: Al-Bukhari secara mauquf, Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Dan riwayat ini dihukumi marfu’). Dan Ibnu Umar menisbatkan hal tersebut kpd Nabi Shallallaahu alaihi wasallam.

  2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di atas dada atau di bawah dada & di atas pusar. Hal ini berdasar-kan perkataan Sahl bin Sa’d radhiyallahu anhu: “Orang-orang (di masa Nabi Shallallaahu alaihi wasallam) disuruh utk meletak-kan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari secara mauquf. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: ”Riwayat ini dihukumi marfu’)
    Dan berdasarkan hadits Wail bin Hijr radhiyallahu anhu: “Saya pernah shalat bersama NabiShallallaahu alaihi wasallam, kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri di atas dadanya.” (Hadis Riwayat: Ibnu Huzaimah, shahih)
  3. Membaca do’a iftitah. Ada beberapa contoh do’a iftitah, di antaranya: “Ya Allah, jauhkanlah jarak antara aku & dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan jarak antara timur & barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku sebagaimana pakaian yg putih dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah dosa-dosaku dgn air, es & embun.” (Muttafaq ‘alaih) “Maha Suci Engkau ya Allah, & dgn memujiMu. Maha Suci namaMu & Maha Tinggi kebesaranMu, & tiada Ilah selain Engkau.” (Hadis Riwayat: Muslim secara mauquf -terhenti sanadnya kpd Umar bin Khattab & diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi & Al-Hakim secara marfu’ -bersambung sanad-nya hingga kpd Nabi Shallallaahu alaihi wasallam-, shahih)
  4. Membaca isti’adzah pd rakaat pertama & membaca basmalah dgn suara pelan pd tiap-tiap rakaat. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:”Maka apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka hen-daklah kamu memohon perlindungan kpd Allah dari syaitan yg terkutuk.” (An-Nahl: 98)
  5. Membaca aamiin setelah membaca surat Al-Fatihah. Hal ini disunnahkan kpd setiap orang yg shalat, baik sbg imam maupun makmum atau shalat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam: “Apabila imam membaca maka bacalah aamiin. Maka sesungguhnya barangsiapa yg bacaan aamiin-nya berbarengan dgn aamiin-nya malaikat, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yg terdahulu.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Muslim dgn maknanya)Juga dikarenakan apabila Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam membaca: beliau membaca aamiin & beliau pun memanjangkan suaranya. (Hadis Riwayat: Abu Daud & At-Tirmidzi dari sahabat Wa’il bin Hijr dgn sanad shahih).
  6. Membaca ayat setelah membaca surat Al-Fatihah. Dalam hal ini cukup dgn satu surat atau beberapa ayat Al-Qur’an pd 2 rakaat shalat Subuh & 2 rakaat pertama pd shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib & Isya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika shalat dzuhur membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) & 2 surat pd 2 rakaat pertama, & beliau membaca Ummul Kitab saja pd 2 rakaat berikutnya & terkadang beliau perdengar-kan ayat (yang dibacanya) kpd para sahabat.” (Muttafaq ‘alaih)
