Mozaik Islam

Apakah Puasa Ramadhan Wajib Menurut Al-Qur’an dan Hadits?

Beberapa surat Al-Quran yang menyebutkan tentang kewajiban berpuasa Ramadan:

Surat Al-Baqarah ayat 183-185

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,

أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ ۚ وَأَن تَصُومُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

(yaitu) beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika ia tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu adalah baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّـهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّـهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Bulan Ramadhan ialah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia tidak berpuasa), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, dan supaya kamu mencukupkan bilangannya dan supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

Surat Al-Baqarah ayat 183-185 merupakan ayat-ayat yang paling rinci dalam menjelaskan tentang kewajiban berpuasa Ramadan. Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang waktu dan tata cara pelaksanaan puasa Ramadan, serta menjelaskan bahwa berpuasa Ramadan diwajibkan atas umat Muslim agar mereka dapat bertakwa. Ayat-ayat tersebut juga mengajarkan tentang pentingnya menyempurnakan bilangan puasa dan bertasbih kepada Allah sebagai bentuk syukur.

Berikut ini adalah beberapa hadis terkait puasa Ramadan

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Puasa itu adalah penjaga. Karena jika seseorang berpuasa, maka ia tidak boleh berbicara yang tidak baik dan tidak boleh melakukan perbuatan yang tidak baik. Jika ada orang yang mengejek atau mengganggunya, maka katakanlah, ‘Aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang berbuka puasa karena sakit atau musafir, maka Allah memberikan kepadanya pahala seperti orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika tiba bulan Ramadan, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika datang malam Lailatul Qadar, maka barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Doa untuk Meningkatkan Rasa Syukur Selama menjalankan Ibadah Puasa Ramadan

Semoga dengan mengamalkan doa-doa di bawah, kita dapat memperkuat rasa syukur dalam hati selama berpuasa Ramadan dan selalu mengingat nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita sepanjang waktu.

Doa Rasa Syukur atas Berkah dan Rezeki yang Diberikan Allah

للهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء، أن تغفر لي ذنوبي وتعفو عني، وترحمني، وتهديني، وتعينني على الطاعات، وتصلح لي شأني كله، وتجعل لي مخرجًا من كل هم وغم، وتعينني على ذكرك وشكرك، وحسن عبادتك في هذا الشهر الفضيل.

“Allahumma lakal hamdu kama yanbaghi li jalali wajhika wa’adheemi sultaniq, wa laa hawla wa laa quwwata illaa bika, Allahumma anta rabbii, laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastath-tu, a’udhu bika min syarri maa sana’tu, abuu’u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu’u laka bi dhanbii, faghfir lii, fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta”

Artinya: “Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu, seperti yang cocok bagi kemuliaan wajah-Mu dan kebesaran kekuasaan-Mu. Tidak ada daya dan kekuatan selain dari-Mu. Ya Allah, Engkau adalah Tuhan-ku, tidak ada Tuhan selain-Mu. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berusaha sekuat tenaga mengikuti janji dan perjanjian-Mu. Aku berlindung pada-Mu dari kejahatan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu atasku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, sebab tiada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.“

Doa Rasa Syukur atas Kesehatan Tubuh

اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث في الدنيا والآخرة، اللهم إني أعوذ بك من الفقر والمسكنة والذلة والعجز والكسل والبخل والجبن، وأعوذ بك من عذاب القبر ومن فتنة المحيا والممات

“Allahumma aafini fii badani, Allahumma aafini fii sam’i, Allahumma aafini fii basari, laa illaha illa anta, Allahumma inni a’udzu bika minal kufri wal faqri, wa a’udzu bika min ‘adzaabil qabri, laa illaha illa anta”

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah tubuhku sehat, jadikanlah pendengaranku sehat, dan jadikanlah penglihatanku sehat. Tidak ada Tuhan selain dari-Mu, Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kekufuran dan kefakiran, dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur. Tidak ada Tuhan selain dari-Mu.”

Doa Rasa Syukur atas Keluarga dan Teman

اللهم إني أسألك يا رب برحمتك التي وسعت كل شيء، أن تعينني على صيام هذا الشهر، وتجعله لي شفيعًا يوم القيامة، وتعينني على قيامه بتقوى، وأن تجعل لي فيه رزقًا حلالًا، وأن تعينني على قراءة كتابك، وأن تجعل لي فيه مخرجًا من كل هم وغم، وتغفر لي ذنوبي، وترحمني.

“Allahumma innii as-aluka khayra maa fee haadzaa lyawmi wa khayra maa ba’dahu wa a’udzubika min sharri maa fee haadzaa lyawmi wa sharri maa ba’dahu, Allahumma innii as-aluka al-‘aafiyah fiima tuhibbu wa tardha, Allahumma ajirni fii man ‘aadhanii wa nasaraani, wa j’al minal ‘aaashiriin”

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan pada hari ini dan kebaikan setelah hari ini, dan aku berlindung pada-Mu dari keburukan pada hari ini dan keburukan setelah hari ini. Ya Allah, aku memohon keselamatan dalam apa yang Engkau sukai dan Engkau ridhai. Ya Allah, tolonglah aku dari orang yang memusuhi dan menentangku, dan jadikanlah aku termasuk orang yang berada di golongan yang selalu mendapat pertolongan dari-Mu.”

Doa Rasa Syukur atas Karunia Agama Islam

اللهم إني أعوذ بك من الجهد والهم والحزن، والعجز والكسل والبخل والجبن، وضلع الدين، وغلبة الرجال.

“Allahumma aslih lii deeniyya-lladzii huwa ‘ismatu amrii, wa aslih lii dunyaaya-llatii fiyhaa ma’aasyii, wa aslih lii akhiraati-llatii fiyhaa ma’aady”

Artinya: “Ya Allah, perbaikilah agamaku, yang menjadi penjaga urusanku, perbaikilah dunia tempat aku hidup, di mana terdapat ketaatan dan maksiat, dan perbaikilah akhirat tempat aku akan kembali.”

Doa Rasa Syukur atas Berkat Ibadah Puasa

اللهم إني أعوذ بك من شر ما أحاط بي به في هذا الصباح، وأعوذ بك من شر ما أحاط بي به في هذا المساء
“Allahumma innii as-aluka bika, yaa dhal-jalaali wal-ikraam, bi rahmatika ya arhamar-raahimiin, anta yaa fattaahu, ya wahhaabu, ya raafi’u, ya ‘aziizu, an tusalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin sal-lallaahu ‘alayhi wasallam, wa an tudkhilnii fii kulli khayrin anzaltahu fii haaadza-sh-shahri, wa an taj’alani mimman siyyamahu wa qiyamahu, wa qara’ahu, wa ‘inda fatahuhu wa idzaa qalaba fii ‘aydiihaa, yaa dhal-jalaali wal-ikraam”

Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pemberi, Yang Maha Meninggikan, dan Yang Maha Mulia, untuk memberikan shalawat atas Nabi Muhammad, dan memasukkan aku ke dalam segala kebaikan yang Engkau turunkan dalam bulan ini. Jadikan aku termasuk orang yang berpuasa dan menunaikan shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, dan mendapatkan kemenangan di tangan-Mu. Ya Allah, Engkau Maha Mulia dan Maha Pengasih.”

