Mozaik Islam

Adab-Adab Haji

Pelaksanaan haji memiliki tatakrama (adab) secara umum yg terkait dgn dirinya pribadi & yg terkait dgn orang lain. Dan diantara yg terpenting, sbg berikut:

  1. Bersikap dgn menjalankan adab-adab safar (perjalanan), mulai dari membaca doa naik kendaraan, mendoakan keluarga & kerabat yg ditinggal, saat turun dari kendaraan, bertakbir ketika berjalan menanjak & bertasbih saat menuruni lembah, & tdk jalan-jalan yg tdk ada perlunya, mendampingai terus kendaraannya, periksa spare partnya utk dpt memastikan terus dalam keadaan yg baik utk dikendarai & dpt mengantarkan hingga ketujuan.
  2. Bersabar & mempersiapkan diri utk beban yg dipikulnya. Tidak menggerutu sepanjang jalan atau di panas terik, atau saat berdesak-desakan atau di kala kekurangan makanan atau & sebagainya. Karena sesungguhnya haji itu di dalamnya terdapat ujian berat & keletihan, sekalipun jalanannya terhampar luas & fasilitas angkutannya telah tersedia.
  3. Wajib bagimu utk melakukan amar makruf & nahi mungkar, mengajarkan orang yg belum tahu, & menunjuki orang yg tersesat. Fokus kpd perbuatan yg baik & menebarkan manfaat kpd orang lain, sesuai kemampuan anda dalam mengemplimentasikan hal tersebut.
  4. Taat kpd pemimpin & tdk eksklusif secara pandangan pendapat dari rombongan anda, agar anda dpt terus mengimplementasikannya, & suka melayani kepentingan rombongan anda serta memperhatikan istirahat mereka.
  5. Jagalah lisan anda dari menggosip, kesia-siaan & perkataan yg batil. Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam bercanda, sedangkan waktu-waktu anda sangat mulia, jam-jam anda sangat bernilai, jangan anda menyepelekannya dgn hal-hal yg semacam itu.

Penulis: Abdullah bin Shalih al-Fauzan

Bid’ah Adalah Sesat

Diantara bukti yg terkuat yg menunjukan kesempurnaan, kelengkapan & kelayakan syariah utk seluruh zaman, tempat & kondisi adalah: bahwa syariah islam menetapkan prinsip dalam segala sesuatu adl suci & boleh, kecuali yg dalil syar’i menunjukan atas kenajisan atau keharamanya, sebagaimana ditetapkanya kaidah bahwa adat & seluruh bentuk muamalat adl halal & boleh kecuali yg dinyatakan haram oleh Yang memiliki otoritas utk membuat syariat. Maka prinsip dasar bagi setiap akad & muamalah, & segala macam bentuk jual beli & perdagangan, makanan & minuman, kendaraan & barang-barang konsumsi, produk-produk industri & temuan-temuan, serta segala adat & muamalat adl boleh & halal kecuali yg dinyatakan terlarang atau haram oleh syariat karena mengandung kedzoliman atau kerusakan & madharat.

Ini adl kaidah besar yg mencangkup seluruh cabang (furu’) syariah, & cabang-cabang syariah itu byk, senantiasa muncul hal-hal yg baru & selalu berubah-ubah mengikuti perubahan zaman & kondisi.

Jika hakekat ini telah diakui, & kaidah besar ini telah diketahui, maka kita menjadi mengerti bahwa istilah bid’ah tdk berlaku dalam masalah adat, muamalah & temuan-temuan, barang siapa mengklaim haramnya sesuatu dari masalah-masalah itu, maka ia harus mendatangkan dalil atas keharmanya, jika ia tdk memilki dalil maka pernyataanya ditolak, & kembali kpd kaidah bahwa segala sesuatu itu hukum dasarnya boleh.

Ini adl prinsip dasar dalam masalah adat & muamalah, adapun ibadah maka ia kebalikan dari itu, prinsip dasar ibadah adl haram & terlarang kecuali syariat menunjukan pensyariatanya, seorang muslim tdk diperbolehkan utk membuat sendiri satu bentuk ibadah, & tdk diperkenankan utk melakukan taqorub kpd Allah SWT, melainkan dgn sarana yg telah diizinkan & disyariatkan oleh-Nya, jika ia melakukanya maka sesungguhnya ia telah berbuat bid’ah yg sesat, amalnya

Tertolak & tdk diterima, meski niatnya baik & maksudnya ingin mendekatkan diri kpd Allah SWT.

Sungguh byk sekali nash-nash dari qur’an maupun sunnah yg menunjukan bahwa amal apapun yg seorang hamba lakukan utk mendekatkan diri kpd Allah Subhanahu wa ta’ala tdk menjadi soleh & diterima Allah kecuali dgn 2 syarat:

  1. Pertama: Harus sesuai dgn syariat Allah Subhanahu wa ta’ala & petunjuk Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam
  2. Kedua: harus ikhlas karena Allah, tdk menyekutukan, tdk riya’ & tdk mencari popularitas.Allah Subhanahu wa ta’ala tdk akan menerima amal melainkan yg dilakukan dgn ikhlas & mengharap ridho-Nya, Allah berfirman:

    وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ

    “ Dan siapakah yg lbh baik agamanya daripada orang yg dgn ikhlas berserah diri kpd Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan ” ( QS: an-Nisa’: 125)

    Ayat di atas memuat 2 syarat diterimanya amal yg pd giliranya akan mendapat ganjaranya, yaitu; ikhlas karena Allah, sebagaimana yg ditunjukan firmanya: ” menundukan wajahnya utk Allah“, & mutaba’ah/mengikuti sunnah Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yg ditunjukan kalimat: ” Sedang ia berbuat baik “, maka sesuatu amalan tdk akan dikatakan baik & soleh melainkan jika dilakukan sesuai dgn yg disyariatkan Allah & Ia mengizinkan hambanya utk melakukanya & bertaqorub kepada-Nya, jika tdk maka amal itu adl bid’ah yg diada-adakan sebagaimana Allah berfirman ketika mengingkari orang-orang musyrik:

    أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ

    ” Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yg menetapkan aturan agama bagi mereka yg tdk diizinkan (diridhoi) Allah? ” (QS: as-Syura: 21)

    Dan berfirman:

    الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

    ” Yang menciptakan mati & hidup, utk menguji kamu siapa yg lbh baik amalnya ” (QS: al-Mulk: 2).

    Allah tdk mengatakan: ” Yang paling byk amalanya “, karena bisa jdi sesuatu amalan itu berat & membutukan byk energy, atau memakan waktu yg panjang & menghabiskan uang yg byk, tetapi ia bukan amal soleh, ia dekembalikan kpd pelakunya & Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikanya sia-sia, karena ia tdk sesuai dgn syariah, atau karena tdk ikhlas, sebagaimana Ia berfirman terkait amalan orang-orang kafir:

    وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا

    ” Dan kami perlihatkan segala amal yg mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yg berterbangan ” (QS: al-furqon: 23).

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

    ” Barang siapa melakukan sesuatu amalan yg tdk ada perintah atau conto dari kami, maka amalan itu tertolak “

    Dan dalam riwayat lain:

    من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد. متفق عليه

    ” Barang siapa membuat-buat (amalan) dalam perkara kami ini yg tdk termasuk darinya (tidak ada contohnya), maka ia tertolak. (Hadis Riwayat: bukhari Muslim).

Maka baiknya amal tergantung dgn sejauh mana ia sesuai dgn syariat & sejauh mana keikhlasnya karena Allah SWT, Fudhail bin Iyadh dalam menafsirkan ayat ” {أَحْسنُ عَمَلًا} mengatakan: maksudnya adalah: Yang paling ikhlas & paling benar, Maka amal jika ikhlas namun tdk benar tdk diterima, & jika benar namun tdk ikhlas juga tdk diterima sampai ia ikhlas & benar, ikhlas yaitu karena Allah semata, & benar yaitu sesuai dgn sunnah, bacalah ayat berikut:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

” Barang siapa mengharap pertemuan dgn Tuhannya, maka hendaklah ia melakukan amal soleh & tdk menyekutukan Tuhanya dgn seorang pun dalam beribadah.“

Semua ibadah qouliyah maupun fi’liyah harus dibangun di atas dasar syariat & ittiba'( mengikuti), bukan atas dasar persepsi & mengada-ada, maka jika ada seorang manusia beribadah dgn sesuatu yg tdk ada petunjuknya dari kitab maupun sunnah atau ijma’, maka itu adl amal yg tdk soleh, syariat yg tdk diperbolehkan oleh Allah SWT, ia adl bid’ah yg diada-adakan yg hanya menambah jauh pelakunya dari Allah SWT, niat yg benar maupun maksud yg baik tdk bermanfaat & tdk dpt menolong, karena niat yg benar tdk dpt merubah yg batil menjadi benar, yg bid’ah menjadi sunnah, & yg maksiat menjadi ketaatan, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

” Dan sungguh, inilah jalan-Ku yg lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) yg akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa ” (QS: al-An’am: 153).

Syariat Allah Subhanahu wa ta’ala yg ditunjukan kitab & sunnah adl jalan yg lurus yg wajib diikuti & dan tdk boleh menyimpang darinya, adapun bid’ah & segala perkara yg diada-adakan sesungguhnya adl jalan-jalan yg kita dilarang utk mengikuti & bergantung padanya, dalam hadits yg sohih yg diriwayatkan Ahmad, Nasa’I, & al-hakim dari Abdillah bin Mas’ud r.a. ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dgn tanganya, kemudian bersabda: ” Ini adl jalan Allah yg lurus, sedang jalan-jalan ini setiap darinya ada setan yg senantiasa mengajak kepadanya “, kemudian Beliau membaca ayat ini:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam khutbah-khutbahnya: Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adl kitabullah, & sebaik-baik petunjuk adl petunjuk Muhamad, & seburuk-buruk perkara adl yg diada-adakan, & setiap yg diada-adakan adl kesesatan ” (Hadis Riwayat: Muslim, Ahmad, Ibnu Majah).

Dan Imam Nasa’I meriwayatkan dgn lafadz yg artinya: ” Dan seburuk-buruk perkara adl yg diada-adakan & setiap yg diada-adakan adl bid’ah, & setiap bid’ah adl kesesatan, & setiap kesesatan adl di neraka). Barang siapa yg ingin selamat, maka ia harus mengikuti sunnah & menghindari setiap bid’ah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

” Hendaklah kalian mengikuti sunnahku & sunnah para khulafa’urisyidin yg diberi petunjuk setelahku, pegang teguhlah ia, gigitlah dgn gigi geraham, hindarilah oleh kalian segala perkara yg diada-adakan, karena setiap yg diada-adakan adl bid’ah & setiap bid’ah adl kesesatan ” (Hadis Riwayat: Ahmad & ashabussunan, & disohihkan oleh Tirmizi, Hakim & Dzahabi).

Ibnu Mas’ud r.a. berkata: Ikutilah & jangan mengada-ada, karena kalian telah dicukupi “, & benar orang mengatakan: Sebaik-baik urusan adl yg telah lalu di atas petunjuk, & seburuk-buruk urusan adl yg baru-baru yg diada-adakan.

Bid’ah adalahToriqoh/ cara/jalan yg diadakan dalam masalah agama yg tidak ada dalilnya baik dari kitab maupun sunnah, pelakunya bermaksud mendekatkan diri dgn itu kpd Allah SWT.

Dan bid’ah ini terkadang berupa menciptakan satu ibadah yg tdk memiliki dasar dalam syariah, seperti bid’ah peringatan isra’ & mi’roj, hijrahnya Nabi saw, maulud Nabi saw, atau peringatan-peringatan keagamaan yg lain yg tdk mendapat legitimasi dari Allah SWT, & tdk pula pernah dilakukan oleh makhluk yg paling bertaqwa pun kpd Allah SWT, paling takut serta paling byk memberi nasehat utk hamba-hamba-Nya, & yg dibebani utk menyampaikan risalah-risalah-Nya, ia adl Rasulullah saw, & tdk pula pernah dilakukan para sahabatnya & khalifah setelahnya, & mereka adl manusia-manusia yg paling cintah kepadanya, paling getol dalam mencontoh & mengikuti sunnahnya, bahkan tdk pula dilakukan oleh generasi-generasi pertama yg terbaik, & tdk pula oleh orang-orang yg mengikuti mereka dgn baik hingga hari ini.

Bid’ah terkadang berupa mengadakan satu cara tertentu dalam beribadah & terus-menerus melakukan satu model tertentu yg tdk ada dalilnya dalam syariat, seperti mengulang-ulang kata: Allah, Allah, Allah, atau kata: Dia, Dia, Dia & yg sejenisnya, & bisa berupa meninggalkan dzikir yg disyariatkan dalam kitab & sunnah, seperti mengucapkan: لا إله إلا الله, atau سبحان الله والحمد لله

ولا إله إلا الله والله أ كبر, & byk dzikir-dzikir yg lain yg terkenal, & termasuk bid’ah dalam cara beribadah adalah: Berdoa berjamaah dgn suara yg dilagukan setelah solat-solat wajib, & dzikir-dzikir berjamaah yg diucapkan dgn satu suara tanpa utk tujan mengajarkan & menghafalkan, & lain sebagainya.

Dan termasuk bid’ah juga menetapkan jumlah tertentu dalam beribadah tanpa ada dalil yg menujukanya, seperti menganjurkan orang agar bertahlil, atau bertasbih atau beristighfar sebanyak 5 ribu kali dalam sehari, atau seribu kali, atau 5 ratus kali, atau 3 ratus kali, atau 5 puluh kali, atau enam puluh kali, atau yg serupa dgn itu, itu adl jumlah yg dibuat-buat sendiri & tdk bersandar kpd satu dalil pun dari kitab maupun sunnah, bid’ah semacam ini telah merebak bersamaan dgn menyebarnya makalah-makalah melalui hand phone-hand phone & stasiun-stasiaun siaran, byk orang yg mengirimnya menyangka bahwa ia berbuat baik & menolong kpd kebaikan.

Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan bid’ah & memperingatkan darinya, mempertegas pengingkaran-Nya terhadap para pelakunya, karena ia membawa kerusakan yg besar & memicu munculnya kebathilan-kebathilan yg byk, di antaranya adalah: Bahwa bid’ah adl cacat dalam syariah, tuduhan adanya kekurangan di dalamnya, & tdk adanya komitmen dalam memenuhi kemaslahatan bagi hamba di dunia maupun akhirat, pelaku bid’ah ketika mendekatkan diri kpd Allah Subhanahu wa ta’ala dgn satu ibadah yg tdk disyariatkan Allah Subhanahu wa ta’ala sama saja ia menuduh bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk menyampaikan risalah dgn jelas, & tdk sempurna dalam menunaikan amanah yg dibebankan kepadanya, & bahwasanya agama ini kurang, sehingga ia ingin menyempurnakanya dgn bid’ah itu, kalau sekiranya ia mengimani kesempurnaan syariah & kelengkapanya, niscaya ia tdk akan melakukan penambahan di dalamnya dgn sesuatu yg sebenarnya bukan bagian darinya, & tdk pula akan mengada-ngadakan sesuatu yg tdk ada legitimasi baginya dari Allah SWT. Imam Malik mengatakan: ” Barang siapa melakukan satu bid’ah dalam islam yg ia menyangkanya sbgkebaikan, maka sesungguhnya ia telah menuduh bahwa Muhamad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat tdk menyampaikan amanat risalah, karena Allah Subhanahu wa ta’ala menyatakan:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

” Hari ini telah aku sempurnakan utk kalian agama kalian, & aku sempurnakan nikmatku atasmu “, maka apa yg ketika itu bukan bagian dari agama, maka hari ini ia juga bukan bagian dari agama, Ibnul Qoyim mengatakan: ” Pelaku bid’ah itu sama dgn menuduh Tuhanya belum menyempurnakan agama sebelum wafatnya Nabi saw, berarti Dia berbohong dalam firmanya: ” Hari ini telah aku sempurnakan utk kalian agama kalian “, atau menuduh bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk menyampaikan.”

Dan diantara dampak kerusakan bid’ah adalah: Ia dpt mengalahkan syariat yg benar & menghapus sunnah, Imam Ahmad meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya ia bersabda: ” Tidaklah sesuatu kaum melakukan satu bid’ah melainkan Allah Subhanahu wa ta’ala mencabut dari mereka sesuatu dari sunnah yg sepadan denganya”, maka setiap kali bid’ah diadakan setiap itu pula sunnah ditinggalkan, & begitu seterusnya hingga bid’ah menjadi byk, sunnah semakin sedikit, agama menjadi sirna sedikit demi sedikit.

Dan ternasuk kerusakanya adalah: bahwa para pelaku bid’ah zuhud dalam menjalankan sunnah, merasa berat dalam mengamalkanya, di sisi lain mereka semangat dalam melakukan bid’ah, antusias dalam menjalankanya, mereka menginfakan harta mereka, memporsir tubuh mereka, menyia-nyiakan waktu mereka dalam rangka menghidupkan bid’ah & merayakanya, & terkadang sebagian dari mereka justru lalai dalam menjalankan kewajiban, seperti solat, zakat, berbakti kpd kedua orang tua, silaturahim, amar ma’ruf nahi munkar, dsb, itu semua adl tipu daya setan yg menghiasi kebathilan sbgkebaikan di mata mereka.

Dan diantara kerusakanya adalah: Bahwa bid’ah dpt menimbulkan perpecahan & perselisihan, menjadikan umat terkotak-kotak, hal itu karena setiap kelompok dari para pelaku bid’ah memandang kelompoknya paling baik dibanding yg lain, & bahwasanya bid’ah yg mereka praktekkan & mereka seru-serukan adl sbgketaatan & kebenaran, & orang yg mengingkarinya atau yg tdk melakukan seperti yg mereka lakukan adl sama dgn mengingkari kebenaran & lalai dalam menjalankanya, maka terjadilah perselisihan dikalangan umat, kebenaran menjadi samar di mata awam, orang-orang cenderung tdk serius, lalu mereka menjadi kelompok-kelompok yg saling membanggakan diri:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

” Setiap kelompok bangga dgn apa yg ada pd mereka “, lalu hati-hati mereka berselisih, kalimat mereka terpecah, & mereka jatuh ke dalam larangan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

” Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (sesat) itu, maka kalian akan terpecah dari jalan-Nya“, & firman-Nya:

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

” Dan janganlah kalian seperti orang-orang yg berpecah belah & berselisih setelah dating keterangan kpd mereka, & bagi mereka itu azab yg berat“.