  7. Mengeraskan bacaan Al-Fatihah & surat pd waktu shalat jahriah (yang dikeraskan bacaannya) & merendahkan suara pd shalat sirriah (yang dipelankan bacaannya). Yaitu mengeraskan suara pd 2 rakaat yg pertama pd shalat Maghrib & Isya & pd kedua rakaat shalat Subuh. Dan merendahkan suara pd yg lainnya. Ini semuanya dalam pelaksanaan shalat fardhu, & ini tsabit (dicontohkan) & populer dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, baik secara perkataan maupun perbuatan. Adapun pd shalat sunnah, maka dianjurkan utk merendahkan suara apabila dilaksanakan pd siang hari & disunnahkan mengeraskan suara jika shalat sunnah itu dilaksanakan pd waktu malam hari, terkecuali apabila takut mengganggu orang lain dgn bacaannya itu, maka disunnahkan baginya utk merendahkan suara ketika itu.
  8. . Memanjangkan bacaan pd shalat Subuh, membaca dgn bacaan yg sedang pd shalat Dzuhur, Ashar & Isya’, & disunnahkan memendekkan bacaan pd shalat Maghrib. Hal ini berdasarkan hadits berikut: “Dari Sulaiman bin Yasar, dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu, beliau berkata, ‘Aku tdk pernah melihat seseorang yg lbh mirip shalatnya dgn shalat Rasulullah daripada si Fulan -seorang imam di Madinah-.’ Sulaiman berkata, ‘Kemudian aku shalat di belakang orang tersebut, dia memperpanjang bacaan pd 2 rakaat pertama shalat Dzuhur & mempercepat pd 2 rakaat berikutnya. Mempercepat bacaan surat dalam shalat Ashar. Dan pd 2 rakaat pertama shalat Maghrib ia membaca surat mufashshal(1) yg pendek, sedang pd 2 rakaat pertama shalat Isya’ ia membaca surat mufashshal yg sedang, selanjutnya pd shalat Subuh ia membaca surat-surat mufashshal yg panjang’.” (Hadis Riwayat: Ahmad & An-Nasai, shahih)
  9. Cara duduk yg tsabit (diriwayatkan) dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam dalam shalat adl duduk iftirasy (bertumpu pd paha kiri) pd semua posisi duduk & semua tasyahhud selain tasyahhud akhir. Apabila ada 2 tasyahhud dalam shalat itu, maka dia harus duduk tawar-ruk pd tasyahhud akhir. Hal ini berdasarkan perkataan Abu Hamid As-Sa’idi di hadapan para sahabat. Ketika ia menerangkan shalat Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, di antaranya menyebut-kan: “Maka apabila beliau duduk setelah 2 rakaat, beliau duduk di atas kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki kanan, & apabila beliau duduk pd rakaat akhir beliau majukan kaki kiri sambil menegakkan telapak kaki yg satunya, & beliau duduk di lantai.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari)Dari penjelasan di atas dpt kita pahami apa arti iftirasy & apa arti tawarruk.

