Mozaik Islam

Kapan Batas Berhenti Makan dan Minum?

Assalammualaikum, Ustadz.

Langsung saja pd pertanyaannya. Saya kadang bingung kapan batas waktu kita utk berhenti makan & minum saat akan berpuasa. Ada yg mengatakan saat adzan subuh berkumandang, ada yg bilang utk kehati-hatian saat waktu imsak. Tapi, ada juga teman yg bilang batas berhentinya yaitu saat rukuk pertama shalat subuh? Mohon penjelasannya.

Lalu, jika saya masih beraktivitas minum (biasanya setelah menyikat gigi), bertepatan dgn adzan masjid kampung sebelah, sedangkan masjid yg dekat rumah belum adzan, bagaimana shaum saya, apakah batal? Mohon penjelasan dgn dalilnya, Ustadz. Terima kasih.

Wassalam,

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Batas mulai puasa bukan masuknya waktu imsak, tetapi yg benar masuknya waktu shubuh. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Quran:

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kpd manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqarah: 187)

Yang disebut dgn fajar di dalam ayat ini bukan terbitnya matahari. Fajar adl al-fajrus-shadiq, yaitu cahaya putih agak terang yg menyebar di ufuk Timur yg muncul beberapa saat sebelum matahari terbit.

Ada 2 macam fajar, yaitu fajar kazib & fajar shadiq. Fajar kazib adl fajar yg `bohong` sesuai dgn namanya. Maksudnya, pd saat dini hari menjelang pagi, ada cahaya agak terang yg memanjang & mengarah ke atas di tengah di langit. Bentuknya seperti ekor Sirhan (srigala), kemudian langit menjadi gelap kembali. Itulah fajar kazib.

Sedangkan fajar yg kedua adl fajar shadiq, yaitu fajar yg benar-benar fajar yg berupa cahaya putih agak terang yg menyebar di ufuk Timur yg muncul beberapa saat sebelum matahari terbit. Fajar ini menandakan masuknya waktu shubuh.

Jadi ada 2 kali fajar sebelum matahari terbit. Fajar yg pertama disebut dgn fajar kazib & fajar yg kedua disebut dgn fajar shadiq. Selang beberapa saat setelah fajar shadiq, barulah terbit matahari yg menandakan habisnya waktu shubuh. Maka waktu antara fajar shadiq & terbitnya matahari itulah yg menjadi waktu utk shalat shubuh sekaligus pertanda dimulainya puasa.

Di dalam hadits disebutkan tentang kedua fajar ini:

“Fajar itu ada 2 macam. Pertama, fajar yg mengharamkan makan & menghalalkan shalat. Kedua, fajar yg mengharamkan shalat & menghalalkan makan.” (HR Ibnu Khuzaemah & Al-Hakim).

Sedangkan berpatokan dgn mendengarkan azan shubuh di masjid, tdk terjamin keakuratannya. Bisa jdi jam di masjid tdk cocok, mungkin lambat atau malah lbh cepat. Selain itu bisa jdi muzadzdzinnya salah lihat jadwal shalat.

Yang benar adl berpatokan dgn jadwa shalat, sebab jadwal itu hasil perhitungan para ahli ilmu falak & hisab. Keakuratannya sangat tinggi. Masalahnya tinggal jam di rumah kita. Apakah tetap atau lbh ambat atau lbh cepat.

Tidak ada salahnya bila anda mengacu ke TV, sebab biasanya jam di TV lbh ditangani secara serius oleh para profesional.

Sedangkan berpatokan pd ruku’ pertama shalat shubuh, juga tdk bisa diterima. Sebab waktunya sangat nisbi. Bagaimana bila jamaah shalat shubuhnya agak telat? Hingga shalat sudah di akhir waktu?

Bila anda sedang minum lalu masuk waktu shubuh, maka minuman itu harus dikeluarkan kembali. Kalau anda teruskan minum, maka puasa anda batal dgn sendirinya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Benarkah Wanita Haid Boleh Tetap Puasa?

Assalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatuh.

Ustadz, ada yg mengatakan bahwa wanita haid tetap melaksanakan puasa pd bulan Ramadhan dgn alasan hadist dari ‘Aisyah: nahnu nukmaru bi qadhais shaum wala nukmaru biqadhais shalah. Kata qadha diartikan dgn “melaksanakan” berdasarkan pengartian kalimat qadha pd firman Allah dalam surah al-jum’ah: fa idza qudhiyatis shalah fantasyiru fil ard. Lalu apakah pengertian itu benar adanya?

Jawaban

Assalamu’alaikum warahmatulllahi wabarakatuh,

Haram wanita yg sedang haidh berpuasa telah menjadi ijma’ para ulama sejak 14 abad yg lalu. Padahal ijma’ itu sedikit sekali jumlahnya. Sehingga kalau para ulama sampai pd titik ijma’, berarti nilai kebenarannya sudah nyaris mutlak.

Ijma’ ulama sampai kpd hukum dosa bagi wanita yg secara sengaja melakukan puasa dgn niat ibadah pd hari-hari haidhnya. Artinya, berpuasa saat haidh bagi wanita bukan hanya terlarang, bahkan sampai melahirkan dosa.

Sehingga penafsiran seperti yg anda sebutkan itu dgn sendirinya telah batal. Sebab yg dimaksud dgn “qadhais shaum” di dalam hadits itu bukanlah mengerjakan puasa saat haid, melainkan mengqadha’ (membayar hutang) puasa di hari lain, sementara di hari itu haram utk dilakukan.

Dan keharaman puasa wanita yg haidh itu bukan hanya dilandaskan pd ijma’ semata, melainkan juga berlandasan kpd hadits Rasulllah SAW, selain dari hadits yg anda sampaikan itu.

Bahkan hadits ini lbh tegas mengharamkan wanita yg haidh utk shalat & juga puasa. Tidak bisa dimain-mainkan makna & pengertiannya sebagaimnana hadits sebelumnya.

