Mozaik Islam

Memusatkan Pikiran untuk Melakukan Pekerjaan Hari Ini dan Tidak Dihantui oleh Pikiran-Pikiran Masa Depan atau Kesedihan Masa Lalu

Termasuk yg dpt mengusir perasaan cemas & gelisah adl memusatkan semua pikiran utk mengerjakan sebuah pekerjaan pd hari ini & memutuskan diri dari pikiran-pikiran yg akan datang serta kesedihan atas waktu-waktu yg lalu. Karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari Al-Hamm & Al-Hazn. Al-Hazn adl perkara-perkara yg telah lalu yg tdk mungkin diulang & didapati kembali, sedangkan Al-Hamm adl sesuatu yg diakibatkan oleh ketakutan pd masa yg akan datang. Maka hendaklah seseorang menjadi manusia hari ini, mengerahkan sekuat tenaga kesungguhannya dalam memperbaiki hari & waktunya saat ini.

Memusatkan pikiran dalam masalah ini juga dpt menyempurnakan sebuah perbuatan, di samping menjadi penawar kesedihannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berdoa atau mengajarkan umatnya utk berdoa, maka dia juga menganjurkan utk minta pertolongan & keutamaan kpd Allah ta’ala atas kesungguhannya dalam mewujudkan apa yg dia mohonkan dalam doa-doanya. Dan juga meninggalkan setiap yg tdk diinginkan dalam doa-doanya karena doa seharusnya sesuai dgn amal perbuatan. Seorang hamba yg bersungguh-sungguh utk mendapatkan apa yg bermanfaat baginya dalam urusan agama & dunia akan memohon kpd Rabb-nya kesuksesan yg diinginkannya. Dan dia minta tolong kepada-Nya atas hal tersebut:

(( اِحْرِصْ عَلَى مَايَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجَزْ، وَإِذَا أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ))

“Berusahalah utk meraih apa yg bermanfaat untukmu, mintalah pertolongan Allah & janganlah engkau lemah. Jika ada sesuatu yg menimpamu, maka jangan engkau katakan: Seandainya saya kerjakan ini niscaya akan jdi begini & begitu, akan tetapi katakanlah bahwa Allah yg telah menetapkannya, apa yg Dia kehendaki Dia perbuat. Karena sesungguhnya (kata-kata) “seandainya” membuka peluang bagi perbuatan syetan.” (Hadis Riwayat: Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam -dalam hadits diatas- menggabungkan antara perintah utk berupaya mendapatkan manfaat dalam setiap keadaan dgn perintah meminta pertolongan kpd Allah serta tdk tunduk terhadap kelemahan, yaitu kemalasan yg merugikan & menyerah terhadap perkara-perkara yg telah berlalu serta menyaksikan ketetapan Allah & ketentuannya.

Beliau juga menjadikan sebuah perkara menjadi 2 bagian: Bagian dimana seorang hamba memungkinkan baginya utk meraihnya atau meraih apa yg mungkinkan baginya, atau menolaknya atau meringankannya, maka dalam hal ini seorang hamba harus memperlihatkan kesungguhannya & minta tolong kpd Rabb-nya.

Bagian lain adl bagian yg tdk mungkin utk itu, maka pd hal tersebut seorang hamba harus tenang, ridha & pasrah. Tidak diragukan lagi bahwa berpedoman dgn kaidah ini merupakan penyebab datangnya kesenangan & hilangnya rasa gundah & resah.

Abdur Rahman bin Nasir As-Sa’di, Terjemahan: Abdullah Haidir, Lc

Sibuk dengan Ilmu atau Pekerjaan yang Bermanfaat

Termasuk hal yg dpt mengusir kegundahan yg timbul dari kegamangan jiwa karena hati disibukkan oleh urusan-urusan yg memberatkan adl dgn menyibukkan diri dgn sebuah pekerjaan atau mendalami ilmu yg bermanfaat. Dengan begitu dia akan melupakan apa yg selama ini membebani dirinya & yg selama ini membuatnya gelisah. Maka kemudian jiwanya menjadi tenang, semangatnya bertambah.

Sebab ini juga dpt terjadi pd diri seorang beriman atau yg bukan beriman. Akan tetapi orang beriman memiliki kelebihan karena keikhlasan & harapan akan pahala dari apa yg menyibukkan dirinya, berupa ilmu yg dipelajari atau yg diajarkan, begitu juga dgn kebaikan yg dikerjakan. Jika hal tersebut berbentuk ibadah maka nilainya adl ibadah, jika merupakan kesibukan atau kebiasaan dunia maka dia mengiringinya dgn niat yg shalih & membantunya dalam beribadah kpd Allah. Hal tersebut sangat efektif dalam mengusir kesedihan & keluh-kesah.

Betapa byk orang yg dirundung duka & gelisah sehingga dia ditimpa penyakit yg bermacam-macam, maka obat mujarabnya adl “melupakan sebab-sebab yg selama ini mengganggunya & membuatnya gelisah serta menyibukkan diri dgn pekerjaan & tugas-tugas”.

Dianjurkan agar perbuatan yg menyibukkan dirinya adl yg sesuai dgn seleranya & disenangi jiwanya, maka dgn begitu lbh memungkinkan utk mendatangkan manfaat yg dia maksudkan. Wallahua’lam.

Abdur Rahman bin Nasir As-Sa’di, Terjemahan: Abdullah Haidir, Lc

Berbuat Baik Kepada Sesama Makhluk dengan Ucapan dan Perbuatan

Termasuk yg dpt mengusir perasaan gundah & gelisah adl berbuat baik kpd sesama makhluk dgn ucapan, perbuatan serta berbagai bentuk kebajikan.

Dengan kebaikan tersebut Allah akan menghilangkan kesusahan baik dari orang beriman ataupun orang kafir sesuai kadar kebaikannya. Akan tetapi orang beriman memiliki bagian yg lbh sempurna. Karena perbedaannya bersumber dari keikhlasan & harapan akan pahala Allah ta’ala. Dengan modal tersebut Allah ringankan baginya dalam mengerahkan tenaga utk berbuat baik karena ada kebaikan yg ingin diraih, Allah juga ringankan baginya dalam mencegah keburukan dgn penuh ikhlas & harap akan pahala dari Allah ta’ala.

“Tidak ada kebaikan pd kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yg menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yg berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yg besar” (An-Nisa: 114).