Dan di antara kerusakan bid’ah yg paling besar adalah: Bahwasanya ia dpt mengotori tampilan agama yg benar, mencemari kebeningan & kejernihanya, & memalingkan manusia dari ittiba’ & dari masuk ke dalam agama islam, terutama bid’ah-bid’ah yg byk dipraktekan orang-orang syi’ah dalam byk moment, begitu juga yg di praktekan kaum sufi yg berlebihan, orang yg menyaksikan bid’ah-bid’ah yg mereka lakukan – seperti; menyiksa badan, berteriak, melaknat & memaki, musik & nyanyian-nyanyian, mengumbar aurat & ikhtilat – sedang ia belum mengerti hakekat sebenarnya islam, ia akan meyakini bahwa hal itu adl kumpulan khurofat, mainan & syiar-syiar kosong, pekerjaan-pekerjaan yg susah yg diingkari oleh akal yg sehat & fitrah yg lurus, ini adl pencemaran terbesar terhadap citra agama islam & usaha utk menjauhkan manusia dari jalanya, & ini merupakan upaya musuh-musuh islam dari kalangan kufar & orang-orang munafik, karena itu kita menyaksikan mereka ikut andil dalam bid’ah-bid’ah ini, mengkampanyekanya dgn berbagai macam sarana, ada kisah dari seorang raja non muslim bahwa ia pernah melewati seorang syekh sufi, di sisinya ada para wanita & laki-laki tampan, mereka bernyanyi, menari & minum khamr – & ini adl yg dilakukan oleh kebanyakan kaum sufi khususnya saat peringatan kelahiran salah seorang dari tokoh mereka yg telah menjadi ahli kubur yg mereka minta-minta & mendekatkan diri kepadanya dgn berbagai macam sarana dgn mengabaikan Allah – maka raja ini bertanya-tanya: Apa yg diinginkan orang-orang ini dgn perbuatan mereka?, mereka menjawab: mereka menginginkan surga, maka ia berkata dgn kejernihan fitrah: Jika ini jalan utk menuju surga, lalu mana jalan utk menuju neraka?

Dan diantara bentuk-bentuk bid’ah yg diada-adakan, sedang agama berlepas darinya adalah: Meyakini adanya keutamaan umroh pd bulan rajab, menkhususkan hari-hari & malam-malamnya dgn doa, solat & puasa, terutama malam jum’at pertama dari bulan rajab & siangnya, juga malam ketujuh & kedua puluh dari bulan itu, di mana mereka beranggapan bahwa malam itu adl malam isro’ & mi’roj.

Meskipun peristiwa isro’ & miroj adl sesuatu yg pasti adanya dalam kitab maupun sunnah, akan tetapi penetapan hari atau bulan terjadinya diperselisihkan oleh kalangan ulama & para ahli sejarah, perselisihan tentang waktu terjadinya isro’ & mi’roj meskipun sangat masyhur adanya, tdk lain karena para salafus soleh – semoga Allah meridhoi mereka – memandang bahwa mengetahui waktu terjadinya kejadian ini tdk memiliki urgensi keagamaan & manfaat syar’i, karena tujuanya hanyalah utk mengambil pelajaran & tauladan, & hal itu tdk terkait & masalah waktu.

Adapun yg dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yg memperingati isro’ & mi’roj pd malam kedua puluh tujuh dari bulan rajab dgn berbagai acara pesta, dzikir & ibadah, maka semua itu adl bid’ah yg diada-adakan, & kalau sekiranya memperingati malam tersebut & mengkhususkanya dgn dzikir & ibadah tertentu adl perkara yg disyariatkan & bentuk ibadah yg dpt mendekatkan diri kpd Allah SWT, niscaya akan dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & para sahabatnya yg mulia, karena mereka adl manusia yg paling getol kpd kebaikan & paling depan dalam meraihnya.

Dan yg aneh adalah: bahwa kebanyakan dari mereka yg gemar menghidupkan bid’ah ini & memperingati isro’ & mi’roj, tdk memperdulikan solat 5 waktu yg diwajibkan pd saat itu, mereka tdk menunaikanya dgn berjamaah, mereka sibuk dgn bid’ah & meninggalkan kewajiban & sunnah-sunnah.

Kemudian peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah islam itu sangat byk, & semuanya adl peristiwa agung, setiap mukmin gembira menyambutnya, mulai dari maulud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga diangkatnya sbgRasul & hijrah ke Madinah, perang badar, fathu makah hingga seluruh perang dalam sejarah islam di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & zaman imam-imam setelahnya, & bukan dikategorikan sunnah menjadikanya sbghari raya yg diistimewakan oleh orang-orang & mereka melakukan di dalamnya apa-apa yg dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin dewasa ini, kalau sekiranya hal itu adl kebaikan niscaya mereka para salafus soleh telah lbh dulu melakukanya, mereka adl manusia yg paling mengerti syariat Allah & selalu terdepan kpd kebaikan.

Generasi terbaik & lekat dgn kebaikan itu telah berhenti pd batas ini, mereka tdk menghidupkan peringatan peristiwa-peristiwa bersejarah dalam islam, tdk menjadikan hari-hari besar itu sbghari raya yg mereka khususkan dgn berkumpul atau dgn satu bentuk ibadah yg tdk memilki dalil & sandaran syar’i. kebaikan seluruh kebaikan adl ada pd apa yg mereka lakukan, & kebenaran adl ada pd apa yg mereka berhenti pd batasnya, meneladani mereka adl kewajiban dalam agama, denganya digapai ridho Tuhan semesta alam.

Bulan rajab tdk memilki keutamaan apapun selain bahwa ia adl termasuk diantara bulan-bulan haram yg Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman tentangnya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُم

“ Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adl 2 belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pd waktu Dia menciptakan langit & bumi, diantaranya ada 4 bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yg lurus, maka janganlah kamu menzolimi dirimu dalam (bulan yg empat) itu.“

Dalam kitab sohih Bukhari & Muslim diriwayatkan dari Abi Bakarah r.a. dari Nabi saw, ia bersabda: ” Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya pd hari Allah menciptakan langit & bumi, Satu tahun itu ada 2 belas bulan: diantaranya ada 4 yg haram: 3 saling berurutan; dzulqo’dah, dzulhijjah & muharom, & rajab yg ada di antara jumada & sya’ban “. Al-hadits.

Dan yg selain itu tdk ada satu nash pun yg dpt dijadikan sandaran menunjukan keutamaanya, semua yg ada tentang itu adl hadits-hadits dho’if atau maudhu’ tdk boleh dijadikan hujjah & tdk boleh diamalkan.

Seperti itu pula yg dikatakan seputar keutamaan malam pertengahan bulan sya’ban & sunnahnya qiyamulail & puasa pd harinya, & bahwasanya bilangan-bilangan sunnah ditetapkan pd malam itu, ada beberapa hadits yg menunjukan itu, tetapi seluruhnya dho’if & tdk bisa dijadikan hujjah sebagaimana yg dinyatakan oleh para ahli tahqiq, kecuali satu hadits yg diperselisihkan para ulama, sebagian besar mendho’ifkanya, sebagian yg lain mensohihkanya, seperti Ibnu Hibban & al-Albani, karena hadits itu diriwayatkan melalui sekelompok sahabat dari jalan yg berbeda-beda, sebagian darinya menguatkan sebagian yg lain, yaitu sabda Nabi saw: “ Allah Subhanahu wa ta’ala mendatangi makhluknya pd malam pertengahan bulan sya’ban, lalu Dia mengampuni semua makhluknya kecuali seorang musyrik atau musyahin (yang meninggalkan jamaahnya)” ( Hadis Riwayat: Ahmad, Tabrani, Ibnu Hibban, Baihaqi, Bazzar, Ibnu Abi Ashim, Ibnu Asakir dll.)

Dan diantara bid’ah-bid’ah yg tdk memilki dalil adalah: Apa yg disebut dgn solat rogho’ib & solat seratus rakaat pd malam pertengahan bulan sya’ban, imam Nawawi mengatakan: ” Solat yg dikenal dgn solat ar-rogho’ib, yaitu 2 belas rakaat antara maghrib & isya’ pd malam jum’at pertama dari bulan rajab, & solat malam pertengahan dari bulan sya’ban sebanyak seratus rakaat adl 2 bid’ah yg mungkar, jangan sampai kita tertipu oleh penyebutan 2 hal itu dalam kitab ” Quut al-quluub “, & kitab ” Ihya’ ulumudin “, juga dalam hadits yg tersebut di atas, karena semua itu bathil “.

Imam al-Maqdisi mengarang satu kitab penuh tentang kebathilan adanya keutamaan amal dalam 2 malam itu, & bahwasanya tdk ada satu hadits pun yg dpt dijadikan sandaran dalam masalah itu.

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar mengarang satu kitab yg bernama: “ Tabyinul ajab bi maa waroda fi fadhli rajab “, ia menghadirkan dalam kitab itu seluruh hadits yg terkait dgn bulan ini & menerangkan keutamaanya, & ibadah-ibadah yg disyariatkan di dalamnya, kemudian menjelaskan kebathilanya, & bahwasanya tdk ada satu pun hujjah yg terdapat dalam salah satu darinya, seraya ia – semoga Allah merahmatinya – berkata: “ Tidak ada satu pun hadits sohih yg bisa dijadikan hujjah yg menunjukan adanya keutamaan bulan rajab, tdk pula keutamaan puasa di harinya, tdk pula puasa pd hari tertentu dalam bulan itu, tdk pula qiyamulail pd malam tertentu di dalamya, Imam Abu Ismail al-Harawi al-Hafidz telah mendahuluiku dalam memberikan penegasan tentang hal itu, kami meriwayatkan hal itu darinya dgn sanad yg sohih, begitu juga kami meriwayatkan hal itu dari selainya “.

Kemudian al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan madzhabnya tentang hadits dho’if, yaitu: Tidak mengamalkanya secara mutlak, tdk dalam fadho’ilul a’mal & tdk pula dalam yg lainya, seraya berkata: ” Tidak ada perbedaan dalam mengamalkan hadits baik dalam masalah ahkaam ataupun fadho’ilul a’mal, karena semuanya adl syariat”

Imam Ibnul Qoyim berkata dalam kitab ” Al-manar al-muniif “: ” Dan semua hadits yg berbicara tentang puasa rajab & solat pd sebagian malam dalam bulan itu adl kebohongan yg dibuat-buat “.

Demikian, aku memohon kpd Allah Subhanahu wa ta’ala agar menjadikan amal kita ikhlas karena-Nya, benar sesuai sunnah Rosul-Nya saw, & menjadikan kita termasuk orang-orang yg bersegera kpd kebaikan & terdepan di dalamnya.