    Iftirasy: Yaitu duduk di atas kaki kiri sambil menegak-kan telapak kaki kanan.

    Tawarruk: Yaitu Meletakkan telapak kaki kiri di bawah betis kanan, kemudian mendudukkan pantat di alas/lantai & menegakkan telapak kaki kanan.

    Keterangan: Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, apabila duduk tasyahhud, beliau meletakkan tangan kirinya di atas paha kiri & tangan kanannya di atas paha kanan, kemudian beliau menelunjukkan dgn jari telunjuk. (Hadis Riwayat: Muslim)

    Dan beliau tdk melebihkan pandangannya dari telunjuk itu. (Hadis Riwayat: Abu Daud, shahih)

  10. Berdo’a pd waktu sujud. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam: “Ketahuilah! Sesungguhnya aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika ruku’ & sujud. Adapun yg dilakukan pd waktu sujud maka hendaklah kamu membesarkan Rabbmu & pd waktu sujud maka hendaklah kamu bersungguh-sungguh berdoa, niscaya dikabulkan do’a-mu.” (Hadis Riwayat: Muslim)
  11. Membaca shalawat utk Nabi Shallallaahu alaihi wasallam pd waktu tasyahhud akhir, yaitu setelah membaca tasyahhud: lalu membaca: “Ya Allah, bershalawatlah Engkau utk Nabi Muhammad & juga keluarganya sebagaimana Engkau bershalawat kpd Nabi Ibrahim & keluarganya. Dan berkatilah Nabi Muhammad beserta keluarganya seba-gaimana Engkau telah memberkati Nabi Ibrahim & juga keluarganya. Pada sekalian alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia). (Hadis Riwayat: Muslim & lainnya dgn sanad shahih)
  12. Berdo’a setelah selesai dari membaca tasyahhud & membaca shalawat utk Nabi dgn do’a yg dicontohkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam. Beliau bersabda: “Apabila salah seorang kamu selesai membaca shalawat, maka hendaklah ia berdo’a utk meminta perlindungan dari 4 hal, kemudian dia boleh berdo’a sekehendaknya, keempat hal tersebut adalah: “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari siksa Neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah hidup & fitnah mati serta fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (Hadis Riwayat: Al-Baihaqy, shahih)
  13. Salam kedua ke kiri. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Muslim: “Bahwasanya Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam melakukan salam ke kanan & ke kiri sehingga terlihat putihnya pipi beliau.” (Hadis Riwayat: Muslim)
  14. Beberapa dzikir & do’a setelah salam. Telah diriwayatkan beberapa dzikir & do’a setelah salam dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam yg disunnahkan utk dibaca. Di sini akan kami pilihkan beberapa dzikir & do’a, di antaranya:Dari Tsauban radhiyallaahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam, apabila selesai shalat beliau membaca istighfar 3 kali(1) & membaca: “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari Mulah kesejahteraan, Maha Suci Engkau wahai Rabb Yang Maha Agung & Maha Mulia.” (Hadis Riwayat: Muslim) “Dari Mu’adz bin Jabal, bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam pd sesuatu hari memegang tangannya, kemudian bersabda, ‘Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintai kamu, aku berpesan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah kamu tinggalkan setelah selesai shalat membaca do’a: “Ya Allah, tolonglah aku di dalam berdzikir, bersyukur & beribadah dgn baik kepadamu.” (Hadis Riwayat: Imam Ahmad, Abu Daud & Al-Hakim, hadits shahih) “Dari Mughirah bin Syu’bah, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca pd tiap selesai shalat fardhu: “Tiada sesembahan yg hak melainkan Allah Yang Maha Esa, tdk ada sekutu bagiNya. MilikNyalah ke-rajaan & pujian, sedang Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tdk ada yg mampu mencegah apa yg Engkau berikan & tdk ada yg mampu memberi apa yg Engkau cegah. Dan tidaklah berguna kekuasaan seseorang dari ancaman siksaMu.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Muslim) “Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa yg membaca tasbih ‘ ‘ 33 kali & tahmid ‘ ‘ 33 kali serta takbir ‘ ‘ 33 kali (jumlahnya menjadi 99), kemudian menggenapkan hitungan keseratus dgn bacaan: (Tiada sesembahan yg haq melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. MilikNya kerajaan & segala pujian, sedang Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka ia akan diampuni kesalahan-kesalahannya sekalipun sebanyak buih di lautan’.” (Hadis Riwayat: Muslim)”Dari Abu Umamah, bahwa NabiShallallaahu alaihi wasallam bersabda, ‘Ba-rangsiapa membaca Ayat Kursi pd tiap-tiap selesai shalat, maka tdk ada lagi yg menghalanginya utk masuk Surga hanya saja dia akan meninggal dunia’.” (Hadis Riwayat: An-Nasai, Ibnu Hibban & Ath-Thabrani, shahih)

    Dari Sa’d bin Abi Waqqas, bahwasanya dia mengajari anak-anaknya beberapa bacaan sebagaimana halnya ketika seorang guru mengajari anak-anak menulis, & dia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam memohon perlindungan kpd Allah dgn membaca bacaan-bacaan tersebut pd tiap-tiap selesai shalat, yaitu: “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari sifat kikir & pengecut. Aku berlindung kepadaMu agar aku tdk dija-dikan pikun. Dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah (cobaan) dunia & dari siksa kubur.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari)

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Hal-hal Yang Wajib Dilaksanakan Pada Waktu Shalat

Yang dimaksud dgn hal-hal yg wajib dilaksanakan itu ialah yg apabila ditinggalkan dgn sengaja menye-babkan shalat seseorang batal, akan tetapi kalau dikarenakan lupa maka tdk mengapa, namun diganti dgn sujud sahwi. Berikut ini penjelasannya.