Allah ta’ala telah mengabarkan bahwa semua perkara yg disebutkan dalam ayat di atas adl kebaikan, & kebaikan selalu mendatangkan kebaikan berikutnya & menolak keburukan. Seseorang yg berharap dari Allah ta’ala akan selalu Allah berikan kepadanya pahala yg byk, diantaranya: hilangnya perasaan gundah & gelisah & kesulitan hidup lainnya.
Abdur Rahman bin Nasir As-Sa’di, Terjemahan: Abdullah Haidir, Lc

Beriman Kepada Allah dan Beramal Shaleh

Sarana yg paling utama & paling mendasar dalam masalah ini adl beriman kpd Allah & beramal Shaleh. Firman Allah ta’ala:

“Barangsiapa yg mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yg baik & sesungguhnya Kami beri balasan kpd mereka dgn pahala yg lbh baik dari apa yg telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Allah ta’ala mengabarkan & menjanjikan bagi siapa saja yg menggabungkan antara iman & amal shaleh dgn kehidupan yg baik di dunia ini serta balasan kebaikan di dunia & akhirat.

Sebabnya jelas, karena orang-orang yg beriman kpd Allah ta’ala dgn iman yg benar & berbuat amal shaleh yg dpt memperbaiki hati, akhlak, dunia & akhirat, mereka memiliki pijakan & landasan tempat menerima semua apa yg datang kpd mereka, baik yg berbentuk kebahagiaan & kesenangan atau penderitaan & kesedihan.

Jika mereka mendapatkan sesuatu yg dicintai & disenangi, mereka menerimanya dgn rasa syukur serta menggunakannya sesuai fungsinya, & jika mereka menggunakannya atas dasar tersebut maka timbullah perasaan gembira seraya berharap agar kebaikan tersebut tetap ada padanya & mengandung berkah serta berharap teraihnya pahala karena dia termasuk orang-orang yg mensyukurinya. Semua itu merupakan perkara yg agung yg nilai & berkahnya melebihi kebaikan itu sendiri sekaligus merupakan buahnya.

Mereka juga menghadapi keburukan & kesulitan sesuai kemampuan yg mereka miliki, memperkecil semampunya, sabar terhadap apa yg tdk mungkin mereka hindari. Dengan demikian, kesulitan-kesulitan tersebut memberikan mereka pengalaman & kekuatan bagaimana menghadapi masalah. Sabar & berharap pahala atas apa yg dialami, berdampak sangat besar atas hilangnya kesulitan, berganti dgn kemudahan & harapan yg baik, keinginan akan karunia Allah & ganjaran-Nya, sebagaimana yg digambarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahihnya:

(( عَجَباً لأَمْرِ الـمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ وَلَيْسَ ذَلِكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ ))

“Sesungguhnya perkara seorang mu’min itu menakjubkan, karena semua perkara yg dialaminya adl baik; jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu lbh baik baginya, jika mengalami kesulitan dia bersabar, maka hal itu lbh baik baginya, & hal seperti itu tdk terdapat kecuali pd diri seorang mu’min.” (Hadis Riwayat: Muslim).

Dalam hadits tersebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa seorang mu’min akan berlipat-lipat kebaikan & buah amalnya atas setiap apa yg dialaminya.

Karena itu anda akan mendapatkan 2 orang yg mengalami hal serupa baik berupa kebaikan ataupun keburukan, akan tetapi ada perbedaan yg besar di antara keduanya dalam menerimanya. Hal tersebut dpt terjadi, karena berbedanya iman & amal shaleh pd keduanya.

Yang pertama menerima kebaikan & keburukan sebagaimana yg telah kita sebutkan, yaitu dalam bentuk syukur & sabar dgn segala konsekwensinya. Sehingga lahir pd dirinya perasaan bahagia & senang, hilangnya rasa gundah gulana, perasaan tdk tenang, kesempitan dada & kehidupan sengsara, semuanya berganti dgn kehidupan bahagia di dunia ini.

Sementara yg lain menerima kesenangan dgn sombong & melampaui batas. Akhlaknya menyimpang sehingga dia menerimanya bagaikan hewan rakus yg kelaparan, namun demikian hatinya tetap tdk tenang, bahkan gelisah dari berbagai sisi, dari sisi ketakutan akan hilangnya sesuatu yg dicintainya, dari byk nya pertikaian yg biasanya tumbuh dari hal tersebut, dari sisi jiwanya yg tdk puas-puasnya, bahkan menginginkan hal-hal lainnya yg mungkin dpt dia raih ataupun tidak. Walaupun seandainya dpt diraihnya, itupun akan mengakibatkan kegelisahan dari berbagai sisi yg telah disebutkan tadi.

Adapun jika mendapatkan kesulitan, dia menerimanya dgn panik, ketakutan & tdk tenang. Jika demikian halnya, maka jangan tanya lagi bagaimana sempit kehidupannya, byk pikiran & tegang, ketakutan yg dpt mengakibatkan kondisi lbh buruk & lbh parah lagi. Karena semua itu tdk dihadapi dgn mengharap pahala dari Allah, juga tdk dgn kesabaran yg dpt menghiburnya & meringankan penderitaannya.

Semua itu dpt disaksikan lewat pengalaman. Satu contoh, jika anda renungkan & anda kaitkan dgn realita yg ada, maka akan anda dapatkan perbedaan yg besar antara seorang mu’min yg mengamalkan semua tuntutan keimanannya dgn mereka yg tdk seperti itu. Hal itu karena agama menyeru manusia utk qana’ah (merasa cukup) rizki Allah & semua yg dialami seorang hamba dari keutamaan & karunia-Nya yg bermacam-macam.

Seorang mu’min jika ditimpa penyakit atau kefakiran atau musibah lainnya dimana setiap orang memiliki kemungkinan itu, lalu dgn keimanannya dia akan menerimanya dgn qana’ah & ridha atas pemberian Allah kepadanya, maka hatinya menjadi tenang, tdk menuntut sesuatu yg dia tdk mampu utk meraihnya, dirinya selalu melihat orang yg di bawahnya (yang lbh menderita dari dia) & tdk melihat orang yg di atasnya (yang lbh senang darinya), bahkan bisa jdi dia semakin bertambah senang & gembira jika melihat orang-orang yg dpt meraih keinginan-keinginan dunianya namun tdk memiliki sifat qana’ah atas semua itu.

Begitu juga akan anda dapatkan orang-orang yg tdk mejalankan nilai-nilai keimanan, manakala mendapatkan cobaan seperti kefakiran atau luputnya sebagian dari keinginan duniawinya, dia sangat putus asa & menderita.