Hadits ini juga menujukkan bahwa para wanita shahabiyah di masa Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengerti & tahu pasti bahwa wanita yg sedang haidh itu diharamkan shalat & berpuasa. Semua tercermin dalam dialog mereka dgn Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

عَنْ أَبيِ سَعِيد الخُضْرِي  أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِلنِّسَاءِ: أَلَيْسَ شَهَادَةُ المَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُل ؟ قُلْنَ بَلَى. قَالَ فَذَلِكُنَّ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا. أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ فَذَلِكُنَّ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا – رواه البخاري

Dari Abi Said Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kpd para wanita,..”. Bukankah para wanita bila mendapat haidh tdk boleh shalat & puasa?” Para wanita itu menjawab,”Benar.” “Itulah yg dimaksud dgn kurangnya (pelaksanaan) agama mereka(Hadis Riwayat: Bukhari)

Dan haramnya wanita berpuasa saat mendapat haidh juga dikuatkan lagi dalam hadits riwayat imam Muslim.

عَنْ بْنِ عُمَرَ  تمَكْثُ اللَّيَاليِ مَا تُصَليِّ وَتُفْطِر فيِ شَهْرِ رَمَضَان ، فَهَذَا نُقْصَانُ دِيْنِهَا – رواه مسلم

Dari Ibnu Umar ra: Para wanita melewati malam-malam tanpa boleh shalat & mereka harus berbuka pd bulan Ramadhan. Itulah maksud kurangnya (pelaksanaan) agama mereka. (Hadis Riwayat: Muslim)

Maka bila seorang wanita mendapat haidh, dia diharamkan utk tetap berpuasa, dgn landasan dari hadts-hadits yg shahih & juga dari ijma; para ulama. Tidak ada yg menyelengkan pengertian ini kecuali dia harus datang dgn dalil yg bisa lbh kuat.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Nenek Ingin Berpuasa

Assalamualaikum…..

Pak Ustadz, saya punya nenek yg sudah berumur 90 tahun lbh & sudah jompo. Di bulan Ramadhan ini beliau ingin sekali berpuasa tetapi saya melarangnya. Soalnya di Ramadhan kemarin beliau juga ikut berpuasa tetapi kadang lupa, sering makan & minum di siang hari bahkan diam-diam merokok, sehingga kita seringkali mengingatkannya. Untuk fisik mungkin beliau masih mampu & kuat utk berpuasa.

Yan ingin saya tanyakan, Apakah boleh dgn sengaja melarang nenek berpuasa, saya berdosa atau tidak? Bagaimana hukumnya jika nenek saya tetap melakukan puasa & sering lupa?

Terimakasih byk sebelumnya…Wassalam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya orang yg sudah tua dibolehkan tdk berpuasa, seandainya memang sudah tdk kuat lagi utk berpuasa. Hal itu memang sudah merupakan ketentuan dari Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Quran.

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Dan bagi orang-orang yg tdk kuat, (boleh berbuka) dgn membayar fidyah kpd orang-orang miskin (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 184)

Beliau tdk perlu mengganti dgn puasa di hari lain seandainya memang sama sekali sudah tdk mampu berpuasa. Cukup mengganti dgn membayar fidyah kpd orang orang-orang miskin.

Namun kalau membaca tulisan anda, rasanya agak berbeda kasusnya. Anta katakan bahwa nenek anda itu meski sudah berusia 90 tahun, justru masih kuat puasa, meski sering lupa. Sehingga anda harus selalu mengingatkan beliau.

Kalau menilik kenyataan seperti ini, sebenarnya kami ingin katakan bahwa beliau belum mendapat rukhshah (keringanan) utk tdk berpuasa. Meski pun usia beliau telah mencapai 90 tahun. Sebabnya, karena beliau masih kuat utk berpuasa. Sedangkan batasan rukhshah itu sendiri adl apakah seorang tua itu masih mampu atau tdk utk melakukan puasa di bulan Ramadhan. Bukan batasan usia yg digunakan.

Jadi meski berusia lanjut, kalau beliau masih sehat & kuat utk berpuasa, maka beliau tetap wajib berpuasa. Karena memang masih kuat berpuasa.

Adapun beliau sering lupa, lalu makan & minum, itu adl rezeki dari Allah SWT. Sebagaimana hadits yg sudah kita sering dengar tentang orang yg lupa makan atau minum saat puasa.

Wallahu a’lam bishshawab, Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Puasa 18 Jam di Pesawat

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Pada Ramadhan kali ini, saya mendapat tugas dari kantor utk training selama 2 minggu ke sebuah negara Eropa.

Menurut jadwal yg ada keberangkatan saya (menggunakan pesawat terbang) pd hari Senin, pukul 20:00 WIB (GMT+7) & sampai di Eropa hari Selasa pukul 06:00 waktu setempat (GMT+1).

Kepulangan saya berangkat dari Eropa hari Kamis pukul 22:00 waktu setempat (GMT+1) & sampai di Jakarta hari Jum’at pukul 19:30 WIB(GMT+7).

Walaupun ada keringanan utk tdk berpuasa selama dalam perjalanan, tapi saya berniat utk tetap berpuasa.

Yang ingin saya tanyakan adalah:

  1. Dalam keberangkatan ke Eropa, apakah ketika sampai di sana saya bisa meneruskan berpuasa dgn sebelumnya sahur di pesawat dgn mengikuti waktu Eropa (GMT+1)?
  2. Apakah dalam kepulangan dari Eropa, saya sahur dahulu sebelum berangkat, kemudian selama di pesawat saya berpuasa & ketika sampai di Jakarta (GMT+7) saya berbuka bisa dianggap sbg puasa pd hari Jum’at di Jakarta?
  3. Perlukah saya mengganti puasa di bulan Syawwal utk pertanyaan no. 1 & no. 2 walaupun saya sudah berusaha berpuasa (khawatir dgn kesempurnaan)? Atau cukupkah dgn berpuasa 6 hari di bulan Syawwal bisa menyempurnakan puasa saya selama perjalanan pergi & pulang tersebut? Jazakumullah Khairon Katsiron

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Yang dijadikan acuan dalam menentukan jadwal berpuasa adl keadaan alam yg disaksikan oleh pelaku. Maksudnya, waktu Shubuh & waktu Maghrib yg berlaku pd diri seseorang adl yg secara real dialaminya. Bukan berdasarkan jadwal puasa pd tempat asal atau tempat tujuan, sementara dirinya tdk ada di tempat itu.

