Menjaga Akidah Islam dan Menghargai Kebhinekaan demi Masyarakat yang Harmonis dan Sejahtera dalam Bingkai NKRI
Berdalil Mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Dan Khulafaurrasyidin (Prinsip kesembilan)
AdvertisementDan di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah adl bahwa dalam berdalil selalu mengikuti apa-apa yg datang dari Kitab Allah & Sunnah Rasulullah baik secara lahir maupun batin & mengikuti apa-apa yg dijalankan oleh para sahabat dari kaum Muhajirin maupun Anshar pd umumnya & khususnya mengikuti Khulafaurrasyidin sebagaimana wasiat Rasulullah dalam sabdanya:
(( عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ ))
"Berpegang teguhlah kamu kpd sunnahku, & sunnah Khulafaurrasyidin yg mendapat petunjuk"
Dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah tdk mendahulukan perkataan siapapun atas firman Allah & sabda Rasulullah . Oleh karena itu mereka dinamakan Ahlul Kitab was Sunnah.
Setelah mengambil dasar Al Qur'an & As Sunnah mereka mengambil apa-apa yg telah disepakati 'ulama umat ini. Inilah yg disebut dasar ketiga yg selalu dijadikan sandaran setelah 2 dasar yg pertama; yakni Al Qur'an & As Sunnah.
Segala hal yg diperselisihkan manusia selalu dikembalikan kpd Al Kitab & As Sunnah. Allah telah berfirman:
"Maka jika kalian berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah kpd Allah & Rasul-Nya jika kamu benar-benar beriman pd Allah & hari akhir, yg demikian itu adl lbh baik bagimu & lbh baik akibatnya". (Al Qur'an Surat: An Nisa': 59).
Ahlus Sunnah tdk meyakini adanya kema'suman (terpelihara dari berbuat dosa) seseorang selain Rasulullah & mereka tdk berta'assub (fanatik) pd sesuatu pendapat sampai pendapat tersebut bersesuaian dgn Al Kitab & As Sunnah. Mereka meyakini bahwa mujtahid itu bisa salah & benar dalam ijtihadnya. Dan tdk boleh berijtihad sembarangan kecuali mereka yg telah memenuhi persyaratan tertentu menurut ahlul 'ilmi.
Perbedaan-perbedaan di antara mereka dalam masalah ijtihad tdk boleh mengharuskan adanya permusuhan & saling memutuskan hubungan di antara mereka, sebagaimana yg dilakukan oleh orang-orang yg ta'assub (fanatik) & ahli bid'ah. Sungguh mereka tetap mentolerir perbedaan yg wajar, bahkan mereka tetap saling mencinta, loyal satu sama yg lain; sebagian mereka tetap shalat di belakang yg lain betapapun ada perbedaan masalah fiqh di antara mereka. Sedang ahli bid'ah memusuhi, mengkafirkan & menghukumi sesat kpd setiap orang, yg menyimpang dari golongan mereka.
Shaleh Al Fauzan, صالح بن فوزان الفوزان, Penerjemah: Rahmat al-'Arifin Muhammad bin Ma'ruf
Related Posts
New Posts
Categories
- Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’Ah (9)
- Becoming a Muslim (12)
- BMT (10)
- Diinul Haq (9)
- Etika/Adab (16)
- Fiqih Puasa Ramadhan (10)
- Hukum (12)
- Introduction to Islam (15)
- Lembaga Keuangan Syariah (9)
- Mendidik Anak (17)
- Muslim (14)
- Page (11)
- Puasa Ramadhan (14)
- Riba (10)
- Sejarah Islam (16)
- Sejarah Islam di Indonesia (9)
- Sejarah Nusantara (14)
- Sejarah Perkembangan Islam - Jazirah Islam (12)
- Sejarah Rasulullah (11)
- Seputar Haji (11)
- Shalat Tarawih (15)
- Shalat Wajib (10)
- Sholat (10)
- The Amazing Quran (30)
- The Fasting of Ramadan (10)
- الزكاة (9)
- الصيام (11)
- الفقهي (13)
- صلاة (18)
- كتاب الحج (11)

Komentar (0)