Kasus lainnya: Ketika sebab-sebab ketakutan & kekalutan menghinggapi manusia, maka akan anda dapati orang yg imannya benar, hatinya akan mantap, jiwanya tenang, teguh dalam mencari penyelesaian serta menyelesaikan masalah yg menimpanya tersebut dgn keluasan yg dimilikinya berupa pemikiran, perkataan & perbuatan. Dirinya telah kokoh menghadapai gangguan yg menimpa. Kondisi seperti ini akan membuat seseorang tenang & hatinya mantap.

Sebagaimana akan anda dapatkan orang yg tdk memiliki keimanan, mengalami kondisi sebaliknya. Jika mengalami ketakutan, hatinya menjadi tdk tenang, emosinya tdk tekontrol, pikirannya kacau-balau & ketakutan menjalar dalam dirinya. Sehingga dalam dirinya terkumpul ketakutan luar-dalam yg sulit utk diungkapkan. Orang semacam ini jika belum pernah mendapatkan latihan yg byk dalam mengatasi permasalahan berdasarkan sebab-sebab alami, akan meruntuhkan kekuatan & kejiwaannya, karena ketiadaan iman yg mengarahkannya kpd kesabaran, khususnya dalam kondisi terdesak & sangat menyedihkan atau menakutkan.

Orang baik & orang jahat, orang beriman & orang kafir punya kemungkinan yg sama dalam mewujudkan keberanian & naluri utk memperkecil ketakutan, akan tetapi orang beriman memiliki kelebihan berupa kekuatan iman, kesabaran & tawakkal kpd Allah, berpegang teguh kepada-Nya & mengharapkan pahala dari Allah ta’ala, semua itu akan menambah keberaniannya, meringankan beban ketakutannya & memperkecil pengaruh musibah. Sebagaimana Allah berfirman:

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah, apa yg tdk mereka harapkan.” (An-Nisa: 104).

Mereka juga akan mendapatkan pertolongan & bantuan khusus dari Allah ta’ala yg dpt menghilangkan ketakutan:

“Dan bersabarlah kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yg sabar.” (Al-Anfal: 46).

Abdur Rahman bin Nasir As-Sa’di, Terjemahan: Abdullah Haidir, Lc

صفات المؤمنين – Sifat Orang Beriman

Segala puji bagi Allah Yang Tinggi:

قال الله تعالى:﴿ الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى فَجَعَلَهُ غُثَاء أَحْوَى ﴾

“Yang menciptakan & menyempurnakan (penciptaan-Nya). & yg menentukan kadar (masing-masing) & memberi petunjuk, & yg menumbuhkan rumput-rumputan, lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman“. Al Qur’an Surat: Al-A’la: 2-5.

قال الله تعالى:﴿ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى وَإِن تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى ﴾

“Kepunyaan-Nya-lah semua yg ada di langit, semua yg di bumi, semua yg di antara keduanya & semua yg di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia & yg lbh tersembunyi“. Al Qur’an Surat: Thaha: 6-7.

Aku memuja Allah Yang Maha Suci, Raja Yang Maha Benar & Nyata, Yang bersemayam di atas Arasy & memiliki kerajaan. Rahmat & ilmuNya meliputi segala sesuatu. Dan kepadaNya-lah orang-orang yg berakal & berilmu memanjatkan segala btnuk pujian. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yg berhak disembah dgn sebenarnya kecuali Allah, yg tiada sekutu bagiNya, Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yg rahasia & tersembunyi.

قال الله تعالى:﴿ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴾

“Tiada pembicaraan rahasia antara 3 orang, melainkan Dia-lah yg keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) 5 orang, melainkan Dia-lah yg keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yg kurang dari itu atau lbh byk, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kpd mereka pd hari kiamat apa yg telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Al Qur’an Surat: Al-Mujadilah: 7

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adl hamba & RasulNya, yg menyeru kpd ketaqwaan. Beliau adl orang yg paling mengenal tuhannya, paling baik dalam beribadah & taat pd perintah Tuhannya, itulah jalan petunjuk yg diberikan kepadanya. Tidak ada jalan kebikan kecuali dia menunjukkan umatnya pd jalan tersebut & tdk ada jalan keburukan kecuali beliau memperingatkan umatnya agar mereka tdk tenggelam padanya. Maka sangat pantas jika taat kpd Rasulullah disejajarkan dgn taat kpd Allah, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى:﴿ مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ﴾

“Barang siapa yg menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yg berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tdk mengutusmu utk menjadi pemelihara bagi mereka“. Al Qur’an Surat: Al-Nisa’: 80.

Ya Allah!, curahkanlah shalawat & salam kpd hambaMu & RasulMu, Muhamad & kpd keluarga serta seluruh para shahabatnya, sbg mercusuar dalam bidang ilmu & petujnjuk, menara keadilan & ketaqwaan, mereka adl shahabat terbaik yg membenarkan Rasulullah, mengikuti sunnah beliau & menjalankan ajaran beliau baik perintah beliau, atau perbuatan & amal beliau. Allah Yang Maha Tinggi memuji mereka di dalam firmanNya:

قال الله تعالى:﴿ مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ﴾

“Muhammad itu adl utusan Allah & orang-orang yg bersama dgn dia adl keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk & sujud mencari karunia Allah & keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pd muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat & sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yg mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia & tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kpd orang-orang yg beriman & mengerjakan amal yg saleh di antara mereka ampunan & pahala yg besar.” Al Qur’an Surat: Al-Fath: 29.