Anda boleh makan sahur selama anda belum mengalami masuknya waktu shubuh. Boleh anda perkirakan atau malah sebaiknya anda tanyakan kpd awak pesawat, di mana & kapan kira-kira anda akan memasuki waktu shubuh.

Maka patokannya bukan jadwal shubuh di negeri tujuan, juga bukan negeri asal, tetapi negeri di mana pd saat itu anda berada. Boleh jdi anda masih ada di atas Laut Merah atau Laut Mediterania, pd saat masuk waktu shalat shubuh.

Begitu anda sampai di negara tujuan, berbuka puasalah sesuai dgn jadwal puasa negeri setempat.

Sangat dimungkin dgn adanya perjalanan ini, masa berpuasa anda akan semakin singkat atau semakin panjang. Meski pun lamanya terbang anda relatif sama, antara pergi & pulangnya. Tetapi karena jadwal puasa di tiap negara berbeda-beda, maka masa puasa anda sendiri otomatis ikut berbeda.

Tetapi yg selalu harus anda perhatikan, mulailah berpuasa sesuai dgn jadwal puasa di mana anda berada & berbukalah sesuai dgn jadwal buka puasa di mana anda berada.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Puasa dan Produktifitas Kerja

Assalamu ‘alaikum pak Ustadz,

Begitu sering kita dapati sebagian umat Islam yg byk tidur di siang hari bulan Ramadhan, bahkan sampai meninggalkan kewajiban kerja & merusak disiplin yg telah ditetapkan perusahaan.

Mohon dijelaskan pak Ustadz, apakah memang demikian ketentuannya dari segi syariah, yaitu bahwa di bulan Ramadhan memang waktunya utk byk tidur & mengurangi kerja serta produkfitas. Adakah hal itu memang dibenarkan syariah?

Hal ini penting karena yg saya dapati dari kebanyakan teman-teman memang suka tidur di siang hari bulan Ramadhan dgn alasan malamnya tarawih, tahajud, bangun sahur & seterusnya.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas jawaban Ustadz

Wassalam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang benar apa yg anda sampaikan bahwa salah satu cara penyikapan yg perlu dikoreksi dari kebanyakan umat Islam adl masalah byk tidur di kala puasa. Seolah-olah datangnya bulan Ramadhan menjadi legitimasi utk memperbanyak jam tidur siang. Walau pun hal itu terjadi pd jam-jam kerja sehingga menjadikan jam kerja di bulan Ramadhan menjadi kurang produktif.

Hal seperti itu bisa kita lihat dari pemandangan yg kita lihat di masa sekarang ini, di siang hari bulan Ramadhan, dimana masjid-masijd dipenuhi oleh tubuh-tubuh bergelim-pangan utk tidur di jam-jam produktif. Sayangnya melakukan hal itu dgn alasan karena malamnya melakukan shalat malam atau karena bangun sahur.

Namun benarkah syariat Islam mendisain seperti itu? Mari kita lakukan sedikit kajian.

Jadwal Shalat Malam

Sebenarnya kalau kita teliti lbh jauh, shalat malam tdk hanya dianjurkan di dalam bulan Ramadhan saja, tetapi di luar Ramadhan pun sama juga dianjurkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & para shahabat terbiasa bangun di tengah malam & melakukan qiyamullail, bukan hanya di bulan Ramadhan saja tetapi juga di luar bulan Ramadhan.

Namun kita juga tahu bahwa pd siang hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & para shahabat tetap bekerja di siang hari & tetap produktif dalam kerjanya.Hal itu dibuktikan dgn begitu byk nya prestasi & kemenangan yg mereka raih selama bulan Ramadhan.

Lalu apa rahasianya? Ada byk hal yg menyebabkannya. Tetapi ada salah satu bahan pemikiran yg barangkali berguna utk kita renungkan.

Begini, kalau kita teliti nash-nash tentang jadwal siklus kehidupan yg dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & para shahabat, ternyata memang ada sedikit perbedaan cara puasa & ibadah antara kita.

Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk tidur sebelum shalat ‘Isya namun tdk suka berbicara (begadang) setelah shalat ‘Isya’. Dan itu byk dijelaskan dalam byk riwayat. Lalu apa yg bisa kita tarik kesimpulan dari hal ini?

Seandainya kita di masa sekarang ini menerapkan konsep jadwal siklus kehidupan seperti dalam riwayat di atas, mungkin hasilnya akan berbeda. Cobalah setelah shalat Isya’ jam 19.00 atau jam 20.00 malam, kita langsung tidur, tdk nonton TV atau mengerjakan hal-hal lain.

Maka kalau kita hitung-hitung, ternyata kita akan tidur lbh awal dari biasanya. Dengan tidur di waktu sesiang itu, kalau seandainya di tengah malam kira-kira jam 02.00 atau jam 03.00 malam kita bangun utk tahajjud, secara matematis jam tidur kita sudah sangat cukup. Sudah sekitar 7 jam lamanya. Dan tdk ada lagi alasan utk mengantuk, baik setelah shubuh atau pun di siang hari.

Sayangnya, justru yg sering kita lakukan justru sebaliknya. Kita terbiasa tidur larut malam. Setelah shalat ‘Isya’ kita sering masih keluyuran kesana kemari, atau bahkan malah belum tiba di rumah.

Lalu anggaplah kita tidur jam 23.00 atau jam 24.00 malam, lalu kita ingin bangun shalat tahajjud atau bangun sahur, secara matematis ternyata kitabaru tidur selama 2 atau 3 jam saja.

Secara perhitungan manusiawi normal umumnya, sangat logis kalau tubuh kita minta tambahan jam tidur di siang hari, entah ba’da shubuh atau pun ba’da shalat Dzhuhur.

Padahal kalau kita bisa atur jadwal seperti di atas, insya Allah tdk akan ada masalah dgn jadwal tidur & istirahat.

Jadwal Sahur Yang Tepat

Sebagian dari kita ada yg menjadikan bangun malam utk makan sahur sbg penyebab utk dimakluminya tidur di siang hari. Padahal kalau mau ikut sunnah Rasulullah SAW, seharusnya bangun sahur tdk perlu dijadikan alasan utk mengantuk di siang hari.