  1. Membaca takbir perpindahan pd tiap perpindahan dari satu gerakan kpd gerakan lain, seperti ketika bangkit utk berdiri atau sebaliknya (terkecuali ketika bangkit dari ruku’). Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu: “Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam selalu membaca takbir ketika me-rendahkan & mengangkat (kepala) ketika berdiri & duduk.” (Hadis Riwayat: Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai & lainnya, hadits shahih)
  2. Membaca (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung) sekali ketika ruku’. Hal ini berdasarkan perkataan Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu anhu dalam haditsnya: “Nabi Shallallaahu alaihi wasallam membaca di dalam ruku’nya & di dalam sujudnya membaca: (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi).
  3. Membaca (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi) sekali di dalam sujud. Hal ini berdasarkan hadits Hudzaifah di atas.
  4. Membaca (Allah Maha Men-dengar hamba yg memujiNya) bagi imam & orang yg shalat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu: “Sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wasallam membaca ketika bangkit dari ruku’, kemudian masih dalam keadaan berdiri beliau membaca. (Muttafaq ‘alaih)
  5. Membaca (wahai Rabb kami bagi-Mu segala pujian) bagi imam & makmum & orang yg shalat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits yg disebut-kan di atas. Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam:”Apabila imam membaca, maka bacalah. (Muttafaq ‘alaih)
  6. Membaca do’a berikut di antara 2 sujud:”Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berikanlah kepadaku petunjuk & rezki.”Atau membaca:”Wahai Rabbku ampunilah aku.”
    Karena Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam membaca itu.
  7. Tasyahhud awal.
  8. Duduk utk melakukan tasyahhud awal. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah kpd Rifa’ah bin Rafi’:”Apabila kamu melaksanakan shalat, maka bacalah takbir, lalu bacalah apa yg mudah menurut kamu dari ayat Al-Qur’an. Kemudian apabila kamu duduk di per-tengahan shalatmu maka hendaklah disertai tuma’ni-nah, & duduklah secara iftirasy (bertumpu pd paha kiri), kemudian bacalah tasyahhud.” (Hadis Riwayat: Abu Daud & Al-Baihaqy dari jalannya, hadits hasan)

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Rukun-rukun Shalat

Shalat mempunyai rukun-rukun yg apabila salah satu-nya ditinggalkan, maka batallah shalat tersebut. Berikut ini penjelasannya secara terperinci:

  1. Berniat; Yaitu niat di hati utk melaksanakan shalat tertentu, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya”. (Muttafaq ‘alaih)Dan niat itu dilakukan bersamaan dgn melaksana-kan takbiratul ihram & mengangkat kedua tangan, tdk mengapa kalau niat itu sedikit lbh dahulu dari keduanya.
  2. Membaca Takbiratul Ihram; Yaitu dgn lafazh (ucapan):.Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kunci shalat itu adl bersuci, pembatas antara per-buatan yg boleh & tidaknya dilakukan waktu shalat adl takbir, & pembebas dari keterikatan shalat adl salam.” (Hadis Riwayat: Abu Daud, At-Tirmidzi & lainnya, hadits shahih )
  3. Berdiri bagi yg sanggup ketika melaksana-kan shalat wajib; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:”Peliharalah segala shalat(mu) & (peliharalah) shalat wustha (Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam shalat-mu) dgn khusyu’.” (Al-Baqarah: 238)

    Dan berdasarkan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kpd Imran bin Hushain: “Shalatlah kamu dgn berdiri, apabila tdk mampu maka dgn duduk, & jika tdk mampu juga maka shalatlah dgn berbaring ke samping.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari)

  4. Membaca surat Al-Fatihah tiap rakaat shalat fardhu & shalat sunnah; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak sah shalat seseorang yg tdk membaca surat Al-Fatihah.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari)
  5. Ruku’; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:”Hai orang-orang yg beriman, ruku’lah kamu, sujud-lah kamu, sembahlah Rabbmu & perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan.” (Al-Hajj: 77)

    Juga berdasarkan sabda Nabi shallallaahu alaihi wasallam kpd seseorang yg tdk benar shalatnya: “… kemudian ruku’lah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan ruku’.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Muslim)