Amma Ba’du

Wahai sekalian manusia bertqwalah kpd Allah dgn sebenar-benar taqwa, & sadarilah pengwasan Allah dgn kesadaran sebenar-benarnya, kesadaran orang yg memang mendengar & melihat peringatan. Disebutkan di dalam hadits riwayat Abdullah bin Umar semoga Allah meredhai keduanya: bahwa seorang lelakai yg berwibawa & tanang masuk kpd Rasulullah shallallau alaihi wa sallam pd saat kami sedang duduk-duduk di sisinya lalu lelaki tersebut bertanya kepadanya: “Wahai Muhammad apakah iaman itu?. Rasulullah shallallau alaihi wa sallam menjawab: Iman adl engkau beriman kpd Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul & hari akhir & beriman kpd qodar Allah, yg baik & yg buruk”. Orang tersebut berkata: Engkau benar. Kamipun terheran-heran dgn pertanyaan & pembenaran yg diucapakannya. Kemudian dia bertanya kembali: Apakah yg dimasud dgn ihasan?. Beliau menjawab: Engkau menyembah Allah sakan-akan dirimu melihatNya & jika engkau tdk melihatNya maka sungguh Dia telah melihatmu. Sang penanya berkata kembali: Engkau benar, maka kamipun semakin terheran-heran dgn pertanyaannya & pembenarannya. Kemudian dia bertanya kemabli: Wahai Muhammad kapankah kiamat itu terjadi: Rasulullah shallallau alaihi wa sallam menajwab: Tidaklah orang yg ditanya lbh megetaui dari orang yg ditanya. Kemudian lelaki tersebut pergi, lalu Rasulullah shallallau alaihi wa sallam bertanya kpd kami: Apakah kalian megetahui siapakah yg datang tadi?. Kami menjawab: Allah & RasulNya yg lbh mengetahuinya. Rasulullah shallallau alaihi wa sallam Menjawab: Ini adl Jibril dia datang guna mengajarkan kpd kalian tentang perkara agama kalian”. Hadis Riwayat: Muslim.

Renungkanlah hadits ini & hadits-hadits yg lainnya & ketahuilah bahwa terlalu lama kalian telah berpaling dari berita besar baik karena merasa berat & atau karena kebodohan & sibuk dgn harta dunia yg rendah, sehingga kalian justru lbh mememntingkan perkara yg memalingkan kalian dari jalan yg lurus & jalan petunjuk.

Dahulau, para salafus shaleh menyembah Allah sekan-akan mereka melihatNya, namun jika mereka tdk meilhatNya maka mereka tetap ikhlas dalam beribadah, bersyukur terhadap nikmat-nikmatNya, takut kepadaNya sebab Allah senantiasa melihat mereka.

Sesungguhnya perumpamaan keimanan di dalam sanubari seorang muslim sama seperti pohon yg baik, menghasilkan buah yg baik, & amal shaleh adl buah dari keimanan, yg akar-akarnya telah tumbuh di dalam qalbu para salafus saleh & tumbuh subur di dalam hati setiap orang yg beriman setelah mereka, sehingga dengannya mereka disifati dgn sifat keberuntungan yg paling tinggi, seperti yg disebutkan di dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى:﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴾

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yg beriman, (yaitu) orang-orang yg khusyuk dalam salatnya, & orang-orang yg menjauhkan diri dari (perbuatan & perkataan) yg tiada berguna, & orang-orang yg menunaikan zakat, & orang-orang yg menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yg mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yg di balik itu maka mereka itulah orang-orang yg melampaui batas. Dan orang-orang yg memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) & janjinya, & orang-orang yg memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yg akan mewarisi, (yakni) yg akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Al Qur’an Surat: Al-Mu’minun: 1-11.

Allah Subahnahu Wa Ta’ala menyebutkan pd pembukaan amal saleh mereka bahwa mereka khusyu’ di dalam shalat mereka. Khsyu’an mereka bersemayam di dalam hati mereka & tercermin di dalam amal mereka. Mereka menundukkan pandangan mereka, menjaga lisan mereka dari perkataan yg sia-sia, menunaikan hak Allah pd harta mereka, menjaga kemaluan mereka, menepati janji-janji mereka & menunaikan amanah mereka. Mereka meyakini bahwa shalat adl tiang agama, Yang membedakan mereka dgn yg selain mereka adl penyebutan awal tentang mereka dgn kata sifat, yaitu khusyu’ dalam shalat, lalu menyebut sifat mereka dgn keteguhan menjealankan shalat, bersabar atasnya, menunaikan shalat tepat pd waktunya, secara berurtan tanpa terputus-putus, maka dengannya mereka berhak mendapat surga Firdaus, di mana mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Sungguh benar Rasulullah shallallau alaihi wa sallam di dalam sebuah sabdanya ketika beliau melihat seorang lelaki yg sedang mempermainkan jenggotanya saat shalat: Seandainya hatinya khusyu’ dalam shalat maka anggota badannyapun juga ikut khusyu'”. Hadis Riwayat: Al-Hakim & Al-Turmudzi.

Dan sabda Rasulullah shallallau alaihi wa sallam: Bagaimanakah pendapat kalian jika sebuah sungai mengalir di depan pintu salah seorang dari kalian & dia mandi padanya 5 kali sehari apakah ada dari dakinya yg tersisa. Para shahabat menajwab: Tidak wahai Rasulullah, tdk akan tersisa sedikitpun dari dakinya pd badannya. Lalu Rasulullah shallallau alaihi wa sallam bersabda: Demikianlah dgn shalat yg 5 waktu Allah menghapuskan dosa & kesalahan dengannya”. Muttafaq Alaihi.

Bertaqwalah wahai para hamba Allah & ikutilah jejak orang-orang shaleh, arahkanlah segala upaya utk taat kpd Allah, maka dengannya kalian akan menjadi orang beriman yg beruntung dgn mendapat surga na’im & ingatlah hari di mana setiap makhluk menghadap Allah & setiap mereka mendapatkan balasan masing-masing, & janganalah kalian menjadi orang yg berpaling dari mengingat Allah & tdk menghendaki kecuali kehidpan dunia, bahkan kalian harus menjadi seperti orang yg difirmankan oleh Allah Subahnahu Wa Ta’ala:

قال الله تعالى:﴿ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ وَأَخْبَتُواْ إِلَى رَبِّهِمْ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yg beriman & mengerjakan amal-amal saleh & merendahkan diri kpd Tuhan mereka, mereka itu adl penghuni-penghuni surga mereka kekal di dalamnya.“. Al Qur’an Surat: Hud: 23.

قال الله تعالى:﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴾

“Hai manusia, bertakwalah kpd Tuhanmu & takutilah sesuatu hari yg (pada hari itu) seorang bapak tdk dpt menolong anaknya & seorang anak tdk dpt (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adl benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, & jangan (pula) penipu (syetan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah. Sesungguhnya Allah, hanya pd sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; & Dia-lah Yang menurunkan hujan, & mengetahui apa yg ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yg dpt mengetahui (dengan pasti) apa yg akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yg dpt mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“. Al Qur’an Surat: Luqman: 33-34.