Sebab yg disunnahkan ketika makan sahur itu adl yg semakin dekat dgn waktu shubuh. Katakanlah 15 menit sebelum masuk waktu shubuh sampai setengah jam. Dengan demikian, kalau ada jam tidur malam kita yg terambil utk sahur, paling byk hanya 30 menit saja. Dan seandainya kita tidur agak awal setengah jam, maka hitung-hitungannya akan sama saja.

Dengan demikian, tdk ada alasan bagi kita utk tidur di siang hari. Karena jam tidur malam kita praktis tdk ada yg berkurang. Kecuali hanya beberapa menit saja.

Sebaliknya, kalau kita sudah bangun sejak jam 2 malam utk sahur & kemudian setelah itu tdk tidur lagi sampai shubuh, pastilah siangnya kita akan mengantuk. Sebab secara perhitungan manusiawi, tubuh kita masih kekurangan jam tidur.

Masalah Cara Pandang

Tetapi yg paling serius menyebabkan kebanyakan umat Islam tidur di siang hari bulan Ramadhan & menjadi tdk produktif adl masalah cara pandang yg keliru.

Selama ini, seolah semua pihak menjadi maklum kalau siang hari bulan Ramadhan itu tdk produktif. Mereka maklum karena malam hari digunakan utk ibadah & juga makan sahur.

Padahal cara pandang seperti ini tdk sepenuhnya benar. Buktinya, segudang prestasi umat di masa lalu terjadi di bulan Ramadhan. Kalau mereka kerjanya hanya ‘molor’ & bermalas-malasan di siang hari, mustahil prestasi & kemenangan demi kemenangan bisa diraih.

Tetapi sekali lagi, masalahnya memang ada pd cara pandang yg keliru. Selama cara pandang keliru itu masih bersemayam di otak kita, maka selama itu pula kita aka kehilangan jam-jam produktif di siang hari selama bulan Ramadhan.

Dan sebenarnya byk berbagai prestasi umat Islam yg tercatat dgn tinta emas sejarah, dimana semua terjadi justru di dalam bulan Ramadhan.

Wassalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Hal-Hal yang Membolehkan Tidak Puasa

Assalamu ‘alaikum wr. Wb.

Mohon pak Ustadz jelaskan tentang hal-hal apa saja yg menurut syariah seseorang dianggap boleh utk tdk berpuasa Ramadhan.

Terima kasih, wassalam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam keadaan tertentu, syariah membolehkan seseorang tdk berpuasa. Hal ini adl bentuk keringanan yg Allah berikan kpd umat Muhammad SAW. Bila salah satu dari keadaan tertentu itu terjadi, maka bolehlah seseorang meninggalkan kewajiban puasa.

Safar (perjalanan)

Seorang yg sedang dalam perjalanan, dibolehkan utk tdk berpuasa. Keringanan ini didasari oleh Firman Allah SWT:

Dan siapa yg dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan maka menggantinya di hari lain (QS Al-Baqarah: 85)

Sedangkan batasan jarak minimal utk safar yg dibolehkan berbuka adl jarak dibolehkannya qashar dalam shalat, yaitu 47 mil atau 89 km. Sebagian ulama mensyaratkan bahwa perjalanan itu telah dimulai sebelum mulai berpuasa (waktu shubuh). Jadi bila melakukan perjalanan mulai lepas Maghrib hingga keesokan harinya, bolehlah dia tdk puasa pd esok harinya itu.

Namun ketentuan ini tdk secara ijma’ disepakati, karena ada sebagian pendapat lainnya yg tdk mensyaratkan jarak sejauh itu utk membolehkan berbuka.

Misalnya Abu Hanifah yg mengatakan bahwa jaraknya selama perjalanan 3 hari 3 malam. Sebagian mengatakan jarak perjhalan 2 hari. Bahkan ada yg juga mengatakan tdk perlu jarak minimal seperti apa yg dikatakan Ibnul Qayyim.

Meski berbuka dibolehkan, tetapi harus dilihat kondisi berat ringannya. Bila perjalanan itu tdk memberatkan, maka meneruskan puasa lbh utama. Dan sebaliknya, bila perjalanan itu memang sangat berat, maka berbuka lbh utama. Demikian pendapat Abu Hanifah, Asy-Syafi`i & Malik.

Sedangkan Ahmad mengatakan bahwa berbuka dalam perjalanan lbh utama. Berbeda dgn keringanan dalam menjama’ atau mengqashar shalat dimana menjama’ & mengqashar lbh utama, maka dalam puasa harus dilihat kondisinya.

Meski dibolehkan berbuka, sesungguhnya seseorang tetap wajib menggantinya di hari lain. Jadi bila tdk terlalu terpaksa, sebaiknya tdk berbuka. Hal ini ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW:

Dari Abi Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu Berkata, “Dulu kami beperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Di antara kami ada yg tetap berpuasa & ada yg berbuka….Mereka memandang bahwa siapa yg kuat utk tetap berpuasa, maka lbh baik.” (HR Muslim: 1117, Ahmad: 3/12 & Tirmizy: 713)

Sakit

Orang yg sakit & khawatir bila berpuasa akan menyebabkan bertambah sakit atau kesembuhannya akan terhambat, maka dibolehkan berbuka puasa. Bagi orang yg sakit & masih punya harapan sembuh & sehat, maka puasa yg hilang harus diganti setelah sembuhnya nanti.

Sedangkan orang yg sakit tapi tdk sembuh-sembuh atau kecil kemungkinannya utk sembuh, maka cukup dgn membayar fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin sejumlah hari yg ditinggalkannya.

Hamil & Menyusui

Wanita yg hamil atau menyusui di bulan Ramadhan boleh tdk berpuasa, namun wajib menggantinya di hari lain.

Ada beberapa pendapat berkaitan dgn hukum wanita yg haidh & menyusui dalam kewajiban mengganti puasa yg ditnggalkan.

Pertama, mereka digolongkan kpd orang sakit. Sehingga boleh tdk puasa dgn kewajiban menggadha’ (mengganti) di hari lain.

Kedua, mereka digolongkan kpd orang yg tdk kuat/mampu. Sehingga mereka dibolehkan tdk puasa dgn kewajiban membayar fidyah.