Doa Rasa Syukur atas Keberhasilan dan Kesuksesan

اللهم إني أسألك عيشًا هنيئًا، وميتة سوية، ومردًا غير مخزٍ، ورزقًا واسعًا، وعلمًا نافعًا، وعملا صالحًا
“Allahumma innaa nas’aluka al-‘afwa wal ‘aafiyah, wal mu’aafatad daaimah fii ad-dunyaa wal-aakhirah. Allahumma innaa nas’aluka asy-syukraa ‘alaa ni’matika, wa husnaa ‘ibaadatika, wa yaqiiinan bimaa tuhiiimu wa tuqaddiru, wa nashkuruka katsiiran, wa laa nakfuru ka, wa natawakka’alaika wa nusalli ‘ala Rasulika Muhammadin sallallahu ‘alayhi wa sallam.”

Artinya: “Ya Allah, kami memohon ampunan-Mu, keselamatan abadi di dunia dan akhirat, dan rahmat-Mu yang terus-menerus. Ya Allah, kami memohon rasa syukur atas nikmat-Mu, kebaikan dalam beribadah kepada-Mu, keyakinan atas apa yang Engkau tentukan dan tetapkan, dan banyak-banyak bersyukur kepada-Mu dan tidak pernah mengingkari-Mu. Kami tawakal hanya kepada-Mu, dan kami bershalawat atas Rasul-Mu, Nabi Muhammad saw.”

Doa Rasa Syukur atas Rezeki yang Diberikan

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَصُومُونَ صِيَامَكَ وَيَحْتَسِبُونَ أَجْرَكَ، وَيَقْضُونَ ذَنُوبَهُمْ وَيُطْرِدُونَ سَيِّئَاتِهِمْ، وَيَرْفَعُونَ دَرَجَاتِهِمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Allahumma akrimnii bisyukri, wasyiimnii bil-hilm, wa ‘allimnii maa yamfa’uunii wa zidnii min fadhlika ya kariim.”

Artinya: “Ya Allah, muliakan aku dengan rasa syukur, berilah aku kesabaran, ajarkanlah aku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah aku dengan karunia-Mu, wahai Yang Maha Mulia.”

Doa Rasa Syukur atas Kesehatan dan Perlindungan

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا تَمَامَ الْإِيمَانِ وَالْيَقِينِ، وَالتَّوْفِيقَ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَصِحَّةً دَائِمَةً وَعَافِيَةً مُسْتَدَامَةً وَرِضْوَانًا مِنْكَ يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ.

“Allahumma afinaa fii badaninaa, wa ‘afinaa fii sam’iinaa, wa ‘afinaa fii bashariinaa, wa ‘afinaa fii maa malikat yadiinaa, waqinaa syarra maa qad dait.”

Artinya: “Ya Allah, berilah kami kesehatan di dalam tubuh, kesehatan di dalam pendengaran, kesehatan dalam pandangan, kesehatan di dalam harta yang Engkau berikan, dan jauhkan kami dari segala yang buruk yang Engkau takdirkan.”

Sejarah Kesultanan Palembang

Kesultanan Palembang adalah salah satu kerajaan tertua di Indonesia yang terletak di wilayah Sumatera Selatan. Berikut adalah runut waktu sejarah Kesultanan Palembang dari abad ke-7 hingga ke-17 Masehi

Pada abad ke-7 Masehi, muncul Kerajaan Sriwijaya yang menjadi cikal bakal Kesultanan Palembang. Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang sangat kuat dan berperan penting dalam perdagangan antarnegara di Asia Tenggara.

Abad ke-13 Masehi: Pemerintahan Raja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa

Pada abad ke-13 Masehi, Kesultanan Palembang berada di bawah pemerintahan Raja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke wilayah Jambi dan Riau.

Abad ke-14 Masehi: Masa Pemerintahan Raja Srimat Tribhuwanaraja Dipa Jayanagara

Pada abad ke-14 Masehi, Kesultanan Palembang diperintah oleh Raja Srimat Tribhuwanaraja Dipa Jayanagara. Ia berhasil memperluas pengaruh Kesultanan Palembang di wilayah Sumatera Selatan dan juga berhasil menjalin hubungan perdagangan dengan negara-negara tetangga seperti Cina dan India.

Abad ke-16 Masehi: Masa Pemerintahan Raja Sriwijaya

Pada abad ke-16 Masehi, Kesultanan Palembang diperintah oleh Raja Sriwijaya. Ia berhasil memperluas pengaruh Kesultanan Palembang di wilayah barat daya Sumatera dan memperkuat kerjasama dengan Kerajaan Malaka dan Demak di Jawa.

Abad ke-17 Masehi: Kolonialisasi Belanda

Pada abad ke-17 Masehi, Kesultanan Palembang mengalami penurunan pengaruh akibat dari kolonialisasi Belanda. Pada tahun 1659, Belanda berhasil menaklukkan Palembang dan menjadikan Kesultanan Palembang sebagai salah satu wilayah jajahan mereka di Indonesia.

Demikianlah runut waktu sejarah Kesultanan Palembang dari abad ke-7 hingga ke-17 Masehi. Meskipun terjadi penurunan pengaruh akibat dari kolonialisasi Belanda, namun jejak-jejak sejarah Kesultanan Palembang masih dapat ditemukan di beberapa tempat di Sumatera Selatan hingga saat ini.

Masa kejayaan Kesultanan Palembang terjadi pada abad ke-14 hingga ke-16 Masehi. Pada masa ini, Kesultanan Palembang menjadi salah satu pusat perdagangan yang penting di Asia Tenggara dan memiliki pengaruh yang kuat di wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi masa kejayaan Kesultanan Palembang:

  1. Letak geografis yang strategis: Kesultanan Palembang terletak di tepi Sungai Musi yang merupakan jalur perdagangan utama di wilayah Sumatera Selatan. Hal ini memudahkan Kesultanan Palembang untuk melakukan perdagangan dengan negara-negara di Asia Tenggara, seperti Cina, India, Arab, dan Jepang.
  2. Kekuatan militer yang kuat: Kesultanan Palembang memiliki pasukan militer yang kuat dan terorganisir dengan baik. Pasukan ini dipimpin oleh Panglima Perang yang memiliki otoritas tinggi dalam pemerintahan Kesultanan Palembang. Dengan kekuatan militer yang kuat, Kesultanan Palembang dapat menjaga keamanan wilayahnya dan menghadapi ancaman dari luar.
  3. Kebijakan perdagangan yang terbuka: Kesultanan Palembang memiliki kebijakan perdagangan yang terbuka dengan memberikan kemudahan bagi pedagang asing untuk masuk dan berdagang di wilayahnya. Hal ini membuat Kesultanan Palembang menjadi pusat perdagangan yang ramai dan diminati oleh banyak pedagang asing.
  4. Budaya yang maju: Kesultanan Palembang juga dikenal memiliki budaya yang maju, terutama dalam bidang seni dan sastra. Kehadiran para sastrawan dan pelukis yang terkenal pada masa itu, seperti Pujangga Anom dan Radin Pandji Sakti, telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan seni dan sastra di Kesultanan Palembang.

Kesultanan Palembang pada masa kejayaannya juga terkenal dengan produksi lada, kayu gaharu, emas, dan permata yang sangat diminati oleh pedagang asing. Kesultanan Palembang juga berhasil menjalin hubungan perdagangan yang erat dengan Kerajaan Malaka dan Demak di Jawa, yang memberikan pengaruh positif dalam perkembangan perdagangan dan kebudayaan di wilayah tersebut.

Kesultanan Palembang meninggalkan banyak peninggalan sejarah dan budaya yang masih dapat dilihat hingga saat ini. Berikut adalah beberapa peninggalan Kesultanan Palembang:

  1. Masjid Agung Palembang: Masjid Agung Palembang adalah masjid tertua di Palembang yang dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I. Masjid ini memiliki arsitektur yang khas dengan pengaruh Melayu, Arab, dan Cina.
  2. Istana Sultan Palembang: Istana Sultan Palembang yang terletak di Kuto Besak adalah bekas kediaman Sultan Palembang pada masa Kesultanan Palembang. Meskipun istana ini telah mengalami banyak perubahan dan renovasi, namun masih terlihat beberapa bangunan asli Kesultanan Palembang seperti Benteng Kuto Besak dan Benteng Kuto Lamo.
  3. Keraton Kuto Lamo: Keraton Kuto Lamo merupakan bekas kediaman para Sultan Palembang pada masa Kesultanan Palembang. Saat ini, keraton ini telah dijadikan sebagai museum dan tempat penyimpanan benda-benda peninggalan Kesultanan Palembang seperti keris, baju besi, dan senjata lainnya.
  4. Tari Bedana: Tari Bedana adalah salah satu tari tradisional Palembang yang berasal dari masa Kesultanan Palembang. Tarian ini biasanya dipentaskan dalam acara-acara adat seperti pernikahan atau upacara adat.
  5. Lembaga Adat Musi: Lembaga Adat Musi adalah lembaga adat yang dibentuk oleh Sultan Palembang pada masa Kesultanan Palembang. Lembaga ini bertugas sebagai pengatur kehidupan sosial dan adat masyarakat Palembang serta sebagai lembaga peradilan adat.
  6. Al-Quran Kuno: Al-Quran Kuno yang disimpan di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Palembang. Al-Quran ini ditulis pada abad ke-17 dan masih terawat dengan baik hingga saat ini.

Kesultanan Tidore

Kesultanan Tidore adalah sebuah kerajaan yang terletak di Kepulauan Maluku, Indonesia. Kesultanan ini memiliki sejarah panjang dan kaya, yang dimulai pada abad ke-15 dan berakhir pada abad ke-19 Masehi.

Pada abad ke-15, Tidore adalah sebuah kerajaan kecil yang terletak di pesisir pantai Pulau Tidore. Pada saat itu, kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan terbatas. Namun, pada awal abad ke-16, Tidore mulai memperluas wilayahnya dan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.

Pada tahun 1521, Tidore mulai berhubungan dengan bangsa Eropa, khususnya bangsa Portugis. Pada awalnya, hubungan ini berjalan dengan baik, tetapi kemudian terjadi konflik antara Tidore dan Portugis. Konflik ini akhirnya berakhir pada tahun 1570 ketika Tidore berhasil mengusir Portugis dari wilayahnya.

Setelah itu, Tidore mulai berhubungan dengan bangsa Spanyol. Pada awalnya, hubungan ini juga berjalan dengan baik, tetapi kemudian terjadi konflik antara Tidore dan Spanyol. Konflik ini berlangsung cukup lama, tetapi akhirnya berakhir pada tahun 1663 ketika Tidore dan Spanyol menandatangani perjanjian perdamaian.

Pada abad ke-17, Tidore menjadi salah satu pusat perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan kayu manis sangat diminati oleh bangsa Eropa dan Asia, sehingga Tidore menjadi sangat kaya. Namun, kekayaan ini juga menarik perhatian bangsa Belanda, yang pada akhirnya mengambil alih kontrol atas Tidore pada awal abad ke-19.

Setelah kejatuhan Kesultanan Tidore, para sultan dan bangsawan Tidore tetap mempertahankan budaya dan tradisi mereka. Salah satu contohnya adalah upacara adat Tabuik, yang masih diadakan setiap tahun di Pulau Tidore. Upacara ini dilakukan untuk mengenang peristiwa pembebasan Tidore dari Portugis pada tahun 1570.

Kesultanan Tidore memberikan kontribusi yang besar dalam sejarah Indonesia dan dunia, terutama dalam bidang perdagangan rempah-rempah. Meskipun kekuasaannya sudah berakhir, warisan budaya dan sejarah Kesultanan Tidore masih tetap hidup dan dijaga oleh masyarakat Tidore hingga saat ini.

Kejayaan

Kesultanan Tidore mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16 dan ke-17, ketika menjadi salah satu pusat perdagangan rempah-rempah terbesar di dunia. Rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan kayu manis sangat diminati oleh bangsa Eropa dan Asia, sehingga Tidore menjadi sangat kaya.

Selain perdagangan rempah-rempah, Kesultanan Tidore juga mengembangkan industri perikanan dan pertanian. Pulau Tidore yang subur dan kaya akan sumber daya alam, seperti tambang emas, memberikan kontribusi besar dalam keberhasilan ekonomi kesultanan.

Selain itu, Kesultanan Tidore juga memiliki hubungan yang baik dengan kerajaan-kerajaan tetangganya, seperti Kesultanan Ternate dan Kesultanan Jailolo. Mereka saling membantu dalam menghadapi ancaman dari bangsa Eropa dan Asia.

Kesultanan Tidore juga memiliki budaya yang kaya dan unik, seperti seni musik, tari, dan lukisan. Salah satu contoh seni yang terkenal dari Tidore adalah seni ukir kayu yang indah dan rumit.

Di bidang agama, Kesultanan Tidore menganut agama Islam dan mendirikan banyak masjid di wilayahnya. Mereka juga memiliki hubungan yang baik dengan para ulama dan mengirim para pelajar ke Mekah untuk menuntut ilmu.

Kesultanan Tidore berhasil mempertahankan kekuasaannya selama ratusan tahun, meskipun dihadapkan dengan berbagai ancaman dari bangsa Eropa dan Asia. Hal ini menunjukkan kemampuan kesultanan dalam mengembangkan kekuatan ekonomi, politik, dan budaya yang kuat, serta membangun hubungan yang baik dengan negara-negara tetangganya.

Peninggalan

Kesultanan Tidore meninggalkan banyak peninggalan sejarah dan budaya yang masih dapat dilihat dan dirasakan hingga saat ini. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

  1. Istana Kesultanan Tidore: Istana kesultanan Tidore yang terletak di pusat kota Tidore, masih berdiri kokoh hingga sekarang. Istana ini memiliki arsitektur yang indah dan rumit, dengan banyak ukiran dan ornamen tradisional yang khas.
  2. Masjid-masjid: Kesultanan Tidore mendirikan banyak masjid di wilayahnya, seperti Masjid Raya Sultan Tidore dan Masjid Jami’ Al-Muttaqin. Masjid-masjid ini memiliki arsitektur yang indah dan khas, dengan banyak ukiran kayu dan hiasan-hiasan yang indah.
  3. Tabuik: Tabuik adalah upacara adat yang masih diadakan setiap tahun di Pulau Tidore untuk mengenang peristiwa pembebasan Tidore dari Portugis pada tahun 1570. Upacara ini diiringi dengan tari-tarian, musik, dan parade yang meriah.
  4. Seni ukir kayu: Seni ukir kayu adalah salah satu kekayaan budaya Tidore yang masih dapat dilihat hingga saat ini. Ukiran kayu dari Tidore terkenal dengan keindahan dan rumitnya, dengan banyak menggunakan hiasan bunga, tumbuhan, dan binatang.
  5. Tradisi keraton: Masyarakat Tidore masih menjaga tradisi keraton dan sistem kepemimpinan kesultanan hingga saat ini. Para sultan dan bangsawan Tidore masih memainkan peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Tidore.
  6. Bahasa Tidore: Bahasa Tidore adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat Tidore hingga saat ini. Bahasa ini memiliki kekayaan kosakata dan tata bahasa yang khas, dan masih dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
  7. Lokasi strategis: Pulau Tidore memiliki lokasi strategis yang penting dalam sejarah perdagangan rempah-rempah di Indonesia dan dunia. Hal ini membuat Tidore menjadi pusat perdagangan yang penting dan kaya di masa lampau.

Sejarah Kesultanan Deli

Kesultanan Deli adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di wilayah Sumatera Utara, Indonesia. Kesultanan ini memiliki sejarah yang panjang, dimulai dari masa awal berdirinya pada abad ke-16 hingga runtuhnya pada awal abad ke-20.

Kesultanan Deli berdiri pada tahun 1632 Masehi di wilayah Deli Serdang, Sumatera Utara. Pendiri Kesultanan Deli adalah seorang pemimpin adat bernama Datuk Ketumanggungan. Datuk Ketumanggungan sendiri merupakan keturunan dari raja-raja Melayu di Pagaruyung, Sumatera Barat.

Awal Mula Berdirinya Kesultanan Deli

Pada awalnya, Kesultanan Deli hanya berupa sebuah desa kecil yang dipimpin oleh Datuk Ketumanggungan. Namun, desa ini tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kerajaan yang kuat dan memiliki pengaruh yang besar di wilayah sekitarnya. Hal ini terutama karena Kesultanan Deli memiliki hubungan dagang yang baik dengan Belanda.

Pada masa itu, Belanda merupakan kekuatan besar yang mendominasi perdagangan di wilayah Nusantara. Kesultanan Deli berhasil memanfaatkan hubungan dagang dengan Belanda untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Kesultanan Deli juga berhasil mempertahankan kemerdekaannya dari serangan kekuatan-kekuatan besar seperti Aceh dan Johor.

Masa Kejayaan Kesultanan Deli

Kesultanan Deli mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-19. Pada masa ini, Kesultanan Deli memiliki wilayah kekuasaan yang luas, meliputi sebagian besar wilayah Sumatera Utara, Riau, dan Aceh. Kesultanan Deli juga menjadi pusat perdagangan yang penting di wilayah Nusantara.

Selama masa kejayaannya, Kesultanan Deli menerapkan sistem pemerintahan yang kuat dan efektif. Pemerintahan Kesultanan Deli dipimpin oleh seorang sultan, yang merupakan kepala negara dan pemimpin agama. Selain sultan, Kesultanan Deli juga memiliki sejumlah pejabat tinggi seperti raja-raja muda, penghulu, dan panglima.

Kesultanan Deli juga terkenal dengan seni dan budayanya yang kaya. Seni ukir dan seni tenun merupakan salah satu keunggulan Kesultanan Deli. Selain itu, Kesultanan Deli juga dikenal dengan kekayaan dan kemegahannya yang diwujudkan dalam bentuk istana-istana yang megah dan indah.

Runtuhnya Kesultanan Deli

Kesultanan Deli mulai mengalami kemunduran pada awal abad ke-20. Hal ini terutama karena adanya penjajahan dari Belanda yang semakin kuat. Belanda memanfaatkan perbedaan pandangan antara sultan dan raja-raja muda untuk memperlemah Kesultanan Deli.

Pada tahun 1904, Belanda mengambil alih kekuasaan di Kesultanan Deli dan menjadikannya sebagai bagian dari Hindia

Peninggalan

Kesultanan Deli meninggalkan banyak peninggalan sejarah yang berharga bagi bangsa Indonesia. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Istana Maimun

Istana Maimun adalah istana kesultanan yang dibangun pada abad ke-19 dan menjadi salah satu ikon kota Medan, Sumatera Utara. Istana ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Kesultanan Deli yang masih terjaga hingga saat ini. Bangunan ini terkenal dengan arsitektur yang khas, yang merupakan perpaduan antara budaya Melayu, Islam, dan Eropa.

  1. Batu Gantung

Batu Gantung adalah sebuah batu besar yang digunakan oleh Kesultanan Deli sebagai tempat hukuman mati. Batu ini terletak di sebuah bukit di pinggiran kota Medan dan menjadi salah satu tempat wisata sejarah yang populer di wilayah tersebut.

  1. Seni Ukir dan Tenun

Kesultanan Deli memiliki kekayaan seni dan budaya yang luar biasa, terutama dalam seni ukir dan seni tenun. Seni ukir Kesultanan Deli kental dengan nuansa Islam, yang terlihat dalam ornamen-ornamen masjid dan istana yang megah. Sedangkan, seni tenun Kesultanan Deli menggunakan bahan-bahan alami dan memiliki keunikan motif yang khas.

  1. Adat dan Tradisi

Kesultanan Deli juga meninggalkan adat dan tradisi yang khas. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah Tari Piring. Tari ini biasanya dipentaskan pada saat perayaan-perayaan adat seperti pernikahan dan festival budaya.

  1. Bahasa Melayu Deli

Bahasa Melayu Deli merupakan salah satu dialek dari bahasa Melayu yang digunakan di wilayah Sumatera Utara. Bahasa ini memiliki keunikan tersendiri dan dianggap sebagai bagian dari peninggalan sejarah Kesultanan Deli. Bahasa Melayu Deli banyak dipakai oleh masyarakat di wilayah Deli Serdang dan sekitarnya hingga saat ini.

Kesultanan Deli telah memberikan kontribusi yang besar bagi peradaban bangsa Indonesia. Peninggalan-peninggalan sejarahnya dapat dijadikan sebagai sarana belajar dan pengenalan akan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Dengan melestarikan dan memperkenalkan peninggalan-peninggalan ini, kita dapat menjaga keberagaman budaya Indonesia dan menghargai warisan nenek moyang kita.

Sejarah Kesultanan Pontianak

Kesultanan Pontianak merupakan salah satu kesultanan yang ada di Kalimantan Barat, Indonesia. Kesultanan ini didirikan pada abad ke-18 oleh seorang pemimpin Dayak yang bernama Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Kesultanan Pontianak berdiri di bawah naungan Kesultanan Mempawah, sebelum akhirnya menjadi kerajaan yang mandiri.

Sejarah Kesultanan Pontianak dimulai pada tahun 1771, ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, seorang pemimpin Dayak yang memiliki darah keturunan Melayu, berhasil merebut kekuasaan dari Kesultanan Mempawah yang pada saat itu menguasai wilayah Kalimantan Barat. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie lalu memilih Pontianak sebagai ibu kota kerajaannya, dan memerintah dari sana selama lebih dari 20 tahun.

Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah seorang pemimpin yang bijaksana dan disegani oleh rakyatnya. Ia mampu membangun kerajaannya dengan baik, sehingga Kesultanan Pontianak menjadi salah satu kerajaan terkuat di Kalimantan Barat pada masanya. Selama masa pemerintahannya, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, dan membangun hubungan baik dengan para pedagang dan kolonial Belanda yang pada saat itu menguasai Indonesia.

Setelah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie wafat pada tahun 1808, tahta Kesultanan Pontianak digantikan oleh putranya, Sultan Muhammad Aliuddin. Selama pemerintahannya, Sultan Muhammad Aliuddin berhasil mempertahankan kekuasaan Kesultanan Pontianak dari serangan-serangan dari luar, serta memperbaiki infrastruktur dan ekonomi kerajaannya.

Pada akhir abad ke-19, Kesultanan Pontianak mulai mengalami kemunduran akibat dari kolonialisme Belanda yang semakin memperluas pengaruhnya di Indonesia. Pada tahun 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dari penjajahan Belanda, dan Kesultanan Pontianak pun bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Meskipun Kesultanan Pontianak telah lama berakhir, warisan sejarahnya tetap terjaga dan dihargai oleh masyarakat Kalimantan Barat. Banyak situs bersejarah dan peninggalan kerajaan yang masih dapat ditemukan di Pontianak dan sekitarnya, seperti Istana Kadriah, Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, dan Makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Peninggalan-peninggalan tersebut menjadi bukti sejarah penting dari keberadaan Kesultanan Pontianak yang pernah berdiri dan menjadi bagian dari sejarah Indonesia.

Kejayaan

Kesultanan Pontianak memiliki sejarah kejayaan yang cukup panjang, terutama pada masa pemerintahan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Selama masa pemerintahannya, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie berhasil membangun kerajaannya dengan baik, sehingga Kesultanan Pontianak menjadi salah satu kerajaan terkuat di Kalimantan Barat pada masanya. Beberapa kejayaan Kesultanan Pontianak yang patut diperhatikan antara lain:

  1. Memperluas wilayah kekuasaan: Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie berhasil memperluas wilayah kekuasaan Kesultanan Pontianak dengan merebut beberapa daerah dari Kesultanan Mempawah dan kerajaan-kerajaan lain di Kalimantan Barat.
  2. Hubungan diplomatik yang baik: Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie berhasil membangun hubungan diplomatik yang baik dengan para pedagang dan kolonial Belanda yang pada saat itu menguasai Indonesia. Hal ini membantu Kesultanan Pontianak untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang besar.
  3. Pembangunan infrastruktur: Selama pemerintahannya, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie juga berhasil membangun infrastruktur kerajaan dengan baik, seperti jalan raya, jembatan, dan sistem irigasi yang memudahkan transportasi dan pertanian di wilayah kerajaannya.
  4. Budaya dan seni: Kesultanan Pontianak juga memiliki kejayaan dalam bidang seni dan budaya, seperti seni musik dan tari tradisional, serta arsitektur bangunan-bangunan istana yang indah dan megah.
  5. Perlawanan terhadap kolonialisme: Meskipun Kesultanan Pontianak akhirnya jatuh ke tangan Belanda, namun rakyat dan pemerintahannya tetap memperlihatkan perlawanan terhadap penjajahan kolonial dengan berbagai cara, seperti melalui gerakan nasionalis dan kebangkitan politik.

Bukti sejarah

Bukti sejarah kejayaan Kesultanan Pontianak dapat dilihat dari berbagai sumber, antara lain:

  1. Prasasti: Prasasti merupakan sumber sejarah tertulis yang memuat informasi tentang kejayaan Kesultanan Pontianak pada masa lalu. Beberapa prasasti yang masih ada hingga kini adalah prasasti yang terdapat di Masjid Jami Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Masjid Jami Sultan Syarif Hamid Alkadrie di Pontianak.
  2. Arsitektur bangunan: Arsitektur bangunan istana dan masjid yang megah dan indah menjadi bukti kejayaan Kesultanan Pontianak pada masa lalu. Beberapa bangunan bersejarah yang masih ada hingga kini adalah Istana Kadriah, Istana Kapuas Hulu, dan Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.
  3. Seni dan budaya: Seni musik dan tari tradisional Kesultanan Pontianak, seperti tari Panyembrama dan tari Kipas Cina, juga menjadi bukti kejayaan dan kekayaan budaya Kesultanan Pontianak.
  4. Catatan sejarah: Catatan sejarah yang ditulis oleh penulis-penulis pada masa lalu, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, juga menjadi bukti sejarah kejayaan Kesultanan Pontianak. Beberapa penulis yang pernah menulis tentang Kesultanan Pontianak adalah I-Hsing, Tomé Pires, dan Cornelius de Houtman.

Hukum Bank Syariah

Bank syariah adalah jenis lembaga keuangan yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah Islam. Bank syariah menjalankan operasinya dengan berpegang pada hukum Islam dan tidak terlibat dalam praktik-praktik riba atau bunga. Bank syariah menawarkan berbagai jenis produk dan layanan keuangan, termasuk tabungan, deposito, pembiayaan, dan investasi.

Prinsip-prinsip Bank Syariah dalam Al Quran

Prinsip-prinsip bank syariah didasarkan pada prinsip-prinsip Islam yang tercantum dalam Al Quran. Al Quran memberikan beberapa pedoman untuk kegiatan bisnis yang berbasis Islam, termasuk aktivitas perbankan.

Ayat Al Quran yang mengatur tentang riba

Dalam Al Quran, riba dilarang dengan tegas. Firman Allah SWT dalam Al Quran Surah Al-Baqarah ayat 275 menyatakan:

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”

Ayat Al Quran yang mengatur tentang akad musyarakah dan mudharabah

Dalam Al Quran, terdapat ayat yang mengatur tentang akad musyarakah dan mudharabah. Firman Allah SWT dalam Al Quran Surah Al-Nisa ayat 4 menyatakan:

“…dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (yang kamu nikahi), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja…”

Ayat Al Quran yang mengatur tentang transaksi jual beli

Dalam Al Quran, terdapat ayat yang mengatur tentang transaksi jual beli. Firman Allah SWT dalam Al Quran Surah Al-Baqarah ayat 282 menyatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah (berutang) dengan sesama untuk waktu yang ditentukan, maka catatlah. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar…”

Hadist tentang riba

Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa riba adalah salah satu dosa besar dalam Islam. Dalam sebuah hadist riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Jauhilah tujuh perkara yang dapat membinasakan, yaitu: kesyirikan, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, makan harta yatim, riba, makan harta manusia secara zalim, dan lari dari medan perang.”

Hadist tentang akad musyarakah dan mudharabah

Rasulullah SAW juga telah memberikan contoh dan arahan tentang akad musyarakah dan mudharabah dalam sebuah hadist. Dalam hadist riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Allah memberikan berkat pada dua orang yang bekerja sama dalam perdagangan, yaitu orang yang menyerahkan barang dagangannya dan orang yang meminjamkan uang untuk membeli barang tersebut, dan keduanya berpisah dengan keuntungan yang adil.”

Pandangan Ulama tentang Bank Syariah

Para ulama Islam juga memberikan pandangan dan pemahaman tentang bank syariah. Beberapa pendapat dari para ulama tentang bank syariah antara lain:

Imam Syafi’i

Imam Syafi’i, seorang tokoh besar dalam ilmu fiqh Islam, mengatakan bahwa riba adalah haram dan tidak boleh dilakukan dalam bisnis apapun, termasuk perbankan.

Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali, seorang filsuf dan teolog Islam terkemuka, menyatakan bahwa tujuan utama dari bank syariah adalah untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Ia juga mengatakan bahwa bank syariah harus mematuhi prinsip-prinsip syariah, termasuk tidak terlibat dalam praktik riba.

Ibn Taymiyyah

Ibn Taymiyyah, seorang cendekiawan Islam dan teolog terkemuka, mengatakan bahwa bank syariah adalah penting bagi masyarakat Muslim karena memberikan pilihan alternatif dalam kegiatan perbankan yang berbasis syariah. Ia juga menyatakan bahwa bank syariah harus mematuhi prinsip-prinsip syariah dalam semua kegiatan bisnisnya.

Prinsip-prinsip Syariah

Bank syariah harus mematuhi prinsip-prinsip syariah Islam, seperti tidak terlibat dalam praktik riba, meminimalkan risiko dalam kegiatan bisnis, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

  1. Produk dan Layanan. Bank syariah menawarkan produk dan layanan keuangan yang berbasis syariah, termasuk tabungan, deposito, pembiayaan, dan investasi. Produk dan layanan ini harus mematuhi prinsip-prinsip syariah Islam dan tidak terlibat dalam praktik riba.
  2. Pengawasan dan Regulasi. Pemerintah dan lembaga pengawas harus memastikan bahwa bank syariah mematuhi prinsip-prinsip syariah Islam dan tidak terlibat dalam praktik riba. Pengawasan dan regulasi yang ketat diperlukan untuk memastikan kegiatan bank syariah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.

Pancasila: Sejarah dan Tokoh-Tokoh di Balik Dasar Falsafah Negara Indonesia

Pancasila adalah dasar falsafah negara Indonesia yang terdiri dari lima prinsip yang menjadi pedoman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sejarah tercipatanya Pancasila berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 1 Juni 1945, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dibentuk oleh pemerintah Jepang yang pada saat itu menduduki Indonesia. BPUPKI bertugas untuk menyusun dasar negara Indonesia yang akan diterapkan setelah kemerdekaan. BPUPKI kemudian mengadakan sidang pada tanggal 29 Mei 1945, di mana dibahas mengenai dasar negara Indonesia.

Dalam sidang tersebut, terdapat dua pandangan mengenai dasar negara. Pandangan pertama adalah pandangan yang mengusulkan agar dasar negara Indonesia diambil dari piagam Jakarta yang terdiri dari empat poin, yaitu nasionalisme, internasionalisme, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Pandangan kedua adalah pandangan yang mengusulkan dasar negara Indonesia diambil dari ajaran Islam.

Lima prinsip dasar negara Indonesia

Pada tanggal 1 Juni 1945, Presiden Soekarno yang juga anggota BPUPKI, mengusulkan lima prinsip dasar negara yang terkenal dengan sebutan Pancasila. Kelima prinsip tersebut adalah:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Pancasila kemudian disahkan sebagai dasar negara Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pancasila menjadi dasar falsafah negara Indonesia yang terus dipelihara hingga saat ini.

Tokoh Penyusun Pancasila

Beberapa tokoh yang terlibat dalam pembentukan dan penyempurnaan Pancasila, di antaranya:

  1. Ir. Soekarno: sebagai Ketua BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan kemudian Presiden Pertama Indonesia. Beliau menjadi pemimpin yang menentukan arah dan pandangan dasar Pancasila.
  2. Drs. Mohammad Hatta: sebagai anggota BPUPKI dan wakil presiden pertama Indonesia. Beliau berperan dalam menyusun rumusan asas negara dalam Pancasila dan turut menambahkan sila kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
  3. Ki Bagus Hadikusumo: sebagai anggota BPUPKI dan tokoh masyarakat Jawa yang juga seorang filsuf. Beliau memberikan kontribusi dalam menyusun rumusan Pancasila dari sudut pandang filsafat.
  4. Prof. Dr. Soepomo: sebagai anggota BPUPKI dan tokoh pendidikan. Beliau memberikan pandangan dari sudut pandang pendidikan dan memberikan kontribusi dalam merumuskan ketentuan-ketentuan hukum dalam Pancasila.
  5. Mr. Muhammad Yamin: sebagai anggota BPUPKI dan seorang ahli hukum. Beliau memberikan pandangan dari sudut pandang hukum dan memberikan kontribusi dalam merumuskan ketentuan-ketentuan hukum dalam Pancasila.
  6. Dr. Raden Mas Soedarsono – Dia adalah seorang dokter yang juga aktif dalam gerakan nasionalis Indonesia. Dia terlibat dalam diskusi dan perumusan dasar negara Indonesia di antara para pemimpin nasionalis pada saat itu.
  7. Ir. Soekarni – Dia adalah seorang arsitek yang juga aktif dalam gerakan nasionalis Indonesia. Dia terlibat dalam diskusi dan perumusan dasar negara Indonesia di antara para pemimpin nasionalis pada saat itu.
  8. Mohammad Yamin – Dia adalah seorang ahli hukum dan juga seorang tokoh nasionalis Indonesia yang terkenal. Dia memainkan peran penting dalam perumusan teks resmi Pancasila dan juga ikut berperan dalam penyempurnaan naskah final UUD 1945.
  9. Soepomo – Dia adalah seorang ahli hukum yang memainkan peran penting dalam penyusunan naskah final UUD 1945 dan juga terlibat dalam diskusi dan perumusan dasar negara Indonesia pada saat itu.

Kewajiban Orang Tua, Memberi Nama Anak yang Memiliki Arti Baik

Nama memiliki pengaruh penting dalam membangun kepribadian, cara hidup, bahkan lingkungan. Ketika Nabi –shalallahu alaihi wasallam– tiba di Kota Madinah, kota Madinah masih bernama Yatsrib. Beliau menggantinya dengan nama Thoibah atau Madinah. Keduanya menunjukkan makna nama yang baik. Nama yang baik itu sendiri pada dasarnya menjadi sumber pengharapan yang baik. Karena itu, sudah seharusnya kedua orang tua memilih nama yang baik, hingga menjadi penginspirasi kebaikan bagi anak.

Sisi positif nama baik

Abdurrahman Ibn Auf berkata: “Dahulu namaku Abdu Amr (artinya budak Amr). Ketika memeluk Islam Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– menamaiku Abdurrahman (artinya hamba Allah Yang Maha Pengasih)

Diriwayatkan bahwa Abdurrahman menjual tanahnya. Hasilnya dibagikan kepada orang fakir dari bani Zahroh, Muhajirin dan Ummul Mukminin (istri-istri Nabi). Al-Musawar berkata: ‘Aku mendatangi Aisyah untuk menyerahkan pemberian itu.’ Aisyah -radiallahu’anha- bertanya: ‘Siapa yang mengirimkan ini?’ ‘Abdurrahman Ibn Auf.’ Jawabku. Aisyah -radiallahu’anha- berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:

((لا يحنو عليكنَّ بعدي إلا الصابرون))

‘Tidaklah berempati kepada kalian setelahku selain Sôbirun (para penyabar).'”Nama Abdurrahman diserap dari kata [ar-rahman] yang diambil dari sifat kasih. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- mendapati pada diri lelaki ini sifat kasih dan sayang sehingga beliau menamainya Abdurrahman.

Sisi yang sejalan dengan nama yang tidak baik

Diriwayatkan oleh Ibnu al-Musayyib dari ayahnya, bahwa ayahnya datang kepada Nabi -shalallahu alaihi wasallam-.

Nabi menanyakan namanya: “Siapa namamu?” “Huzn (=sedih).”

Jawabnya. “Engkau Sahl (=mudah).”

Timpal Nabi. “Aku tak dapat merubah nama yang telah diberikan oleh ayahku.” Tolaknya.

Ibnu al-Musayyib berkata: ‘Kesedihan itu senantiasa merundung kami setelahnya.”

Ad-Dawudi berkata: “Maksud Sa’id Ibn Musayyib adalah kesedihan akan sulitnya merubah tabiat akhlak mereka.

Dalam hal ini Sa’id membawakannya kepada hal yang memicu kemurkaan Allah.” Yang lain berkata: “Ibn Musayyib mengisyaratkan akan kejumudan yang masih tersisa pada akhlak mereka.”

Demikianlah. Ketika kita ingin anak keturunan kita baik, hendaknya kita melakukan tahap kedua, yaitu memilih nama-nama yang baik, karena ia mempengaruhi kepribadian anak seperti yang kita dapati pada contoh di atas.

Sumber Kewajiban Orang Tua, Memberi Nama Anak yang Memiliki Arti Baik. islamhouse.com: Potongan artikel 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama. Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi. Terjemah: Syafar Abu Difa. Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

Cara Mendidik dan Memperbaiki Akhlak Anak

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh,

Anak adl amanah, anugerah, & cobaan. Dia adl titipan Illahi utk (sibghah) menjadi generasi Rabbani. Karena anak pd hakikatnya adl ibarat kertas putih, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Nasrani, Yahudi atau Majusi.” (HR Bukhari).

Ketahuilah, bahwa cara mendisiplinkan anak merupakan persoalan yg paling penting & mendesak di antara yg lain. Anak amanah bagi orang tuanya, sebab hatinya yg suci laksana permata tdk ternilai yg belum dipakai atau dibentuk. Ia menerima segala bentuk yg ditorehkan & condong kearah mana saja dicondongkan.

Jika diajarkan kebaikan, maka akan didapat kebahagiaan di dunia & akhirat. Sedangkan jika dibiasakan & diajarkan kejahatan akan tumbuh liar bagaikan hewan, tentu akan celaka. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, Peliharalah dirimu & keluargamu dari siksaan api neraka. Seorang ayah mungkin berusaha melindungi anaknya di dunia, namun jauh lbh penting melindungi anaknnya dari api neraka. Caranya adl dgn mendisiplinkannya, mendidiknya & mengajarinya tentang kebaikan akhlak serta melindunginya dari teman-teman yg berperangai buruk.

Tidak memanjakannya, & tdk membuatnya menggandrungi kemewahan & kemegahan duniawi. Oleh karena itu, hendaklah orang tua selalu memperhatikan anaknya sejak usia dini sehingga tdk akan diizinkan utk minum/makan yg berasal dari makanan haram, sehingga tdk diperoleh keberkahan dalam hidupnya, yg dpt membentuk wataknya yg buruk sehingga cenderung melakukan perbuatan yg tercela.

  1. Hendaklah perhatian ditingkatkan saat tanda kecerdasan tampak dalam diri anak. Tanda yg pertama adl rasa malu, sebab ketika mulai merasa malu terhadap perbuatan tertentu, inilah karunia Allah yg merupakan pertanda baik yg menunjukkan keseimbangan akhlaknya & ketulusan hatinya.
  2. Hendaklah dididik dari sifat rakus terhadap makanan, misalnya harus mengambil makanan dgn tangan kanannya, mengajarkannya mengucapkan Bismillah ketika mulai makan, makan dari tempat terdekat dgn dirinya, tdk merebut makanan orang lain, serta ditanamkan rasa tdk suka makan makanan dalam porsi yg besar karena byk makan membuat seseorang menjadi tdk ada bedanya dgn hewan. Kepadanya harus ditanamkan rasa senang memberikan makanan yg lbh baik utk orang lain & dianjurkan utk bersikap wajar terhadap makanan & tdk mencela makanan yg kurang enak.
  3. Hendaknya ditanamkan rasa suka terhadap pakaian putih daripada warna lain atau kain sutera, sehingga terjaga dari kebiasaan hidup mewah, bersenang-senang & mengenakan pakaian mahal. Sesungguhnya anak yg sejak kecil kurang diperhatikan biasanya akan tumbuh dgn perangai yg buruk, pendusta, pendengki, keras kepala, suka mencuri, memfitnah, bercanda & tertawa berlebihan, licik & amoral.
  4. Hendaknya disibukkan oleh kegiatan mempelajari Al-Quran, hadist & riwayat-riwayat tentang orang-orang yg baik, utk menumbuhkan dalam jiwanya rasa cinta terhadap orang-orang saleh. Kemudian ketika sifat baik & amal saleh ditunjukkan, maka harus diberikan apresiasi yg menggembirakan hatinya. Tetapi sebaliknya, jika melakukan hal yg buruk, hendaklah seakan- akan diabaikan, disembunyikan, tdk diungkapkan ke orang lain. Seandainya ia mengulangi perbuatan itu sekali lagi, maka harus dimarahi tanpa sepengetahuan orang & disadarkan bahwa perbuatannya itu cukup serius.
  5. Hendaklah orangtua tdk terus-menerus memarahi anak, sebab membuatnya kebal akibatnya tetap melakukan perbuatan buruk. Hendaknya seorang ayah menjaga kewibawaan ucapannya & hanya memarahi bila tdk ada pilihan lain. Ibulah yg memperingatkan anak dgn menyebut ayahnya.
  6. Hendaklah dilarang tidur siang hari, karena dpt menimbulkan sikap malas. Harus dibiasakan utk berjalan, bergerak & berolahraga pd siang hari sehingga terbebas dari rasa malas. Janganlah anak dibiarkan gemuk karena akan sulit menjauhi sikap manja. Sebaliknya, hendaknya dibiasakan mengenakan pakaian & makan makanan sederhana.
  7. Hendaknya dilarang melakukan sesuatu secara diam-diam, sebab akan terbiasa melakukan perbuatan buruk. Hendaknya dilarang membanggakan harta orangtuanya, namun dibiasakan bersikap rendah hati, pemurah & santun dalam berbicara. Hendaknya dilarang menerima apapun dari anak lain, sebaliknya kepadanya harus diajarkan bahwa kemuliaan terletak pd sikap memberi. Hendaknya kpd anak diajarkan tentang keburukan mencintai & ketamakan terhadap emas, perak.
  8. Hendaklah dibiasakan utk tdk meludah, menguap atau menyusut ingus di hadapan orang lain, tdk memunggungi siapapun, menyilangkan kaki, menopang dagu atau mengganjal kepalanya dgn tangannya, karena perbuatan semacam itu menunjukkan kemalasan. Haruslah diajari mengenai cara duduk & dilarang utk terlalu byk berbicara. Hendaklah dilarang bersumpah terhadap sesuatu, baik benar maupun salah. Sebaiknya diajari mendengarkan dgn cermat setiap kali orang yg lbh tua berbicara & bangkit dari duduknya setiap kali orang yg lbh tua masuk, menyediakan tempat untuknya. Hendaklah dilarang berbicara seenaknya, mengutuk, menghina seseorang atau bergaul dgn orang yg demikian. Kebiasaan buruk akan muncul dari teman sepergaulan yg buruk. Dan sesungguhnya prinsip pendidikan adl menjauhkannya dari teman sepergaulan yg buruk.
  9. Hendaklah setelah mengikuti pelajaran, agar diizinkan bermain & diberi kesempatan beristirahat, utk mencegah anak menguras tenaga utk selalu belajar yg akan mematikan hatinya, merusak kecerdasannya & menghambat gairah hidupnya.
  10. Hendaknya diajarkan sikap patuh terhadap orangtua, guru & orang yg lbh tua. Kemudian ketika anak mencapai usia remaja, hendaknya tdk melalaikan kewajiban berwudhu & shalat serta diperintahkan berpuasa di bulan Ramadhan. Diingatkan bahwa makanan hanya sarana mempertahankan kesehatan & bahwa tujuannya menjadikan seorang manusia kuat menjalankan ibadah kpd Allah SWT, mengingat tdk satupun yg kekal didalamnya serta kematian akan memutus kenikmatannya. Sesungguhnya, dunia hanyalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal abadi. Akhiratlah yg merupakan tempat tinggal abadi. Sesungguhnya kematian menanti setiap saat, karenanya orang yg cerdas & berakal adl orang yg menyiapkan bekal di dunia utk keperluan di akhirat sehingga beroleh derajat yg tinggi di sisi Allah & kebahagiaan melimpah di surga. Jika pendidikan pd masa anak baik, maka akan berkesan & berpengaruh kuat di dalam hatinya laksana tulisan di atas batu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarokatuh.

Pustaka: Al Ghazali, Metode Menaklukkan Jiwa – Perspektif Sufistik, Penerbit Mizan, 2001.