Semoga Allah memberikan keberkahannya bagiku & bagi kalian semua di dalam Al-Qur’an yg mulia, & Allah memberikan manfaat bagiku & bagi kalian dgn ayat-ayat Allah Yang Maha Bijaksana yg tertera di dalamnya. Hanya inilah yg bisa aku katakan & aku memohon ampunan bagi diriku & bagi kalian serta seluruh kaum muslimin kpd Allah yg Maha Mulia dari segala dosa. Mohonlah ampun kepadaNya & bertaubatlah kpd Allah, sebab Dia adl Zat Yang Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah Kedua

Segala puji bagi Allah Yang Maha Tinggi, yg telah menciptakan & menyempurnakan ciptaanNya, Yang telah menentukan & memberikan petunjuk, aku bersaksi bahwa tiada tuhan yg berhak disembah selain Allah semata yg tiada sekutu bagiNya, & aku bersaksi bahwa Muhammad adl hamba & utusanNya, semoga Allah mencurahkan shalawat & kesejahteraan yg besar kpd beliau & kpd para shabat & pengkut beliau yg kembali memnundukkan diri di hadapan Allah & berseserah diri dgn sebenarnya.

Amma Ba’du:

Wahai para hamba Allah, bertaqwalah kalian kpd Allah & ketahuilah bahwa karena keimanan adl dasar setiap kebaikan & keberuntungan di dunia & akherat, & orang yg kehilangan iman akan kehilangan segala kebaikan dalam agama & dunia serta akherat, karenanya Allah sering menyebutnya di dalam Al-Qur’an baik dalam bentuk perintah utk menjaganya atau melarang perkara yg menjadi lawannya, anjuran & penjelasan tentang sifat-sifat orang yg beriman & balasan mereka baik di dunia atau akherat.

Allah mensifati orang-orang yg beriman di dalam kitabNya dgn prilaku mereka yg membenarkan & tunduk kpd aqidah yg menjadi landasan agama ini, mencintai apa yg dicintai & diredhai Allah & mengamalkan perintah Allah, serta menjauhi & waspada terhadap segala perkara yg dimurkai oleh Allah dgn kembali & taubat kepadaNya dalam segala keadaan. Dan keimanan mereka membuahkan hasil yg baik dalam amal & akhlak mereka.

Allah mensifati orang-orang yg beriman dgn sikap mereka yg taat, mendengar perintah & tunduk baik secara lahir & batin terhadap perintah Allah & RasulNya. Allah mensifati mereka bahwa badan mereka mereka gemetar, mata-mata mereka menumpahkan air mata, hati mereka luluh & tenang saat mendengar ayat-ayat Allah & mengingat Allah, & mereka takut kpd Allah dalam keadaan rahasia & terang-terangan, serta mereka dikaruniakan nikmat sementara hati mereka takut & mereka kembali kpd Tuhan mereka.

Allah mensifati mereka dgn sifat khusyu’ dalam segala kondisi mereka & di dalam shalat secara khusus, mereka memalingkan diri mereka dari perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kemaluan mereka kecuali atas istri-istri mereka atau budak-budak milik mereka serta mereka menjaga amanah & perjanjian mereka.

Allah menyifati mereka dgn sifat di mana mereka berjalan di muka bumi dgn tenang, apabila orang-orang bodoh mencomooh, maka mereka menjawabnya dgn kata-kata yg baik, mereka melalui malam-malam mereka dgn sujud & berdiri dalam ibadah, mereka moderat, bersikap pertengahan dalam segala keadaan hidup mereka, dalam urusan membelanjakan harta mereka tdk boros, & tdk pula pelit namun di antara keduanya, & mereka tdk mempersekutukan Allah, tdk membunuh jiwa kecuali dgn hak, tdk berzina, tdk bersaksi bohong, & apabila melewati kumpulan yg sia-sia maka mereka melewatinya dgn sikap mulia, & apabila mereka diingatkan dgn ayat-ayat Allah maka tdk tesungkur dgn tuli & buta namun mereka tunduk tersungkur bersujud & menangis, mereka disifat dgn iman yg sempurna yg tdk ada keraguan padanya, berjihad dgn harta & jiwa mereka di jalan Allah, & Allah juga mensifati mereka dgn ikhlas kpd Allah dalam segala perkara yg mereka kerjakan & tinggalkan.

Inilah sifat-sifat orang beriman yg mulia, sifat orang beriman yg sebenarnya, yg akan selamat dari segala sebab-sebab siksa & berhak mendapat pahala yg baik, memperoleh setiap kebaikan sbg balasan keimanan.

Inilah yg bisa aku sampaikan, ucapkanlah shalawat & salam kpd Rasul yg membawa peringatan berita gembira, sebagaimana yg diperintahkan oleh Allah di dalam firmanNya:

قال الله تعالى:﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ﴾

“Hai orang-orang yg beriman, bersalawatlah kamu utk Nabi & ucapkanlah salam penghormatan kepadanya“. Al Qur’an Surat: Al-Ahzab: 56

Muhammad bin Abdullah bin Mu’aidzir, Terjemah: Muzaffar Sahidu

Doa Ketika Melihat Hilal

Apakah ada doa khusus dari Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bagi yg melihat hilal? Dan apakah boleh bagi yg mendengar beritanya berdoa dgn doa itu sekalipun tdk melihatnya?

Jawaban

Ada. Doanya:

اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ.. هلال خير ورشد

[Allahu akbar. Allahumma ahillahu ‘alaina bil amni wal iman wassalâmati wal islâm wa taufîqi limâ yuhibbu rabbuna wayardha rabbuna warobbukallah, hilâl khairin wa rusydin]

“Allah Maha Besar. Wahai Allah, tampakkanlah dia dgn aman & iman, dgn keselamatan & islam, dgn taufik kpd apa yg engkau cintai & ridai. Tuhan kami & Tuhanmu adl Allah, hilal kebaikan & pentunjuk.”

Ada 2 hadits yg meriwayatkan doa ini dari Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-. Yang nampak adl bahwa doa ini tdk dibaca kecuali ketika melihatnya. Adapun orang yg mendengarnya & tdk melihatnya tdk disyariatkan baginya membaca doa ini.

Oleh: Muhammad Ibn Saleh al-Utsaimin

Nuzulul Qur’an

Nuzulul Qur’an yg secara harfiah berarti turunnya Al Qur’ann adl istilah yg merujuk kpd peristiwa penting penurunan wahyu Allah pertama kpd nabi & rasul terakhir agama Islam yakni Nabi Muhammad SAW.