Ketiga, mereka digolongkan kpd keduanya sekaligus yaitu sbg orang sakit & orang yg tdk mampu, karena itu selain wajib mengqadha’, mereka wajib membayar fidyah.

Pendapat terahir ini didukung oleh Imam As-Syafi’i rahimahullah. Namun ada juga para ulama yg memilah sesuai dgn motivasi berbukanya. Bila motivasi tdk puasanya karena khawatir akan kesehatan/ kekuatan dirinya sendiri, bukan bayinya, maka cukup mengganti dgn puasa saja.

Tetapi bila kekhawatirannya juga berkait dgn anak yg dikandungnya atau bayi yg disusuinya, maka selain mengganti dgn puasa, juga membayar fidyah.

Lanjut Usia

Orang yg sudah lanjut usia & tdk kuat lagi utk berpuasa, maka tdk wajib lagi berpuasa. Hanya saja dia wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan fakir miskin sejumlah hari yg ditinggalkannya itu. Firman Allah SWT

“Dan bagi orang yg tdk kuat/mampu, wajib bagi mereka membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin.” (QS Al-Baqarah)

Lapar & Haus yg sangat

Islam memberikan keringanan bagi mereka yg ditimpa kondisi yg mengharuskan makan atau minum utk tdk berpuasa.

Namun kondisi ini memang secara nyata membahayakan keselamatan jiwa sehingga makan & minum menjadi wajib. Seperti dalam kemarau yg sangat terik & paceklik berkepanjangan, kekeringan & hal lainnya yg mewajibkan seseorang utk makan atau minum.

Namun kondisi ini sangat situasional & tdk bisa digeneralisir secara umum. Karena keringanan itu diberikan sesuai dgn tingkat kesulitan. Semakin besar kesulitan maka semakin besar pula keringanan yg diberikan. Sebaliknya, semakin ringan tingkat kesulitan, maka semakin kecil pula keringanan yg diberikan.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa sedang dia tdk menginginkannya & tdk melampaui batas, maka tdk ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 173).

Ini mengacu pd kaidah fiqih yg berbunyi:

Bila tingkat kesulitan sesuatu masalah itu luas (ringan), maka hukumnya menjadi sempit (lebih berat). Dan bila tingkat kesulitan sesuatu masalah itu sempit (sulit), maka hukumnya menjadi luas (ringan).

Kedaruratan itu harus diukur sesuai dgn kadarnya (ukuran berat ringannya)

Dipaksa atau Terpaksa

Orang yg mengerjakan perbuatan karena dipaksa dimana dia tdk mampu utk menolaknya, maka tdk akan dikenakan sanksi oleh Allah. Karena semua itu diluar niat & keinginannya sendiri.

Termasuk di dalamnya adl orang puasa yg dipaksa makan atau minum atau hal lain yg membuat puasanya batal. Sedangkan pemaksaan itu beresiko pd hal-hal yg mencelakakannya seperti akan dibunuh atau disiksa & sejenisnya. Ada juga kondisi dimana seseorang terpaksa berbuka puasa, misalnya dalam kondisi darurat seperti menolong ketika ada kebakaran, wabah, kebanjiran, atau menolong orang yg tenggelam.

Dalam upaya seperti itu, dia terpaksa harus membatalkan puasa, maka hal itu dibolehkan selama tingkat kesulitan puasa itu sampai pd batas yg membolehkan berbuka. Namun tetap ada kewajiban utk mengganti puasa di hari lain.

Pekerja Berat

Orang yg karena keadaan harus menjalani profesi sbg pekerja berat yg membutuhkan tenaga ekstra terkadang tdk sanggup bila harus menahan lapar dalam waktu yg lama. Seperti para kuli angkut di pelabuhan, pandai besi, pembuat roti & pekerja kasar lainnya.

Tetapi mereka harus berniat dahulu utk puasa serta makan sahur seperti biasanya. Pada siang hari bila ternyata masih kuat utk meneruskan puasa, wajib utk meneruskan puasa.

Sedangkan bila tdk kuat dalam arti yg sesungguhnya, maka boleh berbuka. Namun wajib menngganti di hari lain serta tetap menjaga kehormatan bulan puasa dgn tdk makan di tempat umum. Selain itu yg bersangkutan harus mengupayakan utk menyiapkan diri agar bisa berpuasa Ramadhan sejak setahun sebelumnya.

Misalnya dgn menabung sedikit demi sedikit agar terkumpul uang demi nafkahnya selama bulan Ramadhan dimana dia tdk bekerja. Sehingga dia bisa ikut berpuasa bersama-sama dgn umat Islam di bulan Ramadhan dgn libur bekerja & hidup dari uang yg ditabungnya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Hukum Puasa Bagi Orang Eskimo, Kutub Utara atau Kutub Selatan

Assalaamualaikum pak Ustadz,

Yang ingin saya tanyakan tentang hukum universal puasa terhadap semua umat di bumi Allah, bagaimana dgn orang eskimo, di sana musim datang dgn gejala alam yg lain, seperti ada terang terus sepanjang musim panas & gelap terus sepanjang musim dingin, padahal hukum puasa aturanya berdasarkan terbit & tenggelamnya matahari.

Karena Islam tdk hanya utk penduduk yg ada di sekitar kathulistiwa dgn musim yg hampir sama sepanjang tahun, tapi Islam utk semua umat di dunia ini.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Buat orang yg tinggal di kutub utara atau selatan, secara geografis mereka akan mengalami beberapa ‘keajaiban’ alam. Terutama terkait dgn waktu terbit & terbenam matahari. Padahal, waktu-waktu shalat sangat ditentukan dgn terbit & terbenamnya matahari.

Kemungkinan Pertama

Ada wilayah yg pd bulan-bulan tertentu mengalami siang selama 24 jam dalam sehari. Dan sebaliknya, pd bulan-bulan tertentu akan mengalami sebaliknya, yaitu mengalami malam selama 24 jam dalam sehari.

Dalam kondisi ini, masalah jadwal puasa -dan juga shalat- disesuaikan dgn jadwal puasa & shalat wilayah yg terdekat dengannya dimana masih ada pergantian siang & malam setiap harinya.