Alhamdulillahi robbil ‘alamin.

Dr. Abdul Aziz bin Fauzan al-Fauzan, Terjemah: Muh. Lutfi Firdaus

Manfaat Membaca Sholawat dan salam untuk nabi kita Muhammad,

Ibnul Qoyyim menyebutkan 39 manfaat sholawat utk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adl sebagai berikut:

  1. Akan mendapatkan petunjuk & hati yg hidup. Semakin banyak ia bersholawat & menyebut nabi, maka cintanyapun semakin bergemuruh di dalam hatinya sehingga tidak ada lagi di dalam hatinya penolakan terhadap perintah-perintahnya, tidak ada lagi keraguan terhadap apa-apa yg dibawanya, bahkan hal tersebut telah tertulis di dalam hatinya, menerima petunjuk, kemenangan & berbagai jenis ilmu darinya. Ulama-ulama yg mengetahui & mengikuti sunnah & jalan hidup beliau, setiap pengetahuan mereka bertambah tentang apa yg beliau bawa, maka bertambah pula cinta & pengetahuan mereka tentang hakekat sholawat yg diinginkan untuknya dari Allah.
  2. Akan mendapatkan berkah pd dirinya, pekerjaannya, umurnya & kemaslahatannya, karena orang yg bersholawat itu memohon kepada Tuhannya agar memberkati nabi-Nya & keluarganya, & doa ini terkabul & balasannya sama dgn permohonannya.
  3. Penyebab mendapatkan syafa’at sollallohu ‘alaihi wa sallam bila diiringi oleh permintaan wasilah untuknya atau tanpa diiringi olehnya.
  4. Penyebab mendapatkan pengampunan dosa.
  5. Dicukupi oleh Allah apa yg diinginkannya.
  6. Mendekatkan hamba dgn nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam pd hari kiamat.
  7. Menyebabkan Allah & malaikat-Nya bersholawat utk orang yg bersholawat.
  8. Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab sholawat & salam orang yg bersholawat untuknya.
  9. Melaksanakan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala
  10. Mendapatkan sepuluh sholawat dari Allah bagi yg membaca sholawat satu kali.
  11. Ditulis baginya sepuluh kebaikan & dihapus darinya sepuluh kejahatan.
  12. Diangkat baginya sepuluh derajat.
  13. Kemungkinan doanya terkabul bila ia mendahuluinya dgn sholawat, & doanya akan naik menuju kepada Tuhan semesta alam.
  14. Mengharumkan majelis & agar ia tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan menyesal pd hari kiamat.
  15. Menghilangkan kefakiran.
  16. Menghapus predikat “kikir” dari seorang hamba jika ia bersholawat utk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam ketika namanya disebut.
  17. Orang yg bersholawat akan mendapatkan pujian yg baik dari Allah di antara penghuni langit & bumi, karena orang yg bersholawat, memohon kepada Allah agar memuji, menghormati & memuliakan rasul-Nya, maka balasan untuknya sama dgn yg ia mohonkan, maka hasilnya sama dgn apa yg diperoleh oleh rasul-Nya.
  18. Meneguhkan kedua kaki di atas Shirath & melewatinya berdasarkan hadits Abdurrahman bin Samirah yg diriwayatkan oleh Said bin Musayyib tentang mimpi Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam: “Saya melihat seorang di antara umatku merangkak di atas Shirath & kadang-kadang berpegangan lalu sholawatnya untukku datang & membantunya berdiri dgn kedua kakinya lalu menyelamatkannya.” [H.R. Abu Musa Al-Madiniy]
  19. Akan senantiasa mendapatkan cinta Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bahkan bertambah & berlipat ganda. Dan itu termasuk ikatan Iman yg tidak sempurna kecuali dengannya, karena seorang hamba bila senantiasa menyebut nama kekasihnya, menghadirkan dalam hati segala kebaikan-kebaikannya yg melahirkan cinta, maka cintanya itu akan semakin berlipat & rasa rindu kepadanya akan semakin bertambah, bahkan akan menguasai seluruh hatinya. Tetapi bila ia menolak mengingat & menghadirkannya dalam hati, maka cintanya akan berkurang dari hatinya. Tidak ada yg lbh disenangi oleh seorang pecinta kecuali melihat orang yg dicintainya & tiada yg lbh dicintai hatinya kecuali dgn menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah & berkurangnya cinta itu tergantung kadar cintanya di dalam hati, & keadaan lahir menunjukkan hal itu.
  20. Nama orang yg bersholawat itu akan disebutkan & diingat di sisi Rasul sollallohu ‘alaihi wa sallam seperti penjelasan terdahulu, sabda Rasul: “Sesungguhnya sholawat kalian akan diperdengarkan kepadaku.” Sabda beliau yg lain: “Sesungguhnya Allah mewakilkan malaikat di kuburku yg menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” Dan cukuplah seorang hamba mendapatkan kehormatan bila namanya disebut dgn kebaikan di sisi Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam.

Oleh, Penerbit Darul Qosim – Penerjemah Sholahuddin Abdul Rahman, Lc – Murajaah:
Abu Ziyad

Keutamaan Sholawat dan Salam Untuk Nabi Muhammad SAW

Dari Umar -Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إذَا سَمِعْتُمُ المُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا لِي الوَسِيلَةَ فَإنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأرْجُو أنْ أكُونَ هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ))

“Jika kalian mendengar orang yg adzan maka ucapkanlah seperti apa yg ia ucapkan & bersholawatlah untukku karena barangsiapa yg bersholawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah (kedudukan mulia di surga) untukku, karena ia adl sesuatu kedudukan di surga yg tidak pantas diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah & semoga akulah hamba itu, maka barangsiapa yg memohon untukku wasilah maka ia berhak mendapatkan syafa’at.” [H.R. Muslim]

Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِيْنَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي))

“Barangsiapa yg bersholawat untukku di waktu pagi sepuluh kali & di waktu sore sepuluh kali, maka ia berhak mendapatkan syafa’atku.” [H.R. Thabarani]

Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا))

“Barangsiapa yg bersholawat atasku sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” [H.R. Muslim, Ahmad & perawi hadits yg tiga]

Dan dari Abdurrahman bin ‘Auf -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Saya telah mendatangi nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam ketika ia sedang sujud & memperpanjang sujudnya. Beliau bersabda:”Saya telah didatangi Jibril, ia berkata: “Barangsiapa yg bersholawat untukmu, maka saya akan bersholawat untuknya & barangsiapa yg memberi salam untukmu maka saya akan memberi salam untuknya, maka sayapun bersujud karena bersyukur kepada Allah.” [H.R. Hakim, Ahmad & Jahadhmiy]

Ya’qub bin Zaid bin Tholhah At-Taimiy berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah datang kepadaku (malaikat) dari Tuhanku & berkata: “Tidaklah seorang hamba yg bersholawat untukmu sekali kecuali Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” Maka seseorang menuju kepadanya & bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah saya jadikan seperdua doaku untukmu?” Beliau menjawab: “Jika anda mau”. Lalu bertanya: “Apakah saya jadikan sepertiga doaku?” Beliau bersabda: “Jika anda mau” Ia bertanya: “Kalau saya jadikan seluruh doaku?” Beliau bersabda: “Jika demikian maka cukuplah Allah sebagai motivasi dunia & akhiratmu.” [H.R. Al-Jahdhami, Al-Albani berkata: “Hadits Mursal dgn Isnad yg Shohih]

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إنَّ للهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِينَ يُبَلِّغُونَنِي مِنْ أُمَّتِي السَّلاَمَ))

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yg berkeliling menyampaikan salam kepadaku dari umatku.” [H.R. Nasa’i & Hakim]

Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yg bersholawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, diampuni sepuluh dosa-dosanya & diangkat baginya sepuluh derajat.” [H.R. Ahmad & Bukhari, Nasa’i & Hakim & ditashih oleh Al-Albani]

Hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud: “Manusia yg paling utama di sisiku pd hari kiamat adl orang yg paling banyak bersholawat untukku.” [H.R. Tirmidzi & berkata: “Hasan ghorib & H.R. Ibnu Hibban]

Dari Jabir bin Abdullah berkata: “Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yg ketika mendengarkan adzan membaca:

((اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ ، آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ))

“Ya Allah! Tuhan pemilik adzan yg sempurna ini & sholat yg ditegakkan, berilah Muhammad wasilah & fadhilah & bangkitkanlah ia pd tempat terpuji yg telah Engkau janjikan untuknya.”

Maka ia berhak mendapatkan syafa’at pd hari kiamat. [H.R. Bukhari dalam shohihnya]

Oleh, Penerbit Darul Qosim – Penerjemah Sholahuddin Abdul Rahman, Lc – Murajaah:
Abu Ziyad

Cara Membaca Sholawat dan Salam Untuk Rasulullah

Allah sollallohu ‘alaihi wa sallam berfirman:

 إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

“Sesungguhnya Allah & malaikat-malaikat-Nya bersholawat utk nabi. Hai orang-orang yg beriman, bersholawatlah kamu utk nabi & ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)

Jadi yg utama adl dgn menggandengkan sholawat & salam bersama-sama, dgn harapan agar doanya dpt dikabulkan oleh Allah sollallohu ‘alaihi wa sallam Inilah bentuk sholawat & salam utk beliau sollallohu ‘alaihi wa sallam Dari Abi Muhammad bin ‘Ajrah -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami, lalu saya berkata: “Wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bersholawat untukmu?” Maka beliau bersabda: “Katakanlah:

((اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))

“Ya Allah! Berkatilah Muhammad & keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafqun ‘Alaihi]

Dan dari Abi Hamid As-Sa’id -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Mereka bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana kami bersholawat untukmu? Beliau menjawab: “Katakanlah:

((اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ ، إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ))

“Ya Allah! Berilah sholawat utk Muhammad, istri-istri & keturunannya, sebagaimana Engkau memberi sholawat utk Ibrahim. Berkatilah Muhammad, istri-istri & keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Kedua hadits ini menunjukkan bentuk sholawat yg sempurna utk Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam.

Oleh, Penerbit Darul Qosim – Penerjemah Sholahuddin Abdul Rahman, Lc – Murajaah:
Abu Ziyad

Waktu-waktu Terbaik untuk Membaca Sholawat dan Salam Untuk Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam

  1. Sebelum berdoa:Fadhalah bin ‘Abid berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam sholatnya, tetapi tidak bersholawat utk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: “Orang ini tergesa-gesa” Lalu beliau memanggil orang tersebut & bersabda kepadanya & kepada yg lainnya:

    ((إذَا صَلَّى أحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيهِ ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ، ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ))

    “Bila salah seorang di antara kalian sholat (berdoa) maka hendaklah ia memulainya dgn pujian & sanjungan kepada Allah lalu bersholawat utk nabi, kemudian berdoa setelah itu dgn apa saja yg ia inginkan.” [H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad & Hakim]

    Dalam salah satu hadits disebutkan:

    ((الدُّعَاءُ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلِّيَ الدَّاعِي عَلَى النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم ))

    “Doa itu terhalangi, hingga orang yg berdoa itu bersholawat utk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam.” [H.R. Thabarani]

    Ibnu ‘Atha berkata: “Doa itu memiliki rukun-rukun, sayap-sayap, sebab-sebab & waktu-waktu. Bila bertepatan dgn rukun-rukunnya maka doa itu menjadi kuat, bila sesuai dgn sayap-sayapnya maka ia akan terbang ke langit, bila sesuai dgn waktu-waktunya maka ia akan beruntung & bila bertepatan dgn sebab-sebabnya maka ia akan berhasil.”

    Adapun rukun-rukunnya adl menghadirkan hati, perasaan tunduk, ketenangan, kekhusyu’an, & ketergantungan hati kepada Allah, sayap-sayapnya adl jujur, waktu-waktunya adl di saat sahur & sebab-sebabnya adl sholawat utk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam.

  2. Ketika menyebut, mendengar & menulis nama beliau:Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
    ((رَغَمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ))

    “Celakalah seseorang yg namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bersholawat untukku.” [H.R. Tirmidzi & Hakim]

  3. Memperbanyak sholawat untuknya pd hari Jum’at:Dari ‘Aus bin ‘Aus berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    ((إنَّ أفْضَلَ أيَّامِكُمْ يَوُمُ الجُمْعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ…))

    “Sesungguhnya di antara hari-hari yg paling afdhal adl hari Jum’at, maka perbanyaklah sholawat untukku pd hari itu, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku……” [H. R. Abu Daud, Ahmad & Hakim]

  4. Sholawat utk nabi ketika menulis surat & apa yg ditulis setelah Basmalah:Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Inilah saat-saat yg tepat utk bersholawat yg telah banyak dilakukan oleh umat ini tanpa ada yg menentang & mengingkarinya. Dan tidak pula pd periode-periode awal. Lalu terjadi penambahan pd masa pemerintahan Bani Hasyim -Daulah ‘Abbasiah- lalu diamalkan oleh umat manusia di seluruh dunia.”

    Dan di antara mereka ada pula yg mengakhiri bukunya dgn sholawat.

  5. Ketika masuk & keluar mesjid:Dari Fatimah -Radhiyallahu ‘Anha- berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila anda masuk mesjid, maka ucapkanlah:

    ((بِسْمِ اللهِ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاغْفِرْ لَنَا وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ))

    “Dengan nama Allah, salam utk Rasulullah, ya Allah sholawatlah utk Muhammad & keluarga Muhammad, ampunilah kami & mudahkanlah bagi kami pintu-pintu rahmat-Mu.”

    “Dan bila keluar dari mesjid maka ucapkanlah itu, tapi (pada penggalan akhir) diganti dengan:

    ((وَسَهِّلْ لَنَا أبْوَابَ فَضْلِكَ))

    “Dan permudahlah bagi kami pintu-pintu karunia-Mu.” [H.R. Ibnu Majah & Tirmidzi]

Oleh,Penerbit Darul Qosim – Penerjemah Sholahuddin Abdul Rahman, Lc – Murajaah:
Abu Ziyad

Pengertian dan Hukum Sholawat dan Salam atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Pengertian Sholawat & Salam atas nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam

Allah subhaanhu wa ta’aala berfirman:

 إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 

“Sesungguhnya Allah & malaikat-malaikat-Nya bersholawat utk nabi. Hai orang-orang yg beriman, bersholawatlah kamu utk nabi & ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)

Ibnu Katsir-Rahimahullah- berkata: “Maksud ayat ini adl bahwa Allah subhaanhu wa ta’aala mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba & nabi-Nya (Muhammad) di sisi-Nya di langit di mana malaikat-malaikat bersholawat untuknya, lalu Allah subhaanhu wa ta’aala memerintahkan makhluk-makhluk yg ada di bumi utk bersholawat & salam untuknya, agar pujian tersebut berkumpul untuknya dari seluruh alam baik yg ada di atas maupun yg ada di bawah.”

Ibnul Qoyyim -Rahimahullah- berkata dalam buku “Jalaul Afham”: “Artinya bahwa jika Allah & malaikat-malaikat-Nya bersholawat utk rasul-Nya, maka hendaklah kalian juga bersholawat & salam untuknya karena kalian telah mendapatkan berkah risalah & usahanya, seperti kemuliaan di dunia & di akhirat.”

Banyak pendapat tentang pengertian Sholawat utk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, & yg benar adl seperti apa yg dikatakan oleh Abul Aliyah: “Sesungguhnya Sholawat dari Allah itu adl berupa pujian bagi orang yg bersholawat utk beliau di sisi malaikat-malaikat yg dekat” (Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shohihnya dgn komentar yg kuat) Dan ini adl mengkhususkan dari rahmat-Nya yg bersifat umum. Pendapat ini diperkuat oleh syekh Muhammad bin ‘Utsaimin.

Salam: Artinya keselamatan dari segala kekurangan & bahaya, karena dgn merangkaikan salam itu dgn sholawat maka kitapun mendapatkan apa yg kita inginkan & terhapuslah apa yg kita takutkan. Jadi dgn salam maka apa yg kita takutkan menjadi hilang & bersih dari kekurangan & dgn sholawat maka apa yg kita inginkan menjadi terpenuhi & lbh sempurna. Demikian yg dikatakan oleh Syekh Muhammad bin ‘Utsaimin.

Hukum Sholawat Untuk Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam

Menurut madzhab Hanbaliy, sholawat dalam tasyahhud akhir itu adl termasuk di antara rukun-rukun sholat.

Al-Qodhi Abu Bakar bin Bakir berkata: “Allah subhaanhu wa ta’aala telah mewajibkan makhluk-Nya utk bersholawat & salam utk nabi-Nya, & tidak menjadikan itu dalam waktu tertentu saja. Jadi yg wajib adl hendaklah seseorang memperbanyak sholawat & salam utk beliau & tidak melalaikannya.“

Oleh, Penerbit Darul Qosim – Penerjemah Sholahuddin Abdul Rahman, Lc – Murajaah: Abu Ziyad

Menyambung Tali Silaturrahim, Menambah Rasa Cinta Dalam Keluarga, Membuka Pintu Rezeki dan Memperpanjang Umur

Sesungguhnya silaturrahim termasuk ibadah kpd Allah Subhanahu wa ta’ala yg paling baik & ketaatan yg paling agung, kedudukan yg tertinggi & berkah yg besar, serta yg paling umum manfaatnya di dunia & akhirat. Maka silaturrahim merupakan kebutuhan secara fitrah & sosial, yg dituntut oleh fitrah yg benar & dicenderungi oleh tabiat yg selamat. Sesungguhnya sempurnalah dengannya keakraban, tersebar kasih sayang dgn perantaraannya, & merata rasa cinta. Ia adl bukti kemuliaan, tanda muru`ah, mengusahakan bagi seseorang kemuliaan, pengaruh, & wibawa. Karena alasan itulah berlomba-lomba padanya orang-orang mulia yg berakal, maka mereka menyambung (tali silaturrahim) kpd orang yg memutuskan & memberi kpd orang yg tdk mau memberi, serta bersifat santun kpd yg bodoh. Tidaklah nampak muru`ah kecuali ada padanya tali kekeluargaan yg disambung kembali, kebaikan yg diberikan, kesalahan yg dimaafkan, & uzur yg diterima. Sesungguhnya silaturrahim memperkuat kasih sayang & menambah rasa cinta, serta memperkokoh ikatan kekeluargaan. Nabi  bersabda:

إِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِى اْلأَهْلِ وَمَثرَاةٌ فِى الْمَالِ وَمَنْسَأَةٌ فِى اْلأَثَرِ

“Sesungguhnya silaturrahim adl rasa cinta di dalam keluarga, menambah harta, & memperpanjang umur.“

Sesungguhnya silaturrahim menambah umur, memakmurkan negeri, menambah keberkahan rizqi, & memelihara kesudahan yg buruk. Nabi  bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yg ingin dimudahkan rizkinya & dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim.“

Maka silatahurrahim merupakan kewajiban yg sangat ditekankan, tdk ada yg memutuskannya & mengingkarinya kecuali orang yg telah rusak fitrahnya, buruk akhlaknya, jelek tabiatnya, & ia sudah pantas mendapat kutukan dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ. أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi & memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yg dila’nati Allah & ditulikan-Nya telinga mereka & dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Al Qur’an Surat: Muhammad:22-23)

Karena itulah, Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan dalam kitab-Nya yg mulia utk menyambung tali silaturrahim di beberapa ayat: Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Sembahlah Allah & janganlah kamu mempersekutukan-Nya dgn sesuatupun. Dan berbuat baiklah kpd 2 orang ibu-bapak,…. (Al Qur’an Surat: An-Nisaa`:36)

Dan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Dan bertaqwalah kpd Allah yg dgn (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, & (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga & mengawasi kamu. (Al Qur’an Surat: 4:1)

Maksudnya adl bertaqwalah kpd Allah Subhanahu wa ta’ala dgn melaksakan taat kepada-Nya & meninggalkan perbuatan durhaka kepada-Nya, & takutilah hubungan silaturrahim bahwa kamu memutuskannya, akan tetapi sambunglah & berbuat baiklah kepadanya.

Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menyuruh menyambung hubungan silaturrahim setelah memerintahkan bertaqwa kepada-Nya. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala mengingatkan para da’i-Nya yg berada di di antara manusia, agar menyambung tali silaturrahim, karena mereka berasal dari satu jiwa, & utk menunjukkan bahwa silaturrahim karena mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa ta’ala merupakan salah satu pengaruh taqwa kpd Allah Subhanahu wa ta’ala yg penuh berkah, menjadi tanda meresapnya taqwa di dalam hati, merupakan petunjuk kebenaran iman. Maka manusia yg paling menyambung silaturrahim merupakan manusia yg paling sempurna iman & paling bertaqwa kpd Rabb-Nya. Kerena inilah, Nabi  merupakan orang yg paling menyambung hubungan silaturrahim & yg paling bertaqwa kpd Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena itulah, Khadijah radhiyallahu ‘anha menyebutkan hal itu saat turunnya wahyu pertama kali, ketika beliau  berkata kpd Khadijah radhiyallahu ‘anha & bercerita kepadanya:

إِنِّي خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِي

‘Sesungguhnya aku merasa khawatir terhadap diriku.’ Maka ia berkata, ‘Sekali-kali tidak, sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala tdk akan pernah menghinakan engkau, sesungguhnya engkau benar-benar menyambung hubungan silaturrahim…‘

Di antara besarnya perkara silaturrahim, sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala mengambil baginya satu nama dari nama-Nya yg Maha Agung, maka dari Abdurrahman bin ‘Auf , ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah  bersabda:

قَالَ اللهُ تعالى: أَنَا اللهُ وَأَنَا الرَّحْمنُ, خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنْ اسْمِي فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ

“Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Aku adl Allah Subhanahu wa ta’ala, & Aku Yang Maha Penyayang, Aku menciptakan rahim, & Aku mengambilkan baginya satu nama dari nama-Ku. Maka barangsiapa yg menyambungnya niscaya Aku menyambung (hubungan dengan)nya & barangsiapa yg memutuskannya niscaya Aku memutuskan (hubungan dengan)nya.“

Karena berdasarkan ayat-ayat tersebut & yg lainnya, serta hadits-hadits Nabi  ini, di samping juga yg akan disebutkan, silaturrahim merupakan perkara besar, kedudukan yg tinggi, sanjungan yg indah, & sebutan yg baik di dunia, & kesudahan yg indah di akhirat bagi orang yg menyambung hubungan silaturrahim & melaksanakan hak ini dgn sebaik-baiknya.

Saudaraku sesama muslim: Sesungguhnya silaturrahim merupakan amal shalih yg penuh berkah, & memberikan kpd pelakunya kebaikan di dunia & akhirat. Menjadikannya diberkahi di manapun ia berada, Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan berkah kepadanya di setiap kondisi & perbuatannya, baik yg segera maupun yg tertunda.

Keutamaannya sangat byk, profitnya melimpah, buahnya matang, pohon-pohonnya baik yg memberikan makanannya di setiap waktu dgn ijin Rabb-nya. maka diantara keutamaan tersebut adl sbg berikut:

  1. Silaturrahim merupakan sebagian dari konsekuensi iman & tanda-tandanya: dari Abu Hurairah  ia berkata, ‘Rasulullah  bersabda:مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ, وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ”Barang siapa yg beriman kpd Allah Subhanahu wa ta’ala & hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, & barangsiapa yg beriman kpd Allah Subhanahu wa ta’ala & hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim,…“
  2. Silaturrahim adl penyebab bertambah umur & luas rizqi: dari Abu Hurairah , ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah  bersabda:مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ”Barangsiapa yg senang diluaskan rizqinya & dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim.“
  3. Silaturrahim menyebabkan adanya hubungan Allah Subhanahu wa ta’ala bagi orang yg menyambungnya: dari Abu Hurairah , ia berkata, ‘Rasulullah  bersabda:إَنَّ اللهَ خَلَقَ الْخَلْقَ حَتَّى إِذَا فَرَغَ مِنْهُمْ قَامَتِ الرَّحِمُ فَقَالَتْ:هَذَا مَقَامُ الْعَائِذُ بِكَ مِنَ الْقَطِيْعَةِ. قَالَ: َنعَمْ, أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكَ وَأَقْطَعَ مَنْ َقطَعَكَ؟ قَالَتْ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكَ لَكَ.”Sesungguhnya Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan makhluk, hingga apabila Dia Subhanahu wa ta’ala selesai dari (menciptakan) mereka, rahim berdiri seraya berkata: ini adl kedudukan orang yg berlindung dengan-Mu dari memutuskan.’ Dia Subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Benar, apakah engkau ridha bahwa Aku menyambung orang yg menyambung engkau & memutuskan orang yg memutuskan engkau? Ia menjawab, ‘Bahkan.’ Dia Subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Itulah untukmu.’Dan dalam satu riwayat al-Bukhari:

    فَقَالَ اللهُ تعالى: مَنْ وَصَلَكَ وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَكَ قَطَعْتُهُ

    “Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yg menyambung engkau niscaya Aku menyambungnya & barangsiapa yg memutuskan engkau niscaya Aku memutuskannya.”

  4. Silaturrahim merupakan salah satu penyebab utama masuk surga & jauh dari neraka: dari Abu Ayyub al-Anshari , sesungguhnya seorang laki-laki berkata, ‘Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku amalan yg memasukkan aku ke dalam surga & menjauhkan aku dari neraka.’ Maka Nabi  bersabda:تَعْبُدُ اللهَ وَلاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصِلُ الرَّحِمَ.”Engkau menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala & tdk menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, & menyambung tali silaturrahim.”Dan dalam satu riwayat:

    إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُهُ بِهِ دخَلَ َالْجَّنََّةَ

    “Jika dia berpegang dgn apa yg Kuperintahkan kepadanya niscaya ia masuk surga.”

  5. Silaturrahim merupakan ketaatan kpd Allah Subhanahu wa ta’ala & ibadah besar, serta petunjuk takutnya hamba kpd Rabb-Nya. Maka ia menyambung tali silaturrahim tatkala Allah Subhanahu wa ta’ala menyuruh utk disambung. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَآأَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِdan orang-orang yg menghubungkan apa-apa yg Allah perintahkan supaya dihubungkan, & mereka takut kpd Rabbnya & takut kpd hisab yg buruk. (Al Qur’an Surat: Ar-Ra’d:21)
  6. Sesungguhnya silaturrahim lbh besar dari pd memerdekakan budak. Dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya dia memerdekakan budak yg dimilikinya & dia tdk meminta izin kpd Nabi . Maka tatkala pd hari yg menjadi gilirannya, ia berkata, ‘Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya, ‘Apakah sudah engkau lakukan? Dia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda:أَمّا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَبْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ ِلأَجْرِكِ.”Adapun jika engkau memberikannya kpd paman-pamanmu niscaya lbh besar pahalanya untukmu.“
  7. Di antara besarnya silaturrahim, sesungguhnya sedekah terhadap keluarga sendiri tdk seperti sedekah terhadap orang lain. Dari Salman bin ‘Amir , dari Nabi , beliau bersabda:… الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ”…Sedekah terhadap orang miskin adl sedekah & terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala sedekah & silaturrahim.“Dan demikian pula dari hadits Zainab ats-Tsaqafiyah radhiyallahu ‘anha, istri Abdullah bin Mas’ud , ketika ia pergi & bertanya kpd Nabi , ‘Apakah boleh bersedekah darinya kpd suaminya & anak-anak yatim yg ada dalam asuhannya? Maka Nabi  bersabda:

    لَهَا أَجْرَانِ: أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ

    “Untuknya 2 pahala, pahala keluarga & pahala sedekah.“

    Wahai saudaraku sesama Islam: termasuk hak keluarga & kerabatmu bahwa engkau mengunjungi yg sakit dari mereka, membantu yg fakir, memperhatikan yg membutuhkan dari mereka, mengasihi yg kecil, membantu anak yatim, menghormati yg besar, & engkau memberikan kpd mereka dgn kebaikanmu kpd selain mereka, engkau memberikan senyum kpd mereka saat bertemu, lembut berkata-kata kpd mereka, berbuat baik dalam berhubungan dgn mereka, dalam arti saling mengunjungi, saling memberi hadiah & salam, serta saling mendo’akan.

Wahai saudaraku, perkara ini tdk berhenti hanya sampai di sini, tetapi kamu harus menyambung hubungan dgn mereka, sekalipun mereka bersikap kaku & memutuskan hubungan. Engkau harus tetap bersikap santun kpd mereka, sekalipun mereka bodoh & jahil. Dengan demikian, engkau telah melebihi mereka beberapa derajat di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala, karena begitu byk nya kebaikanmu & buruknya sikap mereka, serta jahatnya perilaku mereka bersamamu.

Berbuat baiklah kpd manusia niscaya engkau mendapatkan hati mereka

Sering kali manusia menjadi budak karena perbuatan baik.