Wahyu pertama yg diturunkan kpd Nabi Muhammad adl surat Al Alaq ayat 1-5 yg bila diterjemahkan menjadi:

1. Bacalah dgn (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, & Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dgn perantaran kalam
5. Dia mengajar kpd manusia apa yg tdk diketahuinya

Saat wahyu ini diturunkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di Gua Hira, ketika tiba-tiba Malaikat Jibril datang menyampaikan wahyu tersebut. Adapun mengenai waktu atau tanggal tepatnya kejadian tersebut, terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, sebagian menyakini peristiwa tersebut terjadi pd bulan Rabiul Awal pd tanggal 8 atau 18 (tanggal 18 berdasarkan riwayat Ibnu Umar), sebagian lainnya pd bulan Rajab pd tanggal 17 atau 27 menurut riwayat Abu Hurairah, & lainnya adl pd bulan Ramadhan pd tanggal 17 (Al-Bara’ bin Azib),21 (Syekh Al-Mubarakfuriy) & 24 (Aisyah, Jabir & Watsilah bin Asqo’ )

Surah Al-‘Alaq

Surah Al-‘Alaq (bahasa Arab:العلق, “Segumpal Darah”) adl surah ke-96 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 19 ayat & termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Ayat 1 sampai dgn 5 dari surah ini adl ayat-ayat Al-Quran yg pertama diturunkan, yaitu di waktu Nabi Muhammad bersemedi di gua Hira. Surah ini dinamai Al ‘Alaq (segumpal darah), diambil dari perkataan Alaq yg terdapat pd ayat 2 surat ini. Surat ini dinamai juga dgn Iqra atau Al Qalam.

Perintah membaca lingkungan alam semesta utk menemukan siapa sebernya tuhan; ersurat dalam Surat Al alaq: manusia dijadikan dari segumpal darah; Allah menjadikan kalam sbg alat mengembangkan pengetahuan; manusia bertindak melampaui batas karena merasa dirinya serba cukup; ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yg menghalang-halangi kaum muslimin melaksanakan perintah-Nya.

Surat Al ‘Alaq menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia dari benda yg hina kemudian memuliakannya dgn mengajar membaca, menulis & memberinya pengetahuan. Tetapi manusia tdk ingat lagi akan asalnya, karena itu dia tdk mensyukuri nikmat Allah itu, bahkan dia bertindak melampaui batas karena melihat dirinya telah merasa serba cukup.

wikipedia.com

Melihat Hilal Tetapi Tidak Dapat Menyampaikannya Kepada Pemerintah

Jika seseorang yakin akan masuknya Ramadhan setelah melihat hilal tetapi tdk dpt menyampaikannya kpd pemerintah, apakah wajib baginya berpuasa?

Jawaban

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Di antara mereka ada yg mengharuskannya puasa, sebagian lagi ada yg mengatakan tdk mengharuskannya. Berdasarkan pd apakah hilal itu dikatakan hilal jika sudah nampak & tersebar beritanya di antara manusia, atau hilal itu cukup apa yg terlihat setelah matahari tenggelam, sama saja apakah tersebar di tengah masyarakat atau tidak.

Yang kuat menurut saya, siapa yg melihatnya dgn yakin & berada di tempat terpencil, di mana tdk ada seorang pun turut serta melihat atau memperhatikan, maka dia harus berpuasa sebagaimana keumuman firman Allah -ta’âla-:

“…Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pd bulan itu…” (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 185)

Dan sabda Nabi -shalallahu alaihi wasallam-:

إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا

“Jika kalian melihat hilal awal Ramadhan maka berpuasalah..”

Tetapi jika dia tinggal di tengah masyarakatnya & mempersaksikannya kpd pemerintah tetapi ditolak, dalam hal ini dia berpuasa secara diam-diam agar tdk nampak menyelisihi orang byk.

باب في أحكام الجهاد

بسم الله الرحمن الرحيم

شرع الله الجهاد في سبيله لإعلاء كلمته ونصرة دينه ودحر أعدائه, وشرعه ابتلاء واختبارا لعباده, ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ والجهاد في سبيل الله له الأهمية العظيمة في الإسلام, فهو ذروة سنام الإسلام, وهو من أفضل العبادات, وقد عده بعض العلماء ركنا سادسا من أركان الإسلام. والجهاد في سبيل الله مشروع بالكتاب والسنة والإجماع, قال تعالى: كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وفعله النبي صلى الله عليه وسلم وأمر به وقال صلى الله عليه وسلم: من مات ولم يغز ولم يحدث نفسه بالغزو, مات على شعبة من النفاقوالجهاد مصدر جاهد; أي: بالغ في قتال عدوه, وشرعا: قتال الكفار, ويطلق الجهاد على أعم من القتال. قال العلامة ابن القيم: ” وجنس الجهاد فرض عين: إما بالقلب, وإما باللسان, وإما بالمال, وإما باليد; فعلى كل مسلم أن يجاهد بنوع من هذه الأنواع ” انتهى. ويطلق الجهاد أيضا على مجاهدة النفس والشيطان والفساق: فأما مجاهدة النفس; فعلى تعلم أمور الدين, ثم العمل بها, ثم تعليمها. وأما مجاهدة الشيطان; فعلى دفع ما يأتي به من الشبهات وما يزينه من الشهوات. وأما مجاهدة الكفار; فتقع باليد والمال واللسان والقلب. وأما مجاهدة الفساق; فباليد, ثم باللسان, ثم بالقلب; حسب التمكن من درجات إنكار المنكر.

والجهاد فرض كفاية, إذا قام به من يكفي, سقط الوجوب عن الباقين, وبقي في حقهم سنة.

وهو أفضل متطوع به, وفضله عظيم, والنصوص في الأمر به والترغيب فيه من الكتاب والسنة كثيرة جدا, منها: قوله تعالى: إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

وهناك حالات يجب فيها الجهاد وجوبا عينيا وهي:

أولا: إذا حضر القتال, وجب عليه أن يقاتل, ولا يجوز له أن ينصرف.

ثانيا: إذا حصر بلده عدو. لأنه في هاتين الحالتين يكون جهاد دفع, لا جهاد طلب, فلو انصرف عنه, استولى الكفار على حرمات المسلمين.

ثالثا: إذا احتاج إليه المسلمون في القتال والمدافعة.

رابعا: إذا استنفره الإمام; لقوله صلى الله عليه وسلم: ” إذا استنفرتم, فانفروا وقال تعالى: إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وقال تعالى: مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: ” الجهاد منه ما هو باليد, ومنه ما هو بالدعوة والحجة واللسان والرأي والتدبير والصناعة, فيجب بغاية ما يمكنه, ويجب على القعدة; لعذر أن يخلفوا الغزاة في أهليهم ومالهم ” انتهى.

ويجب على الإمام أن يتفقد الجيش عند المسير للجهاد, ويمنع من لا يصلح لحرب من رجال وخيل ونحوها, فيمنع المخذل الذي يخذل الناس عن القتال, ويزهدهم فيه, ويمنع المرجف الذي يخوف الغزاة, ويمنع من يسرب الأخبار إلى الأعداء أو يوقع الفتنة بين الغزاة, ويؤمر على الغزاة أميرا يسوس الجيش بالسياسة الشرعية.

ويجب على الجيش طاعته بالمعروف, والنصح له, والصبر معه; لقوله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْإن الجهاد في الإسلام شرع لأهداف سامية وغاية نبيلة:

شرع الله الجهاد لتخليص العباد من عبادة الطواغيت والأوثان لعبادة الله وحده لا شريك له, الذي خلقهم ورزقهم, قال تعالى: وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

شرع الله الجهاد لإزالة الظلم وإعادة الحقوق إلى مستحقيها, قال تعالى: أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ

شرع الجهاد لإذلال الكفار والانتقام منهم وإضعاف شوكتهم, قال تعالى: قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

والقتال إنما يكون بعد تبليغ الدعوة, كما كان الرسول صلى الله عليه وسلم يدعو الناس قبل القتال إلى الإسلام, ويكاتب الملوك بذلك, ويوصي قواد الجيوش الإسلامية بدعوة الناس إلى الإسلام قبل قتالهم, فإن استجابوا, وإلا قاتلوهم, وذلك لأن الغرض من القتال في الإسلام هو إزالة الكفر والشرك, والدخول في دين الله, فإذا حصل ذلك بدون قتال, لم يحتج إلى القتال, والله أعلم.

وللجهاد أحكام مفصلة موجودة في الكتب المطولة. وإذا كان أبواه مسلمين حرين أو أحدهما; لم يجاهد تطوعا إلا بإذنهما; لقوله صلى الله عليه وسلم: ” ففيهما فجاهد “, صححه الترمذي, وذلك لأن برهما فرض عين, والجهاد فرض كفاية, وفرض العين مقدم على فرض الكفاية.

وعلى إمام المسلمين أن يتفقد الجيش عند المسير, ويمنع من لا يصلح للحرب من رجال وخيل كالمخذل والمرجف اللذين يثبطان الناس عن القتال, ويزهدان فيه, ويخوفان المسلمين, وينشران الأخبار والإشاعات التي تخوف الجند. وعلى الإمام أن يعين القادة للجيوش, وينفل من الغنيمة من في تنفيله مصلحة للجهاد, ويقسم بقية الغنائم في الجيش كله.

ويلزم الجيش طاعة أميرهم بالمعروف, والنصح له, والصبر معه, لقوله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ولا يجوز قتل صبي ولا امرأة وراهب وشيخ فان ومريض مزمن وأعمى لا رأي لهم, ولم يقاتلوا أو يحرضوا, ويكونون أرقاء بالسبي; لأنه صلى الله عليه وسلم كان يسترق النساء والصبيان إذا سباهم.

وتملك الغنيمة بالاستيلاء عليها في دار الحرب

– والغنيمة ما أخذ من مال حربي قهرا بقتال, وما ألحق به مما أخذ فداء -, وهي لمن شهد الوقعة من أهل القتال بقصد القتال, قاتل أو لم يقاتل; لأنه ردء للمقاتلين, ومستعد للقتال, فأشبه المقاتلين, ولقول عمر رضي الله عنه: ” الغنمية لمن شهد الوقعة “

وكيفية توزيع الغنيمة أن الإمام يخرج الخمس الذي لله ولرسوله, وسهم لقرابة الرسول صلى الله عليه وسلم واليتامى والفقراء والمساكين وأبناء السبيل, ثم يقسم الأخماس الأربعة الباقية على المقاتلين; للراجل سهم, وللفارس ثلاثة أسهم, سهم له, وسهمان لفرسه; لأنه صلى الله عليه وسلم أسهم يوم خيبر للفارس ثلاثة أسهم: سهمان لفرسه, وسهم له متفق عليه.

ويقوم مقام الإمام في توزيع الغنيمة نائبه.

ويحرم الغلول, وهو كتمان شيء مما غنمه المقاتل, قال تعالى: وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ويجب تعزير الغال بما يراه الإمام رادعا له ولأمثاله.

وإذا كانت الغنيمة أرضا; خير الإمام بين قسمتها بين الغانمين, وبين وقفها لمصالح المسلمين, ويضرب عليها خراجا مستمرا يؤخذ ممن هي بيده.

وما تركه الكفار فزعا من المسلمين, ومال من لا وارث له, وخمس خمس الغنيمة – وهو سهم رسول الله صلى الله عليه وسلم -; فهو فيء يصرف في مصالح المسلمين.

ويجوز لإمام المسلمين عقد الهدنة مع الكفار على ترك القتال مدة معلومة بقدر الحاجة إذا كان في عقدها مصلحة للمسلمين, وذلك إذا جاز تأخير الجهاد من أجل ضعف المسلمين, أما إن كان المسلمون أقوياء يقدرون على الجهاد, فلا يجوز عقد الهدنة; لأنه صلى الله عليه وسلم عقد الهدنة مع الكفار في صلح الحديبية, وصالح اليهود في المدينة.

وإذا خاف الإمام منهم نقضا للهدنة; أعلن لهم انتهاء الهدنة قبل قتالهم, لقوله تعالى: وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ أي: أعلمهم بنقض العهد حتى تصير أنت وهم سواء في العلم بذلك.

ويجوز للإمام عقد الذمة مع أهل الكتاب والمجوس, ومعناه: إقرارهم على دينهم; بشرط بذلهم الجزية, والتزام أحكام الإسلام, لقوله تعالى: قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ فالجزية هي مال يؤخذ منهم على وجه الصغار كل عام بدلا عن قتلهم وإقامتهم بدارنا.

ولا تؤخذ الجزية من صبي ولا امرأة ومجنون وزمن وأعمى وشيخ فان, ولا من فقير يعجز عنها.

ومتى بذلوا الجزية; وجب قبولها منهم, وحرم قتالهم, ووجب دفع من قصدهم بأذى, لقوله تعالى: حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ فجعل إعطاء الجزية غاية لكف القتال عنهم, ولقوله صلى الله عليه وسلم: فاسألهم الجزية, فإن أجابوك; فاقبل منهم, وكف عنهم والله أعلم.

ويجوز إعطاء الكافر المفرد الأمان من كل مسلم إذا لم يحصل منه ضرر على المسلمين, بدليل قوله تعالى: وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ

ويجوز للإمام إعطاء الأمان لجميع المشركين ولبعضهم; لأن ولايته عامة, وليس ذلك لآحاد الرعية; إلا أن يجيزه الإمام, ويجوز للأمير في ناحية إعطاؤه لأهل بلدة قريبة منه.

ْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ الآيات صالح بن فوزان بن عبدالله آل فوزان

أحكام العقيقة

العقيقة من حق الولد على والده, وهي الذبيحة التي يذبحها عنه تقربا إلى الله سبحانه وتعالى, فهي سنة سنها رسول الله صلى الله عليه وسلم, فقد عق عن الحسن والحسين, كما رواه أبو داود وغيره, وفعل ذلك صحابته الكرام, فكانوا يذبحون عن أولادهم, وفعله التابعون.

وذهب بعض أهل العلم إلى وجوبها, لما رواه الحسن عن سمرة, أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كل غلام مرتهن بعقيقته قال أحمد: ” معناه: مرتهن عن الشفاعة لوالديه “, وقال ابن القيم: ” إنها سبب في حسن سجاياه وأخلاقه إن عق عنه “.

والصحيح أنها سنة مؤكدة, وذبحها أفضل من الصدقة بثمنها, وهي شكر لله على تجدد نعمته على الوالدين بولادة المولود, وفيها تقرب إلى الله تعالى, وتصدق على الفقراء, وفداء للمولود.

ومقدار ما يذبح عن الذكر شاتان متقاربتان سنا وشبها, وعن الأنثى شاة واحدة, لحديث أم كرز الكعبية, قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: عن الغلام شاتان متكافئتان, وعن الجارية شاة رواه أحمد والترمذي وصححه من حديث عائشة.

والحكمة في الفرق بين الذكر والأنثى في مقدار العقيقة, أنها على النصف من أحكام الذكر, والنعمة على الوالد بالذكر أتم, والسرور والفرحة به أكمل, فكان الشكر عليه أكثر.

ووقت ذبح العقيقة ينبغي أن يكون في اليوم السابع من ولادته, ولو ذبحها قبل اليوم السابع أو بعده, جاز.

والأفضل أن يسمى في هذا اليوم, ففي ” السنن ” وغيرها: ” يذبح عنه يوم سابعه ويسمى “, ومن سماه في يوم ولادته, فلا بأس, بل هو عند بعض العلماء أرجح من اليوم السابع.

ويسن تحسين الاسم, لقوله صلى الله عليه وسلم: إنكم تدعون بأسمائكم وأسماء آبائكم, فأحسنوا أسماءكم رواه أبو داود.

وكان صلى الله عليه وسلم يحب الاسم الحسن, ويحرم تعبيده لغير الله, كأن يسمى عبد الكعبة, وعبد النبي, وعبد المسيح, وعبد علي, وعبد الحسين.

قال الإمام ابن حزم رحمه الله: ” اتفقوا على تحريم كل اسم معبد لغير الله, كعبد عمر, وعبد الكعبة, وما أشبه ذلك, حاشا عبد المطلب; لأنه إخبار, كبني عبد الدار وعبد شمس, ليس من باب إنشاء التسمية بذلك, وتكره التسمية بالأسماء غير المناسبة, كالعاصي, وكليب, وحنظلة, ومرة, وحزن, وقد كره النبي صلى الله عليه وسلم مباشرة الاسم القبيح من الأشخاص والأماكن, وقال صلى الله عليه وسلم: إن أحب أسمائكم إلى الله عبد الله وعبد الرحمن رواه مسلم وغيره, فينبغي الاهتمام باختيار الاسم الحسن للمولود, وتجنب الأسماء المحرمة والمكروهة; لأن ذلك من حق الولد على والده.

ويجزئ في العقيقة ما يجزئ في الأضحية من حيث السن والصفة, فيختار السليمة من العيب والأمراض, والكاملة في خلقتها المناسبة في سنها وسمنها, ويستحب أن يأكل منها ويهدي ويتصدق, أثلاثا كالأضحية.

وتخالف العقيقة الأضحية في كونها لا يجزئ فيها شرك في دم, فلا تجزئ فيها بدنة ولا بقرة إلا كاملة; لأنها فدية عن النفس, فلا تقبل التشريك, ولم يرد فيها تشريك, حيث لم يفعله النبي صلى الله عليه وسلم, ولا أحد من أصحابه.

وينبغي العناية بأمر المولود بما يصلحه وينشئه على الأخلاق الفاضلة ويكون سببا في صلاحه, فيحتاج الطفل إلى العناية بأمر خلقه, فإنه ينشأ على ما عوده المربي, قال الشاعر:

وينشأ ناشئ الفتيان منا على ما كان عوده أبوه

فيصعب عليه في كبره تلافي ذلك, ولهذا تجد بعضا أو كثيرا من الناس منحرفة أخلاقهم بسبب التربية التي نشئوا عليها.

فيجب أن يجنب الطفل مجالس اللهو والباطل وقرناء السوء, ويجب أن يكون البيت الذي ينشأ فيه بيئة صالحة; لأن البيت بمثابة المدرسة الأولى, بما فيه من الوالدين وأفراد الأسرة, فيجب إبعاد وسائل الشر والفساد عن البيوت, خصوصا في هذا الزمان الذي كثرت فيه وسائل الشر, وامتلأ بها غالب البيوت, إلا من رحمه الله, فيجب الحذر من ذلك.

كما يجب تنشئة الطفل على العبادة والطاعة واحترام الدين والعناية بالقرآن ومحبته; لأنه من أعظم وسائل السعادة في الدنيا والآخرة. وبالجملة, يجب على والد الطفل والمتولي شأنه أن يكون قدوة صالحة في أخلاقه وسلوكه وعاداته, وفق الله الجميع لما يحبه ويرضاه.

ْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ الآيات صالح بن فوزان بن عبدالله آل فوزان