  6. Bangkit dari ruku’; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seseorang yg salah dalam shalat-nya: “… kemudian bangkitlah (dari ruku’) sampai kamu tegak lurus berdiri.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Muslim)
  7. I’tidal (berdiri setelah bangkit dari ruku’); Hal ini berdasarkan hadits tersebut di atas tadi & berdasarkan hadits lain yg berbunyi: “Allah tdk akan melihat kpd shalat seseorang yg tdk menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ & sujudnya.” (Hadis Riwayat: Ahmad, dgn isnad shahih)
  8. Sujud; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yg telah disebutkan di atas tadi. Juga berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kemudian sujudlah kamu sampai kamu tuma’ninah dalam sujud.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Muslim)
  9. Bangkit dari sujud; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kemudian bangkitlah sehingga kamu duduk dgn tuma’ninah.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Muslim)
  10. Duduk di antara 2 sujud; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah tdk akan melihat kpd shalat seseorang yg tdk menegakkan tulang punggungnya di antara ruku’ & sujudnya.” (Hadis Riwayat: Ahmad, dgn isnad shahih)
  11. Tuma’ninah ketika ruku’, sujud, berdiri & duduk; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kpd seseorang yg salah dalam melaksanakan shalatnya:”Sampai kamu merasakan tuma’ninah.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Muslim)Dan tuma’ninah tersebut beliau tegaskan kepadanya pd saat ruku’, sujud & duduk sedangkan i’tidal pd saat berdiri. Hakikat tuma’ninah itu ialah bahwa orang yg ruku’, sujud, duduk atau berdiri itu berdiam sejenak, sekadar waktu yg cukup utk membaca: satu kali setelah semua anggota tubuhnya berdiam. Adapun selebihnya dari itu adl sunnah hukumnya.
  12. Membaca tasyahhud akhir serta duduk; Ada-pun tasyahhud akhir itu, maka berdasarkan perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu yg bunyinya:”Dahulu kami membaca di dalam shalat sebelum diwajibkan membaca tasyahhud adalah: ‘Kesejahteraan atas Allah, kesejahteraan atas malaikat Jibril & Mikail.’

    Maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Janganlah kamu membaca itu, karena sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia itu sendiri adl Maha Sejahtera, tetapi hendaklah kamu membaca: “Segala penghormatan, shalawat & kalimat yg baik bagi Allah. Semoga kesejahteraan, rahmat & berkah Allah dianugerahkan kepadamu wahai Nabi. Semoga kesejahteraan dianugerahkan kpd kita & hamba-hamba yg shalih. Aku bersaksi bahwa tdk ada sesembahan yg hak melainkan Allah & aku bersaksi bahwa Muhammad adl hamba & rasulNya.” (Hadis Riwayat: An-Nasai, Ad-Daruquthni & Al-Baihaqi dgn sanad shahih)

    Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Apabila salah seorang di antara kamu duduk (tasyah-hud), hendaklah dia mengucapkan: ‘Segala penghormatan, shalawat & kalimat-kalimat yg baik bagi Allah’.” (Hadis Riwayat: Abu Daud, An-Nasai & yg lainnya, hadits ini shahih & diriwayatkan pula dalam dalam “Shahih Al-Bukhari & Shahih Muslim”)
    Adapun duduk utk tasyahhud itu termasuk rukun juga karena tasyahhud akhir itu termasuk rukun.

  13. Membaca salam; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Pembuka shalat itu adl bersuci, pembatas antara perbuatan yg boleh & tidaknya dilakukan waktu shalat adl takbir, & pembebas dari keterikatan shalat adl salam.” (Hadis Riwayat: Abu Daud, At-Tirmidzi & lainnya, hadits shahih )14. Melakukan rukun-rukun shalat secara ber-urutan; Oleh karena itu janganlah seseorang membaca surat Al-Fatihah sebelum takbiratul ihram & jangan-lah ia sujud sebelum ruku’. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari)

    Maka apabila seseorang menyalahi urutan rukun shalat sebagaimana yg sudah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti mendahulukan yg semestinya diakhirkan atau sebaliknya, maka batallah shalatnya.