Kemungkinan Kedua

Ada wilayah yg pd bulan teretntu tdk mengalami hilangnya mega merah (syafaqul ahmar) sampai datangnya waktu shubuh. Sehingga tdk bisa dibedakan antara mega merah saat maghrib dgn mega merah saat shubuh.

Dalam kondisi ini, maka yg dilakukan adl menyesuaikan waktu shalat `isya`nya saja dgn waktu di wilayah lain yg terdekat yg masih mengalami hilannya mega merah maghrib. Begitu juga waktu utk imsak puasa (mulai start puasa), disesuaikan dgn wilayah yg terdekat yg masih mengalami hilangnya mega merah maghrib & masih bisa membedakan antara 2 mega itu.

Kemungkinan Ketiga

Ada wilayah yg masih mengalami pergantian malam & siang dalam satu hari, meski panjangnya siang sangat singkat sekali atau sebaliknya.

Dalam kondisi ini, maka waktu puasa & juga shalat tetap sesuai dgn aturan baku dalam syariat Islam. Puasa tetap dimulai sejak masuk waktu shubuh meski baru jam 02.00 dinihari. Dan waktu berbuka tetap pd saat matahari tenggelam meski waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.

Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 187).

Sedangkan bila berdasarkan pengalaman berpuasa selama lbh dari 19 jam itu menimbulkan madharat, kelemahan & membawa kpd penyakit dimana hal itu dikuatkan juga dgn keterangan dokter yg amanah, maka dibolehkan utk tdk puasa. Namun dgn kewajiban menggantinya di hari lain.

Dalam hal ini berlaku hukum orang yg tdk mampu atau orang yg sakit, dimana Allah memberikan rukhshah atau keringan kpd mereka.

“Bulan Ramadhan, bulan yg di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sbg petunjuk bagi manusia & penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu & pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pd bulan itu, & barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka, sebanyak hari yg ditinggalkannya itu, pd hari-hari yg lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, & tdk menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya & hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yg diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 185).

Penjelasan seperti ini bisa kita dpt dari fatwa Majelis Majma` Al-Fiqh Al-Islami pd jalsah ketiga hari Kamis 10 Rabiul Akhir 1402 H betepatan dgn tanggal 4 Pebruari 1982 M.

Selain itu kita juga bisa merujuk kpd ketetapan dari Hai`atu Kibaril Ulama di Makkah al-Mukarramah Saudi Arabia nomor 61 pd tanggal 12 Rabiul Akhir 1398 H.

Namun ada juga pendapat yg tdk setuju dgn apa yg telah ditetapkan oleh 2 lembaga fiqih dunia itu. Di antaranya apa yg dikemukakan oleh Syeikh Dr. Mushthafa Az-Zarqa’ rahimahullah.

Alasannya, apabila perbedaan siang & malam itu sangat mencolok dimana malam hanya terjadi sekitar 30 menit atau sebaliknya, dimana siang hanya terjadi hanya 15 menit misalnya, mungkinkah pendapat itu relevan?

Terbayangkah seseorang melakukan puasa di musim panas dari terbit fajar hingga terbenam matahari selama 23 jam 45 menit. Atau sebaliknya di musim dingin, dia berpuasa hanya selama 15 menit?

Karena itu pendapat yg lain mengatakan bahwa di wilayah yg mengalami pergantian siang malan yg ekstrim seperti ini, maka pendapat lain mengatakan:

  • Mengikuti Waktu Hijaz Jadwal puasa & shalatnya mengikuti jadwal yg ada di hijaz (Makkah, Madinah & sekitarnya). Karena wilayah ini dianggap tempat terbit & muncul Islam sejak pertama kali. Lalu diambil waktu siang yg paling lama di wilayah itu utk dijadikan patokan mereka yg ada di qutub utara & selatan.
  • Mengikuti Waktu Negara Islam terdekat Pendapat lain mengatakan bahwa jadwal puasa & shalat orang-orang di kutub mengikuti waktu di wilayah negara Islam yg terdekat. dimana di negeri ini bertahta Sultan/ Khalifah muslim.

    Namun kedua pendapat di atas masing-masing memiliki kelebihan & kelemahan. Karena keduanya adl hasil ijtihad para ulama.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Cara Berpuasa dalam Musim Dingin

Assalamualaikum Pak Ustadz,

Saya sekarang sedang berada di AS, pak Ustadz. Ini pertama kalinya saya akan menghadapi bulan suci Ramadhan di luar Indonesia. Untuk saat ini saya bekerja dimana ritme kerjanya menurut saya bisa utk berpuasa dgn lancar (karena kerjanya indoor/dalam ruangan). Tetapi menurut rencana saya akan pindah kerja di luar ruangan dimana menurut estimasi puasa di sini akan dilalui dalam musim dingin. Dan saya berniat sekali utk bisa berpuasa sebulan penuh nantinya.

Yang jdi pertanyaan saya:

  • Bagaimana jika nantinya dalam menjalankan ibadah puasa di tengah jalan saya tdk kuat, mengingat kerjanya tdk ada libur & dalam musim dingin/salju, apakah saya harus membayar dam/denda atau cukup mengganti saja di lain hari setelah habis masa Ramadhan?
  • Apakah shalat saya bisa saya gabung nantinya contohnya: Zhuhur dgn Azhar.Mengingat kerjanya cukup berat & susah utk mengatur waktu shalat. Terimakasih atas jawabannya Pak Ustadz

    Wa’alaikumsalam wr. wb.

Jawaban

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seseorang yg karena kondisi tertentu tdk mampu berpuasa, dibolehkan utk berbuka. Sebab pd hakikatnya agama Islam itu tdk memberatkan umatnya.

Namun utk itu diperlukan syarat mutlak, yaitu ketidak-mampuannya itu memang sudah sampai titik perjuangan terakhir. Sehingga bila diteruskan puasanya, akan mengakibatkan masalah yg fatal atau bersifat madharrat. Adapun bila masih sanggup utk diteruskan, tentu saja hukumnya haram bila membatalkan secara sengaja.

Dengan demikian, anda wajib berniat sejak malam hari untuk berpuasa & melakukan puasa terlebih dahulu. Kalau di dalam hari itu ternyata tdk kuat lagi meneruskan puasa, maka barulah pd saat itu saja anda boleh berbuka. Anda tdk boleh sejak awal sudah berniat tdk puasa.

Hal yg sama juga berlaku buat mereka yg kerja kasar, entah kuli angkut di pelabuhan atau penarik becak & sejenisnya. Boleh berbuka bila memang pd akhirnya tdk mampu, namun syaratnya sejak semula harus berniat puasa & menjalankannya terlebih dahulu.

Pengganti Puasa

Bila seseorang tdk mampu meneruskan puasa karena kondisi yg payah, maka sbg penggantinya adl dgn berpuasa di hari lain sebanyak hari yg ditinggalkannya. Bukan dgn membayar fidyah. Sebab pengganti dalam bentuk fidyah hanya berlaku buat orang yg sudah sama sekali tdk akan mampu berpuasa seumur hidupnya. Seperti orang yg sudah lanjut usia atau jompo.

Sementara orang sakit yg masih bisa diharapkan kesembuhannya, maka dia harus mengganti dgn puasa di lain hari. Sebagaimana firman Allah SWT:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُ وَأَن تَصُومُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Maka barang siapa di antara kamu ada yg sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yg ditinggalkan itu pd hari-hari yg lain. Dan wajib bagi orang-orang yg berat menjalankannya (jika mereka tdk berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yg dgn kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yg lbh baik baginya. Dan berpuasa lbh baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah: 184)

Syarat Menjama’ Shalat

Kita memang mengetahui adanya syariat utk menjama’ shalat, yaitu mengerjakan 2 shalat wajib yg berbeda di dalam satu waktu. Namun utk itu harus ada syarat tertentu agar ‘fasilitas’ ini bisa digunakan.
Di antaranya adl bila seseorang dalam keadaan safar, atau ketika turun hujan. Sedangkan menjama’ shalat karena kesibukan, apalagi terjadi setiap hari, tentu saja tdk boleh dilakukan begitu saja.
Sebab setiap orang pasti sibuk setiap hari, bukan hanya di Amerika saja. Di mana pun kalau mau dituruti selalu ada kesibukan. Kalau begitu maka shalat pun pasti akan dijama’ semuanya. Maka kami berpandangan bahwa menjama’ shalat tdk boleh dilakukan hanya karena alasan sibuk. Kecuali bila memang sekali waktu seseorang karena kondisi yg di luar perkiraannya dipaksa oleh keadaan utk tdk bisa shalat. Maka bolehlah saat itu dia menjama’nya. Itu pun tdk boleh tiap hari.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

Puasa Bagi Ibu yang Sedang Menyusui

Assalamu alaikum wr. wb.

Ustadz, Ramadhan tahun ini, insya Allah umur anak kami sudah 1 tahun 1 bulan. Selama ini, anak kami dikasih ASI & MPASI (Makanan Pendamping ASI sejak umur 6 bulan). Masalahnya, anak kami jika sudah makan, tetap akan meminta ASI.

Yang menjadi permasalahannya, apa diperbolehkan isteri saya tdk melakukan puasa & cukup dgn membayar fidhyah atau bagaimana sebaiknya? Dia khawatir jika puasa, ASI-nya hanya sedikit yg keluar.

Terima kasih Ustadz.

Wassalam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada keringanan bagi wanita yg sedang menyusui anak utk tdk berpuasa di bulan Ramadhan. Dan ini merupakan bagian dari sifat syariah Islam yg pd dasarnya sangat manusiawi, mudah & bersifat meringankan.

Keringanan ini juga berlaku buat wanita yg sedang hamil, baik karena mengkhawatirkan bayinya atau mengkhawatirkan dirinya sendiri.

Para ulama memasukkan kedua jenis keadaan ini ke dalam kelompok orang-orang yg dibolehkan utk tdk berpuasa di bulan Ramadhan. Sebagaimana orang yg sedang sakit atau sedang dalam perjalanan. Dengan dasar dalil umum yaitu firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Al-Quran:

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Maka barang siapa di antara kamu ada yg sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yg ditinggalkan itu pd hari-hari yg lain. Dan wajib bagi orang-orang yg berat menjalankannya (jika mereka tdk berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. (Al Qur’an Surat: Al-Baqarah: 184)

Namun para ulama sebagian dgn yg lainnya berbeda pendapat tentang bagaimana bentuk ‘pembayarannya’. Sebagian mengatakan dgn berpuasa qadha’ di hari lain, namun sebagian lainnya mengatakan dgn membayar fidyah.

Dasar Perbedaan

Yang melatar-belakangi perbedaan itu adl cara pengelompokannya.
Sebagian mengatakan bahwa wanita yg sedang menyusui & sedang hamil itu lbh dekat dikategorikan sbg orang sakit. Sehingga cara pembayarannya adl dgn berpuasa qadha’ di hari lain. Sebagaimana ayat di atas.

Namun sebagian lagi memandang bahwa keduanya lbh tepat utk dimasukkan ke dalam kelompok orang yg tdk mampu puasa, bukan kelompok orang yg sakit. Sehingga pembayarannya dgn memberi makan orang miskin (fidyah).
Dan sebagian ulama lainnya mengembalikan kpd motivasi dari wanita itu, apakah dia mengkhawatirkan dirinya atau mengkhawatirkan bayinya. Kalau dia mengkhawatirkan dirinya lalu tdk puasa, maka dia termasuk orang sakit, yg membayar dgn puasa qadha’. Sedangkan bila mengkhawatirkan bayinya, maka dia termasuk orang yg tdk mampu, yg membayar dgn fidyah saja.

Bahkan ada pendapat yg hati-hati dgn mewajibkan puasa qadha’ sekaligus dgn bayar fidyah. Dan ada juga yg membedakan antara keduanya dalam masalah pembayaran.

Kalau kita ringkas secara umum pandangan mazhab-mazhab ulama, kita dapati bahwa:

Mazhab Al-Hafiyah termasuk yg menetapkan cara pembayaran dgn qadha’ buat mereka.

Mazhab Asy-Syafi’iyah & juga mazhab Al-Hanabilah mewajibkan qadha’ sekaligus fidyah, bila mengkhawatirkan bayinya.

Mazhab Al-Malikiyah mengharuskan puasa qadha’ & bayar fidyah hanya pd wanita yg menyusui saja, tdk berlaku pd wanita hamil.

Kesimpulannya, masalah ini adl masalah ijtihadiyah yg sangat mungkin terjadi beda pendapat. Khususnya dalam teknis pembayarannya. Sebab ayat Al-Quran di ayat masih terlalu umum & justru tdk menyinggung masalah wanita hamil & menyusui. Para ulama hanya mengqiyaskannya saja dgn ayat tersebut, maka terjadilah silang pendapat dalam pengkategoriannya.

Sedangkan masalah kebolehan utk tdk berpuasa, semua ulama sepakat atas itu. Dikuatkan lagi dgn hadits berikut ini:

Dari Anas bin Malik Al-Ka’bi radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala tdk mewajibkan puasa atas musafir & mengurangi jumlah bilangan rakaat shalat. Dan Allah tdk mewajibkan puasa atas wanita hamil & menyusui.” (Hadis Riwayat: Ahmad & Ashabussunan)

Dr. Wahbah Az-Zuhaili penulis Al-Fiqhul Islami menuliskan bahwa kebolehan wanita yg menyusui utk tdk berpuasa tdk terbatas pd anak sendiri. Bahkan karena menyusui anak orang lain pun tetap terhitung sbg kebolehan utk tdk berpuasa. Seperti para wanita murdhi’ahyang bekerja utk mendapatkan uang atas jasa menyusui bayi orang lain.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc

I’tikaf Terkendala Oleh Jam Kerja

Assalamualikum. Wr. Wb.

Ustadz yg dirahmati Allah. Ada yg ingin saya tanyakan. Ramadhan tahun ini saya mempunyai jam kerja yg benar-benar tdk nyaman dgn aktivitas ramadhan saya terutama saat 10 hari terakhir.

Disaat teman-teman saya khusuk itikaf di Masjid… Saya malah mendapat jadwal kerja dari sore sampai pagi.. & saya merasa sangat merugi… padahal sangat ingin memaksimalkan 10 hari terakhir dgn Itikaf.

Apakah ada saran yg bisa Ustadz berikan kpd saya? Dan setahu saya itikaf itu adl di Masjid bukan di tempat yg lain.

jazakamulllah Khairan katsira.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh,

Satu hal yg perlu anda ketahui bahwa di balik keutamaan & anjuran utk beri’tikaf di masjid pd 10 malam terakhir bulan Ramadhan, bahwa para ulama sepakat bahwa i’tikaf itu hukum bukan wajib. Hukumnya sunnah dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk pernah mewajibkannya. Beliau memang tdk pernah meninggalkan i’tikaf, namun tetap saja hukumnya tdk sampai wajib.

Sehingga seorang muslim yg tdk sempat utk melakukan i’tikaf di masjid para 10 malam terakhir bulan Ramadhan itu tdk dikatakan sbg orang yg berdosa atau melakukan kemaksiatan.
Di sisi lain, bekerja mencari nafkah utk menghidupi anak & isteri merupakan kewajiban, bukan sekedar sunnah. Sebab seorang suami telah diperintahkan utk memberi nafkah kpd keluarga yg menjadi tanggungannya.

Maka seandainya ada orang yg bisa mengatur waktunya agar tetap bisa bekerja mencari nafkah namun tetap bisa melakukan i’tikaf di masjid, tentu sangat beruntung.

Namun buat mereka yg tdk mendapatkan kesempatan utk beri’tikaf karena alasan jam pekerjaan, tentu bukan berarti semua pintu-pintu kebaikan telah tertutup untuknya. Masih ada ribuan pintu kebaikan lainnya yg tetap terbuka & bisa dimasuki utk mendapatkan pahala yg besar di sisi Allah SWT.

Sehingga anda tdk perlu berkecil hati bila pd bulan Ramadhan tahun ini belum dpt menikmati indahnya malam-malam i’tikaf, semoga di tahun-tahun mendatang Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan kesempatan itu.
Ada seorang yg bercerita bahwa saking cintanya utk beri’tikaf, dia sengaja tdk mengambil cuti tahunan dari kantor, kecuali setiap tanggal 21 hingga 30 Ramadhan. Tujuannya agar bisa ikut beri’tikaf di masjid.

Tentu kita maklum bila tdk semua lapisan umat Islam mendapat kesempatan seperti ini. Pintu-pintu kebaikan masih tetap terbuka lebar, meski tdk harus lewat pintu ‘itikaf. Misalnya al-jihad fi sabilillah yg pernah dilakukan oleh Abdullah bin Mubarak.

Bahkan jihad di bulan Ramadhan jauh lbh berfaedah & lbh mendatangkan pahala yg besar. Sehingga beliau sampai membuat gubahan syi’ir yg amat terkenal:

Wahai orang-orang yg beribadah di 2 masjid Al-Haram (Makkah Madinah)

Seandainya kalian melihat kami (berjihad)

Pastilah kalian tahu bahwa dalam beribadah, kalian masih main-main.

Rupanya dalam pandangan beliau, bila dibandingkan antara jihad di front terdepan utk menegakkan agama Allah dgn ibadah di dalam masjid Al-Haram, masih jauh lbh utama. Dan ibadah di dalam masjidi itu hanya seperti orang main-main. Karena tdk sampai beresiko mengorbankan nyawa, harta & lainnya.

Kalau dipikir-pikir, apa yg beliau sampaikan ada benarnya juga. Sebab beri’tikaf di masjid itu memang nikmat, aman, damai, tdk ada resiko perjuangan, tdk ada ancaman nyawa melayang, atau luka-luka parah akibat tusukan pedang, sebagaimana di medan jihad.

Dan medan jihad yg sesungguhnya seperti di Palestina, Iraq & negeri muslim terjajah lainnya, akan membuat seolah ibadah i’tikaf di masjid hanya sekedar main-main.

Namun hal ini tdk berarti kita mengecilkan arti & nilai beri’tikaf di 10 malam terakhir. Yang menjadi tujuan adl bahwa seandainya ada orang yg karena satu & lain hal, belum mendapat kesempatan utk beri’tikad di masjid, maka insya Allah masih begitu byk pintu kebaikan yg lain & terbuka kesempatan utk meraih surga lewat pintu-pintu itu.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabaraktuh.

Penulis: Ahmad Sarwat, Lc