Imam Muslim & Imam Ahmad rahimahumallah meriwayatkan dari Abu Hurairah , ia berkata, ‘Seorang laki-laki datang kpd Nabi  seraya berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat yg terus kusambung hubungan dgn mereka & mereka memutuskan, aku berbuat baik kpd mereka & mereka berbuat jahat kepadaku, & mereka bersikap bodoh kepadamu sedangkan aku selalu bersikap santun kpd mereka. Beliau bersabda:

لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ, فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ, وَلاَيَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيْرٌ عَلَيْهِمْ مَادُمْتَ عَلَى ذلِكَ.

“Jika engkau benar-benar seperti yg engkau katakan, maka seolah-olah engkau menaburkan bara panas di wajah mereka. Dan senantiasa kemenangan dari Allah Subhanahu wa ta’ala menyertaimu terhadap mereka, selama engkau tetap seperti itu.“

Wahai saudara yg mulia: sebagian manusia tdk menyambung hubungan dgn kerabatnya kecuali apabila mereka menyambungnya. Ini pd hakekatnya bukan menyambung tali silaturrahim. Sesungguhnya hal itu hanyalah membalas jasa. Karena sesungguhnya muru`ah & fitrah yg sehat menuntut utk membalas jasa kpd orang yg berbuat baik kepadamu, sama saja ia termasuk kerabatmu atau bukan. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash , dari Nabi , beliau bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yg menyambung (tali silaturrahim) bukanlah orang yg membalas jasa. Akan tetapi orang yg menyambung (tali silaturrahim) adl yg apabila diputuskan hubungan (silatarrahim)nya, ia menyambungnya.”

Dan dari ‘Uqbah bin ‘Amir , aku berkata, ‘Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yg utama,’ maka beliau bersabda:

صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ

Wahai ‘Uqbah, sambunglah orang yg memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kpd orang yg tdk memberi kepadamu, & berpalinglah dari orang yg berbuat zalim kepadamu.“

Wahai saudaraku, sesungguhnya termasuk silaturrahim bahwa engkau mengampuni kesalahan orang lain, menutupi kekeliruan. Dan tiadalah akal sehat, keutamaan, & kecerdasan kecuali engkau menyambung tali silaturrahim kpd orang yg telah memutuskan, memberi kpd orang yg tdk pernah memberi kepadamu, memaafkan kpd orang yg berbuat zalim kepadamu, & bersikap santun kpd yg bodoh terhadapmu. Dan bertambahlah kecerdasan, besarlah keutamaan, & tinggilah jiwa ketika engkau berbaik sangka (husnuz zhan) dgn mereka, & melihat pd kekeliruan mereka dgn pandangan orang yg mulia lagi toleran.

Hendaklah kita bertaqwa kpd Allah Subhanahu wa ta’ala, takut terhadap murka & siksa-Nya, & hendaklah kita menyambung silaturrahim kita. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَأُوْلُوا اْلأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ

Dan orang-orang yg mempunyai hubungan darah satu sama lain lbh berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah (Al Qur’an Surat: Al-Ahzab:6)

Sesungguhnya memutuskan tali silaturrahim merupakan dosa besar yg Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan ancaman kpd pelakunya dgn berbagai siksaan & hukuman, baik di dunia maupun di akhirat. Bagaimana tidak, padahal Rasulullah  bersabda:

اَلرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللهُ

“Rahim bergantung di Arys seraya berkata: Barangsiapa yg menyambung hubunganku niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala menyambungnya, & barangsiapa yg memutuskan aku niscaya Allah Subhanahu wa ta’ala memutuskan hubungan dengannya.“

Maka orang yg memutuskan tali silaturrahim terputus dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan siapa yg Allah Subhanahu wa ta’ala memutuskan hubungan dengannya, maka kebaikan apakah yg bisa diharapkannya, & keburukan apakah yg ia bisa aman darinya, baik di dunia maupun di akhirat selama ia masih memutuskan tali silaturrahim? Dari Abu Bakrah , dari Nabi , beliau bersabda:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ فِى الدُّنْيَا مَعَ مَا يُدَّخَرُ لَهُ فِى اْلآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيْعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yg Allah Subhanahu wa ta’ala lbh mempercepat siksaan kpd pelakunya di dunia, serta yg tersimpan untuknya di akhirat selain perbuatan zalim & memutuskan tali silaturrahim.“

Saudaraku yg mulia: apabila hal itu sudah diketahui, maka ketahuilah, sesungguhnya memutuskan hubungan silaturrahim -semoga Allah Subhanahu wa ta’ala melindungi kita semua- termasuk sebab terhapusnya hati, butanya mata hati, & terhalang mendapatkan ilmu yg bermanfaat. Bahkan, terhalang mendapat semua kebaikan. Maka orang yg memutuskan silaturrahim, kehidupannya susah, tdk ada yg menyukai & menyebutnya. Dan apabila ia disebut orang, maka dgn pembicaraan yg buruk & sifat yg jelek. Karena memutuskan silaturrahim termasuk kerusakan di muka bumi, Allah Subhanahu wa ta’ala telah memutuskan kpd pelakunya dgn mendapat kutukan & hukuman yg segera (di dunia) & tertunda (di akhirat). Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi & memutuskan hubungan kekeluargaan* Mereka itulah orang-orang yg dila’nati Allah & ditulikan-Nya telinga mereka & dibutakan-Nya penglihatan mereka. (Al Qur’an Surat: Muhammad:22-23)

Dan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَآ أَمَرَ اللهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي اْلأَرْضِ أُوْلَئِكَ لَهُمُ الْلَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

Orang-orang yg merusak janji Allah setelah diikrarkan dgn teguh & memutuskan apa-apa yg Allah perintahkan supaya dihubungkan & mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yg memperoleh kutukan & bagi mereka tempat kediaman yg buruk(jahannam). (Al Qur’an Surat: Ar-Ra’d:25)

Dan diriwayatkan dari Nabi , sesungguhnya beliau bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الْقَوْلُ وَخزن الْعَمَلُ وَائْتَلَفَتِ اْلأَلْسُنُ وَتَبَاغَضَتِْ الْقُلُوْبُ وَقَطَعَ كُلُّ ذِي رَحِمٍ رَحِمَهُ فَعِنْدَ ذلِكَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

“Apabila nampak ucapan & tersimpan amal ibadah, kesepakatan nampak di lidah & hati saling membenci, serta setiap orang yg mempunyai keluarga memutuskannya. Maka ketika itulah Allah Subhanahu wa ta’ala mengutuk mereka, menulikan mereka, & membutakan mata hati mereka.“

Dan diriwayatkan bahwa orang yg memutuskan tali silaturrahim, amalnya tdk diterima. Dari Abu Hurairah , ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah  bersabda:

إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيْسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ

“Sesungguhnya amal ibadah manusia diperlihatkan setiap hari Kamis malam Jum’at, maka tdk diterima amal ibadah orang yg memutuskan hubungan silaturrahim.“

Tahukah engkau, wahai saudaraku yg mulia, kerugian orang yg memutuskan tali silaturrahimnya, maka janganlah engkau termasuk dari mereka. Dan orang yg memutuskan silaturrahim juga membawa dirinya utk tdk dikabulkan doanya. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud  pd sesuatu hari duduk setelah Subuh di satu halqah, maka berkata: ‘Aku meminta kpd orang yg memutuskan silaturrahim agar berdiri meninggalkan kami. Sesungguhnya kami ingin berdoa kpd Rabb kami & sesungguhnya pintu langit tertutup karena orang yg memutuskan silaturrahim.’

Maka janganlah engkau membawa dirimu, wahai si miskin, bahwa doamu ditolak bila kamu berdoa kpd Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan orang yg memutuskan tali silaturrahim membuat sial masyarakat yg dia tinggal padanya. Dari Abdullah bin Abi Aufa , ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah  bersabda:

لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Rahmat tdk turun kpd kaum yg pd mereka ada yg memutuskan silaturrahim.“

Dan orang yg memutuskan tali silaturrahim terancam tdk bisa masuk surga. Dari Abu Muhammad Jubair bin Muth’im , dari Nabi , beliau bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak bisa masuk surga orang yg memutuskan (silaturrahim).“

Penyusun Syaikh Khalid bin Husain bin Abdurrahman, Terjemah Mohammad Iqbal Ghazali, Editor Eko Haryanto Abu Ziyad

Keutamaan Mendidik Anak Perempuan dengan Kesabaran

Di antara anak-anak perempuan byk yg muslimah, mukminah, ahli ibadah, jujur, sabar, khusyu’, tekun shalat & puasa, byk bersedekah & byk bedzikir. Bahkan kita dpt saksikan di zaman kita sekarang byk dari anak-naka perempuan kita -segala puji bagi Allah- sudah byk perhatian kpd zikir, ibadah & berinfak di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala Kita dapatkan adanya perlombaan di markas-markas liburan musim panas yg byk diikiti oleh kaum putri. Ketika mereka diseru utk berinfak, kita byk mendapatkan mereka bersedekah dgn perhiasan mereka. Hal ini mengingatkan kita pd tindakan shahabiyat atau para wanita di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kenikmatan seperti itu hendaknya tetap dilestarikan, sebagaimana yg diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

“لاَ يَزاَلُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ قاَئِمَةً عَلىَ الْحَقِّ مَنْصُوْرَةً لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلاَ مَنْ خاَلَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أمْرُ اللهِ”

“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yg tegak di atas kebenaran & senantiasa ditolong. Mereka tdk akan mundur oleh celaan orang yg mencela & menentang hingga pertolongan Allah datang.” (Hadis Riwayat: Bukhari & Muslim)

Para anak perempuan itu merupakan buah hati & penenang jiwa para orang tua di kala masih hidup maupun setelah meninggal dunia. Sebagaimana mereka adl karunia dari Allah Subhanahu wa ta’ala kpd hambaNya yg dikehendaki, bukankah mereka juga adl (manusia) sbg ibu, saudari atau istri? Kalau sudah jelas seperti ini, siapa lagi yg akan membenci & tdk mau mendidik anak perempuan?!

Sebenarnya, mendidik anak perempuan itu akan menjadi penghalang dari api neraka. Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ia berkata: “Ada seorang wanita masuk besama 2 anak perempuannya seraya meminta diberi sesuatu. Akan tetapi aku tdk mendapatkan sesuatu utk diberikan kecuali sebutir buah kurma. Aku berikan sebutir buah kurma tersebut kepadanya. Kemudian si ibu itu membaginya kpd kedua anaknya. Sementara ia sendiri tdk makan. Kemudian mereka keluar & pergi.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang & masuk kpd kami, aku beritahukan kisah ini kepadanya. Kemudian beliau berkata:

“مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَناَتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إلَيْهِن كُنَّ لَهُ سِتْراً مِنَ النّاَرِ”

“Barangsiapa yg diuji dgn mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kpd mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.” (Hadis Riwayat: Bukhari & Muslim)

Di dalam hadits ini terdapat indikasi yg jelas atas ketinggian kasih sayang ibu yg tdk terhingga. Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga menunjukkan bahwa hal itu bisa dicapai dgn ujian mendapat satu anak perempuan saja.

Mendidik anak perempuan dpt mengantarkan masuk ke surga. Diriwayatkan oleh Aisyah ra. ia berkata: “Aku kedatangan seorang ibu miskin yg membawa kedua anak perempuannya. Aku berikan kepadanya 3 butir buah kurma. Kemudian ia memberikan masing-masing dari kedua anaknya satu butir kurma & yg satu butir lagi ia ambil utk dimakan sendiri. Akan tetapi, ketika ia akan memakannya, kedua anaknya itu memintanya. Akhirnya satu butir kurma itu dibelah 2 & diberikan kpd mereka berdua. Kejadian itu mengagumkanku. Maka, aku ceritakan hal itu kpd Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan demikian beliau bersabda:

“إِنَّ اللهَ قَدْ أوْجَبَ لَهاَ بِهاَ الْجَنَّةِ، أَوْ أَعْتَقَهاَ بِهاَ مِنَ الناَّرِ”

“Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharuskan ibu itu masuk surga atau membebaskannya dari neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.” (Hadis Riwayat: Muslim)

Kejadian ini persis dgn kejadian yg dikisahkan pd hadits yg sebelumnya. Akan tetapi, pengorbanan seorang ibu dalam kejadian di hadits ini lbh nampak & sifat itsar (memperioritaskan orang lain atas diri)nya lbh besar dimana ia tdk makan sedikit pun & mendahulukan kedua anaknya.

Mendidik anak perempuan dpt mengangkat derajat. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“مَنْ عاَلَ جاَرِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغاَ جاَءَ يَوْمَ الْقِياَمَةِ أناَ وَهَوَ”

“Barangsiapa mengurus & mendidik 2 anak perempuan hingga mereka dewasa maka ia datang di hari kiamat bersamaku.” Beliau merapatkan jari-jemarinya. (Hadis Riwayat: Muslim)

Dalam hadits ini terdapat bisyaroh (kabar kembira) yg besar bagi orang yg dikaruniai 2 anak perempuan kemudian ia merawat & mendidiknya dgn baik, dimana ia nanti di hari kiamat masuk dalam kelompok Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam & senantiasa menyertainya sebagaimana jari telunjuk & jari tengah akan selalu berdampingan & dekat ketika digenggamkan. Hal ini cukup menjadi keutamaan & kebanggaan karena orang yg berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pd hari yg penuh dgn rasa bingung & goncang hati Insya Allah akan terjamin & aman dari kekacauan yg terjadi pd hari itu. Dalam riwayat lain dikatakan,

“مَنْ عاَلَ جاَرِيَتَيْنَ دَخَلْتُ أناَ وَهُوَ الْجَنَّةَ كَهاَتَيْنِ”

“Barangsiapa yg mengurus 2 anak perempuan maka aku & dia akan masuk surga seperti ini.” Beliau berisyarat dgn 2 jarinya (telunjuk & jari tengah). (Hadis Riwayat: Tirmidzi)

Pengertian hadits ini adl bahwa orang seperti itu akan termasuk assabiqunal-awwalun (yaitu orang-orang yg lbh dahulu) dalam masuki surga.

Mengenai keutamaan merawat & mendidik satu anak perempuan saja, diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“مَنْ كاَنَتْ لَهُ أُنْثَى فَلَمْ يَئِدْهاَ وَلَمْ يُهِنْهاَ وَلَمْ يُؤْثِرْ وَلَدَهُ عَلَيْهاَ أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّةَ”

“Barangsiapa mempunyai satu anak perempuan kemudian ia tdk menguburkannya hidup-hidup, tdk menghinakannya & tdk mengutamakan anak laki-laki daripada anak perempuan maka Allah akan memasukannya ke dalam surga.” (Hadis Riwayat: Abu Dawud)

Dalam hadits yg mulia ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan beberapa syarat yg harus dipenuhi oleh orang yg ingin masuk surga, yaitu dgn berbuat ihsan terhadap anak perempuan dgn rincian sbg berikut:

  1. Merawatnya hidup & tdk menguburkannya hidup-hidup seperti yg dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.
  2. Memuliakan, memelihara dgn baik & memperlakukannya dgn penuh kasih sayang, kebanggaan & penghormatan tanpa merendahkan ataupun menghinakan
  3. Tidak mengutamakan anak laki-laki ketimbang anak perempuan dalam memperlakukan mereka

Barangsiapa yg dpt merealisasikan 3 syarat di atas maka ia sangat patut utk mendapatkan pahala tersebut di atas yaitu masuk surga.

Mendidik anak perempuan & mentarbiyahnya akan menjadi tabir & penghalang dari api neraka. Diriwayatkan dari Uqbah bin Nafie ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“مَنْ كاَنَ لَهُ ثَلاَثُ بَناَتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقاَهُنَّ وَكَساَهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجاَباً مِنَ النّاَرِ يَوْمَ الْقِياَمَةِ”

“Barangsiapa memiliki 3 anak perempuan kemudian ia sabar atas (merawat & mendidik) mereka serta ia memberi makan & minum mereka dari apa-apa yg ia dapatkan maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang baginya dari api neraka di hari kiamat.” (Hadis Riwayat: Ahmad)

“مَنْ عاَلَ ابْنَتَيْنِ أوْ ثَلاَثَ بَناَتٍ أوْ أُخْتَيَنِ أوْ ثَلاَثَ أخَواَتٍ حَتَّى يَمُتْنَ أوْ يَمُوْتُ عَنْهُنَّ كُنْتُ أناَ وَهُوَ كَهاَتَيْنِ”

“Barangsiapa yg menanggung 2 atau 3 anak perempuan; 2 atau 3 saudara perempuan hingga mereka meninggal dunia atau ia lbh dahulu meninggal dunia maka aku & dia seperti 2 ini.” (Shahih al Jami’)

Beliau berisyart dgn 2 jarinya; telunjuk & jari tengah. Dalam riwayat lain dikatakan,

“Barangsiapa yg mempunyai 3 anak perempuan atau 3 saudara perempuan kemudian ia bertakwa kpd Allah Subhanahu wa ta’ala & menanggung keperluan mereka maka ia kan bersamaku di surga.” Beliau berisyarat dgn jari jemarinya.

Ditulis oleh Muhammad bin Ali al Arfaj

Perempuan Antara Cahaya Islam dan Kegelapan Jahiliyah

Dahulu di zaman jahiliyah, masyarakat lbh mencintai anak laki-laki & mendahulukannya daripada anak perempuan. Bahkan di antara mereka ada yg membenci & menjauhi istrinya karena melahirkan anak perempuan, bukan anak laki-laki. Demikianlah, yg disukai oleh mereka adl kehamilan anak laki-laki karena mereka orang-orang yg senang perang. Oleh karena itu, kesenangan mereka terhadap anak laki-laki tersebut lahir dari tabiat kehidupan mereka.

Kemudian, datanglah Islam dgn sinarnya yg cemerlang bagai matahari yg menyinari seluruh peloksok negeri & semua penghuninya. (Setelah lama umat manusia membenci anak perempuan kaum jahiliyah) tiba-tiba Islam menyeru dgn lantang dgn keutamaan mendidik anak perempuan. Islam menawarkan byk kebaikan & pahala yg besar atas mendidik anak perempuan bagi orang melaksanakan tugas mulia ini.

Lebih dari itu, sebagian orang Arab dahulu karena kedunguan & kebodohan mereka terhadap sifat-sifat Tuhan, mereka menguburkan hidup-hidup anak perempuan ke dalam tanah. Sebaliknya dari itu, Islam telah menjadikan berbuat ihsan terhadap anak perempuan sbg qurbah (pendekatan diri kpd Allah) yg akan mengantarkan seorang muslim, baik laki-laki maupun perempuan, kpd kebahagiaan di akhirat & terbebas dari neraka. Oleh karena itu, tdk seyogyanya membeda-bedakan perlakuan antara anak laki-laki & anak perempuan karena kedua-duanya merupakan anugerah dari Allah Subhanahu wa ta’ala

Perinsip lbh mencintai anak laki-laki ketimbang anak perempuan ini merupakan kegelapan jahiliyah. Yang sangat disayangkan adl bahwa hal ini masih ada pengaruhnya hingga sekarang, dimana masalah ini di sebagian masyarakat, menguat, tapi di sebagian masyarakat lain melemah. Hal ini kembali kpd kuat atau lemahnya keimanan kpd Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ditulis oleh Muhammad bin Ali al Arfaj