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Syarat-syarat Shalat

Yaitu syarat-syarat yg harus terpenuhi sebelum shalat (terkecuali niat, yaitu syarat yg ke delapan, maka yg lbh utama dilaksanakan bersamaan dgn takbir) & wajib bagi orang yg shalat utk memenuhi syarat-syarat itu. Apabila ada salah satu syarat yg ditinggalkan, maka shalatnya batal.

Adapun syarat-syarat itu adl sbg berikut:

  1. Islam; Maka tdk sah shalat yg dilakukan oleh orang kafir, & tdk diterima. Begitu pula halnya semua amalan yg mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu utk memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yg sia-sia pekerjaannya, & mereka kekal di dalam Neraka.” (At-Taubah: 17)
  2. Berakal Sehat; Maka tidaklah wajib shalat itu bagi orang gila, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ada 3 golongan manusia yg telah diangkat pena darinya (tidak diberi beban syari’at) yaitu; orang yg tidur sampai dia terjaga, anak kecil sampai dia baligh & orang yg gila sampai dia sembuh.” (Hadis Riwayat: Abu Daud & lainnya, hadits shahih)
  3. Baligh; Maka, tidaklah wajib shalat itu bagi anak kecil sampai dia baligh, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Akan tetapi anak kecil itu hendaknya dipe-rintahkan utk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun & shalatnya itu sunnah baginya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Perintahkanlah anak-anak utk melaksanakan shalat apabila telah berumur tujuh tahun, & apabila dia telah berumur sepuluh tahun, maka pukullah dia kalau tdk melaksanakannya.” (Hadis Riwayat: Abu Daud & lainnya, hadits shahih)
  4. Suci Dari Hadats Kecil & Hadats Besar; Hadats kecil ialah tdk dalam keadaan berwudhu & hadats besar adl belum mandi dari junub. Dalilnya adl firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Hai orang-orang yg beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu & tanganmu sampai siku, & sapulah kepalamu & (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki, & jika kamu junub maka mandilah.” (Al-Maidah: 6)Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah tdk akan menerima shalat yg tanpa disertai bersuci”. (Hadis Riwayat: Muslim)
  5. Suci Badan, Pakaian & Tempat Untuk Shalat; Adapun dalil tentang suci badan adl sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perempuan yg keluar darah istihadhah: “Basuhlah darah yg ada pd badanmu kemudian laksanakanlah shalat.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Muslim)Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:”Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan.” (Al-Muddatstsir: 4)

    Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: “Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga orang-orang ramai berdiri utk memukulinya, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Biarkanlah dia & tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air, sesungguhnya kamu diutus dgn membawa kemudahan & tdk diutus dgn membawa kesulitan.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari).

  6. Masuk Waktu Shalat; Shalat tdk wajib dilaksanakan terkecuali apabila sudah masuk waktunya, & tdk sah hukumnya shalat yg dilaksanakan sebelum masuk waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:”Sesungguhnya shalat itu adl kewajiban yg diten-tukan waktunya atas orang-orang yg beriman.” (An-Nisa’: 103)Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu. Dan malaikat Jibril pun pernah turun, utk mengajari Nabi shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat. Jibril mengimaminya di awal waktu & di akhir waktu, kemu-dian ia berkata kpd Nabi shallallaahu alaihi wasallam: “Di antara keduanya itu adl waktu shalat.”
  7. Menutup aurat; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:”Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yg indah di setiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raf: 31)Yang dimaksud dgn pakaian yg indah adl yg menutup aurat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat adl merupakan syarat sahnya shalat, & barangsiapa shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu utk menutupinya, maka shalatnya tdk sah.
  8. Niat; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, & sesungguhnya setiap orang akan men-dapatkan (balasan) sesuai dgn niatnya.” (Hadis Riwayat: Al-Bukhari & Muslim)
  9. Menghadap Kiblat; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:”Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yg kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

Oleh: Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin