Mozaik Islam

Langsung Mengarahkan dengan Penuh Kasih Sayang, Ketika Anak Berbuat Salah

Pada fase awal, anak sulit membedakan mana yang benar dan yang salah, karena sedikitnya pengetahuan dan ilmu mereka. Hal ini menuntut kita untuk mengarahkan mereka ketika salah, membenarkannya serta melindungi mereka dari kejelekan, seperti ghozwul fikri (Invasi pemikiran) dan ghozwul tsaqofi (invasi budaya), dengan menyediakan alternatif yang sesuai agar tetap dapat berkhidmat terhadap agama ini meskipun berada di bawah bayang-bayang kampanye sengit dari musuh-musuh agama ini di seluruh belahan bumi.

Catatan yang mesti diperhatikan ketika menasihati kesalahan:

  • Menegur kesalahan tanpa masuk kepada kepribadian anak, hingga hasilnya tidak menjadi kebalikannya.
  • Memuji terlebih dahulu sebelum mencela, hal itu akan membuat perkataan anda lebih didengar.
  • Hendaknya arahan mengandung kasih sayang terhadap anak yang melakukan kesalahan.

Pentingnya Pengarahan Langsung Ketika Salah

Umar Ibn Salamah berkata:

“Ketika Aku dalam pengasuhan Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam-, tangganku mengacak-acak nampan ketika makanan. Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– pun berkata kepadaku:

((يا غلام, سمِّ الله, وكل بيمينك, وكل مما يليك))

‘Nak, makanlah dengan menyebut nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan dari yang terdekat denganmu.’ Dan demikianlah cara makanku setelahnya.”

Said Ibnu Zubair memiliki ayam jantan yang berkokok setiap malam. Pada suatu malam ayamnya tidak berkokok sampai pagi, sehingga malam itu dia tidak shalat malam. Hal itu membebani pikirannya dan berkata:”Ada apa dengan ayamnya, semoga Allah memutus suaranya.” Dia pun tidak pernah lagi mendengar suara ayam itu lagi setelahnya, sehingga ibunya berkata: “Wahai putraku, janganlah engkau mendoakan keburukan pada apapun lagi setelah ini.”

Abu Hurairah –radiallahu’anhu–

“Hasan Ibnu Ali, (cucu Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam-) mengambil buah kurma dari kurma sedekah dan memasukkan kemelutnya. Nabi –shalallahu alaihi wasallam– berkata kepadanya: “Khih, khih…!” agar memuntahkannya, seraya berkata: “Apakah engkau tidak sadar bahwa kita tidak makan sedekah!.”

Anas –radiallahu’anhu–

berkata:”Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam- adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau menyuruhku untuk suatu keperluan. Aku katakan: ‘Aku tidak akan pergi.’ Sementara dalam hati aku akan pergi melakukan apa yang diperintahkan Nabi. Aku pun pergi, dan berpapasan dengan anak-anak yang sedang bermain di pasar. Ternyata Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– telah memegang bahuku dari belakang dan memandangku sambil tertawa. Beliau berkata: “Wahai Unais, pergilah sebagaimana yang aku perintahkan.” “Baik wahai Rasulullah, aku pergi sekarang.” Jawabku. “Demi Allah, aku telah berkhidmat kepadanya selama 9 tahun, dan tidak pernah mendapatinya berkata: ‘Kenapa kamu lakukan demikian dan demikian’ atau berkata ‘Kenapa kamu tidak lakukan demikian dan demikian.”

Sumber Langsung Mengarahkan dengan Penuh Kasih Sayang, Ketika Anak Berbuat Salah. islamhouse.com: Potongan artikel 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama. Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi. Terjemah: Syafar Abu Difa. Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

Penuh Semangat, Sabar dan Memperbanyak Ilmu dalam Mendidik Anak

Kepada para ayah dan ibu janganlah mengenalkan jalan keputusasaan di hati anak-anak. Karena orang tua memikul amanah yang besar, hendaknya bersabar dan berjalan ke depan dalam mendidik putra-putrinya pendidikan Islami yang benar, yang menuntun mereka untuk mengamalkan agama ini dan merealisasikan cita-cita dari keberadaan mereka yaitu mengibadahi Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu.

Hidup senantiasa diselimuti banyak kendala dan kekurangan. Ketenangan abadi hanyalah di negeri yang kekal akhirat. Adapun dunia, ia adalah negeri amal dan cobaan. Kita hanyalah melintasinya untuk menuju negeri akhirat yang merupakan negeri perhitungan dan balasan. Oleh sebabnya kenapa kita harus berputus asa?

Kisah Yang Menunjukkan Ketidakputusasaan

Aisyah –radiallahu’anha– bertanya kepada Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam-:”Adakah hari yang lebih sulit yang engkau lalui dari hari perang Uhud?” Nabi menjawab: “Aku telah mengalami segala perlakuan yang dilakukan oleh kaummu terhadapku. Yang paling berat dari yang aku alami adalah peristiwa Aqobah.

Aku telah menyampaikan keadaanku kepada Ibnu Abduyâlail Ibn Abdul Kilab, tetapi dia tidak menggubris apa yang menjadi keinginanku. Aku pun pergi dengan kesedihan di wajahku. Ketika tersadar aku telah berada di Qorn ats-Tsa’âlib. Ketika kuangkat kepalaku, ternyata awan telah menaungiku. Ketika aku tatap ternyata ada malaikat Jibril, yang kemudian menyapaku, dan berkata: “Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu serta sikap mereka.

Malaikat gunung telah diutus kepadamu supaya engkau perintah sekehendakmu.” Malaikat gunung menyapa dan memberi salam kepadaku, lalu berkata: “Wahai Muhammad, sekarang terserah padamu. Jika engkau berkehendak aku akan timpakan kepada mereka dua gunung ini.” Nabi –shalallahu alaihi wasalam– menjawab: “(Tidak), bahkan aku berharap akan keluar dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Sabar dalam Mendidik Anak

Kata sabar di dalam al-Quran disebut lebih dari 70 kali. Ini menunjukkan betapa penting dan besarnya kesabaran. Cita-cita dan harapan tidak akan tercapai tanpa kesabaran menapaki kesulitan dan beratnya beban mendidik. Ia merupakan jalan panjang yang dipenuhi kesulitan dan kepenatan. Para orang tua hendaknya menyadari bahwa tanggung jawab ini berat, tidak sekadar menyediakan makan dan minum saja, lebih dari itu. Hendaknya menghiasi diri dengan kesabaran, mengenakannya dan menjadikannya moto dalam mendidik. Orang tua mendapat pahala manakala disertai dengan niat yang saleh.

Pentingnya Kesabaran Urwah Ibn az-Zubair dan putranya, Muhammad mendatangi Walid Ibn Abdul Malik. Muhammad putra Urwah adalah anak yang amat tampan wajahnya. Suatu hari dia datang kepada al-Walid mengenakan pakaian bordir bermotif warna dengan rambut dikepang dua sambil menepuk tangannya. Walid berkata: “Beginilah semestinya pemuda Quraisy!” dia pun terkena ain.

Ketika keluar dia menjadi linglung, terjatuh pingsan di penambatan kuda dan terinjak-injak kuda hingga tewas. Sementara ayahnya, Urwah terjangkit kusta di kakinya. Para tabib didatangkan. Mereka berkata: “Jika tidak dipotong, kustanya akan menggerogoti bagian tubuh yang lain dan akan membinasakannya.” Akhirnya diputuskan memotong kakinya. Pemotongan dilakukan dengan gergaji. Ketika gergaji diletakkan di kakinya dia meletakkan kepalanya ke bantal. Selang satu jam dia pun pingsan. Ketika sadar, keringat bercucuran di wajahnya, dan dia terus mengucap tahlil dan takbir.

Seusai pemotongan Urwah mengambil potongan kakinya, membolak-baliknya dengan tangannya seraya berkata: “Sungguh yang membuatku lega dan engkau mengetahuinya, bahwa aku tidak pernah membawamu ke tempat haram dan maksiat, tidak pula pada apa yang tidak diridai Allah.” Kemudian dia memerintahkan memandikan, meminyaki, mengafani potongan itu dengan beludru dan dikuburkan di pekuburan muslimin.

Ketika tiba di Madinah dan berada bersama al-Walid, karib kerabat dan para sahabatnya menyambutnya dan berbela sungkawa terhadapnya. Namun dia berkata: “…Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”. (QS. Al-Kahfi:62) Tidak lebih dari itu. Ibnul Qoyyim –rahimahullah– berkata: “Ketika kakinya akan dipotong orang-orang berkata: ‘Jika boleh, kami akan memberimu suatu minuman agar tidak berasa sakit!” Namun Urwah berkata: “Sesungguhnya aku diuji untuk melihat kesabaranku. Apakah kemudian aku akan berpaling darinya.”

Menambah ilmu, Berkonsultasi dan Bermusyawarah kepada Alim Ulama

Berkonsultasi amatlah penting dalam pendidikan anak. Ia merupakan tahapan pendidikan terpenting dan salah satu fondasi pokok. Yang demikian karena ia memiliki banyak manfaat dan hasil yang paripurna bagi yang mempraktekkan dan memperhatikannya. Ia menjauhkan kita dari problematika yang sebetulnya solusi dari problematika tersebut kita miliki. Oleh karena itu, kita hendaknya berkonsultasi kepada spesialis dalam perkara ini dari para alim ulama yang terpercaya agama dan amalnya. Al-Hasan al-Bashri –rahimahullah– berkata: “Demi Allah, tidaklah suatu kaum bermusyawarah, melainkan diberi petunjuk kepada yang lebih baik dari keadaan mereka semula.” Kemudian dia membaca: “…Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…” (QS.Syuro:38)

Pentingnya Musyawarah

  • Dahulu kaum Anshar sebelum datangnya Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam- jika hendak melakukan suatu urusan mereka bermusyawarah, baru kemudian dilaksanakan. Sehingga Allah memuji mereka dan Rasulullah memerintahkan mereka melakukannya.
  • Nabi –shalallahu alaihi wasallam– berkonsultasi kepada para sahabatnya mengenai perseteruan dengan musyrikin Quraisy. Abu Bakar -radiallahu’anhu- berdiri dan berkata dengan perkataan yang terbaik. Berdiri pula Umar Ibn al-Khatthab -radiallahu’anhu- dan berkata dengan perkataan yang baik. Al-Miqdad Ibn Amr pun berdiri pula dan berkata:

“Wahai Rasulullah, titahkan apa yang hendak engkau perintahkan sebagaimana yang Allah perlihatkan kepadamu. Kami bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa: “…Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (al-Maidah: 24)

Akan tetapi pergilah engkau bersama dengan Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami bersamamu turut berperang. Demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau berjalan membawa kami ke tempat yang jauh, niscaya kami akan menetapinya hingga engkau mencapainya.

Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam- mengatakan kebaikan dan mendoakannya, kemudian berkata:

((أشيروا عليّ أيها الناس))

“Berilah saran kepadaku wahai manusia!” Yang beliau maksud adalah kaum Anshar. Yang demikian karena Anshar mayoritas, dan ketika Baiat Aqobah telah berikrar: “Wahai Rasulullah, kami berlepas diri dari celaanmu hingga engkau sampai ke tempat kami. Jika engkau tiba di tempat kami, engkau dalam perlindungan kami. Kami akan membelamu sebagaimana kami membela anak-anak dan istri-istri kami.” Mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berujar demikian, Saad Ibn Mu’adz, salah seorang tokoh Anshar berkata: “Demi Allah, engkau memaksudkan kami wahai Rasulullah?” “Ya.” Jawab Rasulullah. “Sungguh kami telah beriman dan mempercayaimu wahai Rasulullah.”

Sumber Penuh Semangat, Sabar dan Memperbanyak Ilmu dalam Mendidik Anak. islamhouse.com: Potongan artikel 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama. Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi. Terjemah: Syafar Abu Difa. Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

Berdoa, Mendoakan Anak dan Mohon Petunjuk Kepada Allah

Wahai para ayah yang baik dan ibu yang penyayang, atas kalian berdoa, kemudian berdoa; agar Allah memberi kalian taufik dalam mendidik anak-anak kalian dengan pendidikan yang saleh yang mengarahkan mereka berkhidmat kepada agama yang agung ini. Doa memiliki peran yang amat penting dalam kesalehan dan kebaikan anak. Berapa banyak doa yang bertepatan dengan waktu pengabulan menjadi sebab kebahagiaan anak di dunia dan akhirat. Dan berapa banyak pula doa yang menyimpangkan jalan anak yang menjadikannya menapaki jalan sesat dan menyimpang.

Sungguh demi Allah, berdoalah dengan doa yang saleh dan jangan meninggalkan langkah-langkah yang telah disampaikan sebelumnya.

Contoh Praktis Dan Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Doa

  • Dari Imam ad-Dzahabi, bahwa al-Hakim berkata: “Abu Ali an-Naisaburi menceritakan kepada kami dari syaikh-syaikhnya bahwa Ibnul Mubarok singgah di rumah Isa. Ketika itu al-Hasan, putra Isa tengah berada di atas tunggangannya melintas, sedang Ibnul Mubarok berada di majelis. Isa adalah pemuda yang memiliki paras yang tampan. Ibnu Mubarok bertanya tentangnya. Maka dikabarkanlah bahwa Isa adalah seorang Nasrani. Ibnu Mubarokpun berujar: “Ya Allah, berilah dia rezeki keislaman!” Doa Ibnu Mubarok itu pun dikabulkan Allah.
  • Imam ad-Dzahabi berkata: “Menceritakan kepada kami Abu Yahya Ibn ar-Râzi. Katanya: ‘Aku mendengar Sa’id ar-Râzi berkata: ‘Kami pergi bersama Ahmad Ibn al-Hanbal ke rumah al-Mutawakil. Ketika dia seorang saja yang diperkenankan masuk melalui pintu khusus dia berkata kepada kami: “Pulanglah kalian, semoga Allah memberi keafiatan kepada kalian.” Setelah doa itu, tidak ada dari kami yang terkena penyakit.”

ISTIKHARAH, Meminta Petunjuk Kepada Allah

Ia merupakan petunjuk nubuat yang diajarkan Rasulullah kepada kita. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jabir Ibn Abdullah –radiallahu’anhuma-: “Rasulullah mengajarkan kami istikharah dalam setiap perkara sebagaimana mengajarkan kami surat dari surat-surat al-Quran dan bersabda: “Jika salah seorang dari kalian ragu dalam suatu perkara, hendaknya melakukan shalat dua rakaat sunah, lalu mengucapkan:

((اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي))

[Allahumma inni astakhiruka bi ilmika, wa astaqdiruka bi qudrotika, wa as aluka min fadhlikal adzhim, fa innaka taqdiru walaa aqdir, wa ta’lamu walaa a’alam, wa anta ‘allamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amro khairun lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aaqibatu amrii -‘aajili amrii wa aajilihi- faqdurhu lii, wa yassirhu li tsumma baarik lii fiihi, wa in kunta ta’lamu anna hadzal amro syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aaqibatu amri -‘aajili amrii wa aajilihi- fashrifhu ‘anni washrifnii ‘anhu, waqdir lialkhairo haitsu kaana tsumma ardhinii bihi. <Lalu menyebutkan hajatnya>

Tidak akan menyesal siapa pun yang beristikharah (meminta petunjuk) kepada Sang Pencipta dan bermusyawarah kepada kaum mukminin serta mempelajari permasalahannya. Allah -subhânahu wata’âla- berfirman: “…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakkallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran:159)

Sumber Berdoa, Mendoakan Anak dan Mohon Petunjuk Kepada Allah. islamhouse.com: Potongan artikel 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama. Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi. Terjemah: Syafar Abu Difa. Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

Keteladanan Orang Tua Menentukan Akhlak Anak dan Generasi Bangsa

Ia merupakan salah satu tahapan penting, paling banyak manfaatnya dan lebih tertanam di dalam jiwa anak. Karena suka meniru termasuk karakteristik fase pertama. Kita dapat melihat anak meniru ibunya yang sedang shalat. Ikut rukuk ketika ibunya rukuk dan ikut sujud ketika ibunya sujud. Serta hal-hal lain yang dapat kita saksikan siang dan malam.

Sudah seharusnya kita mengarahkan peniruan itu dan memanfaatkannya dengan apa-apa yang dapat menghidupkan jiwa mereka agar senang mengamalkan agama ini. Dengan cara:

Kisah-Kisah Sahabat Nabi

Menceritakan kisah-kisah sahabat nabi, orang-orang saleh dan ulama.

  • Senantiasa menyertakan anak pada setiap momen kebaikan agar dia menirunya, seperti pergi ke masjid dll.
  • Memperdengarkan kepadanya kaset-kaset Islami yang bermanfaat dan sesuai dengan usianya.
  • Melakukan sebagian ibadah di hadapannya, seperti shalat dan sedekah.

Kisah Yang Menunjukkan Pentingnya Keteladanan Ilmiah Dalam Membangun Kepribadian Anak. Berikut contoh dari praktek keteladanan

Kuraib, mantan budak Ibnu Abbas menceritakan bahwa Ibnu Abbas –radiallahu’anhuma– mengabarkannya bahwa dia bermalam di rumah bibinya, Maimunah, istri Nabi –shalallahu alaihi wasallam-:”Aku berbaring pada bagian lebar tikar, sementara Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– berserta istrinya berbaring memenuhi panjang tikar hingga beliau –shalallahu alaihi wasallam– tertidur. Pada pertengahan malam, sebelum atau setelahnya sedikit beliau –shalallahu alaihi wasallam– bangun, mengusap wajahnya dari bekas tidur lalu membaca sepuluh ayat dari penutup surat Ali Imran.

Setelah itu beliau beranjak menuju bejana yang tergantung dan berwudhu darinya dengan sebaik-baik wudhu, lalu melaksanakan shalat.” Ibnu Abbas melanjutkan: “Aku pun ikut bangun dan melakukan apa yang dilakukan Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam-, kemudian berdiri di sampingnya (turut shalat). Namun kemudian Nabi meletakkan tangan kanannya di kepalaku dan memutarkanku (ke sebelah kanannya) dengan memegang telinga kananku.

Kemudian shalat 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, 2 rakaat, lalu shalat witir. Setelah itu beliau berbaring hingga datang muazin. Setelah muazin datang beliau shalat 2 rakaat ringan baru kemudian keluar melakukan shalat subuh.

Aisyah, Umul mukminin –radiallahu’anha– berkata:

“Aku tidak melihat seorang pun yang lebih mirip ucapan dan perkataannya dengan Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– dari pada Fatimah.” Kisah-kisah di atas menjadi saksi yang menuturkan kepada kita bahwa anak begitu terpengaruh dengan orang tua dan menirunya.

Generasi Cinta Sedekah

Jika engkau melihat orang miskin dan anakmu bersamamu, berilah dia uang. Kemudian minta dia menyedekahkan uang tersebut kepada orang miskin yang dilihatnya. Ucapkan terima kasih dan pujilah dia di depan saudara-saudaranya setelah itu. Dengan demikian perbuatan baik tersebut akan tertanam dalam dirinya. Praktek seperti ini akan menciptakan generasi yang cinta bersedekah dan memberi pertolongan kepada yang membutuhkan dan lemah.

Sumber Keteladanan Orang Tua Menentukan Akhlak Anak dan Generasi Bangsa. islamhouse.com: Potongan artikel 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama. Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi. Terjemah: Syafar Abu Difa. Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

Menanamkan Nilai Moral dan Agama Sejak Usia Dini

Anak-anak pada fase pertama memiliki karakteristik ingatan yang kuat. Sudah semestinya kita arahkan untuk menuntut ilmu dan mengajari mereka perkara-perkara agama. Seperti menghafal al-Quran al-Karim dan sunah nabi yang suci serta menanamkan aqidah yang benar. Umat ini amat butuh kepada ulama yang kuat dan dai-dai yang berpandangan luas dengan al-Quran dan sunah. Hal ini tidak akan terwujud selain dengan menuntut ilmu sedini mungkin. Jangan katakan hal ini sulit atau mustahil.

Ibnu Muflih berkata: “Ilmu yang didapat sejak kecil lebih kuat. Sudah seharusnya memperhatikan pelajar muda, terlebih lagi mereka yang memiliki kecerdasan, penalaran dan semangat menuntut ilmu. Janganlah menjadikan usia dini, kefakiran dan kelemahan mereka sebagai penghalang dalam memperhatikan dan fokus pada mereka.”

Ibnu Abbas berkata:

“Ketika Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– wafat, aku berkata kepada seorang anak lelaki Anshar: “Ayolah kita bertanya (menuntut hadits) kepada para sahabat Nabi –shalallahu alaihi wasallam-, sekarang ini jumlah mereka masih banyak.” Anak laki-laki itu menjawab: “Engkau ini aneh, wahai Ibnu Abbas, apakah engkau merasa bahwa orang-orang akan membutuhkanmu?! Bukankah para sahabat Nabi –shalallahu alaihi wasallam– masih cukup banyak seperti yang engkau tahu!” Aku pun meninggalkan anak itu dan mulai menanyai para sahabat.

Jika merasa akan mendapatkan Hadits dari seseorang, aku akan mendatanginya dan membentangkan selendangku di depan pintu rumahnya, walau angin bertiup dan debu-debu beterbangan mengenaiku. Manakala orang itu keluar dan melihatku dia berkata: “Wahai sepupu Rasulullah, mengapa tidak engkau utus saja seseorang kepadaku dan aku akan mendatangimu?!” “Aku lebih berhak mendatangimu untuk menanyaimu…” Jawabku. Sementara anak lelaki itu masih tetap pada keadaannya. Manakala dia melihatku dalam keadaan orang-orang telah berkerumun belajar kepadaku dia berkata: “Anak muda ini lebih berakal dariku.”

Ma’mar berkata: “Aku mendengar dari Qotadah, ketika itu usiaku 14 tahun: “Tidak ada sesuatu yang aku dengar pada seusia ini melainkan seperti terpatri dalam dadaku.”

Ummu Darda berkata: “Pelajarilah ilmu dari kecil, ketika besar engkau akan mengamalkannya. Sesungguhnya apa yang dipetik adalah apa yang dulu ditanam.”

Mengajari Mereka Perkara-Perkara Syariat Yang Mesti Diketahui

Anak wajib diajarkan sejak dini perkara-perkara syariat yang harus diketahuinya, seperti shalat, puasa dan yang sepertinya. Hal itu agar mereka tumbuh dengan pertumbuhan yang saleh, seperti ungkapan: “Belajar di waktu kecil seperti mengukir di atas batu”. Contoh praktis: Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bersabda:

((مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر وفرِّقوا بينهم في المضاجع))

“Perintahkan anak-anak kalian shalat pada umur tujuh tahun, dan pukullah mereka karenanya jika berumur sepuluh tahun. Pisahkan juga tempat tidur mereka.”

Sumber Menanamkan Nilai Moral dan Agama Sejak Usia Dini. islamhouse.com: Potongan artikel 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama. Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi. Terjemah: Syafar Abu Difa. Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

Kesalehan Ibu dan Ayah, Menentukan Kepribadian Anak

Langkah yang paling penting adalah Kesalehan orang tua. Dengan kesalehan keduanya, anak-anak akan menjadi baik. Anak-anak tumbuh sesuai yang dibiasakan orang tuanya. Penyebutan ibu di dahulukan dari pada ayah karena beban terbesar dalam pendidikan anak berada di pundak ibu, mengingat kebersamaannya yang lebih lama dengan anak-anak, berbeda dengan ayah yang sibuk mencari rezeki.

Mendidik anak-anak agar tumbuh mencintai dan mengamalkan agama ini. Generasi yang demikian haruslah tumbuh dari tanah yang baik dan subur,sebagaimana yang dikatakan oleh as-Syaukhi:

Ibu adalah madrasah jika engkau mempersiapkannya.Dengan mempersiapkannya berarti telah menyiapkan generasi yang harum namanya

Ibulah madrasah pertama yang menelurkan ulama, dai dan mujahid-mujahid pemberani. Karenanya ibu (istri) solehah amatlah penting dalam membangun masyarakat dan melahirkan generasi yang diberkahi. Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– pun mendorong dan memotivasi hal ini dengan sabdanya:

(( تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فاظفر بذات الدين تَرِبَتْ يَدَاك ))

“Wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah agamanya maka engkau tidak akan menyesal.”

Benar… Beruntunglah engkau yang memilih istri solehah lagi berilmu, sehingga melahirkan untuk umat ini ulama. Beruntunglah engkau yang memilih istri mujahidah (pejuang), sehingga melahirkan untuk umat ini para kesatria. Beruntunglah engkau yang memilih istri pendakwah, sehingga melahirkan untuk umat ini para juru dakwah. Beruntunglah engkau yang memilih istri yang ahli ibadah, sehingga melahirkan untuk umat ini para ahli ibadah. Beruntunglah engkau… Karenanya para ibu memiliki peran besar dan agung dalam membangun kepribadian anak dan dalam mendidik mereka agar mengamalkan agama ini. Demikian juga para ayah, yang memiliki peran besar yang tidak lebih kecil dari peran ibu.

Para orang tua hendaknya memperhatikan perkara penting yang memiliki pengaruh besar pada kepribadian anak yaitu interaksi antara orang tua. Interaksi antar kedua orang tua adalah pendidikan harian yang disaksikan langsung oleh anak-anak di depan mata mereka. Yang Semestinya dilakukan orang tua:

  • Mengikuti petunjuk Nabi dalam hak-hak pergaulan serta saling komitmen di antara ayah dan ibu dengan hak-hak masing-masing.
  • Hendaknya keduanya saling menghargai, terkhusus jika berada di hadapan anak-anak.
  • Tidak mempertontonkan perselisihan keduanya di hadapan anak-anak.

Ibu senantiasa menghentikan segala aktivitas ketika mendengar kumandang azan dan meminta anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Menjelaskan kepada mereka bahwa Allah –subhânahu wata’âla– akan mencintai kita jika kita menunaikan shalat tepat pada waktunya. Kemudian segera berwudu dan melaksanakan shalat. Dengan demikian anak-anak akan tumbuh sedari dini melaksanakan shalat tepat pada waktunya…kenapa? karena mereka telah belajar sejak kecil bahwa siapa yang melaksanakan shalat pada waktunya akan dicintai oleh Allah. Ini membantu dalam memudahkan anak merealisasikannya.

Kisah pentingnya peran orang tua dalam membangun kepribadian anak. Sejarah Islam yang mulia merekam kisah-kisah dan contoh kepribadian anak yang dipengaruhi oleh kepribadian ayah dan ibu mereka. Di antaranya:

Kepribadian Seorang Ayah

Diceritakan bahwa keberanian Abdullah Ibn az-Zubair adalah pengaruh dari keberanian ayah dan ibunya –radiallahu’anhuma– yang ditirunya. Al-Laits meriwayatkan dari Abul Aswad dari Urwah, katanya: “Az-Zubair memeluk Islam dalam usia 8 tahun. Suatu waktu dia pernah tersugesti oleh syetan bahwa Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– ditangkap di dataran tinggi Mekkah. Az-Zubair yang masih kanak-kanak, berusia 12 tahun keluar rumah sambil membawa pedang. Setiap orang yang melihatnya terheran-heran dan berkata: “Anak kecil menenteng pedang?!” Hingga akhirnya bertemu Nabi. Nabi turut heran terhadapnya dan bertanya: “Ada apa denganmu wahai az-Zubair?!” Az-Zubair mengabarkan (sugesti yang terlintas dalam fikirannya) seraya berkata: “Aku datang untuk memenggal dengan pedangku ini siapa pun yang menangkapmu!”

Keberanian Sang Ibu

Cerita keberanian Asma binti Abu Bakar, Ibu dari Abdullah Ibnu az-Zubair –radiallahu’anhum-. Imam adz-Zahabi berkata: Abu al-Muhayyah Ibn Ya’la at-Taymi Menceritakan kepada kami dari ayahnya, katanya: “Aku masuk Mekkah setelah tiga hari terbunuhnya Ibnu az-Zubair yang terpasung. Ibunya yang sudah renta datang dan berkata kepada al-Hajjaj: “Bukankah sekarang saatnya bagi yang terpasung untuk turun?” “Si munafik?” Sela al-Hajjaj. “Demi Allah, dia bukanlah orang munafik. Dia adalah anak yang senantiasa berpuasa, shalat malam dan berbakti pada orang tua.” Sergah Ibu Ibnu az-Zubair. “Pergilah engkau wahai orang tua, engkau tengah membual.” Ucap al-Hajjaj. Ibu Ibnu Zubair berkata lagi: “Tidak, demi Allah, aku tidaklah membual setelah Rasulullah bersabda:

((في ثقيف كذاب ومبير))

“Di Tsaqif akan ada pendusta dan orang yang lalim….”

Rasa Takut Anak Kepada Allah

Kisah rasa takut dan khawatir seorang anak (Ali putra al-Fudhail Ibn ‘Iyâdh) Abu Bakar Ibn ‘Iyâsy berkata: “Aku shalat magrib di belakang Al-Fudhail Ibnu ‘Iyadh, sementara putranya, Ali berada di sampingku. Al-Fudhail membaca: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sungguh kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” Ketika sampai pada ayat: “Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,” Ali jatuh pingsan, sedangkan al-Fudhail terus melanjutkan bacaannya.Abu Sulaiman ad-Dârani berkata: “Ali Ibn Fudhail tidak sanggup membaca surat al-Qori’ah atau dibacakan kepadanya.”

Keberanian Sang Anak

Cerita keberanian Abdullah Ibn Zubair: Ishaq Ibn Abu Ishaq berkata: Aku hadir pada peristiwa terbunuhnya Ibnu az-Zubair, dimana para tentara masuk mengepungnya dari setiap pintu masjid. Ketika sekelompok pasukan masuk dari suatu pintu, Abdullah Ibn az-Zubair menghalau dan mengeluarkan mereka. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba jatuh plafon masjid dan menimpanya sehingga membuatnya tersungkur.

Dia membaca bait syair:

Asma, wahai Asma janganlah menangisiku
Tidak akan tertinggal selain kemuliaan dan agamaku
serta pedang yang tergenggam di tangan kananku

Rasa Takut Sang Ayah

Kisah rasa takut sang ayah, Fudhail Ibn Iyadh –rahimahullah– dan kekhawatirannya kepada Allah. Muhammad Ibn Nâhiah berkata: “Aku shalat subuh bermakmum di belakang al-Fudhail. Dia membaca surat al-Hâqah. Ketika tiba pada bacaan: “(Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.” (QS. Al-Hâqoh:30) Al-Fudhail tidak kuasa membendung tangisnya.

Ishaq Ibn Ibrahim at-Thabari berkata: “Aku tidak mengetahui seseorang yang lebih takut terhadap dirinya dan lebih perhatian kepada manusia dari pada al-Fudhail. Bacaan al-Qurannya miris, merindu, perlahan, dan syahdu, seolah sedang berkomunikasi dengan seseorang. Jika lewat pada ayat yang menyebutkan tentang surga, ia mengulang-ulanginya.

Sumber Kesalehan Ibu dan Ayah, Menentukan Kepribadian Anak. islamhouse.com: Potongan artikel 30 Langkah Mendidik Anak Agar Mengamalkan Ajaran Agama. Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi. Terjemah: Syafar Abu Difa. Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad

Hak dan Kewajiban Seorang Isteri Solehah Terhadap Suami

Wahai para wanita yang sedang bertabarruj dengan mengunakan segala perhiasaan yang di milikinya di hadapan manusia bertakwalah kalian kepada Allah, takutlah wahai perempuan yang biasa keluar kepasar tanpa menutupi tubuhnya dengan sempurna, dan siapa saja yang ikut campur baur bersama laki-laki, sehingga mereka bisa bebas memandangimu demikian pula engkau bisa memandangi mereka, bertakwalah wahai wanita kalau sekiranya engkau masih beriman kepada Allah dan beriman pada hari di mana engkau akan berdiri seorang diri di hadapanNya, ketahuilah bahwa semua perbuatanmu tersebut adalah di larang oleh agama. Duhai orang yang sedang naik mobil sendirian hanya berdua bersama sopirnya atau yang masuk ke ruang dokter tanpa di temani mahramnya takutlah engkau kepada Allah. Takutlah duhai wanita yang keluar rumah dengan bersolek tanpa memakai hijab, ketahuilah sesungguhnya bersolek tanpa hijab akan menumbuhkan berbagai macam fitnah, dan menyelisihi perintah Allah dan RasulNya.

Bertakwalah wahai wanita muslimah serta bertaubatlah kepada Allah apabila ada di antara kalian yang mengerjakan salah satu di antara kemungkaran di atas, demi Allah sungguh adzab Allah itu sangatlah pedih.

Wajib bagi tiap wanita muslimah yang masih beriman kepada Allah serta hari akhir untuk menjaga lidahnya, jangan sampai melembutkan suaranya tatkala berbicara bersama laki-laki yang bukan mahramnya, apalagi ngobrol bareng bersama mereka, karena suara perempuan termasuk aurat yang tidak boleh di perdengarkannya pada orang lain yang bukan mahramnya kecuali sebatas kebutuhan yang diperlukan tanpa merendahkan suaranya.

Dan wanita muslimah dilarang melihat lelaki yang bukan termasuk mahramnya kecuali mempunyai alasan yang di bolehkan demikian pula sebaliknya bagi laki-laki juga di larang untuk melihat pada perempuan yang bukan mahramnya tanpa ada udzur syar’i. Maka menjadi suatu kewajiban bagi tiap muslim untuk berhati-hati dalam masalah ini demikian pula wajib baginya untuk selalu mengawasi mahramnya supaya tidak terjatuh ke dalamnya, karena penglihatan merupakan salah satu panah beracun dari panah-panah yang di luncurkan oleh setan. Hak dan kewajiban seorang istri adalah suatu kewajiban bagi seorang istri terhadap suaminya adalah menunaikan hak dan kewajibannya serta menyematkan pada dirinya adab-adab Islam, sebagaimana pembahasan berikut ini.

Hendaknya bagi perempuan yang merasa takut kepada Allah Ta’ala bersungguh-sungguh di dalam mentaati Rasulallah Shalallahu ‘alaih wa sallam, taat kepada suaminya, serta mencari keridhoanya, karena suami adalah surga maupun neraka bagi istrinya, seperti yang pernah di sabdakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” أيما امرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة ” (رواه إبن ماجه والترمذي)

“Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga“. HR Ibnu Majah, dan di hasankan oleh Imam Tirmidzi. Dalam hadits lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إذا صلت المرأة خمسها وصامت شهرها وأطاعت بعلها زوجها فلتدخل من أي أبواب الجنة شاءت ” (رواه أحمد والطبراني)

“Apabila seorang wanita mengerjakan sholat lima waktu, dan berpuasa ramadhan, mentaati suaminya, maka ia akan masuk ke dalam surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki“. HR Ahmad dan Thabrani.

Ta’at kepada suaminya selagi dia tidak menyuruh untuk berbuat maksiat kepada Allah Azza wa jalla, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ ﴾ ( سورة النساء: 34)

“Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”. (QS an-Nisaa’: 34).

Demikian juga berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إذا دعا الرجل امرأته إلى فراشه فلم تأته فبات غضبان عليها لعنتها الملائكة حتى تصبح ” ( رواه البخاري ومسلم)

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya (ungkapan untuk berjima’.pent) kemudian istrinya enggan sehingga suaminya marah kepadanya, maka para malaikat melaknatnya sampai keesokan harinya”. HR Bukhari dan Muslim.

Dan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لو كنت آمرا أحد أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها” (رواه أبو داود والحاكم وصححه الترمذي)

“Kalau seandainya saya boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain tentu akan saya perintahkan perempuan sujud kepada suaminya”. HR Abu Dawud, Hakim dan di shahihkan oleh Imam Tirmidzi.

Menetap di rumah suaminya dan tidak keluar dari rumah melainkan setelah mendapat izin dan di ridhoi olehnya.

Wajib bagi seorang istri selalu berusaha untuk mencari ridho suaminya serta menjauhi segala perkara yang bisa menimbulkan kemarahannya, jangan mencoba menolak manakala diajak untuk berhubungan kecuali kalau memang ia memiliki udzur syar’i, seperti ketika sedang haid maupun nifas, maka kalau keadaanya seperti itu, ia tidak boleh memenuhi ajakan suaminya untuk berhubungan, demikian pula tidak boleh bagi seorang suami untuk menuntut istrinya mau di ajak berhubungan ketika sedang haid dan nifas, dan jangan menjimakinya sampai sekiranya ia telah suci dari haid maupun nifasnya, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ﴾ ( سورة البقرة 222)

“Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhi istrimu di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka, sampai kiranya mereka suci”. (QS al-Baqarah: 222). Maknanya jangan dekati mereka untuk berjima’ sampai terputus darah haid atau nifasnya dan mereka telah mandi suci.

Hendaknya bagi perempuan merasa berada di bawah naungan suaminya, yang tidak bisa seenaknya berbuat, dari segi harta, ia tidak bisa bergerak melainkan setelah mendapat izinnya. Dan agar ia memahami bahwa hak suami lebih dahulukan dari pada haknya dan hak saudara suami lebih dahulukan dari pada hak saudaranya, demikian juga hendaknya ia selalu siap untuk di ajak berhubungan oleh suaminya dengan menggunakan berbagai macam sarana yang bisa menjadikan dirinya bersih, serta menarik, dan jangan merasa lebih cantik sambil menghina kejelekannya, serta jangan sesekali mencelanya di belakang apalagi di hadapannya.

Memelihara serta menjaga kehormatan suaminya dan martabatnya, serta mengatur harta, anak-anak dan seluruh urusan rumah tangga, hal itu berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ ﴾

( سورة النساء 34)

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. (QS an-Nisaa’: 34).

Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” والمرأة راعية على بيت زوجها وولده ومسئولة عن رعيتها ” (رواه البخاري ومسلم)

“Dan perempuan bertanggung jawab atas rumah suami dan anak-anaknya, serta akan di tanya tentang tanggung jawabnya tersebut” HR Bukhari dan Muslim.

Dan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “فحقكم عليهم أن لا يوطئن فرشكم من تكرهون ولا يأذن في بيوتكم لمن تكرهون” (رواه الترمذي)

“Dan hak suami atas kalian (para wanita) adalah tidak berzina serta tidak memasukan orang lain yang ia benci”. HR Tirmidzi beliau berkata hadits hasan shahih.

Wajib bagi wanita, untuk selalu merasa malu terhadap suaminya, menghormati, ta’at pada perintahnya, diam ketika suami sedang berbicara, menjauhi segala perkara yang bisa membuatnya marah, tidak berkhianat kepadanya, baik ketika di tinggal pergi, atau dalam ranjangnya, harta serta rumahnya, dan selalu berbusana yang menarik dan menjaga badan selalu wangi.

Sumber Hak dan Kewajiban Seorang Isteri Solehah Terhadap Suami islamhouse.com. Diambil dari kitab: “Masuliyatul Marah al Muslimah”, Nasehat Bagi Wanita Muslimah. Oleh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah.Terjemah: Abu Umamah Arif Hidayatullah. Editor: Eko Haryanto Abu.

Sebelas Langkah Mendidik Buah Hati

Berusahalah bersikap adil terhadap anak-anak dan berbuat baik kepadanya.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. ” (An-Nahl: 90)

Hindari sikap-sikap dan tindakan yang menjadikan anak mengalami trauma, blocking (mogok), malas atau enggan belajar . Sebaliknya, ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا

“Permudah dan jangan kalian persulit. Gembirakan, dan jangan kalian membuat (mereka) lari .” (HR. Al-Bukhari no. 69)

Berusahalah untuk selalu menghargai niat, usaha dan kesungguhan anak . Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi Allah melihat kepada hati (niat) dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim no. 2564)

Jangan mencaci maki anak karena kegagalannya. Tapi berikan ungkapan-ungkapan yang bisa memotivasi anak untuk bangkit dari kegagalannya. Misal, “Abi tidak marah kok, Ahmad belum hafal surat Yasin. Abi tahu, Ahmad sudah berusaha menghafal. Lain kali, kita coba lagi ya.”

Tidak membentak, memaki dan merendahkan anak. Apalagi di hadapan teman-temannya atau di hadapan umum. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

” Dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik .” (An-Nisa`: 5)

Tidak membuka aib (kekurangan, kejelekan) yang ada pada anak di hadapan orang lain. Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

” Barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, Allah akan menutup (aib) dirinya pada hari kiamat. ” (HR. Al-Bukhari no. 2442)

Pahami anak sebagai individu yang berbeda. Seorang anak dengan yang lainnya memiliki karakter yang berbeda. Memiliki bakat dan minat yang berbeda pula. Karenanya, dalam menyerap ilmu dan mengamalkannya berbeda satu dengan yang lainnya. Sering terjadi kasus, terutama pada pasangan muda, orangtua mengalami “sindroma” anak pertama. Karena didorong idealisme yang tinggi, mereka memperlakukan anak tanpa memerhatikan aspek-aspek perkembangan dan pertumbuhan anak. Misal, anak dipompa untuk bisa menulis dan membaca pada usia 2 tahun, tanpa memerhatikan tingkat kemampuan dan motorik halus (kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan) anak.

فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghabun: 16)

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apabila aku melarangmu dari sesuatu maka jauhi dia. Bila aku perintahkan kamu suatu perkara maka tunaikanlah semampumu.” (HR. Al-Bukhari, no. 7288)

Kata مَا اسْتَطَعْتُم (semampumu) menunjukkan kemampuan dan kesanggupan seseorang berbeda-beda, bertingkat-tingkat, satu dengan lainnya tidak bisa disamakan. Ini semua karena pengaruh berbagai macam latar belakang.

Memberi tugas hendaklah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Jika anak melakukan kesalahan, jangan hanya menunjukkan kesalahannya semata. Tapi berilah solusi dengan memberitahu perbuatan yang benar yang seharusnya dia lakukan. Tentunya, dengan cara yang hikmah. ‘Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata:

كُنْتُ غُلَامًا فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

“Saat saya masih kecil dalam asuhan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya menggerak-gerakkan tangan di dalam nampan (yang ada makanannya). Lantas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatiku, ‘ Wahai ananda, sebutlah nama Allah (yaitu bacalah Bismillah saat hendak makan). Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang ada di sisi dekatmu’ .” (HR. Al-Bukhari no. 5376)

Tidak memanggil atau menyeru anak dengan sebutan yang jelek. Seperti perkataan: “Dasar bodoh!” Ini berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

” Janganlah kalian menyeru (berdoa) atas diri kalian kecuali dengan sesuatu yang baik. Karena, sesungguhnya malaikat akan mengaminkan atas apa yang kalian ucapkan .” (HR. Muslim no. 920)

Perbanyak ucapan-ucapan yang mengandung muatan doa pada saat di hadapan anak. Seperti ucapan:

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

“Semoga Allah memberkahi kalian.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

” Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia .” (Al-Baqarah: 83)

Juga selalu mendoakan kebaikan bagi sang anak, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

” Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa ‘.” (Al-Furqan: 74)

Berusahalah untuk senantiasa berlaku hikmah dalam menghadapi masalah anak . Tidak mengedepankan emosi. Tidak mudah menjatuhkan sanksi. Telusuri setiap masalah yang ada pada anak dengan penuh hikmah, tabayyun (klarifikasi). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا

” Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. ” (Al-Baqarah: 269)

Sumber Sebelas Langkah Mendidik Buah Hati: ebook islamhouse.com Kiat Memperlakukan Buah Hati, Oleh Ayip Syafruddin Abu al Faruq, Terjemahan Eko Haryanto Abu Ziyad

Pengertian dan Hubungan antara Iman Islam dan Ihsan

Suatu ketika malaikat Jibril dalam rupa seorang manusia datang kpd Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam & para shahabat utk mengajarkan tentang pokok-pokok ajaran agama, yaitu Islam, Iman & Ihsan. (Hadis Riwayat: Muslim).

Hadits tersebut kemudian dikenal dgn Hadits Jibril, sebuah hadits yg dipandang oleh para ulama mempunyai posisi yg sangat penting, karena mencakup semua amal baik lahir maupun batin serta menjadi referensi ajaran Islam.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَا الإِيمَانُ قَالَ الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ، قَالَ: مَا الإِسْلاَمُ قَالَ: الإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ، قَالَ: مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتْ الأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ، فِي خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ الآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ (أخرجه البخارى فى: كتاب الإيمان: 37. باب سؤال جبريل النبي ص.م. عن الإيمان والإسلام). مسلم: عن الإيمان: 57. ابو داوود: سنة, 16. ترميذى: الإيمان, 4. ابن ماجه: مقدمة. 9. احمد بن حنبل: 1,27,51, 19,29.

Musaddad telah menceritakan kpd kami, ia berkata bahwa Isma’il ibn Ibrahim telah menceritakan kpd kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur’ah telah menyampaikan kpd kami dari Abu Hurairah r.a berkata: Pada sesuatu hari ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki & bertanya, “apakah iman itu?”. Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “iman adl percaya Allah Subhanahu wa ta’ala, para malaikat-Nya, & pertemuannya dgn Allah, para Rasul-Nya & percaya pd hari berbangkit dari kubur. ‘Lalu laki-laki itu bertanya lagi, “apakah Islam itu? Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam ialah menyembah kpd Allah & tdk menyekutukan-Nya dgn sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yg difardhukan & berpuasa di bulan Ramadhan.” Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah Ihsan itu?” Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kpd Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tdk mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. “Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah hari kiamat itu? “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “orang yg ditanya tdk lbh mengetahui daripada yg bertanya, tetapi saya memberitahukan kepadamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, & jika penggembala onta & ternak lainnya telah berlomba-lomba membangun gedung-gedung megah. Termasuk 5 perkara yg tdk dpt diketahui kecuali oleh Allah, selanjutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Sesungguhnya Allah hanya pd sisi-Nya sajalah yg mengetahui hari kiamat… (ayat).[1] Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kpd para sahabat: “antarkanlah orang itu. Akan tetapi para sahabat tdk melihat sedikitpun bekas orang itu. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda: “Itu adl Malaikat Jibril a.s. yg datang utk mengajarkan agama kpd manusia.” (Hadis Riwayat: Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah & Ahmad bin Hambal).

Islam

Dalam hadits tersebut, Islam dijelaskan dgn penjabaran 5 rukun Islam, yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa & haji.

Syahadat merupakan kesaksian bahwa tiada tuhan yg berhak disembah selain Allah & Nabi Muhammad adl utusan Allah. Shalat merupakan bentuk hubungan vertikal secara langsung antara hamba dgn Sang Khalik. Zakat adl wujud kepedulian sosial terhaadap sesama manusia. Puasa merupakan ujian melawan hawa nafsu. Dan haji adl ajang mempererat ukhuwah islamiyah dgn sesama saudara muslim dari seluruh dunia.

Kelima rukun tersebut merupakan amal lahiriah sbg perwujudan dari makna Islam itu sendiri, yaitu kepasrahan diri secara total kpd Allah. Artinya, kepasrahan sbg makna Islam tdk hanya disimpan dalam hati, melainkan diwujudkan lewat perbuatan nyata yaitu kelima rukun Islam tersebut.

Iman

Iman adl keyakinan dalam hati yg diucapkan oleh lisan & diwujudkan dalam amal perbuatan.

Keyakinan tersebut meliputi enam rukun iman, yaitu iman kpd Allah, malaikat, kitab, nabi & rasul, hari akhir, qadla & qadar.

Keenam rukun iman tersebut adl bentuk amal batiniah sbg wujud pengakuan hati manusia terhadap kebesaran Allah, yg nantinya akan mempengaruhi segala aktifitas yg dilakukan. Manusia adl makhluk dgn segala kelebihan & kekurangan yg ada. Keimanan akan membawa manusia ke titik penyadaran diri sbg hamba Allah yg tunduk di bawah kekuasaan Allah.

Ketika keyakinan terhadap keenam rukun tersebut sudah tertanam dalam hati, maka tentu kita akan berusaha utk menjalani kehidupan sesuai dgn koridor hukum Allah yg pd akhirnya akan membawa ke arah kehidupan yg berkualitas.

Ihsan

Ihsan adl cara bagaimana seharusnya kita beribadah kpd Allah. Rasulullah mengajarkan agar ibadah kita dilakukan dgn cara seolah kita berhadapan secara langsung dgn Allah. Cara ini akan membawa ibadah kita ke maqam (tingkat) yg lbh dekat kpd Allah dgn perasaan penuh harap, takut, khusyu’, ridlo & ikhlas kpd Allah. Perasaan tersebut menjadikan ibadah yg kita lakukan tdk hanya sekadar menjadi kewajiban, tetapi merupakan kebutuhan jiwa dalam penghambaan diri kpd Allah.

Jika cara tersebut belum bisa kita lakukan, maka ibadah kita lakukan dgn keyakinkan bahwa Allah pasti melihat & mengetahui semua yg kita lakukan. Dengan demikian, tentu kita akan berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan perintah & meninggalkan larangan Allah.

Hubungan antara iman islam & ihsan

Islam, Iman & Ihsan adl satu kesatuan yg tdk bisa dipisahkan satu dgn lainnya. Iman adl keyakinan yg menjadi dasar akidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Sedangkan pelaksanaan rukun Islam dilakukan dgn cara ihsan, sbg upaya pendekatan diri kpd Allah.

Untuk mempelajari ketiga pokok ajaran agama tersebut, para ulama mengelompokkannya lewat 3 cabang ilmu pengetahuan. Rukun Islam berupa praktek amal lahiriah disusun dalam ilmu Fiqh, yaitu ilmu mengenai perbuatan amal lahiriah manusia sbg hamba Allah. Iman dipelajari melalui ilmu Tauhid (teologi) yg menjelaskan tentang pokok-pokok keyakinan. Sedangkan utk mempelajari ihsan sbg tata cara beribadah adl bagian dari ilmu Tasawuf.

Oleh: Oleh: Ahmad Muqoddam

Menasihati Isteri dengan Cara yang Baik

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan agar berbuat baik kpd kaum wanita, berlaku lemah lembut & sabar atas segala kekurangannya, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yg paling bengkok.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya: Barangsiapa yg beriman kpd Allah & hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kpd wanita dgn kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk & tulang rusuk yg paling bengkok adl bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiat-lah kpd wanita dgn kebaikan.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5185-5186) & Muslim (no. 1468 (62)), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.]

Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas